Lewati ke konten utama
BPJS Kelas 3 Dihapus: Gen Z Pilih Sakit Sendiri, Bukan Boros, Gaji Tidak Cukup
Uang8 menit baca

BPJS Kelas 3 Dihapus: Gen Z Pilih Sakit Sendiri, Bukan Boros, Gaji Tidak Cukup

54% Gen Z belum punya asuransi. BPJS Kelas 3 cuma Rp35.000 tapi tetap tidak dibayar. Bukan tidak peduli kesehatan, matematika gaji vs premi yang tidak masuk.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Hook

54% Gen Z Indonesia belum punya asuransi menurut Indonesia Millennial and Gen Z Report 2027 dari IDN Research Institute. BPJS Kelas 3 cuma Rp35.000 per bulan. Harga dua cangkir kopi di kafe Jakarta. Tapi Gen Z pilih tidak bayar. Bukan karena tidak tahu risiko sakit. Karena Rp35.000 itu pun sudah dihitung untuk kebutuhan lain yang lebih mendesak: makan hari ini.

Sistem Ganti Kelas, Tapi Siapa yang Diganti?

Pemerintah sudah tandatangani Perpres Nomor 59 Tahun 2024. Kelas 1, 2, 3 BPJS Kesehatan akan dihapus, diganti dengan Kelas Rawat Inap Standar atau KRIS. Maksudnya: semua peserta dapat fasilitas sama, maksimal 4 tempat tidur per ruang, kamar mandi dalam, 12 kriteria standar. Maret 2026, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin target revisi Perpres baru bisa ditandatangani bulan itu juga. Tapi hingga sekarang, implementasi masih mundur. Dari yang seharusnya Juli 2025, diundur ke akhir 2025, dan Maret 2026 Menkes bilang "mudah-mudahan bulan ini."

Selama masa transisi, iuran tidak berubah. Tahun 2026, iuran BPJS Kesehatan tetap sama. Kelas 3 Rp35.000 per orang per bulan (setelah subsidi pemerintah Rp7.000). Kelas 2 Rp100.000. Kelas 1 Rp150.000. Pemerintah memastikan tidak ada kenaikan iuran 2026 demi menjaga daya beli masyarakat.

Tapi wacana kenaikan premi untuk peserta mandiri terus dibahas. Menkes Budi Gunadi Sadikin bilang kenaikan hanya akan menyasar peserta "menengah ke atas." Masyarakat miskin tetap dibayari pemerintah. Pertanyaannya: siapa yang dikategorikan "menengah ke atas"? Gen Z dengan gaji Rp4 juta di Jakarta, yang biaya hidupnya Rp7 juta per bulan? Apakah itu "menengah ke atas"?

Matematika yang Tidak Masuk

UMP Jakarta Rp5,4 juta per bulan. Biaya dasar individu di Jakarta sudah mendekati Rp7 juta per bulan, bahkan sebelum menyentuh biaya tempat tinggal. Itu data Kompas Money 2026. Jadi sebelum kamu bayar kos, sebelum kamu bayar BPJS, kamu sudah defisit Rp1,6 juta.

BPJS Kelas 3 Rp35.000 per bulan memang murah di atas kertas. Tapi untuk gig worker, freelancer, atau pekerja entry-level dengan gaji tidak menentu, Rp35.000 itu bukan soal murah atau mahal. Itu soal prioritas. Makan hari ini, transport besok, kos akhir bulan. BPJS masuk kategori "nanti saja."

Survei Jakpat November 2025 yang dilibatkan 1.945 responden menemukan 42% Gen Z mengandalkan orang tua sebagai sumber penghasilan utama. Bukan kerja part-time, bukan bisnis. Orang tua. GoodStats melaporkan 62,7% Gen Z Indonesia masih menerima dukungan finansial dari orang tua untuk kebutuhan seperti makan, asuransi, atau tempat tinggal. Hanya 17,6% yang mengaku sudah benar-benar mandiri secara finansial.

