Lewati ke konten utama
Omzet Bukan Untung: Bisnis Gen Z Terlihat Sukses, Tapi Kosong di Kas
Bisnis6 menit baca

Omzet Bukan Untung: Bisnis Gen Z Terlihat Sukses, Tapi Kosong di Kas

Bisnis Gen Z terlihat sukses di Instagram: omzet jutaan, FYP, pesanan bludak. Tapi saat dihitung, sisa laba minus. Omzet bukan untung.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Scroll Instagram kamu pasti nemu akun bisnis Gen Z yang kelihatannya sukses. Feed rapi, produk estetik, caption "pesanan bludak, restock senin", story unboxing pakai lagu trending. Omzet harian disebut jutaan. Kamu mungkin berpikir: ini anak sudah laku.

Tapi tanyakan ke pemiliknya: setelah bayar bahan baku, kemasan, ongkir, biaya produksi, iklan, dan waktu yang dihabiskan, sisa berapa yang masuk kantong?

Sering kali jawabannya: minus.

Omzet bukan untung

Ini konsep paling dasar dalam bisnis yang banyak Gen Z lewatkan. Omzet adalah total uang yang masuk dari penjualan. Laba adalah omzet dikurangi semua biaya. Banyak bisnis Gen Z yang omzetnya jutaan, tapi labanya nol atau rugi.

Bayangkan kamu jual brownies dengan harga Rp25.000 per box dan terjual 100 box sehari, omzetnya Rp2.500.000. Kelihatannya bagus, kan?

Tapi mari kita hitung: bahan baku per box Rp12.000, kemasan Rp3.000, ongkir Rp5.000, biaya iklan Instagram Rp2.000 per box, dan waktu kamu dihitung minimal Rp3.000 per box kalau kamu bayar dirimu sendiri. Total biaya per box: Rp25.000. Sisa laba per box: Rp0.

Kamu kerja 8 jam sehari untuk omzet Rp2,5 juta yang tidak menyisakan apa-apa. Tapi di Instagram, kamu posting "Alhamdulillah omzet 2,5 juta hari ini" dan 200 orang like.

OJK mencatat 52% UMKM di Indonesia tidak punya pembukuan terpisah antara uang pribadi dan uang bisnis. Artinya, banyak pemilik bisnis tidak tahu apakah mereka untung atau rugi. Yang mereka tahu: uang masuk. Yang mereka tidak tahu: apakah uang yang masuk cukup untuk menutup semua yang keluar.

Jebakan perang harga

Salah satu alasan bisnis Gen Z omzet tinggi tapi laba nol adalah perang harga. Marketplace seperti Shopee dan Tokopedia mendorong seller untuk memberikan diskon besar-besaran. Flash sale, gratis ongkir, cashback. Konsumen senang, tapi siapa yang menanggung biayanya adalah kamu sendiri.

Kamu jual produk dengan margin tipis, lalu potong lagi dengan diskon platform, biaya administrasi, dan ongkir yang kamu subsidi. Hasilnya: omzet naik karena volume, tapi laba per unit turun. Kamu kerja lebih keras untuk uang yang lebih sedikit.

Jurnal Akuntansi dari UBSI yang menganalisis longevity bisnis Gen Z menemukan bahwa mayoritas bisnis yang gagal di tahun pertama bukan karena produk tidak laku, tapi karena pemilik tidak menghitung unit economics. Mereka fokus ke top-line (omzet) dan mengabaikan bottom-line (laba).

Dosen USU yang meneliti bisnis Gen Z menyimpulkan: Gen Z kuat marketing, lemah fondasi. Mereka bisa bikin konten viral, tapi tidak bisa bikin laporan laba rugi. Dan bisnis yang tidak tahu posisi keuangannya akan mati perlahan tanpa pemiliknya sadar.

Ilusi "pesanan bludak"

"Pesanan bludak" adalah metrik yang menyesatkan. Jumlah pesanan tidak sama dengan keuntungan. Kamu bisa dapat 200 pesanan dan rugi di setiap pesanan. Yang kamu lakukan bukan berbisnis, tapi mengubah uang menjadi produk dengan kerugian di setiap transaksi.

Bayangkan bisnis yang rugi Rp1.000 per pesanan. 200 pesanan berarti kamu rugi Rp200.000 sehari. Tapi di Instagram, kelihatannya kamu sibuk dan sukses. Orang lihat pesanan bludak dan mengira kamu untung. Kamu sendiri mungkin tidak sadar sedang rugi karena uang tetap masuk, hanya saja keluar lebih cepat dari yang masuk.

GoodStats bersama Jakpat mencatat 68% Gen Z mau berbisnis, tapi 60% menyebut kendala utama adalah modal. Yang jarang dibahas: modal bukan masalah utama. Manajemen keuangan adalah. Kamu bisa punya modal Rp50 juta, tapi kalau setiap produk yang kamu jual rugi Rp1.000, modal itu akan habis dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Beda omzet dan laba dalam praktik

Mari kita lihat dua bisnis yang omzetnya sama tapi nasibnya berbeda.

