Lewati ke konten utama
Kelas Menengah Menyusut 1.2 Juta, Gen Z Bangun Ekonomi Tanpa Investor
Bisnis7 menit baca

Kelas Menengah Menyusut 1.2 Juta, Gen Z Bangun Ekonomi Tanpa Investor

Kelas menengah menyusut 1.2 juta orang. Gen Z bangun ekonomi sendiri lewat komunitas tanpa investor. Tapi infrastruktur paralel ini rentan eksploitasi.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Data IMGR mencatat kelas menengah Indonesia berkurang 1.2 juta orang pada 2025. Pada saat yang sama, data IMGR menunjukkan aspiring middle class bertambah 4.5 juta. Itu bukan mobilitas naik. Itu orang yang jatuh dari tangga. Dan Gen Z berdiri di bawahnya, membangun ekonomi sendiri tanpa investor, tanpa platform resmi, tanpa perlindungan.

Tangga yang dicabut

Kelas menengah Indonesia menyusut dari 21,5% pada 2019 menjadi 16,9% pada 2024 menurut riset Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026. Data KIMCI juga mencatat aspiring middle class, kelompok yang berada di antara rentan miskin dan kelas menengah mapan, justru membengkak hingga 48,8% populasi. Kelompok rentan miskin meningkat dari 67,7 juta menjadi 67,9 juta orang menurut catatan KIMCI. Kelas atas hanya 0,4% dari total populasi, sekitar 1,2 juta orang berdasarkan data KIMCI.

Indonesia Millennial and Gen Z Report (IMGR) 2027 oleh IDN Research Institute menggambarkan pergeseran ini lebih tajam. Data IMGR mencatat pada 2025, kelas menengah menyusut 1,2 juta orang sementara aspiring middle class bertambah 4,5 juta. Novita Santoso, Research Lead IDN Research Institute, menjelaskan bahwa pergeseran struktural ini sebagian dibiayai dengan menggerus tabungan untuk kebutuhan dasar. Orang tidak jatuh miskin karena boros. Mereka jatuh karena biaya hidup naik lebih cepat dari gaji.

Bank Dunia dalam Indonesia Economic Prospects Juni 2025 memperingatkan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi bagi kelas menengah dan aspiring middle class mengalami perlambatan. Data BPS menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia memang terlihat meyakinkan: 5,11% sepanjang 2025, naik dari 5,03% pada 2024. Catatan BPS mencatat bahkan 5,61% pada triwulan I-2026. Tapi PDB per kapita tidak identik dengan pendapatan yang benar-benar diterima setiap rumah tangga. Dalam distribusi yang tidak merata, kenaikan PDB belum tentu dirasakan proporsional oleh semua masyarakat. Kompas menyoroti paradoks ini: angka pertumbuhan bagus, tapi siapa yang menikmatinya?

Kelas menengah punya posisi strategis. Mereka membeli rumah, kendaraan, elektronik, menggunakan jasa pendidikan dan kesehatan, berlangganan layanan digital. Data BPS mencatat pada 2024, kelas menengah menyumbang 81,5% dari total konsumsi rumah tangga. Kalau mereka menyusut, mesin konsumsi domestik terancam. Dan kalau mesin konsumsi melemah, efeknya merembet ke ritel, manufaktur, properti, transportasi, pariwisata, pendidikan, hingga jasa keuangan.

Kalau kamu ingin memahami lebih dalam kenapa tangga kelas menengah dicabut, baca kelas menengah menyusut: bukan gagal naik, tangganya yang dicabut.

Bukan tangguh, terpaksa

Data BPS per Februari 2026 mencatat 59,42% pekerja Indonesia berada di sektor informal. BPS mencatat itu 87,74 juta orang dari total 147,67 juta penduduk bekerja. Data BPS menunjukkan hanya 40,58% yang punya pekerjaan formal. Catatan BPS juga menunjukkan sektor informal bahkan naik tipis dari 59,40% setahun sebelumnya, setelah sempat turun ke 57,80% pada Agustus 2025. Artinya, mayoritas pekerja belum punya kepastian pendapatan dan perlindungan kerja.

BPS juga mencatat 31,5 juta orang bekerja sebagai pekerja mandiri atau gig worker per Agustus 2025. Sebagian besar dari mereka berusia di bawah 30 tahun. Angka itu naik tajam. Pemerintah menyebutnya tanda ekosistem digital yang tumbuh. Tapi ada yang tidak ikut tumbuh: perlindungan sosial.

Ronny P Sasmita, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), memberi konteks yang lebih jujur. Menurutnya, fenomena Gen Z masuk gig economy bukan murni atas dasar pilihan bebas. "Ini bukan purely choice, tetapi juga constraint-driven choice. Ketika sektor formal tidak mampu menyerap angkatan kerja baru secara memadai, maka gig economy menjadi katup pengaman," ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com.