Kalau gaji belum stabil, BPJS bukan prioritas. Laporan IDN Research Institute menunjukkan alasan utama Gen Z tidak beli asuransi tambahan: 36,9% merasa cukup dengan BPJS, 32,4% punya prioritas keuangan lain, dan 26,6% merasa premi terlalu mahal. Tapi tunggu. Kalau 36,9% merasa cukup BPJS, kenapa 54% belum punya asuransi sama sekali? Karena "cukup BPJS" tidak sama dengan "aktif bayar BPJS." Banyak yang merasa sudah terdaftar BPJS keluarga via ortu, tapi tidak aktif bayar sendiri.

Krisis Kepercayaan, Bukan Krisis Kesehatan

Masalahnya bukan cuma uang. Masalahnya kepercayaan. Survei IDN Research Institute menemukan 70,7% Gen Z terpengaruh isu penolakan klaim asuransi yang beredar di media sosial. Dari jumlah itu, 55% Gen Z jadi ragu beli asuransi setelah dengar kasus klaim ditolak. 18,8% menyatakan tidak lagi mempercayai industri asuransi. Hanya 29,3% yang tetap yakin.

Ini bukan skeptisisme tanpa dasar. Gen Z tumbuh dengan feed media sosial yang penuh cerita klaim ditolak, rumah sakit nolak BPJS, administrasi berbelit. Apakah semua cerita itu akurat? Tidak. Tapi apakah Gen Z punya waktu untuk verifikasi satu per satu? Juga tidak. Mereka sudah capek kerja, sudah capek cari uang, tidak punya energi untuk navigasi sistem yang terasa tidak bekerja untuk mereka.

Data BPS Susenas Maret 2025 menunjukkan 81,15% pemuda Indonesia punya jaminan kesehatan. Angkanya terdengar bagus. Tapi teliti lagi: 62,77% itu BPJS PBI, alias iuran ditanggung pemerintah. Yang bayar sendiri (BPJS non-PBI) cuma 31,75%. Sisanya, asuransi dari kantor 3,86%, Jamkesda 3,3%, asuransi swasta nyaris tidak ada. Jadi mayoritas "punya jaminan kesehatan" itu karena pemerintah yang bayar, bukan karena mereka aktif bayar sendiri.

Seperti yang kami bahas di Gen Z Belanja Rp12 Juta, Tapi BPJS Ditunda: Bukan Boros, Krisis Persepsi, Gen Z bisa belanja Rp12 juta per bulan tapi iuran BPJS Rp35.000 dianggap bisa ditunda. Bukan ability to pay yang rusak. Willingness to pay yang rusak. Dan willingness to pay itu rusak karena kepercayaan pada sistem sudah tipis.

KRIS Naik Standar, Tapi Siapa yang Bayar?

KRIS dirancang untuk menaikkan standar layanan. Kelas 3 yang sebelumnya 8 sampai 12 tempat tidur dalam satu ruang, sekarang maksimal 4. Kamar mandi dalam ruangan. Ventilasi memenuhi standar. Pencahayaan memenuhi standar. 12 kriteria yang harus dipenuhi rumah sakit.

Tapi kesiapan rumah sakit belum merata. Data Kemenkes Maret 2026: dari 2.554 rumah sakit target, baru 1.436 RS atau 57,28% yang memenuhi 12 kriteria KRIS. 786 RS baru memenuhi 9 sampai 11 kriteria. 189 RS baru 5 sampai 8 kriteria. 46 RS cuma 1 sampai 4 kriteria. Dan 70 RS belum memenuhi satu kriteria pun.

Standar naik berarti biaya operasional rumah sakit naik. Kamar mandi dalam, AC, ventilasi baru, outlet oksigen per tempat tidur. Siapa yang bayar ujungnya? Kalau iuran tidak naik, rumah sakit yang serap biaya. Kalau iuran naik, peserta yang serap. Dan kalau peserta tidak mampu, mereka keluar dari sistem.

