
Generasi Nanti Dulu: Bukan Malas, Gaji yang Tidak Mau Tumbuh
55% Gen Z menunda nikah, beli rumah, punya anak karena gaji tidak kejar biaya hidup. Bukan masalah planning, tapi sistem ekonomi yang tidak berpihak.
Ada satu kata yang makin sering muncul di percakapan anak muda Indonesia: nanti.
Nanti nikah. Nanti beli rumah. Nanti punya anak. Nanti mulai bisnis. Nanti lanjut sekolah.
Bukan karena tidak mau. Karena tidak bisa. Bukan karena tidak berencana. Karena angka di slip gaji tidak mau bertemu dengan angka di tagihan.
Survei Deloitte 2026 yang melibatkan 22.500 Gen Z dan milenial di 44 negara menemukan satu hal yang tidak mengejutkan bagi siapapun yang pernah cek rekening di akhir bulan: 55% Gen Z dan 52% milenial menunda keputusan besar dalam hidup karena alasan finansial. Menikah, punya anak, beli rumah, mulai bisnis, semua ditunda.
Di Indonesia, IDN Research Institute menemukan angka yang lebih tajam: 65,8% Gen Z dan milenial Indonesia menahan pengeluaran karena takut kondisi finansial memburuk. Bukan tidak mau belanjakan uang. Takut. Karena setiap rupiah yang keluar terasa seperti langkah mendekati jurang.
Gaji Tumbuh 3%, Biaya Hidup Tumbuh 8%
Ini bukan masalah mindset. Ini matematika.
Data BPS Sakernas 2025 mencatat 7,46 juta pengangguran terbuka per Agustus 2025, naik dari 7,28 juta di Februari. Lebih mengkhawatirkan, hampir satu dari tiga pekerja Indonesia tidak bekerja penuh waktu. Dari 146,5 juta orang yang bekerja, 47,9 juta masuk kategori tidak bekerja penuh. Terjebak di pekerjaan informal, musiman, atau jam kerja rendah.
Artinya, bahkan yang "punya kerjaan" banyak yang sebenarnya tidak benar-benar bekerja dalam arti penuh. Pendapatan fluktuatif, tanpa jaminan sosial, tanpa kepastian bulan depan.
Sementara itu, harga rumah terus melambung. Biaya pendidikan naik. Kesehatan makin mahal. Kebutuhan harian terus merangkak naik. Gaji? Tumbuh jauh lebih lambat.
Seorang responden Gen Z dalam survei Deloitte bercerita: "Suami saya dan saya sama-sama berpenghasilan lebih dari enam digit, tetapi daya beli kami sekarang dibandingkan beberapa tahun yang lalu sama sekali tidak sama."
Gaji naik, tapi daya beli turun. Itu bukan masalah budgeting. Itu struktur ekonomi yang tidak bekerja untuk orang yang digaji.
Bukan Planning yang Rusak, Sistemnya yang Rusak
Banyak artikel financial planning menyarankan: buat anggaran, nabung 20%, investasi dini, kurangi ngopi di cafe.
Saran yang tidak salah, tapi tidak menyentuh akar masalah. Anggaran bulanan tidak akan menyelesaikan ketimpangan antara pertumbuhan upah dan biaya hidup. Nabung 20% dari gaji yang tidak cukup tetap tidak cukup. Investasi dini butuh modal awal yang banyak anak muda tidak punya.
Survei IDN Research Institute menemukan 46,4% responden setuju bahwa kemiskinan lebih disebabkan faktor sistemik: kondisi ekonomi, akses pendidikan, peluang kerja, struktur sosial. Bukan faktor individu seperti kemalasan atau kurang kerja keras.
Ini geseran yang penting. Anak muda tidak lagi menyalahkan diri sendiri. Mereka mulai melihat bahwa kerja keras saja tidak menjamin apa-apa, seperti yang sudah kita bahas saat PHK Tokopedia membongkar ilusi bahwa kerja keras menjamin keamanan.
Kalau 55% satu generasi menunda hidup karena alasan yang sama, bukan 55% orang yang salah planning. Ada sesuatu yang salah di level sistem.
Gig Economy: Solusi atau Jebakan?
Tekanan ekonomi mendorong banyak Gen Z ke gig economy. Ojek online, kurir, freelance desain, jasa tulis, admin sosial media. Pekerjaan kontrak jangka pendek yang diatur lewat platform digital.
Survei Jakpat terhadap 1.158 responden Gen Z menemukan 63% mengaku kompetisi yang semakin ketat menjadi tantangan utama. Gig economy memberikan fleksibilitas, tapi juga membawa masalah: pendapatan fluktuatif, tidak ada jaminan sosial, tidak ada tunjangan kesehatan, tidak ada hari libur dibayar.
Clara Siagian, peneliti dari PUSKAPA Universitas Indonesia, menjelaskan: "Pekerjaan yang ada sekarang gig, freelance, dari satu kontrak ke kontrak lain. Tentunya sangat prekariat."