Survei yang dikutip berbagai lembaga riset ketenagakerjaan menunjukkan mayoritas Gen Z yang masuk gig economy bukan karena menolak kerja formal. Sebaliknya, kerja formal yang menolak mereka lebih dulu. Lowongan yang mensyaratkan pengalaman untuk posisi pemula, proses rekrutmen yang panjang dan tidak transparan, serta gelombang PHK di sektor industri. Semuanya menutup pintu sebelum sempat diketuk.

Data Next Policy mencatat pekerja digital transportasi mencapai sekitar 2,41 juta orang pada 2024. Data Next Policy menunjukkan dari angka tersebut, lebih dari 75% berpenghasilan di bawah Rp3 juta per bulan. Tingkat pendapatan itu sangat sulit untuk menopang tabungan, KPR, pensiun, maupun investasi pendidikan. Syafruddin Karimi, Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, menyoroti risiko makro: "Jika angkatan kerja muda terlalu banyak terserap dalam pekerjaan informal berpendapatan rendah, ekonomi kehilangan jalur pembentukan kelas menengah."

Pekerja Formal vs Informal Indonesia

59,42% pekerja di sektor informal per Feb 2026

Sumber: BPS Sakernas, Februari 2026

Gen Z bangun infrastruktur adaptasi sendiri

Di tengah situasi ini, Gen Z tidak menunggu sistem berubah. IMGR 2027 menemukan satu benang merah yang konsisten: adaptasi. Millennial dan Gen Z mengembangkan berbagai strategi untuk bertahan, mulai dari cara mengelola keuangan, membangun karier, hingga menentukan prioritas hidup.

Diversifikasi pendapatan menjadi strategi hidup. Survei IDN Research Institute mencatat 48% Gen Z mencari penghasilan tambahan di tengah stagnasi penghasilan. Ivan Triyogo Priambodo, Vice President Finance & Business Development Katadata, menjelaskan dalam KIMCI 2026: "Pekerjaan sampingan bukan lagi sekadar tambahan, tetapi menjadi lapisan pengaman." Stabilitas tidak lagi datang dari satu pekerjaan atau satu sumber gaji.

Tapi yang lebih menarik adalah bentuk ekonomi yang tumbuh. IMGR 2027 mencatat pasar yang tumbuh dari komunitas tanpa investor maupun platform resmi. Gen Z membangun ekonomi sendiri lewat fan economy, creator economy, jual tiket event komunitas, merchandise, fan art, hingga jasa berbasis komunitas. Perempuan muda jadi motor utama pertumbuhan ekonomi komunitas ini. Data IMGR mencatat dari 194 juta Millennial dan Gen Z yang membentuk 68% populasi nasional, ekonomi komunitas tumbuh di luar radar institusi formal.

Ini bukan side hustle sebagai ambisi. Side hustle sudah TAM bahas sebelumnya. Ini lebih luas: Gen Z membangun infrastruktur ekonomi paralel karena infrastruktur formal tidak menyerap mereka. Jastip dan reseller yang TAM bahas sebagai triage ekonomi adalah bagian dari pola yang sama.

Rentan eksploitasi: ekonomi tanpa perlindungan

Ronny Sasmita menggarisbawahi risiko jangka panjang dominasi sektor gig. "Dalam jangka panjang, ini bisa menciptakan apa yang sering disebut sebagai low productivity trap, di mana angkatan kerja besar tidak diiringi dengan peningkatan kualitas output ekonomi," jelasnya. Pendapatan yang tidak stabil berisiko menggerus daya beli dan konsumsi rumah tangga yang menjadi penyokong utama ekonomi Indonesia.

Selain risiko low productivity trap, erosi basis pajak dan kerentanan sosial menjadi ancaman serius. Mayoritas pekerja gig tidak terlindungi oleh jaminan sosial formal. "Jika tren ini tidak dikelola, maka kita berpotensi menghadapi generasi pekerja yang besar secara jumlah, tetapi rapuh secara ekonomi," tegas Ronny.

Ekonomi komunitas yang tumbuh tanpa regulasi punya masalah serupa. Platform yang memfasilitasi ekonomi ini ambil potongan, tapi pekerja tanggung risiko. Afiliasi TikTok Shop yang TAM bahas sebelumnya adalah contoh konkret: kerja sales untuk platform, bukan bisnis sendiri. Omzet bukan untung juga relevan: bisnis terlihat sukses di luar tapi kosong di kas.

