
Doomscrolling Bukan Kebiasaan, Ketakutan yang Algoritma Jual
“82% remaja Indonesia doomscroll 4x seminggu, rata-rata 45 menit per sesi. Bukan kelemahan personal, algoritma yang sengaja feed ketakutan untuk engagement.”
Kamu tidak bisa berhenti scroll berita buruk. Bukan karena kamu lemah. Karena algoritma tahu ketakutan lebih menguntungkan daripada kebahagiaan.
Kamu buka aplikasi sebentar, tiba-tiba sudah jam 2 pagi. Feed penuh berita tentang bencana, korupsi dan kecelakaan serta konflik. Kamu tidak mencari hal ini, tapi ini yang muncul terus, dan kamu tidak bisa berhenti.
82% Remaja Indonesia Doomscroll 4 Kali Seminggu
Doomscrolling, kebiasaan menggulir media sosial untuk konten negatif secara terus-menerus, bukan fenomena barat yang diadopsi anak Indonesia. Ini sudah jadi perilaku harian.
Penelitian terhadap 600 remaja di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya menemukan 82,3% doomscroll minimal 4 kali seminggu, dengan rata-rata 45 menit per sesi. perilaku ini terjadi otomatis, terutama malam hari sebelum tidur. Bukan karena mereka mencari berita buruk. Karena feed yang disajikan algoritma memang didominasi konten negatif.
YouGov melaporkan 81% masyarakat Indonesia aktif di media sosial pada 2025, dengan 48% Gen Z menghabiskan 1-5 jam per hari. Survei Diginex-Inventure menemukan 31% Gen Z menghabiskan 4-6 jam per hari. Platform teratas: YouTube 78%, Instagram 75%, TikTok 65%, X 44%.
Indonesia punya rata-rata penggunaan media sosial 7 jam per hari, menurut We Are Social. TikTok mencatat 180 juta pengguna aktif, Instagram 108 juta, YouTube 151 juta. Angka ini bukan sekadar statistik konsumsi. Ini potret masyarakat yang attention-nya diperebutkan oleh platform.
Yang membuat ini berbeda dari brain rot atau sekadar kelelahan scroll: doomscrolling spesifik pada konten negatif. Kamu tidak scroll untuk hiburan. Kamu scroll untuk memantau ancaman. Otak manusia memang dirancang untuk lebih perhatian pada informasi negatif daripada positif. Algoritma tahu ini, dan memanfaatkannya.
Algoritma Tahu Kamu Takut, dan Itu Menguntungkan
Nature Human Behaviour menerbitkan studi terhadap 22.743 randomized controlled trials, menganalisis 105.000 variasi headline yang menghasilkan 5,7 juta klik dari 370 juta impresi. Hasilnya: setiap kata negatif tambahan dalam headline menaikkan click-through rate 2,3%. Kata positif justru menurunkan konsumsi.
Kata Negatif vs Positif: Dampak ke CTR
Setiap kata negatif +2.3% CTR, kata positif menurunkan
Sumber: Nature Human Behaviour, 2023 (n=22,743 RCTs, 5.7M clicks)
Ini bukan teori. Ini mekanisme bisnis.
Facebook menemukan hal sama secara internal. Wall Street Journal mengungkap bahwa algoritma Facebook memperbesar konten yang dapat reaksi "angry" 5 kali lipat dibanding konten dengan reaksi "like". Tim internal Facebook mengusulkan mengurangi pembobotan angry reaction karena dampaknya pada polarisasi dan kesehatan mental. Usulan itu tidak diimplementasikan. Alasannya sederhana: mengurangi angry reaction menurunkan engagement, dan engagement jadi metrik bisnis yang dioptimasi.
Audit algoritma Twitter yang dipublikasikan di PubMed 2025 menemukan hal serupa. Engagement-based ranking mengamplifikasi konten emosional dan permusuhan antar kelompok. Yang lebih mengejutkan: pengguna tidak lebih menyukai tweet yang dipilih algoritma. Algoritma memilih konten yang membuat orang tetap scroll, bukan konten yang membuat orang puas.
Studi PNAS terhadap 17 negara di 6 benua mengonfirmasi: manusia di seluruh dunia lebih teraktivasi secara fisiologis oleh berita negatif daripada positif. Negativity bias ini universal. Dan platform digital tahu persis cara memanfaatkannya.