Anak muda dipaksa menjadi "manusia multi peran" yang harus mengelola jadwal, pendapatan tidak pasti, dan jaminan sosial secara mandiri. Tidak ada perusahaan yang menanggung ketika sakit. Tidak ada HRD yang memastikan kesejahteraan. Tidak ada pension fund yang menunggu di masa tua.
Gig economy dijual sebagai kebebasan. Kenyataannya, ini transfer risiko dari perusahaan ke individu. Kamu bebas memilih jam kerja, tapi kamu juga bebas menanggung semua risiko yang dulu ditanggung perusahaan.
"Nanti Dulu" Bukan Kebangkrutan, Tapi Kalkulasi Rasional
Ada satu hal yang sering disalahpahami: menunda bukan berarti menyerah.
38% Gen Z dan milenial Indonesia menunda pernikahan karena alasan finansial. Bukan karena tidak mau komitmen. Karena mereka tahu menikah butuh rumah, rumah butuh DP, DP butuh gaji yang cukup, gaji yang cukup butuh pekerjaan stabil, pekerjaan stabil makin sulit didapat.
Ini kalkulasi rasional. Bukan kemalasan. Bukan ketidakdewasaan. Bukan generasi yang tidak mau dewasa.
Mereka yang menunda sebenarnya lebih rasional daripada mereka yang memaksakan hidup di atas kemampuan dan akhirnya terjebak pinjaman online yang didesain menangkap orang putus asa.
Menunda adalah respons logis terhadap sistem yang tidak memberi jaminan. Kalau kamu tidak yakin bisa menafkahi, menunda punya anak bukan keputusan bodoh. Itu keputusan paling bertanggung jawab yang bisa diambil di situasi yang tidak ideal.
Yang Harus Diperbaiki Bukan Mindset Generasi
Selama ini narasi yang dijual: Gen Z harus lebih pintar mengelola uang, lebih rajin upskilling, lebih adaptif dengan teknologi.
Tidak salah, tapi tidak cukup.
69% Gen Z dalam survei Deloitte mengatakan ketersediaan dan harga hunian berdampak langsung pada pilihan karier mereka. 51% merasa tidak mampu beli rumah. Ini bukan masalah yang selesai dengan workshop financial literacy.
Yang harus diperbaiki: struktur upah yang stagnan, regulasi ketenagakerjaan yang tidak melindungi pekerja kontrak, akses perumahan yang makin tidak terjangkau, dan sistem ekonomi yang tumbuh tapi tidak merata.
Kalau pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati 1% teratas, angka pertumbuhan itu tidak ada artinya bagi 99% sisanya. Clara Siagian menyoroti: "Kalau 1% orang paling kaya asetnya bertambah besar, itu juga tercatat sebagai pertumbuhan ekonomi."
Nanti Bukan Selamanya
Generasi "nanti dulu" bukan generasi yang menyerah. Mereka generasi yang menunggu sistem berfungsi.
Mereka masih bekerja. Masih belajar. Masih berusaha. Tapi mereka juga tahu bahwa usaha saja tidak cukup kalau strukturnya tidak berpihak.
Kalau kamu bagian dari generasi yang menunda nikah, menunda rumah, menunda anak, menunda hidup karena gaji tidak kejar biaya, kamu tidak salah. Kamu sedang membuat keputusan paling rasional di dunia yang tidak rasional.
Yang salah bukan kamu. Yang salah adalah sistem yang membuat "nanti" jadi satu-satunya jawaban yang masuk akal.
Tapi "nanti" tidak harus selamanya. Memahami kenapa sistem ini rusak adalah langkah pertama. Langkah kedua adalah menuntut perbaikan, bukan menyalahkan diri sendiri.
Kalau kamu butuh bacaan lain seputar uang dan sistem ekonomi yang tidak berpihak, coba kunjungi kategori Uang untuk artikel lain yang membongkar cara kerja uang di Indonesia.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Rp9,5 Triliun Hilang: Penipuan Online Bukan Soal Bodoh, Soal Sistem
Rp9,5 triliun hilang akibat scam, 1 dari 4 WNI jadi korban. Penipuan online bukan soal bodoh, tapi sistem yang tidak melindungi.
Baca selengkapnya
Beli Rumah Bukan Soal Kopi, Soal 25 Tahun Gaji Tanpa Makan
Rasio harga rumah dan gaji di Jakarta butuh 26 tahun tanpa makan. Bukan kopi yang bikin Gen Z sulit beli rumah, tapi sistem.
Baca selengkapnya
85% Gen Z Menolak Lamar Kerja Tanpa Info Gaji: Bukan Arogan, Rasional
85% Gen Z menolak melamar tanpa info gaji. Bukan arogansi generasi manja, tapi respons rasional terhadap ekonomi yang tidak menjanjikan stabilitas.
Baca selengkapnya