
81% Enggan Pakai AI: Boom Global, Tapi Indonesia Malah Mundur
81,8% warga Indonesia tidak mengakses AI pada 2026, naik dari 72,7% di 2025. Boom global, tapi Indonesia malah bergerak mundur.
Boom Global, Mundur Lokal
Dunia riuh tentang AI. ChatGPT, Gemini, Claude, DeepSeek. Miliaran dolar dikucurkan untuk pengembangan. Perusahaan berlomba integrasi AI ke setiap produk. Tapi di Indonesia, ceritanya berbeda.
Survei APJII 2026, yang dilakukan 1 Februari sampai 15 Maret 2026 terhadap 8.700 responden di 38 provinsi, menemukan 81,8 persen warga Indonesia tidak mengakses layanan AI pada 2026. Angka ini naik dari 72,7 persen pada 2025. Artinya, bukannya bertambah, pengguna AI di Indonesia justru berkurang.
Yang pakai AI hanya 18,2 persen pada 2026, turun dari 27,3 persen pada 2025. Sementara dunia berlomba adopsi AI, Indonesia bergerak ke arah berlawanan.
Penetrasi internet Indonesia mencapai 81,72 persen pada 2026, setara dengan 235,26 juta jiwa. Tapi punya internet tidak sama dengan punya literasi digital. Akses ada, pemahaman tidak.
Kenapa Tidak Pakai?
GoodStats merangkum alasan dari survei APJII. 43,1 persen responden mengaku tidak pakai AI karena tidak butuh. 35,5 persen tidak mengetahui tentang AI. 8,1 persen tidak paham cara menggunakannya. 4,4 persen merasa layanan AI belum menarik. 4 persen menilai AI terlalu sulit. 2,9 persen khawatir keamanan dan privasi data.
RRI melaporkan angka yang sedikit berbeda dari perspektif yang sama: 46,6 persen responden tidak mengetahui teknologi AI, 22,7 persen merasa tidak membutuhkan, 15,5 persen belum tahu cara menggunakan.
Apa pun angka pastinya, polanya jelas. Mayoritas tidak pakai AI bukan karena menolak, tapi karena tidak tahu. Tidak tahu apa itu AI, tidak tahu cara pakai, tidak tahu untuk apa. Ini bukan penolakan. Ini kesenjangan literasi.
Gen Z: Pengguna Terbesar, Tapi Bukan Mayoritas
Gen Z memang kelompok pengguna AI terbesar di Indonesia. APJII mencatat 29,4 persen Gen Z (usia 13-28 tahun) aktif mengakses AI. Bandingkan dengan Milenial 16,7 persen, Gen X 7,5 persen, Baby Boomers 0,8 persen.
Tapi 29,4 persen berarti 70,6 persen Gen Z tidak pakai AI. Generasi yang dianggap digital native, yang tumbuh dengan smartphone dan internet, mayoritas masih belum menyentuh teknologi yang sedang mengubah dunia.
Dan yang pakai, untuk apa? DetikNews melaporkan penggunaan AI terbesar di Indonesia adalah untuk hiburan: 36,5 persen. Edukasi dan riset 30,2 persen. Pekerjaan dan produktivitas 26,9 persen. Asisten suara 6,4 persen.
Gen Z sendiri paling banyak pakai AI untuk hiburan: 44,4 persen. Pendidikan dan riset 34,9 persen. Jadi mayoritas Gen Z yang pakai AI memakainya untuk bikin video atau gambar generatif, bukan untuk produktivitas atau belajar skill baru.
Pergeseran yang Membuat Cemas
Pada 2025, kategori penggunaan AI terbesar di Indonesia adalah edukasi dan riset: 43,9 persen. Hiburan hanya 29,5 persen. Pada 2026, posisinya bertukar. Hiburan naik ke 36,5 persen, edukasi turun ke 30,2 persen.
Pergeseran ini mengkhawatirkan. AI yang seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan kapasitas belajar dan kerja, justru lebih banyak dipakai untuk konsumsi hiburan. Sementara di negara lain, AI dipakai untuk coding, analisis data, riset akademik, dan otomasi pekerjaan.
Ini konsisten dengan apa yang kita bahas tentang detoks dopamin. Algoritma dirancang untuk membuatmu konsumsi, bukan produksi. AI di tangan mayoritas pengguna Indonesia menjadi bagian dari mesin konsumsi, bukan alat produksi.
Risiko Tertinggal
AI bukan teknologi biasa. Ini adalah teknologi yang mengubah cara kerja, belajar, dan berpikir. Negara yang tertinggal dalam adopsi AI berisiko tertinggal dalam produktivitas, daya saing, dan lapangan kerja.
McKinsey memperkirakan AI bisa menambah USD 13 triliun ke ekonomi global pada 2030. Tapi manfaat itu tidak datang sendiri. Butuh literasi, infrastruktur, dan kebijakan yang mendukung. Indonesia punya penetrasi internet 81 persen, tapi literasi AI masih rendah. Punya akses, tapi tidak punya pemahaman.
