
Growth Mindset Dipakai untuk Gaslighting Kamu
Growth mindset dijual sebagai solusi atas segalanya. Tapi ketika dipakai untuk menyalahkan individu atas kegagalan sistem, ia berubah menjadi alat gaslighting.
Buka TikTok atau Instagram, dan kamu akan menemukannya dalam hitungan detik. Seseorang berbicara di depan kamera dengan keyakinan penuh: "Kamu gagal bukan karena sistemnya yang rusak. Kamu gagal karena mindsetmu yang belum berubah."
Kalimat ini dijual sebagai tamparan yang membangunkan. Tapi yang terjadi justru sesuatu yang lebih berbahaya.
Ketika mindset menjadi senjata
Konsep growth mindset pertama kali dipopulerkan oleh Carol Dweck, profesor psikologi dari Stanford, pada 2006. Intinya sederhana: orang yang percaya kemampuan bisa berkembang cenderung lebih sukses daripada yang percaya kemampuan itu tetap sejak lahir.
Secara ilmiah, ide ini punya dasar. Tapi masalahnya bukan teorinya, tapi cara ide ini diputar ulang di Indonesia.
Di tangan industri motivasi, growth mindset disederhanakan menjadi satu kalimat: "Semua tergantung mindsetmu." Kamu miskin, itu mindsetmu. Kamu di-PHK, itu mindsetmu. Kamu burnout, itu mindsetmu. Kamu tidak dapet kerja setelah ratusan lamaran, tetap mindsetmu yang disalahkan.
Itu bukan motivasi, itu gaslighting.
Gaslighting adalah manipulasi psikologis di mana seseorang dibuat merasa bahwa masalahnya ada pada dirinya, bukan pada situasi yang sebenarnya. Ketika growth mindset dipakai untuk mengabaikan sistem yang rusak, ia berfungsi persis seperti itu.
Data yang tidak nyaman
Riset dari Columbia University pada Desember 2025 menyimpulkan bahwa efek growth mindset intervention pada prestasi akademik kemungkinan besar disebabkan oleh kelemahan desain studi, bias pelaporan, dan bukan oleh perubahan mindset itu sendiri.
Sebuah meta-analisis yang dikutip oleh PMC (PubMed Central) menemukan bahwa efek growth mindset intervention secara umum kecil hingga moderat, dan sangat bergantung pada konteks implementasi. Tidak ada bukti bahwa growth mindset saja bisa mengatasi kesulitan ekonomi atau struktural.
Yang lebih mengkhawatirkan: sebuah studi tentang toxic positivity dalam konten motivasi Islami di Indonesia, yang diterbitkan di Nihayah Journal pada Agustus 2025, menemukan bahwa 28% responden merasa bersalah karena tidak mampu mempertahankan positivitas secara terus-menerus. Mereka mengonsumsi konten motivasi yang menjual growth mindset, tapi tidak pernah merasa cukup baik.
Ini hasil dari narasi yang sengaja membuat individu merasa bahwa setiap kegagalan adalah kesalahan pribadi, bukan kegagalan individu.
Struktur yang diabaikan
Kritik paling tajam datang dari peneliti yang mempelajari teori ini sendiri. Mereka menemukan bahwa ketika growth mindset ditekankan berlebihan, ia berpotensi menyalahkan korban.
Ketika seseorang gagal meski sudah "berpikir growth", orang lain bisa mengatakan dia "belum cukup mencoba" atau "mindsetnya masih fixed". Padahal, kegagalan tersebut bisa disebabkan oleh faktor yang sama sekali di luar kontrol individu: sekolah yang underfunded, praktik rekrutmen yang bias, akses kesehatan mental yang terbatas, atau ketimpangan ekonomi struktural.
Di Indonesia, konteks ini semakin tajam. PHK massal terjadi bukan karena mindset pekerja. Hustle culture mendorong generasi muda untuk terus berlari tanpa melihat garis finish. Tapi ketika seseorang berhenti berlari dan bertanya "untuk apa ini semua?", jawaban yang diberikan adalah: "Mindsetmu yang bermasalah."
Itu bukan jawaban, tapi cara untuk menghentikan pertanyaan.
Industri yang menguntungkan dari rasa kurang
Industri self-improvement global bernilai miliaran dolar. Di Indonesia, buku motivasi selalu masuk bestseller, seminar pengembangan diri selalu penuh, dan podcast produktivitas punya jutaan pendengar.