Riset IFG Progress bersama LPEM UI 2024 menemukan hal menarik: 44,6% responden usia di bawah 30 tahun ingin menjadi peserta asuransi dalam waktu kurang dari 1 tahun. Niat ada. Kemauan ada. Tapi daya beli tidak ada. 40,6% usia di bawah 30 tahun berencana ikut asuransi dalam 1 sampai 2 tahun. Dan 23,9% baru berencana di atas 5 tahun. Niat tidak konversi ke aksi karena uang tidak cukup.

Seperti yang kami tulis di Dana Darurat 6x Gaji: Saran Finansial dari Orang yang Sudah Makan, saran finansial dari atas sering tidak memperhitungkan realita gaji di bawah. BPJS Rp35.000 terdengar murah untuk yang gajinya Rp10 juta. Tapi untuk yang gajinya Rp3 sampai 4 juta dan belum stabil, itu uang makan 3 hari.

Insight

Narasi "Gen Z tidak peduli kesehatan" salah. Data menunjukkan niat ada. 44,6% usia di bawah 30 tahun ingin ikut asuransi dalam kurang dari 1 tahun. Tapi niat tidak sama dengan kemampuan. Sistem hapus kelas 3, paksa naik kelas atau keluar. Gen Z pilih keluar. Bukan karena tidak tahu risiko sakit. Karena Rp35.000 per bulan itu uang yang sudah dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih mendesak.

Saya pernah ngobrol dengan teman saya yang kerja freelance di Jakarta. Gajinya tidak menentu, kadang Rp3 juta, kadang Rp5 juta tergantung project. Dia bilang: "Saya tahu BPJS penting. Tapi kalau saya bayar BPJS Rp35.000 bulan ini, saya kurang makan 2 hari. Mau pilih mana?" Itu bukan pilihan antara sehat atau tidak sehat. Itu pilihan antara makan hari ini atau jaminan kesehatan yang mungkin tidak dipakai bulan ini.

Seperti yang kami bahas di Generasi Nanti Dulu: Bukan Malas, Gaji Tidak Mau Tumbuh, gaji Gen Z stagnan sementara biaya hidup terus naik. BPJS Kelas 3 Rp35.000 tidak naik. Tapi harga makan, transport, kos terus naik. Jadi Rp35.000 yang dulu terjangkau, sekarang terasa lebih berat karena sisa uang yang dimiliki makin tipis.

Conclusion

BPJS hapus kelas 3, premi mungkin naik, Gen Z keluar. Bukan tidak peduli kesehatan. Matematika gaji yang tidak masuk. Sistem bilang "naik kelas", tapi gaji tidak naik kelas. 54% Gen Z belum punya asuransi. 70,7% tidak percaya industri asuransi. 44,6% ingin ikut asuransi tapi tidak mampu. Jadi Gen Z pilih sakit sendiri. Bukan boros. Sistem yang tidak dirancang untuk gaji mereka.

FAQ

Apakah BPJS Kelas 3 benar-benar dihapus?

Belum. KRIS direncanakan mengganti kelas 1, 2, 3 BPJS Kesehatan, tapi implementasi mundur. Seharusnya Juli 2025, diundur ke akhir 2025. Maret 2026, Menkes target revisi Perpres baru. Selama masa transisi, iuran masih sama: Kelas 3 Rp35.000, Kelas 2 Rp100.000, Kelas 1 Rp150.000 per orang per bulan.

Berapa iuran BPJS Kesehatan 2026?

Tidak ada kenaikan iuran BPJS Kesehatan 2026. Kelas 3 Rp35.000 per orang per bulan (setelah subsidi pemerintah Rp7.000). Kelas 2 Rp100.000. Kelas 1 Rp150.000. Pemerintah memastikan tidak ada kenaikan demi menjaga daya beli masyarakat.

Kenapa banyak Gen Z tidak bayar BPJS?

54% Gen Z belum punya asuransi menurut IDN Research Institute. Alasan utama: 36,9% merasa cukup BPJS, 32,4% punya prioritas keuangan lain, 26,6% merasa premi mahal. 70,7% Gen Z terpengaruh isu klaim ditolak di media sosial, dan 55% jadi ragu beli asuransi. Bukan tidak peduli, tapi daya beli dan kepercayaan yang tipis.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga