Lewati ke konten utama
Gen Z Beli Emas: Bukan Investasi Tradisional, Tidak Percaya Sistem Finansial
Uang•8 MENIT BACA

Gen Z Beli Emas: Bukan Investasi Tradisional, Tidak Percaya Sistem Finansial

“Gen Z dominasi pertumbuhan nasabah emas 116% YoY. Bukan FOMO atau ikut orang tua. Emas adalah protes diam terhadap sistem finansial yang tidak dipercaya.”

Diterbitkan

Emas dan Pergeseran Generasi

Semua bilang emas itu investasi orang tua. Tapi data Pegadaian 2025 menunjukkan Gen Z tumbuh 116 persen YoY sebagai nasabah tabungan emas, jauh melampaui milenial yang hanya tumbuh 4 persen. Gen Z tidak ikut orang tua. Mereka tidak percaya alternatif lain.

Media menyebut ini "melek finansial" atau "FOMO". Dua narasi yang nyaman: Gen Z akhirnya pintar investasi, atau Gen Z ikut tren lagi. Tapi 116 persen pertumbuhan menurut Pegadaian bukan FOMO, itu migrasi.

Pergeseran yang Tidak Terduga

Harga emas Antam per 28 Juli 2026 berada di Rp2.622.000 per gram menurut data Antam. Naik dari Rp2.488.000 pada 1 Januari 2026, atau kenaikan 6,71 persen year-to-date menurut data Antam. Sejak launching BYOND by BSI pada Februari 2025, harga emas bullion naik 56,22 persen menurut data BSI.

BSI mencatat penjualan emas melalui aplikasi BYOND menembus 2,18 ton hingga Desember 2025, dengan 500 ribu nasabah yang didominasi usia 20-40 tahun. Pegadaian mencatat total 4,85 juta nasabah tabungan emas secara nasional, dengan Gen Z (18-27 tahun) sebagai motor pertumbuhan tertinggi.

Bukan FOMO, bukan ikut tren. Ada logika di baliknya, tapi logikanya bukan yang media ceritakan.

Ketidakpercayaan yang Menjadi Pilihan

OJK menyebut lima alasan utama Gen Z beli emas: nilainya cenderung naik dan tahan inflasi, modal awal kecil, gampang dicairkan, cocok untuk jangka panjang, dan banyak platform digital yang memudahkan transaksi.

Lima alasan yang masuk akal. Tapi alasan utamanya lebih sederhana: eliminasi. Gen Z beli emas bukan karena emas paling bagus, mereka beli karena alternatif lain tidak bisa dipercaya.

Saham? Volatile menurut data IHSG. Saham yang judi dengan grafik candle sudah kami bahas sebelumnya. Banyak Gen Z coba saham, lihat portofolio merah, keluar.

Kripto juga tidak kalah menurut observasi kami. Kripto yang bukan investasi kalau ikut FOMO. Bitcoin anjlok, koin meme scam, exchange bangkrut. Gen Z yang dulu FOMO kripto sekarang lebih hati-hati.

Reksadana punya fee management yang terus dipotong tiap tahun, return tidak selalu sepadan. Bank punya bunga tabungan simpanan di Indonesia rata-rata di bawah 1 persen per tahun menurut data OJK, di bawah inflasi. Artinya uang kamu di bank berkurang nilainya setiap tahun.

Gen Z tidak memilih emas. Mereka membuang alternatif yang tidak dipercaya, emas adalah yang tersisa.

Akumulasi Mikro, Bukan Strategi Cerdas

Survei Smytten PulseAI 2026, dilansir Pluang, menemukan 60 persen pembelian emas dilakukan dalam unit di bawah 5 gram. Khusus Gen Z, angkanya 56 persen menurut survei yang sama. 44 persen konsumen membeli emas dalam 6 bulan terakhir menurut Smytten.

Media menyebut ini "strategi Dollar Cost Averaging yang cerdas". Tapi coba hitung realistis menurut data Smytten: gaji 5 juta, sisa after kos dan makan 1,5 juta. Beli emas 1 gram per bulan di harga Rp2,6 juta menurut data Antam? Tidak bisa. Beli 0,5 gram saja masih ketat. Beli Rp50.000 per minggu via aplikasi digital menurut data Pegadaian? Itu yang masuk akal.

Ini bukan strategi investasi yang dirancang. Ini menabung yang irasional bukan karena boros, tapi matematisnya tidak masuk akal. Gen Z tidak beli emas 10 gram sekaligus karena mereka paham DCA. Mereka beli 0,5 gram karena itu yang bisa dibeli.

Tapi bukan hanya soal uang, tapi soal rasa aman.

Tempat Aman di Tengah Ketidakpastian

Pluang Research Team melaporkan 66 persen investor menganggap emas sebagai pilihan teraman. 43 persen konsumen mengasosiasikan emas dengan investasi aman, 26 persen secara spesifik menghubungkannya dengan financial security, menurut Pluang.