Katadata dalam opini Zainul Abidin memberi konteks yang lebih tajam. BPS menghitung seseorang sebagai pekerja jika ia aktif bekerja minimal satu jam dalam seminggu. Dengan definisi ini, seorang pengemudi ojek yang membuka aplikasi tiga jam sehari selama dua hari lalu berhenti karena sakit, tetap tercatat sebagai pekerja. Angka pengangguran terlihat terkendali, bahkan turun, sementara di bawahnya jutaan orang hidup tanpa kepastian penghasilan, tanpa akses jaminan kecelakaan kerja, dan tanpa tabungan pensiun.

Program Penguatan Ekosistem Gig Economy yang diluncurkan Kemenko Perekonomian pada akhir 2025 mempromosikan pekerjaan berbasis platform sebagai wajah baru dunia kerja yang fleksibel dan mandiri. Tapi selama perlindungan sosial masih dirancang hanya untuk mereka yang punya kontrak tetap dan slip gaji bulanan, pertumbuhan gig economy yang dirayakan pemerintah sebenarnya sedang merayakan hal lain: semakin banyak orang yang bekerja keras di luar jangkauan perlindungan negara.

Bukan adaptasi, itu survival

Media lain menulis "Gen Z makin tangguh" atau "Gen Z adaptif menghadapi tekanan ekonomi". Tapi adaptasi yang dimaksud bukan pilihan bebas. Sistem formal menolak lebih dulu, gig economy jadi katup pengaman, ekonomi komunitas tumbuh karena tidak ada alternatif. Yang dirayakan sebagai "tangguh" sebenarnya adalah kegagalan sistem dalam menyerap angkatan kerja.

Saya pernah ngobrol dengan seorang content creator usia 23 tahun yang menjual merchandise komunitasnya. Menurutnya, pendapatannya fluktuatif: bulan bagus bisa Rp8 juta, bulan sepi Rp1,5 juta. Tidak ada BPJS, tidak ada jaminan kalau sakit, tidak ada tabungan pensiun. "Saya sih bilang bukan kerja, tapi survive," katanya. Kalimat itu lebih jujur dari semua narasi "tangguh" yang ditulis media.

Syafruddin Karimi menutup analisisnya dengan pesan yang relevan: "Agenda paling penting bukan mendorong lebih banyak anak muda masuk gig economy, tetapi memastikan pekerjaan gig menjadi jembatan menuju produktivitas dan kelas menengah, bukan ruang tunggu permanen di sektor informal."

Data BPS mencatat 59,42% pekerja Indonesia di sektor informal per Februari 2026. Angka itu bukan statistik. BPS mencatat itu 87 juta orang yang bekerja tanpa jaring pengaman. Gen Z bangun ekonomi sendiri bukan karena tangguh. Karena tidak ada tangga yang tersisa.

FAQ

Berapa jumlah kelas menengah Indonesia yang menyusut?

Kelas menengah Indonesia berkurang 1,2 juta orang pada 2025 menurut IMGR 2027 (IDN Research Institute). Proporsi kelas menengah turun dari 21,5% pada 2019 menjadi 16,9% pada 2024 menurut KIMCI 2026 (Katadata). Aspiring middle class bertambah 4,5 juta orang, mencapai 48,8% populasi menurut IMGR.

Apa itu aspiring middle class?

Aspiring middle class adalah masyarakat yang berada di antara kelompok rentan miskin dan kelas menengah mapan. Mereka belum mencapai standar kelas menengah, tapi sudah di atas garis kemiskinan. Di Indonesia, aspiring middle class mencapai 48,8% populasi pada 2024 (KIMCI 2026). Kelompok ini rentan jatuh ke kategori miskin kalau mengalami PHK atau tekanan ekonomi.

Kenapa Gen Z banyak masuk gig economy?

Bukan pilihan bebas. Sektor formal tidak menyerap angkatan kerja baru secara memadai. Ronny Sasmita (ISEAI) menyebutnya "constraint-driven choice". Data BPS Februari 2026 mencatat 59,42% pekerja di sektor informal (87,74 juta orang). BPS Agustus 2025 mencatat 31,5 juta pekerja mandiri atau gig worker, mayoritas berusia di bawah 30 tahun.

Apakah ekonomi komunitas aman?

Rentan eksploitasi platform. Data Next Policy 2024 mencatat 75% pekerja digital transportasi berpenghasilan di bawah Rp3 juta per bulan. Tidak ada jaminan sosial formal. Ronny Sasmita memperingatkan risiko "low productivity trap" dan "generasi pekerja yang besar secara jumlah, tetapi rapuh secara ekonomi".

Bagaimana Gen Z bertahan secara finansial?

Diversifikasi pendapatan: 48% Gen Z mencari penghasilan tambahan, 56% menerapkan frugal living, 51% menabung (IDN Research Institute). KIMCI 2026 mencatat pekerjaan sampingan bukan lagi sekadar tambahan, tetapi lapisan pengaman. Stabilitas tidak lagi bergantung pada satu pekerjaan atau satu sumber pendapatan.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga