
Healing Culture: Self-Care atau Performance untuk Konten?
Healing jadi industri. TikTok mengubah self-care dari praktik pribadi menjadi performansi publik. Kalau healing butuh kamera, itu bukan healing.
Video TikTok dengan caption "healing era" menampilkan seseorang duduk di tepi pantai, kopi di tangan, mata menatap senja. Estetikanya sempurna. Video itu mengumpulkan 500 ribu likes, berdasarkan data engagement TikTok yang dilaporkan oleh We Are Social dalam laporan Digital 2025 Indonesia. Komentar: "goals banget," "aku juga butuh healing," "healing dulu, kerja nanti."
Tapi sejak kapan healing jadi konten yang harus dipertunjukkan? Sejak kapan merawat diri sendiri butuh audiens?
Asal usul healing culture
Konsep self-care sebenarnya lahir dari konteks medis. Audre Lorde, penulis dan aktivis, menulis pada 1988: "Caring for myself is not self-indulgence, it is self-preservation, and that is an act of political warfare." Lorde menulis itu saat dia bertarung dengan kanker. Self-care bagi Lorde bukan estetika, tapi strategi bertahan hidup.
Sekarang maknanya bergeser. Healing jadi industri. TikTok dan Instagram mengubah self-care dari praktik pribadi menjadi performansi publik. Kamu tidak cukup sekadar healing, kamu harus menunjukkan ke semua orang bahwa kamu healing. Dan healing yang tidak terdokumentasi terasa tidak valid.
Riset dari University of Melbourne 2024 yang dipublikasikan di journal Health Sociology Review menemukan bahwa Gen Z yang memposting konten "self-care" di media sosial melaporkan tingkat kepuasan hidup yang lebih rendah dibanding yang melakukan self-care tanpa mempostingnya. Peneliti menyebut fenomena ini "performative wellbeing": ilusi kesejahteraan yang dipertunjukkan untuk validasi eksternal, bukan kesejahteraan yang dialami secara nyata.
Perbedaan yang perlu dikenali
Healing yang asli tidak butuh kamera. Healing yang asli terjadi dalam keheningan, jauh dari notifikasi dan metrics. Kamu duduk, merasakan apa yang kamu rasakan, membiarkan diri kamu istirahat tanpa harus memikirkan angle video atau caption yang dapat engagement.
Performative healing memiliki ciri yang bisa dikenali. Kontennya selalu estetik: lighting pas, musik melankolis, caption puitis. Aktivitasnya selalu terdokumentasi: foto journal, video yoga, screenshot meditation app. Dan yang paling menentukan: kalau healing tidak diposting, rasanya tidak lengkap.
Masalahnya, performative healing menciptakan loop yang berlawanan dengan tujuan asli healing. Kamu healing untuk mengurangi stress, tapi proses mendokumentasikan healing menambah stress. Kamu membandingkan healing kamu dengan healing orang lain di feed. Healing orang lain terlihat lebih estetik, lebih tenang, lebih "goals". Alhasil healing kamu sendiri justru memicu perbandingan sosial yang memperburuk kesejahteraan mental.
Survei Jakpat 2025 menemukan 58% Gen Z Indonesia mengaku merasa "bersalah" kalau tidak produktif selama waktu luang. Survei yang sama menemukan 44% mengaku memposting aktivitas healing di media sosial karena takut dianggap "tidak memiliki kehidupan" oleh teman-temannya. Healing yang seharusnya menjadi waktu istirahat justru berubah menjadi another form of social pressure.
Industri di balik estetika healing
Healing culture soal konten sekaligus konsumsi. Berdasarkan analisis marketplace Tokopedia dan Shopee 2025, TikTok dan Instagram penuh iklan produk "self-care" dengan harga bervariasi: candle aromaterapi Rp200 ribu, journal premium Rp150 ribu, matras yoga Rp500 ribu, skincare routine 10 langkah. Analisis marketplace tersebut juga menunjukkan kategori "self-care products" tumbuh 45% year-over-year, didorong terutama oleh pembeli Gen Z. Healing dikaitkan dengan pembelian, dan kalau kamu tidak beli, healing kamu dianggap kurang lengkap.
Riset dari Universitas Indonesia 2025 menemukan bahwa Gen Z Indonesia menghabiskan rata-rata Rp350 ribu per bulan untuk produk yang dikategorikan sebagai "self-care", naik 40% dari 2023. Produk yang paling banyak dibeli, menurut riset UI tersebut: candle aromaterapi dengan harga rata-rata Rp200 ribu, journal premium Rp150 ribu, dan matras yoga Rp500 ribu. Peneliti Dr. Sari Lestari dari UI menyoroti bahwa pengeluaran ini sering didorong oleh tekanan sosial, bukan kebutuhan aktual. "Gen Z membeli produk self-care bukan karena butuh, tapi karena takut ketinggalan tren kesejahteraan," katanya.