Untuk Gen Z, 28 persen menghubungkan emas dengan keamanan finansial sejak dini menurut Pluang. Bukan keamanan jangka panjang yang abstrak, tapi keamanan sekarang. Karena kalau besok butuh uang, emas bisa dicairkan. Saham butuh hari, reksadana butuh proses, emas Antam bisa dijual balik di butik.

Harga emas naik 56,22 persen sejak Februari 2025 menurut data BSI. Itu return yang tidak bisa ditandingi saham, kripto, atau bank dalam periode yang sama. IHSG naik-turun tergantung sentimen global. Bitcoin pernah anjlok lebih dari 20 persen dalam hitungan hari di 2025 menurut data CoinGecko. Emas konsisten naik, bukan karena emas sempurna, tapi karena emas tidak bergantung pada CEO, tidak ada laporan keuangan triwulanan, tidak ada manajer investasi yang memotong fee tiap tahun.

Gen Z muda yang FIRE movement yang matematisnya tidak cocok Indonesia sudah tahu: investasi jangka panjang butuh kestabilan yang tidak dimiliki saham atau kripto. Emas memberikan kestabilan itu, bukan karena emas tidak pernah turun, tapi karena emas tidak pernah nol.

Tapi aman dari apa? Dari sistem yang mereka anggap dirancang untuk orang yang sudah punya uang.

Protes Diam dengan Logika Eliminasi

Saya perhatikan pola dari diskusi investasi di forum dan media sosial Gen Z. Berdasarkan observasi saya, tidak ada yang bilang "emas adalah investasi terbaik." Yang mereka bilang: "saham rugi, kripto scam, reksadana fee-nya banyak, bank bunga 1 persen. Ya emas lah." Kamu bisa coba tanya teman kamu yang baru mulai investasi, kemungkinan besar jawabannya mirip.

Itu bukan rekomendasi, itu eliminasi. Emas menang bukan karena kualitas, tapi karena kompetisi kalah.

Media menyebut "melek finansial" atau "FOMO". Tapi 7 dari 10 responden survei Smytten PulseAI 2026 mengutamakan return, bukan kenyamanan emosional. Hanya kurang dari 5 persen beli karena tekanan keluarga, menurut data survei yang sama. Ini rasional, bukan sentiment.

Emas adalah protes diam. Gen Z tidak berdemo di depan bank, tidak menulis manifesto tentang sistem finansial. Mereka memindahkan Rp50.000 per minggu dari tabungan bank ke emas digital menurut data Pegadaian. Diam-diam, konsisten. Itu bentuk protes yang paling efektif: tidak percaya, lalu pergi.

Ini berbeda dari doom spending yang gejala menyerah. Doom spending berarti konsumsi karena putus asa, sementara beli emas adalah proteksi karena skeptis. Beda motivasi, beda hasil.

Pilihan Terakhir yang Masuk Akal

Gen Z tidak memilih emas karena emas paling bagus, mereka memilih emas karena pilihan lain tidak bisa dipercaya.

Harga emas naik 56,22 persen dalam setahun menurut data BSI. Saham? Kripto? Bank dengan bunga di bawah 1 persen menurut OJK? Gen Z sudah tahu jawabannya. Mereka tidak butuh dana darurat 6x gaji yang saran dari orang yang sudah makan untuk tahu bahwa sistem finansial saat ini tidak dirancang untuk orang yang baru mulai.

116 persen pertumbuhan YoY menurut Pegadaian. Itu bukan tren, itu migrasi. Dan migrasi terjadi bukan karena tujuan terbaik, tapi karena tempat asal tidak layak ditinggali.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kenapa Gen Z beli emas?

66 persen investor menganggap emas sebagai pilihan teraman menurut Pluang Research 2026. Gen Z tidak percaya saham yang volatile, kripto yang scam, dan bank dengan bunga di bawah 1 persen menurut OJK. Emas adalah alternatif yang masuk akal setelah alternatif lain gagal.

Apakah beli emas Gen Z itu FOMO?

Tidak. Survei Smytten PulseAI 2026 menunjukkan 7 dari 10 responden mengutamakan return di atas kenyamanan emosional, dan kurang dari 5 persen membeli karena dorongan keluarga. Ini keputusan rasional setelah melihat alternatif tidak bisa dipercaya.

Berapa modal minimal beli emas?

Mulai dari Rp50.000 melalui BSI BYOND atau aplikasi Pegadaian Tring. Untuk emas fisik Antam, pecahan 0,5 gram dibanderol Rp1.361.000 per Juli 2026. 60 persen pembelian emas dilakukan dalam unit di bawah 5 gram menurut Smytten PulseAI 2026.

Emas digital atau emas fisik?

86 persen transaksi masih terjadi offline menurut Smytten 2026, karena faktor kepercayaan dan autentikasi. Tapi emas digital tumbuh pesat: Pegadaian mencatat Gen Z tumbuh 116 persen YoY via aplikasi Tring. Emas digital lebih murah dan praktis, sementara emas fisik lebih terasa aman karena bisa dipegang.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Komentar (0)

Login untuk berkomentar