Lewati ke konten utama
Bunga Tabungan 0.5%, Bunga Pinjaman 24%: Bank Makan Kamu
Uang•7 MENIT BACA

Bunga Tabungan 0.5%, Bunga Pinjaman 24%: Bank Makan Kamu

“Bunga tabungan 0.5%, inflasi 2.88%, kartu kredit 24%. Bank pinjamkan balik uangmu di 24%. Selisihnya bikin bank untung Rp78 triliun dalam 5 bulan.”

Diterbitkan

Bank Indonesia mencatat bunga tabungan bank umum 0.5% per tahun, inflasi 2.88%, kartu kredit 24%. Kamu simpan uang di 0.5%, bank pinjamkan balik ke kamu di 24%. Selisihnya 23.5%, itu yang membuat 4 bank terbesar Indonesia untung Rp78 triliun dalam 5 bulan.

Tapi 0.5% itu bukan kebetulan, itu desain sistem perbankan.

Narasi Menabung Ditanam Sejak Kecil

Sebagian besar dari kita dibesarkan dengan pemahaman: menabung di bank itu bijak. Buku tabungan BCA atau BRI di masa SD bukan cuma tempat simpan uang lebaran, tapi simbol bahwa kamu anak yang rajin dan hemat. Orang tua bangga melihat saldo tumbuh, meski yang tumbuh cuma angkanya, bukan nilainya.

BI Rate per Juni 2026 berada di 5.75% (BI, Juni 2026), Lending Facility 6.50%, Deposit Facility 4.75%. Tapi bunga tabungan kamu cuma 0.5% (BI SEKI, Juli 2026). Selisih antara BI Rate dan bunga tabungan itu bukan margin kecil, itu peta keuntungan bank.

Kenapa selisihnya sebesar itu? Jawabannya ada di cara bank dapat uang dari uangmu.

Cara Bank Dapat Uang dari Uangmu

Spread: Selisih yang Tidak Kamu Hitung

Spread bank adalah selisih antara bunga yang bank bayar ke kamu (simpan) dan bunga yang bank charge ke kamu (pinjam). Ini mesin utama profitabilitas perbankan.

Kamu simpan uang di bunga 0.5% (BI SEKI, Juli 2026). Bank pakai uang itu untuk dipinjamkan kepada orang lain, atau balik ke kamu, di bunga yang jauh lebih tinggi. KPR dikenakan bunga 8 sampai 11% per tahun (BTN SBDK, Juli 2026). KTA 10.56 sampai 30% efektif per tahun (TitikTemu, 2026). Kartu kredit 18 sampai 24% per tahun (GenHebat, 2026).

Spread-nya: KPR 7.5 sampai 10.5%, KTA 10 sampai 29.5%, kartu kredit 17.5 sampai 23.5%. Setiap rupiah yang kamu simpan, bank putar jadi pinjaman dengan margin belasan persen.

Spread Bunga: Kamu Simpan vs Bank Pinjamkan

Selisih 0.5% vs 8-24% per tahun

Sumber: BI SEKI, BTN SBDK, GenHebat, 2026

NIM: Margin yang Membuat Bank Kaya

Net Interest Margin (NIM) adalah ukuran seberapa besar spread yang bank kantongi per unit uang. OJK mencatat NIM industri perbankan Indonesia 4.36% per Mei 2026, turun dari 4.45% setahun sebelumnya.

Bank-bank besar punya NIM lebih tinggi. BCA mencatat NIM 5.3% semester I 2026. Mandiri 4.37%. BTN 3.5% (Kontan, Juli 2026). Bank komplain NIM "tertekan" karena biaya dana naik lebih cepat dari bunga kredit.

Tapi 4.36% dari triliunan rupiah uang nasabah = laba bersih Rp78.47 triliun dalam 5 bulan. Itu hasil dari mesin spread yang berjalan 24 jam, 7 hari seminggu, tanpa kamu sadar.

Inflasi: Musuh yang Tidak Kamu Lihat

Daya Beli yang Menguap

BPS mencatat inflasi tahunan Juli 2026 sebesar 2.88% (yoy). IHK naik dari 108.60 ke 111.73. Kelompok transportasi naik 5.12%, makanan 2.97%, perawatan pribadi 9.04% (BPS/Kompas, Agustus 2026).

Bunga tabungan 0.5% vs inflasi 2.88% = kamu rugi 2.38% per tahun dalam daya beli. Deposito 2.5% pun masih rugi riil 0.38% (Suara/CNBC, Agustus 2026).

Hitung konkret: Rp10 juta nabung 1 tahun. Bunga 0.5% = Rp50.000. Setelah pajak bunga 20% = Rp40.000 bersih. Sementara inflasi makan Rp288.000 dari daya beli uangmu. Kamu rugi riil Rp248.000 per tahun. Itu harga yang kamu bayar untuk "menabung di bank".

Kelompok transportasi inflasi 5.12% berarti ongkos naik ojol, naik bensin, naik tarif angkutan. Uang yang kamu simpan di bank nilainya turun lebih cepat dari harga barang yang kamu butuhkan beli.

Kartu Kredit: Jebakan 36 sampai 48%

Bunga 24% Itu Bukan 24%

Bunga kartu kredit Indonesia: BCA 21 sampai 23%, Mandiri 18 sampai 24%, BRI 20 sampai 23%, BNI 21 sampai 24% per tahun (GenHebat, 2026). Angka itu terlihat "masuk akal" kalau kamu lihat per bulan: 1.5 sampai 2% per bulan.