Konten yang memancing marah, takut, atau moral outrage menghasilkan engagement lebih tinggi. Setiap interaksi, like, share, atau comment, memberi sinyal ke algoritma: tampilkan lagi yang serupa. Hasilnya positive feedback loop: konten emosional diamplifikasi, menciptakan algoritma bukan netral yang feed-nya didominasi ketakutan.
Kalau kamu lihat polanya, setiap kali kamu berhenti scroll, algoritma kirim konten yang lebih menakutkan. Itu bukan kebetulan.
Dari Rasa Ingin Tahu ke Gangguan Tidur
Penelitian Universitas Airlangga terhadap 190 Gen Z pengguna X menemukan doomscrolling gen z meningkatkan psychological distress dan menurunkan mental well-being. Gen Z jadi generasi yang paling banyak menyatakan media sosial berdampak negatif pada kesehatan mental mereka: 27%, tertinggi dibanding milenial 19%, gen X 14%, dan baby boomers 9%.
Penelitian di Pekanbaru terhadap 400 Gen Z menemukan korelasi positif kuat: r=0,554, p<0,001. Makin tinggi doomscrolling, makin tinggi gangguan psikologis. Penelitian Karawang terhadap 384 responden usia 13-28 tahun menemukan doomscrolling berkontribusi 75,7% terhadap penurunan kesehatan mental. Bukan korelasi lemah. Ini kontribusi dominan.
Studi terhadap 490 mahasiswa menemukan laki-laki punya tingkat doomscrolling lebih tinggi. Kelompok usia 21-24 tahun paling rentan. Dan makin lama durasi harian media sosial, makin tinggi kecenderungan doomscrolling.
Dampaknya tidak cuma mental. BMC Psychology meneliti 663 dewasa dan menemukan doomscrolling berhubungan dengan kualitas tidur buruk, dimediasi oleh nomophobia (ketakutan tanpa ponsel) dan FOMO. Siklusnya mirip dengan revenge bedtime procrastination: kamu scroll karena tidak bisa melepaskan ponsel, lalu tidur lebih buruk, lalu keesokan harinya butuh lebih banyak scroll untuk menambal kecemasan.
Shabahang et al. meneliti 800 mahasiswa di Iran dan Amerika Serikat. Hasilnya: doomscrolling memicu existential anxiety dan pesimisme tentang sifat manusia. Paparan berita negatif yang berkepanjangan mengubah cara kamu melihat dunia. Bukan karena dunia makin buruk. Karena feed kamu makin buruk.
Industri yang Untung dari Ketakutanmu
Kompas.id melaporkan data Deloitte 2024: 44% responden global mengakui kesulitan membatasi waktu layar. Angka ini naik jadi 56% untuk Gen Z dan milenial. 74% merasa terpaksa mengecek ponsel mereka.
Kamu mungkin pikir ini masalah kontrol diri. Tapi infinite scroll dirancang tanpa akhir. Autoplay tidak menunggu persetujuan. Notifikasi diciptakan untuk mengurangi jarak antar sesi. Semua fitur ini punya satu tujuan: memperpanjang waktu kamu di dalam aplikasi.
Nick Srnicek, ekonom digital, menyebut ini platform capitalism. Setiap menit kamu di dalam aplikasi dikonversi untuk tujuan komersial. Perhatian bukan aspek psikologis, tapi komoditas ekonomi. Zizi Papacharissi menyebut affective stickiness: konten yang bikin kamu tetap scroll bukan yang relevan, tapi yang memancing emosi paling kuat. Rasa penasaran, cemas dan marah serta takut. Emosi negatif lebih sticky daripada positif, sehingga kamu tidak scroll untuk informasi.
Kamu scroll karena algoritma tahu cara membuat kamu tidak bisa berhenti. Sama seperti detoks dopamin yang bukan soal disiplin, doomscrolling bukan soal kebiasaan. Ini soal desain.
Dan sementara kamu scroll berita buruk sampai jam 2 pagi, platform dapat uang dari iklan. Media yang publish berita negatif dapat lebih banyak klik. Pengiklan bayar untuk attention. Attention paling mudah didapat dari ketakutan. Lingkarannya sempurna: kamu takut, kamu scroll, platform untung, kamu tetap takut.