Bisnis A jual kue dengan omzet Rp3 juta sehari. Biayanya: bahan baku Rp1,8 juta, kemasan Rp300.000, ongkir Rp400.000, iklan Rp300.000, tenaga kerja Rp200.000. Total biaya Rp3 juta, sisa laba Rp0.

Bisnis B juga jual kue, tapi omzetnya hanya Rp1,5 juta sehari. Biayanya: bahan baku Rp600.000, kemasan Rp100.000, ongkir Rp150.000, iklan Rp50.000, tenaga kerja Rp100.000. Total biaya Rp1 juta, sisa laba Rp500.000.

Bisnis A kelihatan lebih sukses di Instagram karena omzetnya dua kali lipat. Tapi Bisnis B yang menghasilkan uang. Bisnis A bekerja untuk membayar biaya, Bisnis B bekerja untuk dirinya sendiri.

Viral bukan bisnis sudah membongkar ilusi bahwa 10 juta views TikTok hanya hasilkan 150 transaksi. Tapi ada ilusi yang lebih dalam: 150 transaksi pun tidak menjamin untung. Kalau setiap transaksi rugi Rp2.000, 150 transaksi berarti kamu rugi Rp300.000 untuk konten yang kamu pikir "sukses".

Yang perlu kamu lakukan sekarang

Bukan berarti kamu harus berhenti berbisnis. Tapi kamu perlu berhenti mengukur kesuksesan bisnis dengan omzet.

1. Hitung unit economics

Untuk setiap produk yang kamu jual, hitung: berapa biaya bahan baku, kemasan, ongkir, iklan, dan waktu per unit. Kurangkan dari harga jual. Kalau hasilnya minus, kamu rugi setiap kali ada pesanan. Tidak peduli berapa banyak pesanan masuk.

2. Pisahkan uang pribadi dan bisnis

Buka rekening terpisah untuk bisnis. Semua uang dari penjualan masuk ke rekening bisnis. Semua biaya bisnis dibayar dari rekening bisnis. Gaji kamu sebagai pemilik? Transfer dari rekening bisnis ke rekening pribadi, dengan jumlah yang sudah ditentukan, bukan "ambil sesuka hati karena ini uangku juga".

3. Stop posting omzet, mulai hitung laba

Passive income bukan tentang malas kerja mengajarkan bahwa income yang terlihat mudah sering kali menyembunyikan kerja keras yang tidak terlihat. Sama dengan omzet: angka yang terlihat besar sering menyembunyikan laba yang tidak ada. Ubah mindset: yang penting bukan berapa uang masuk, tapi berapa yang tersisa setelah semua dibayar.

4. Naikkan harga atau turunkan biaya

Kalau unit economics-mu minus, dua pilihan: naikkan harga jual atau turunkan biaya. Kedua pilihan ini sulit: naikkan harga bisa kehilangan pelanggan, turunkan biaya bisa menurunkan kualitas. Tapi pilihan ketiga, tetap rugi dan berharap omzet naik suatu saat nanti, bukan pilihan. Itu penundaan kebangkrutan.

Bisnis bukan konten

Saya pernah ngobrol dengan teman yang jualan cokelat di TikTok Shop. Omzetnya tembus Rp15 juta sebulan dan dia cerita dengan bangga. Saya tanya: "Setelah semua biaya, sisa berapa?" Dia diam. Lalu dia buka kalkulator, hitung bahan, kemasan, ongkir, biaya platform, iklan. Sisa: Rp800.000. Lima belas juta omzet, delapan ratus ribu laba. Itu sebelum dihitung waktu kerjanya yang 10 jam sehari.

Rp800.000 dari 10 jam kerja sehari, 30 hari sebulan, berarti Rp2.666 per jam. Lebih murah dari gaji pekerja pabrik. Tapi di TikTok, dia terlihat seperti entrepreneur sukses.

Kemenkop UKM mencatat 60% bisnis rintisan gagal di 3 tahun pertama. BPS menambahkan 45% kegagalan karena produk tidak sesuai pasar. Tapi ada kegagalan yang tidak masuk statistik: bisnis yang omzetnya tinggi tapi labanya nol, bertahan selama berbulan-bulan tanpa pemiliknya sadar bahwa ia sedang merugi perlahan. Bisnis seperti ini tidak mati mendadak. Ia mati perlahan, sambil terlihat sukses di media sosial.

Bisnis bukan konten. Tujuan bisnis adalah menghasilkan laba, bukan menghasilkan konten yang terlihat seperti bisnis sukses. Kalau kamu lebih sering posting omzet daripada menghitung laba, kamu bukan berbisnis. Kamu bermain bisnis.

Omzet bukan untung. Stop membohongi dirimu sendiri dengan angka yang terlihat bagus di feed tapi kosong di kas.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga