
Bed Rotting Bukan Self-Care, Depresi yang Dikemas Jadi Tren
363 ribu anak Indonesia gejala depresi menurut Kemenkes 2026. Tapi TikTok menyebut rebahan seharian self-care. Kenapa normalisasi ini berbahaya?
363 Ribu Anak Indonesia Gejala Depresi, dan TikTok Menyebutnya Self-Care
363.326 anak di Indonesia menunjukkan gejala depresi. 338.316 anak menunjukkan gejala cemas. Angka itu berasal dari Cek Kesehatan Gratis Kementerian Kesehatan periode 2025-2026, dari sekitar 7 juta anak yang diskrining. Kelompok usia 11-17 tahun menjadi yang paling terdampak, dengan angka lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa.
Tapi di TikTok, gejala yang sama punya nama lain: bed rotting. Menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur, scroll media sosial, nonton video, ngemil, tanpa niat untuk bangun. Dikemas sebagai self-care. Dirayakan sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya sibuk. Diberi estetik.
Masalahnya, apa yang TikTok sebut "self-care" bisa jadi gejala yang sama yang Kemenkes deteksi sebagai depresi. Dan ketika gejala dirayakan sebagai tren, orang menunda pertolongan.
Kenapa Tren Ini Viral Sekarang
Istilah bed rotting mulai viral di TikTok sekitar 2023-2024. Asalnya sederhana: orang membagikan momen rebahan seharian setelah minggu yang melelahkan. Konten ini relatable karena hampir semua orang pernah merasa lelah sampai tidak mau bangun dari kasur.
Survei American Academy of Sleep Medicine 2024 menemukan 55 persen Gen Z di Amerika pernah mencoba bed rotting, dan 24 persen melakukannya secara rutin. Survei Amerisleep melaporkan 89 persen Gen Z menghabiskan rata-rata 21 hari per tahun untuk rebahan di tempat tidur.
Di Indonesia, tren ini semakin populer. Pakar Pendidikan Anak dan Remaja IPB University, Dr. Yulina Eva Riany, menjelaskan bahwa bed rotting tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai kemalasan. Dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini bisa menjadi ruang jeda untuk memulihkan energi. Tapi di sisi lain, ia juga berpotensi menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan.
Gen Z tumbuh dalam lingkungan yang penuh notifikasi, video pendek, dan arus informasi tanpa henti. Otak terus menerima rangsangan sepanjang hari. Banyak anak muda mengalami kelelahan mental meski tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Mereka lalu memilih berdiam di tempat tidur sebagai cara termudah untuk menenangkan diri.
Istirahat itu sah. Yang jadi masalah adalah ketika istirahat berubah jadi gejala, dan gejala itu disebut "self-care."
Data Kemenkes: Depresi Tertinggi Justru di Gen Z
Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan prevalensi depresi nasional sebesar 1,4 persen. Tapi angka tertinggi ada di kelompok usia 15-24 tahun, yang merupakan Gen Z, sebesar 2 persen. Proporsi depresi pada perempuan (2,8 persen) lebih tinggi dari laki-laki (1,1 persen). Kelompok perkotaan (2,5 persen) lebih tinggi dari perdesaan (1,23 persen).
Yang lebih mengkhawatirkan: Gen Z adalah kelompok yang paling sedikit mengakses pengobatan. Hanya 10,4 persen Gen Z dengan gangguan depresi yang mendapatkan penanganan profesional. Sisanya tidak terdeteksi, tidak ditangani, atau ditangani sendiri.
Data Kemenkes CKG 2026 memperkuat temuan ini. Dari sekitar 7 juta anak yang diskrining, 4,8 persen menunjukkan gejala depresi dan 4,4 persen menunjukkan gejala cemas. Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes, Asnawi Abdullah, menyebut angka ini lima kali lebih besar dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia.
Trennya juga mengkhawatirkan. Persentase siswa yang pernah berpikiran untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023. Yang pernah mencoba mengakhiri hidup naik dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen di periode yang sama.
Ini bukan sekadar "anak muda zaman sekarang malas." Ini data dari skrining kesehatan jiwa nasional.
Garis Batas Self-Care dan Gejala Depresi
Dr. Yulina Eva Riany dari IPB University menjelaskan bahwa bed rotting berada di wilayah abu-abu antara self-care dan perilaku maladaptif. Jika seseorang masih memiliki kendali, tahu kapan harus berhenti, dan mampu kembali beraktivitas, kebiasaan ini bisa menjadi bentuk self-care. Tapi ketika kontrol mulai hilang, dampaknya bisa serius.
Gejala yang perlu diwaspadai termasuk kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, serta penurunan fungsi dalam akademik atau pekerjaan. Dalam istilah psikologi, hilangnya minat pada hal yang biasanya disukai disebut anhedonia, dan ini adalah salah satu kriteria diagnostik utama untuk depresi.
Ada empat penanda yang bisa membantu membedakan bed rotting sebagai istirahat dari bed rotting sebagai gejala depresi.
Pertama, niat. Bed rotting sebagai self-care adalah pilihan sadar untuk recharge. Kamu memilih rebahan karena tahu tubuh butuh istirahat. Depresi terasa seperti tidak punya pilihan selain tetap di kasur karena energi benar-benar habis.
Kedua, perasaan setelahnya. Setelah bed rotting yang sehat, kamu merasa lebih segar dan siap menghadapi hari esok. Setelah rebahan yang merupakan gejala depresi, kamu tetap merasa kosong, lelah, dan tidak terisi meski sudah tidur 12 jam.
Ketiga, hobi. Orang yang bed rotting sebagai istirahat masih bisa menikmati nonton drakor, main game, atau ngemil sambil tertawa. Pada depresi, hobi yang biasanya menyenangkan terasa hambar dan tidak menarik.
Keempat, frekuensi. Bed rotting yang sehat terjadi sekali-sekali, misalnya di akhir pekan. Jika rebahan terjadi berhari-hari, mengganggu rutinitas harian, dan tidak ada niat untuk kembali beraktivitas, itu bukan istirahat lagi.
Normalisasi yang Menunda Pertolongan
Bahaya terbesar dari tren bed rotting bukanlah perilakunya sendiri. Istirahat di tempat tidur selama beberapa jam, sekali-sekali, memang bisa memulihkan energi. Bahayanya ada pada normalisasi.
Ketika TikTok menyebut gejala depresi "relatable" dan "valid," orang yang mengalami gejala tersebut merasa tidak perlu mencari bantuan. Konten yang menggambarkan rebahan seharian sebagai lifestyle membuat penarikan diri dari aktivitas sosial terlihat seperti pilihan, bukan gejala.
Content creator mendapat engagement dari konten bed rotting. Algoritma mendorong konten yang relatable. Dan yang lebih relatable dari "saya lelah dan ingin rebahan" hampir tidak ada, karena hampir semua orang pernah merasa begitu. Tapi algoritma tidak membedakan antara lelah dan depresi. Yang algoritma tahu hanyalah engagement.
Data dari Kemenkes menunjukkan hanya 10,4 persen Gen Z dengan gangguan depresi yang mengakses pengobatan. Artinya, hampir 90 persen tidak mendapatkan penanganan profesional. Tren yang menormalisasi gejala depresi sebagai "self-care" memperlebar gap ini. Orang yang seharusnya mencari bantuan justru merasa divalidasi oleh konten TikTok untuk tetap di kasur.
Akses layanan kesehatan mental di Indonesia juga terbatas. Biaya terapi mahal, jumlah psikolog dan psikiater tidak merata, dan stigma masih kuat. Kemenkes menargetkan perluasan CKG hingga menjangkau 25 juta anak pada 2026, tapi tatalaksana di lapangan masih menjadi tantangan tersendiri.
Saya perhatikan di timeline TikTok saya, konten bed rotting hampir selalu dapat ribuan like dan komentar yang bilang "me," "relatable banget," atau "ini saya banget." Tidak ada satu pun komentar yang bertanya: "Apakah kamu sudah bicara dengan profesional?" Konten depresi dikemas sebagai humor, dan humor itu membuat orang berhenti mempertanyakan apakah ada yang perlu ditangani.
Istirahat yang Sehat Bukan Soal Lama, Soal Kendali
Dr. Yulina menekankan satu prinsip yang penting: self-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita.
Bed rotting sebagai self-care berarti kamu yang memilih istirahat. Kamu tahu batas waktunya. Kamu tahu kapan harus bangun. Kamu memilih rebahan sebagai strategi untuk memulihkan energi, bukan sebagai cara untuk menghindari tekanan.
Bed rotting sebagai gejala depresi berarti istirahat yang memilih kamu. Kamu tidak bangun bukan karena kamu memilih untuk tidak bangun, tapi karena kamu tidak bisa. Kasur terasa seperti satu-satunya tempat yang aman, dan dunia di luar sana terasa terlalu berat untuk dihadapi.
Seperti yang kami bahas di artikel toxic productivity: istirahat terasa seperti kejahatan, budaya hustle membuat banyak orang merasa bersalah saat beristirahat. Tapi reaksi yang benar bukanlah menormalisasi rebahan berlebihan sebagai self-care. Reaksi yang benar adalah membangun pola istirahat yang sehat: sadar, terbatas, dan benar-benar memulihkan.
Dan seperti yang kami tulis di healing culture: self-care atau performance untuk konten?, tren wellness di media sosial sering kali lebih tentang performa daripada pemulihan. Bed rotting yang difilmkan, di-post, dan ditunggu like-nya bukan istirahat. Itu konten.
Bukan Kamu yang Malas, Tapi Gejala yang Dikemas Jadi Tren
363 ribu anak Indonesia menunjukkan gejala depresi. Bukan karena mereka malas. Bukan karena mereka memilih bed rotting. Bukan karena generasi sekarang lebih lemah dari generasi sebelumnya.
Tren TikTok tidak akan membayar terapi kamu. Tapi tren bisa membuat kamu menunda pertolongan. Dan penundaan itu punya konsekuensi nyata: kondisi yang bisa diatasi menjadi lebih berat, gangguan yang bisa ditangani menjadi kronis.
Istirahat itu sah. Kalau kamu lelah, istirahatlah. Tapi kalau istirahat tidak memulihkan, kalau bangun tidur malah merasa lebih lelah, kalau hobi yang biasanya kamu suka terasa hambar, mungkin itu bukan istirahat. Mungkin itu gejala yang perlu dievaluasi profesional.
Layanan kesehatan jiwa tersedia di Puskesmas. Perhimpunan Dokter Kesehatan Jiwa Indonesia menyediakan layanan konsultasi online di laman pdskji.org. Tidak perlu menunggu sampai "parah." Evaluasi dini bukan tanda lemah. Tanda lemah adalah menunda pertolongan karena TikTok bilang kamu cuma butuh rebahan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah bed rotting itu depresi?
Tidak selalu. Bed rotting dalam dosis kecil, sekali-sekali, bisa jadi bentuk istirahat yang sehat. Tapi kalau berlangsung lebih dari satu atau dua hari, disertai kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, gangguan tidur, dan isolasi sosial, itu bisa jadi gejala depresi yang perlu evaluasi profesional.
Bedanya bed rotting dan depresi apa?
Bed rotting sebagai istirahat adalah pilihan sadar untuk recharge, masih bisa menikmati hobi, dan merasa segar setelahnya. Depresi ditandai dengan tidak adanya pilihan (tidak bisa bangun), anhedonia (hobi terasa hambar), dan tetap merasa lelah meski sudah tidur berjam-jam.
Kenapa bed rotting viral di TikTok?
Karena tren ini menormalisasi kelelahan mental sebagai self-care. Algoritma TikTok mendorong konten yang relatable, dan bed rotting terasa aman karena semua orang pernah merasa lelah. Tapi viral tidak berarti sehat. Konten yang relatable bisa jadi gejala yang divalidasi sebagai lifestyle.
Kapan harus cari bantuan profesional?
Kalau rebahan berlangsung berhari-hari, disertai perasaan hampa, kehilangan minat pada aktivitas yang biasanya disukai, gangguan tidur, atau ada pikiran untuk mengakhiri hidup. Layanan kesehatan jiwa tersedia di Puskesmas dan hotline konsultasi PDSKJI di pdskji.org.
Apakah semua rebahan berbahaya?
Tidak. Istirahat singkat di tempat tidur untuk memulihkan energi itu sehat. Yang berbahaya adalah rebahan berjam-jam tanpa tujuan, disertai scroll media sosial tanpa henti, dan tidak ada niat untuk kembali beraktivitas. Seperti yang kami bahas di emotional exhaustion: bukan sekadar capek, kamu kosong, kelelahan emosional punya bedanya dengan sekadar capek.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Quiet Living Bukan Pilihan Sadar, Adaptasi Ekonomi yang Dikemas Jadi Filosofi
Quiet living dan frugal living katanya pilihan sadar Gen Z. Tapi kelas menengah menyusut 1.2 juta orang. Mungkin ini adaptasi yang dikemas sebagai filosofi.
Baca selengkapnya
Perfeksionisme Gen Z Bukan Ambisi, Ketakutan yang Dikemas sebagai Standar Tinggi
Perfeksionisme Gen Z naik 33% dalam 27 tahun. Bukan ambisi, ketakutan dinilai tidak cukup. Link ke prokrastinasi, burnout, dan people pleaser.
Baca selengkapnya
Hustle Culture Bukan Ambisi, Itu Burnout yang Dikemas sebagai Dedikasi
25,5% pekerja Indonesia kerja >49 jam/minggu. Stanford buktikan produktivitas turun setelah 50 jam. Hustle culture menguntungkan bos, bukan kamu.
Baca selengkapnya