Insight
Saya perhatikan pola yang sama setiap malam minggu. Buka X atau TikTok, niatnya cuma cek sebentar. Tapi feed penuh berita tentang korupsi, kecelakaan, atau konflik. Satu video berlanjut ke video lain yang lebih menakutkan. Sebelum sadar, sudah 90 menit. Dan saya tidak ingat satu pun berita yang saya baca.
Penelitian dari 3 kota besar Indonesia mengonfirmasi observasi ini. 82,3% remaja doomscroll 4 kali seminggu, rata-rata 45 menit per sesi. Perilaku ini terjadi otomatis terutama malam hari, bukan pencarian informasi, tapi perilaku kompulsif yang didesain oleh sistem.
Yang membuat doomscrolling berbeda dari micro drama atau sekalah hiburan: di sini kamu merasa informed. Kamu pikir kamu sedang mencari tahu apa yang terjadi di dunia. Padahal algoritma sudah memfilter dunia untukmu, dan yang ditampilkan cuma yang paling menakutkan. Kamu tidak melihat dunia. Kamu melihat versi dunia yang paling menguntungkan untuk platform.
Conclusion
Jadi bukan kamu yang tidak bisa berhenti. Sistemnya yang tidak ingin kamu berhenti. Setiap menit ketakutanmu dikonversi jadi engagement, dan engagement dikonversi jadi uang iklan.
Kamu scroll berita buruk sampai tengah malam, tidur 5 jam, bangun cemas, buka ponsel lagi untuk "cek kabar", ketemu feed yang lebih menakutkan dari semalam. Siklus ini diulang setiap hari. Dan setiap hari, platform dapat lebih banyak data tentang apa yang membuat kamu takut, untuk feed yang lebih tepat sasaran besok.
Masalahnya bukan kamu tidak bisa berhenti. Masalahnya, ada sistem yang tidak ingin kamu berhenti.
FAQ
Apa itu doomscrolling?
Doomscrolling adalah kebiasaan menggulir media sosial untuk membaca atau menonton konten negatif secara terus-menerus. Berita tentang bencana, korupsi, konflik, atau tragedi. Perilaku ini terjadi otomatis dan sulit dihentikan.
Kenapa Gen Z Indonesia doomscrolling?
Penelitian terhadap 600 remaja di 3 kota Indonesia menemukan 82,3% doomscroll 4 kali seminggu. Pemicunya: rasa ingin tahu dan FOMO serta keinginan tetap terhubung dengan dinamika sosial. Algoritma media sosial juga memperkuat perilaku ini karena konten negatif menghasilkan engagement lebih tinggi.
Bagaimana efek doomscrolling pada kesehatan mental?
Penelitian Karawang menemukan doomscrolling berkontribusi 75,7% terhadap penurunan kesehatan mental. Efeknya mencakup kecemasan, stres, gangguan tidur, dan penurunan konsentrasi. Penelitian Pekanbaru menemukan korelasi r=0,554 antara doomscrolling dan gangguan psikologis.
Apa beda doomscrolling dan scrolling biasa?
Scrolling biasa adalah mengonsumsi konten campuran, hiburan, atau informasi. Doomscrolling spesifik pada konten negatif. Kamu tidak scroll untuk hiburan, tapi untuk memantau ancaman. Algoritma memperkuat pola ini karena konten negatif menghasilkan engagement tertinggi.
Bagaimana cara berhenti doomscrolling?
Batasi notifikasi, terutama malam hari. Atur screen time untuk aplikasi berita dan media sosial. Ganti kebiasaan scroll sebelum tidur dengan aktivitas lain. Tapi yang paling penting: sadari bahwa feed kamu bukan gambaran dunia yang objektif, melainkan kurasi algoritmik yang dirancang untuk engagement, bukan untuk kesejahteraanmu.
Newsletter
Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMSumber & Metodologi
Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.
- 1.
- 2.
- 3.
- 4.
- 5.
- 6.
- 7.
- 8.
- 9.
- 10.
- 11.
- 12.
Gacha Bukan Game, Itu Judi dengan Animasi
Game mobile pakai gacha dan loot box, mekanisme judi yang dikemas animasi. Gen Z Indonesia habiskan jutaan untuk karakter virtual tanpa nilai jual kembali.