Sementara itu, di negara lain, AI sudah diajarkan di sekolah, dipakai di kantor, diintegrasikan ke sistem publik. Di Indonesia, 46,6 persen responden APJII tidak tahu apa itu AI. Gap ini akan menjadi jurang kalau tidak dijembatani.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan
Pertama, jangan tunggu sistem. Pemerintah dan lembaga pendidikan Indonesia belum punya strategi literasi AI yang komprehensif. Kalau kamu menunggu kursus resmi, kamu akan tertinggal. Mulai sendiri. Pakai AI untuk hal sederhana: rangkum artikel, bantu brainstorm, cek grammar, atau analisis data kecil.
Kedua, pakai AI untuk produksi, bukan cuma konsumsi. Bikin video lucu pakai AI memang menyenangkan, tapi itu tidak membuatmu lebih kompetitif. Belajar pakai AI untuk coding, writing, analisis, atau otomasi tugas repetitif. Seperti yang kita bahas tentang skill vs ijazah, skill yang membuatmu tidak mudah diganti. AI adalah skill yang akan membuatmu lebih sulit diganti.
Ketiga, pahami risiko. AI tidak sempurna. Bisa halusinasi, bisa bias, bisa salah. Belar verifikasi informasi yang dihasilkan. Jangan jadi orang yang percaya AI 100 persen tanpa cek silang. Tapi juga jangan jadi orang yang 81,8 persen tidak pakai karena tidak tahu.
Keempat, ajarkan orang di sekitarmu. Literasi AI bukan cuma masalahmu. Kalau kamu paham AI, bantu keluarga, teman, atau rekan kerja yang belum paham. 46,6 persen responden APJII tidak tahu apa itu AI. Itu orang-orang di sekitarmu. Mereka bisa jadi orang tuamu, saudaramu, tetanggamu. Kalau kamu tidak bantu mereka, siapa yang akan?
Akses Tanpa Pemahaman
Indonesia punya 235 juta pengguna internet. Tapi 81,8 persen tidak mengakses AI. Ini bukan soal teknologi yang tidak tersedia. AI gratis, bisa diakses dari HP. ChatGPT punya versi gratis. Gemini punya versi gratis. Claude punya versi gratis. Tapi 46,6 persen responden APJII tidak tahu apa itu AI. Bagaimana kamu pakai sesuatu yang kamu tidak tahu ada?
Yang lebih mengkhawatirkan: adopsi AI di Indonesia tidak cuma rendah, tapi turun. Dari 27,3 persen pada 2025 ke 18,2 persen pada 2026. Boom global AI justru bersamaan dengan penurunan penggunaan AI di Indonesia. Dunia maju, kita mundur.
Penyebabnya bukan teknologi. Penyebabnya literasi. Tidak ada strategi nasional untuk edukasi masyarakat tentang AI. Tidak ada kurikulum AI di sekolah. Tidak ada program pemerintah yang menyentuh akar masalah. Yang ada adalah discourse di media sosial tentang AI mengambil pekerjaan, tanpa diiringi pemahaman tentang cara AI bekerja dan bagaimana memanfaatkannya.
Seperti yang kita bahas tentang AI yang mengambil tahap belajarmu, ancaman terbesar bukan AI mengambil kerjaanmu. Ancaman terbesar adalah kamu tidak bisa pakai AI sementara orang lain bisa. Dan di Indonesia, 81,8 persen berada di posisi itu.
Boom global AI tidak akan otomatis sampai ke Indonesia kalau literasi tidak dibangun. Dan kalau Indonesia tertinggal dalam adopsi AI, yang rugi bukan pemerintah. Yang rugi adalah generasi yang tumbuh tanpa alat yang dibutuhkan untuk bersaing di pasar kerja masa depan.
81,8 persen bukan angka kerelaan. Itu angka ketidaktahuan. Dan ketidaktahuan bukan sesuatu yang bisa dibiarkan di era di mana AI sedang mengubah segalanya.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Influencer Bukan Profesi, Itu Lotere yang Dikemas Sebagai Karier
66% Gen Z Indonesia mau jadi influencer, tapi hanya 4% yang bisa hidup dari konten. Bukan profesi, itu lotere dengan odds 1:23. AI mulai gantikan kreator murah.
Baca selengkapnya
ChatGPT Bukan Curang, Sistem Pendidikan yang Malas Beradaptasi
95% mahasiswa Indonesia pakai AI, tapi 70.7% tidak pernah diajarkan etikanya. Dosen juga pakai, tapi mahasiswa yang disalahkan.
Baca selengkapnya
Curhat ke AI: Ketika Mesin Jadi Ruang Aman Gen Z
81 persen Gen Z Indonesia pernah curhat ke AI chatbot. Bukan karena tidak butuh manusia, tapi karena manusia terlalu tidak aman untuk diajak bicara.
Baca selengkapnya