Tapi Bank Indonesia memperpanjang kebijakan relaksasi minimum payment 5% sampai 31 Desember 2026 (CNN Indonesia, Juni 2026). Kebijakan ini terdengar "kebijakan baik", kamu bayar cuma 5% dari tagihan. Realitasnya: semakin lama kamu bayar minimum, semakin lama bunga berbunga.

Kalau kamu bayar minimum terus dan nggak lunas, effective rate bisa melambung jadi 36 sampai 48% per tahun. Itu lebih mahal dari pinjaman online manapun. Dan bank pakai uang yang kamu simpan di 0.5% untuk meminjamkan balik ke kamu di 36 sampai 48%.

BI Rate 5.75%, Lending Facility 6.50%, tapi bunga tabungan 0.5%. Bank bayar kamu 0.5% untuk pakai uangmu, charge kamu 24 sampai 48% kalau kamu mau pinjam uang mereka. NIM 4.36% = margin yang membuat 4 bank terbesar untung hampir Rp200 triliun per tahun.

Laba Bank, Kerugianmu

Rp78 Triliun dalam 5 Bulan

Infobank mencatat laba bersih 4 bank terbesar per Mei 2026: BCA Rp25.68 triliun, Mandiri Rp23.3 triliun, BRI Rp20.42 triliun, BNI Rp9.05 triliun. Total Rp78.47 triliun dalam 5 bulan. Proyeksi tahunan: Rp198.87 triliun (Indo Premier).

Rp78 triliun dalam 5 bulan = Rp15.7 triliun per bulan = Rp522 miliar per hari. Setiap hari, 4 bank terbesar Indonesia mengantongi laba bersih setara Rp522 miliar. Dari mana? Dari spread bunga. Dari selisih 0.5% (simpan) vs 8 sampai 24% (pinjam).

Setiap rupiah yang kamu simpan di bank, bank pakai untuk pinjamkan balik, ke kamu atau orang lain, di bunga 8 sampai 24%. Kamu dapat 0.5%, bank dapat sisanya. Itu bukan kebetulan, itu model bisnis.

Kalau kamu lihat polanya: bunga simpan rendah, bunga pinjam tinggi, inflasi di tengah. Semua pointing ke satu arah.

Insight

Bank bukan tempat simpan uang. Bank adalah bisnis spread. Mereka mengambil uangmu dengan murah, meminjamkan dengan mahal, dan selisihnya jadi laba mereka. Itu bisnis yang sah. Yang tidak sah adalah narasi bahwa menabung di bank = masa depan aman.

Narasi ini ditanam sejak kamu kecil. Buku tabungan hadiah ulang tahun. Nasihat orang tua "nabung ya biar nanti bisa beli rumah". Tidak ada yang bilang: bunga tabungan 0.5% nggak akan pernah kejar inflasi 2.88%. Tidak ada yang bilang: uangmu di bank sebenarnya menguap 2.38% per tahun.

Aku juga dulu percaya menabung di bank itu aman. Sampai aku hitung: Rp10 juta nabung 5 tahun, bunga bersih total Rp200 ribu. Inflasi makan Rp1.4 juta dari daya beli. Uangku "aman" di bank, tapi nilainya terus turun. Seperti menabung jadi irasional, matematikanya memang rusak dari awal.

Gen Z sudah mulai pindah ke emas, kripto, reksa dana. Bukan karena pinter investasi. Karena Gen Z beli emas adalah respon rasional terhadap sistem finansial yang nggak bekerja untuk mereka. Tabungan 0.5% nggak masuk akal di dunia inflasi 2.88%.

Conclusion

Jadi bukan kamu yang salah menabung. Sistemnya yang dirancang untuk profit dari uangmu: 0.5% untuk kamu, 24% untuk mereka. Rp78 triliun dalam 5 bulan dibikin dari selisih itu.

Pertanyaannya bukan menabung atau tidak. Pertanyaannya: di mana uangmu bekerja untuk kamu, bukan untuk bank? Kalau kamu masih pakai paylater atau cicilan KPR, kamu sudah ada di sisi lain dari spread, sisi yang bayar 8 sampai 24%, bukan sisi yang dapat 0.5%.

FAQ

Berapa bunga tabungan bank di Indonesia?

Bunga tabungan bank umum Indonesia 0.5 sampai 1% per tahun (BI SEKI, Juli 2026). Bank BUMN seperti BCA, Mandiri, BRI, BNI memberikan bunga tabungan 0.66 sampai 0.97% per tahun.

Kenapa bunga tabungan rendah?

Bank menetapkan bunga tabungan rendah karena cost of fund yang ditekan untuk menjaga NIM. BI Rate 5.75% tapi bunga tabungan 0.5%, selisihnya menjadi margin bank.

Apakah menabung di bank rugi?

Secara daya beli, ya. Bunga tabungan 0.5% per tahun vs inflasi 2.88% = rugi riil 2.38% per tahun. Deposito 2.5% pun masih rugi riil 0.38%.

Berapa selisih bunga simpan dan pinjam bank?

Selisih (spread) bunga tabungan 0.5% vs bunga pinjaman: KPR 8 sampai 11% (spread 7.5 sampai 10.5%), KTA 10 sampai 30% (spread 10 sampai 29.5%), kartu kredit 18 sampai 24% (spread 17.5 sampai 23.5%).

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Sumber & Metodologi

Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.
  5. 5.
  6. 6.
  7. 7.
  8. 8.
  9. 9.
  10. 10.
  11. 11.
  12. 12.
  13. 13.
  14. 14.

Komentar (0)

Login untuk berkomentar