
Kelas Menengah Menyusut: Bukan Gagal Naik, Tangganya yang Dicabut
Kelas menengah Indonesia turun dari 14,5% (2018) ke 7,1% (2025). Bukan gagal naik, tapi tangga mobilitas sosial yang dicabut perlahan.
Tangga yang Sempit
Kelas menengah Indonesia menyusut. Bukan sedikit. Drastis.
World Bank dalam Indonesia Economic Prospects edisi Juni 2026 melaporkan proporsi pekerja yang masuk kategori kelas menengah turun dari 14,5 persen pada 2018 menjadi hanya 7,1 persen pada 2025. Hampir separuh dalam tujuh tahun.
Mandiri Institute, mengolah data BPS, menemukan jumlah penduduk kelas menengah turun dari 47,9 juta jiwa pada 2024 menjadi 46,7 juta jiwa pada 2025. 1,2 juta orang "turun kasta" dalam satu tahun. Proporsi kelas menengah terhadap total populasi tergerus dari 17,1 persen ke 16,6 persen.
Narasi yang serang muncul: orang tidak kerja keras, tidak pintar investasi, terlalu boros. Tapi coba lihat ke mana 1,2 juta orang itu pergi.
Bukan Jatuh ke Miskin, Tapi Terjebak di Zona Rentan
Mandiri Institute melaporkan kelompok calon kelas menengah atau aspiring middle class bertambah 4,5 juta jiwa, dari 137,5 juta menjadi 142 juta. Kelompok ini sekarang menjadi mayoritas: 50,4 persen dari total penduduk Indonesia.
Kelompok rentan juga meningkat sekitar 200 ribu orang, dari 67,7 juta ke 67,9 juta. Sementara kelompok miskin justru turun 1,4 juta, dari 25,2 juta ke 23,9 juta.
Polanya jelas. Orang tidak jatuh dari kelas menengah ke miskin. Mereka jatuh dari kelas menengah ke aspiring middle class, zona yang di atas miskin tapi di bawah menengah. Zona di mana kamu tidak miskin, tapi tidak aman. Gaji naik sedikit, kamu hampir kelas menengah. Ada satu guncangan, kamu kembali ke rentan.
Ekonom Wisnu dari Mandiri Institute menjelaskan: struktur kelas menengah Indonesia relatif tipis dan mayoritas berada di batas bawah atau lower middle class. Kondisi ini membuat mereka sensitif terhadap guncangan pendapatan. Sedikit ada gejolak, mereka langsung tergelincir.
Upah Riil yang Terus Turun
World Bank menemukan upah riil pekerja berkeahlian menengah turun rata-rata 1 persen per tahun sepanjang 2018-2025. Pekerja berkeahlian tinggi turun lebih dalam: 2 persen per tahun. Pertumbuhan upah secara keseluruhan menyusut 0,5 persen per tahun.
Yang patut dicermati, pekerja berkeahlian rendah justru naik 1,7 persen per tahun. Tapi perbaikan di kelompok ini tidak mampu menahan penyusutan kelas menengah. Karena kelas menengah dibangun oleh pekerja berkeahlian menengah dan tinggi, bukan pekerja berkeahlian rendah.
Ini konsisten dengan apa yang kita bahas tentang gaji yang tidak mau tumbuh. Upah nominal mungkin naik, tapi upah riil turun. Inflasi memakan kenaikan gaji sebelum kamu sempat merasakannya. Dan kalau upah riil turun 1-2 persen per tahun selama 7 tahun, akumulasinya besar.
Lapangan Kerja Formal yang Menyusut
Bank Dunia menilai salah satu faktor utama penyusutan kelas menengah adalah terbatasnya lapangan kerja formal yang mampu menyerap tenaga kerja berpendidikan tinggi. Semakin banyak lulusan pendidikan tinggi di Indonesia beralih ke sektor informal.
Sektor informal tidak punya jaminan sosial, tidak punya kontrak kerja jelas, tidak punya jenjang karir. Ini bukan tangga untuk naik kelas. Ini lantai yang terus berputar. Kamu bekerja, tapi tidak pernah benar-benar maju.
Wisnu menyebut ini sebagai mesin mobilitas sosial yang melambat. Bukan cuma kelas menengah yang menyusut, tapi tangga untuk naik ke kelas menengah juga makin sempit. Lapangan kerja formal berkurang, pekerjaan rentan meningkat, dan absennya peredam kejut bagi kelompok hampir menengah.
Ini konsisten dengan fenomena working poor yang kita bahas. Kerja tapi tetap rentan. Punya pekerjaan, tapi tidak punya keamanan. Dan dari posisi tidak aman ini, satu guncangan cukup untuk jatuh.
Gejolak Sosial: Konsekuensi yang Tidak Bisa Diabaikan
Penelitian oleh Chatib Basri dan rekan, dilaporkan CNBC Indonesia pada Juli 2026, menemukan hubungan antara penyusutan kelas menengah dan gejolak sosial. Provinsi yang mengalami penyusutan kelas menengah tercatat mengalami sekitar 13 demonstrasi lebih banyak dibanding wilayah yang porsi kelas menengahnya stabil.