Ada kebutuhan nyata yang dijawab oleh industri ini. Tapi tidak semua yang menjawab kebutuhan benar-benar membantu. Ketika growth mindset diproduksi massal sebagai produk, ia kehilangan nuansa dan berubah menjadi slogan. "Just think positive." "Change your mindset, change your life." Kalimat yang terdengar mendalam tapi sebenarnya dangkal.
Penelitian dari Simply Put Psych menyoroti bahwa sekolah dengan dana terbatas kadang mengalokasikan budget ke program "mindset" yang belum terbukti efektivitasnya, alih-alih ke solusi yang lebih konkret seperti mengurangi jumlah siswa per kelas atau menyediakan tutor tambahan. Ini tidak hanya tidak efektif, tapi juga tidak adil.
Perbandingan diri yang konstan di media sosial memperburuk situasi. Kamu melihat orang lain "sukses" karena "growth mindset", lalu merasa tidak cukup. Padahal, yang kamu lihat adalah highlight reel, bukan proses lengkap.
Langkah yang bisa kamu ambil
Bukan berarti mindset tidak penting sama sekali. Mindset penting, tapi ia bukan satu-satunya variabel. Dan ia tidak bisa menggantikan sistem yang berfungsi dengan baik.
Berikut cara berpikir yang lebih jujur:
1. Bedakan yang bisa kamu kontrol dan yang tidak
Kamu bisa kontrol: cara kamu belajar, cara kamu merespons kegagalan, seberapa keras kamu berusaha. Kamu tidak bisa kontrol: kondisi ekonomi, kebijakan perusahaan, bias rekrutmen, krisis global.
Growth mindset yang sehat fokus pada yang pertama. Gaslighting terjadi ketika seseorang menyuruhmu fokus pada mindset untuk mengabaikan yang kedua.
2. Jangan terima kalimat "semua tergantung mindsetmu"
Itu kalimat yang terdengar bijak tapi sebenarnya malas. Orang yang mengatakan ini tidak perlu melihat sistem, tidak perlu memahami konteks, tidak perlu berempati. Mereka hanya perlu menyuruhmu berpikir positif dan pergi.
3. Validasi pengalamanmu
Kalau kamu capek, kamu berhak capek. Kalau kamu gagal meski sudah berusaha, itu bukan karena mindsetmu. Kadang memang situasinya yang tidak mendukung. Mengakui ini bukan menyerah. Ini langkah pertama untuk mencari solusi yang benar-benar relevan.
4. Cari akar masalah, bukan akar mindset
Tidak dapet kerja setelah ratusan lamaran? Mungkin bukan mindsetmu yang bermasalah, tapi pasar kerja yang sempit. Burnout? Mungkin bukan mindsetmu, tapi beban kerja yang tidak manusiawi. Mulai dari pertanyaan yang benar, bukan dari jawaban yang sudah ditentukan.
Penutup yang tidak menjual harapan palsu
Growth mindset bukan sihir, bukan solusi atas ketimpangan struktural. Dan ia pasti bukan alat untuk membuat kamu merasa bahwa setiap kegagalan adalah kesalahanmu sendiri.
Mindsetmu mungkin perlu diubah, tapi sistem di sekitarmu juga perlu diperbaiki, dan keduanya sama pentingnya. Siapapun yang menyuruhmu fokus hanya pada satu dan mengabaikan yang lain, sedang menjual sesuatu, atau sedang menghindari tanggung jawab.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Menabung Jadi Irasional: Bukan Gen Z Boros, Matematikanya yang Tidak Masuk Akal
Gaji Gen Z Rp 2,7-3,2 juta, kenaikan upah minus 0,06% sementara inflasi 2,72%. Menabung bukan soal niat, tapi matematika yang tidak berpihak.
Baca selengkapnya
Mental Health Industry: Sistem yang Membuatmu Sakit Menjual Obatnya
Industri mental health digital tidak menjual kesembuhan, tapi rasa sedang disembuhkan. User yang sembuh = churn. User yang tetap tidak sembuh = subscribe.
Baca selengkapnya
Quarter-Life Crisis: Bukan Masalah Pribadi, Tapi Krisis Sistemik yang Dikaburkan
QLC bukan krisis individu, tapi krisis sistemik yang dikaburkan sebagai masalah pribadi. 98% partisipan Indonesia mengalami QLC.
Baca selengkapnya