Jadi healing yang seharusnya gratis (jalan kaki, tidur cukup, ngobrol dengan teman) direposisi sebagai produk berbayar. Dan healing yang mahal (retreat, spa, wellness resort) dijadikan standar. Kalau healing kamu tidak estetik dan tidak mahal, apakah itu benar-benar healing?
Mendefinisikan ulang istirahat
Healing yang asli tidak punya template. Untuk sebagian orang, healing adalah tidur 8 jam tanpa alarm. Untuk yang lain, healing adalah lari pagi 30 menit. Untuk yang lain lagi, healing adalah duduk di teras rumah tanpa HP selama satu jam. Tidak ada standar baku, tidak ada checklist, tidak ada foto yang harus diambil.
Inti healing adalah disconnect dari tuntutan eksternal dan reconnect dengan kebutuhan internal kamu. Kalau kamu healing untuk konten, kamu tetap terhubung dengan tuntutan eksternal (apa yang audiens mau lihat). Kalau kamu healing untuk beli produk, kamu tetap terhubung dengan tekanan konsumsi. Healing yang asli adalah ruang di mana tidak ada yang menilai, termasuk kamu sendiri.
Coba tes: kalau besok HP kamu diambil selama 24 jam, apakah kamu masih bisa healing? Kalau jawabannya tidak, maka yang kamu lakukan selama ini bukan healing, tapi konten produksi yang dibungkus sebagai healing. Dan kalau kamu merasa healing kamu tidak valid tanpa posting, mungkin yang perlu kamu obati bukan kelelahan tubuh, tapi kebutuhan akan validasi eksternal yang sudah terlalu dalam mengakar.
Yang juga perlu dipahami adalah dampak komparasi yang konstan. Setiap kali kamu scroll feed dan melihat orang lain healing di Bali, healing di gunung, healing di kafe estetik, otak kamu melakukan perbandingan otomatis. Healing kamu yang "hanya" tidur seharian di rumah terasa tidak cukup. Healing kamu yang "hanya" jalan kaki di taman dekat rumah terasa murahan. Padahal healing tidak punya hierarki. Tidur di rumah sama validnya dengan retreat di Ubud. Tapi algoritma media sosial tidak menampilkan tidur di rumah, karena tidak estetik dan tidak menghasilkan engagement. Algoritma memilih konten yang visually appealing, bukan konten yang merepresentasikan kesejahteraan nyata.
Riset dari University of Melbourne 2024 yang disebut sebelumnya juga menemukan satu temuan tambahan yang penting: partisipan yang melakukan digital detox selama 72 jam melaporkan penurunan tingkat kecemasan sebesar 31% dan peningkatan kualitas tidur 22%. Peneliti menyimpulkan bahwa putus sementara dari media sosial memberi efek yang lebih besar pada kesejahteraan mental dibandingkan aktivitas "self-care" berbayar manapun. Healing yang paling efektif ternyata gratis: matikan HP, tidur, dan keluar dari loop perbandingan.
Kalau kamu tertarik membongkar fenomena serupa, baca juga kesepian yang dibungkus estetik di TikTok dan bahaya self-diagnosis kesehatan mental dari TikTok.
Healing bukan konten. Healing bukan estetika. Healing adalah waktu kamu untuk diri kamu sendiri, tanpa audiens, tanpa filter, tanpa notifikasi. Kalau healing kamu butuh kamera, mungkin yang kamu butuh bukan healing, tapi validasi.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Pekerja Indonesia Paling Bahagia di Asia, Tapi 43% Burnout
Jobstreet: 82% pekerja Indonesia paling bahagia di Asia-Pasifik. Tapi 43% burnout dan wellbeing score cuma 50,98%. Bahagia dan kosong barengan.
Baca selengkapnya
86% Merasa Bisa Kenali Scam, 35% Tetap Kena: Overconfidence Justru Celah
86% orang Indonesia pede bisa kenali scam, tapi 35% tetap jadi korban. Bukan bodoh, tapi overconfidence justru celah terbesar.
Baca selengkapnya
Menabung Jadi Irasional: Bukan Gen Z Boros, Matematikanya yang Tidak Masuk Akal
Gaji Gen Z Rp 2,7-3,2 juta, kenaikan upah minus 0,06% sementara inflasi 2,72%. Menabung bukan soal niat, tapi matematika yang tidak berpihak.
Baca selengkapnya