Rata-rata, Indonesia mencatat 52 aksi demonstrasi per provinsi setiap tahun. Angka tertinggi di DKI Jakarta pada 2024: 492 demonstrasi.
Ini bukan kebetulan. Kelas menengah yang menyusut berarti lebih banyak orang yang merasa sistem tidak bekerja untuk mereka. Dan ketika sistem tidak bekerja, orang turun ke jalan. Ini sinyal yang tidak boleh diabaikan.
Pemerintah Tidak Punya Rencana
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Februari 2026 mengatakan tidak menyiapkan insentif khusus untuk kelas menengah. Padahal kelas menengah adalah backbone perekonomian, berkontribusi lebih dari 80 persen terhadap total konsumsi masyarakat.
Kelas menengah menyusut, konsumsi akan melemah. Konsumsi melemah, pertumbuhan ekonomi melambat. Pertumbuhan melambat, lapangan kerja berkurang. Lapangan kerja berkurang, lebih banyak orang turun dari kelas menengah. Lingkaran ini disebut middle income trap, dan Indonesia sudah berada di pinggirannya.
Kontan melaporkan langkah pemerintah menggapai pertumbuhan ekonomi 6-8 persen berisiko semakin sulit karena kelas menengah semakin sedikit. Tanpa kelas menengah yang kuat, pertumbuhan tinggi hanyalah angka di atas kertas.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan
Pertama, pahami posisimu. Kalau kamu merasa "hampir masuk kelas menengah" tapi selalu satu guncangan dari jatuh, kamu tidak sendirian. 142 juta orang Indonesia berada di posisi yang sama. Ini bukan kegagalan pribadi. Ini struktur.
Kedua, bangun peredam kejut sendiri. Pemerintah tidak menyiapkan insentif untuk kelas menengah, jadi kamu harus menyiapkan sendiri. Taburan darurat, skill cadangan, jaringan profesional. Seperti yang kita bahas tentang menabung yang jadi irasional, menabung saja tidak cukup. Tapi tidak punya cadangan sama sekali lebih buruk.
Ketiga, jangan andalkan satu sumber pendapatan. Lapangan kerja formal menyusut, sektor informal tidak punya jaminan. Side hustle bukan pilihan, tapi kebutuhan. Kalau satu pintu tertutup, kamu butuh pintu lain.
Keempat, upgrade skill yang tidak bisa diganti. Pekerja berkeahlian tinggi mengalami penurunan upah riil 2 persen per tahun. Tapi pekerja berkeahlian rendah naik 1,7 persen. Artinya, pasar tidak menghargai keahlian tinggi seperti dulu. Solusinya: punya keahlian yang langka dan sulit diganti, bukan keahlian yang banyak orang punya.
Kelima, pahami bahwa kamu tidak sendirian. 142 juta orang Indonesia berada di zona aspiring middle class. Ini bukan kegagalan pribadi. Ini struktur ekonomi yang tidak bekerja untuk mayoritas. Jangan terjebak menyalahkan diri sendiri untuk masalah yang bersifat sistemik. Fokus energi kamu pada hal yang bisa kamu kendalikan: skill, tabungan, jaringan, dan kesehatan mental.
Tangga Dicabut, Bukan Kamu yang Jatuh
Kelas menengah menyusut bukan karena orang malas naik. Tangganya yang dicabut. Upah riil turun, lapangan kerja formal menyusut, jaminan sosial tipis, dan pemerintah tidak punya rencana khusus.
1,2 juta orang turun kasta dalam setahun. 142 juta orang terjebak di zona aspiring middle class, satu guncangan dari jatuh. 52 demonstrasi per provinsi per tahun, sinyal bahwa orang sudah tidak tahan.
Menyalahkan individu untuk masalah struktural tidak akan memperbaiki apa pun. Kelas menengah butuh tangga, bukan ceramah tentang kerja keras. Dan tangga itu harus dibangun oleh sistem, bukan oleh individu yang tangganya sudah dicabut di bawah kakinya.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Omzet Bukan Untung: Bisnis Gen Z Terlihat Sukses, Tapi Kosong di Kas
Bisnis Gen Z terlihat sukses di Instagram: omzet jutaan, FYP, pesanan bludak. Tapi saat dihitung, sisa laba minus. Omzet bukan untung.
Baca selengkapnya
Side Hustle Bukan Ambisi, Kebutuhan Ekonomi
73% Gen Z dengan bisnis online hasilkan kurang dari Rp1 juta per bulan. Side hustle bukan bukti rajin, tapi bukti gaji utama tidak cukup.
Baca selengkapnya
Passive Income Bukan Tentang Malas Kerja
Kreator TikTok jual mimpi passive income, padahal yang mereka lakukan adalah active income. Data OJK bongkar realitasnya.
Baca selengkapnya