Lewati ke konten utama
Doom Spending Bukan Self-Care, Itu Gejala Menyerah
Uang6 menit baca

Doom Spending Bukan Self-Care, Itu Gejala Menyerah

Belanja impulsif bukan self-reward. Itu reaksi rasional terhadap sistem yang terasa tidak rasional. Tapi reaksi yang tidak akan pernah mengubah sistem.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Belanja sebagai Obat Sementara

Kamu habis kerja 9 jam. Pulang, buka Shopee, scroll 30 menit, checkout 3 barang yang tidak benar-benar kamu butuhkan. Besoknya pakai sekali, lalu taruh di lemari. Minggu depan, ulang lagi.

Banyak yang menyebut ini "self-reward." Kerja keras, kan, wajar kalau mau menikmati hasil. Tapi kalau pola ini terjadi setiap minggu, dan setiap kali kamu cek saldo rekening rasanya seperti ditampar, bukan self-reward namanya. Itu doom spending.

Doom spending adalah perilaku belanja impulsif berlebihan sebagai pelarian dari stres, kecemasan, atau keputusasaan terhadap ketidakpastian ekonomi. Bukan karena butuh barangnya, tapi karena butuh dopaminnya.

Data Bicara, Bukan Perasaan

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma, menjelaskan bahwa tekanan ekonomi membuat orientasi keuangan generasi muda bergeser secara radikal. Perencanaan jangka panjang mulai tergantikan oleh kebutuhan bertahan dalam jangka pendek.

Logika lama tentang menabung dan berinvestasi sebagai jalan menuju kesejahteraan mulai dipertanyakan. Sebabnya sederhana: kenaikan pendapatan tidak mampu mengejar kenaikan harga aset.

"Ketika rata-rata kenaikan gaji berkisar 4 hingga 5 persen per tahun, sementara harga rumah di area urban melonjak belasan persen, tabungan konvensional terasa sia-sia," ujarnya kepada Kompas.com pada Juni 2026.

Muncul pemikiran: kalau menabung 10 tahun tetap tidak cukup untuk uang muka rumah, untuk apa saya menyiksa diri hari ini?

Laporan Deloitte 2026 Gen Z and Millennial Survey memperkuat data ini. Sebanyak 47 persen Gen Z hidup pas-pasan dari gaji ke gaji. Lebih dari separuh responden mengaku menunda keputusan besar seperti menikah, memiliki anak, atau membangun bisnis karena kondisi finansial yang belum memungkinkan.

Yang Sebenarnya Terjadi

Doom spending bukan masalah disiplin. Bukan juga masalah generasi yang "tidak bisa menahan diri." Ini adalah reaksi rasional terhadap sistem yang terasa tidak rasional.

Kalau kamu tahu tabungan 5 tahun tidak akan cukup buat beli rumah, dan kamu tahu gaji kamu tidak akan naik signifikan dalam waktu dekat, maka uang yang kamu simpan terasa seperti uang yang "terbuang." Lebih baik habiskan sekarang untuk sesuatu yang setidaknya memberi kebahagiaan singkat.

Tapi di sinilah jebakannya.

Belanja instan, makanan enak, self-reward, atau gadget memberikan lonjakan dopamin cepat yang berfungsi sebagai coping mechanism terhadap stres. Pengeluaran itu tidak lagi didorong fungsi barang yang dibeli, melainkan kebutuhan memperoleh rasa bahagia dan tenang secara cepat di tengah ketidakpastian ekonomi.

Masalahnya, dopamin dari belanja tidak bertahan lama. Efeknya 24 jam, mungkin kurang. Setelah itu, kamu kembali ke realitas: rekening menipis, tagihan menumpuk, dan masa depan tetap tidak jelas. Lalu kamu belanja lagi. Lingkaran ini terus berputar.

High Time Preference: Istilah yang Perlu Kamu Tahu

Dalam ekonomi, fenomena ini disebut high time preference. Nilai uang saat ini dianggap jauh lebih berharga dibandingkan nilai uang di masa depan. Biasanya, ini adalah ciri masyarakat yang sedang krisis. Bukan masyarakat yang sedang tumbuh.

Generasi dengan high time preference tidak akan pernah membangun aset jangka panjang. Bukan karena tidak mau, tapi karena sistem tidak memberi insentif untuk melakukannya. Ketika tabungan konvensional terasa sia-sia, tindakan rasional jangka pendek adalah konsumsi.

Tapi tindakan rasional jangka pendek ini adalah keputusan irasional jangka panjang. Kamu tidak akan pernah keluar dari siklus gaji ke gaji kalau setiap sisa uang dihabiskan untuk dopamin sementara.

Bedakan Self-Care dengan Pelarian

Self-care adalah aktivitas yang memulihkan kamu secara nyata. Tidur cukup, olahraga, ngobrol dengan teman dekat, atau menikmati hobi yang tidak menguras rekening. Self-care membuat kamu lebih siap menghadapi esok.

Doom spending adalah kebalikannya. Kamu menghabiskan uang untuk lari dari masalah, bukan untuk memulihkan diri. Setelah belanja, masalahnya tidak hilang. Yang hilang hanya uangnya.

Kalau kamu beli sepatu baru dan besoknya masih cemas tentang masa depan, itu bukan self-care. Kalau kamu checkout keranjang Shopee tengah malam karena tidak bisa tidur karena overthinking pekerjaan, itu bukan self-care. Itu gejala.

Apa yang Bisa Kamu Lakukan

Bukan berarti kamu tidak boleh menikmati uang kamu. Tapi ada bedanya menikmati dan melarikan diri.

Pertama, kenali pemicu doom spending kamu. Apakah setelah pulang kerja yang berat? Apakah saat scroll media sosial dan melihat orang lain punya barang baru? Apakah tengah malam saat tidak bisa tidur? Setelah kenali pemicunya, kamu bisa siapkan alternatif yang tidak menguras uang.

Kedua, beri jeda 48 jam sebelum checkout barang non-esensial. Kalau setelah 48 jam masih mau beli dan mampu, lanjutkan. Kalau tidak, berarti itu hanya dorongan impulsif.

Ketiga, alokasikan persentase gaji untuk "fun money" yang memang boleh dihabiskan tanpa rasa bersalah. Tapi jumlahnya ditentukan di awal, bukan saat lagi stres. Misalnya 10 persen gaji untuk hiburan. Kalau habis, habis. Tidak nambah.

Seperti yang kami bahas di artikel paylater bukan kemudahan tapi penjaga gaji kamu, sistem memang didesain untuk membuat kamu menghabiskan uang. Iklan, algoritma, dan kemudahan pembayaran semuanya bekerja sama. Kamu yang harus sadar.

Dan seperti yang kami tulis di generasi nanti dulu: bukan malas, gaji yang tidak mau tumbuh, menunda keputusan besar bukan berarti menyerah. Tapi menunda sambil menghabiskan uang untuk dopamin sementara, itu bukan menunda. Itu menggali lubang yang lebih dalam.

Menyerah Tidak Mengubah Sistem

Doom spending adalah bentuk menyerah yang dibungkus estetik. Kamu menyerah pada ide bahwa masa depan bisa lebih baik, lalu menghabiskan uang yang seharusnya untuk masa depan demi kepuasan hari ini.

Sistem memang tidak adil. Gaji tidak tumbuh, biaya hidup naik, dan harga rumah melambung. Itu kenyataan. Tapi menyerah dengan cara menghabiskan uang tidak akan mengubah sistem. Yang berubah hanya saldo rekening kamu.

Kalau kamu merasa tabungan konvensional sia-sia, cari instrumen lain. Investasi reksa dana dimulai dari Rp10.000. Emas digital bisa beli mulai 0,1 gram. Tidak harus rumah. Tidak harus besar. Tapi harus mulai.

Lingkaran yang Harus Diputus

Doom spending bekerja seperti lingkaran: stres ekonomi mendorong belanja impulsif, belanja impulsif menguras tabungan, tabungan yang menipis menambah stres, stres mendorong belanja lagi. Setiap putaran membuat kondisi keuangan semakin parah.

Untuk memutus lingkaran ini, kamu perlu intervensi di titik yang tepat. Bukan di titik "jangan belanja" karena itu tidak akan berhasil kalau stresnya masih ada. Tapi di titik "kelola stres tanpa uang" dan "bangun tabungan kecil yang konsisten."

Mulai dengan Rp50.000 per minggu. Bukan Rp500.000 per bulan yang terasa berat. Rp50.000 yang kamu sisihkan otomatis di awal minggu, sebelum sempat dihabiskan. Setelah 3 bulan, kamu punya Rp600.000. Bukan jumlah besar, tapi cukup untuk membuktikan bahwa kamu bisa. Dan bukti kecil ini lebih kuat dari motivasi besar yang tidak pernah dieksekusi.

Karena kalau kamu terus menunggu sampai sistem berubah baru mulai menabung, kamu akan menunggu selamanya. Dan selama kamu menunggu, doom spending akan terus menggerogoti masa depan yang sebenarnya masih bisa kamu bangun.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga