
Hustle Culture: Kenapa Gen Z Berhenti Berlari
Sejak SMA kamu didorong side hustle, 5 AM club, personal branding. Hasilnya? Burnout massal. Bukan kamu lemah, tapi sistem yang minta lebih tapi beri kurang.
Alarm 4 Pagi, Side Hustle, Terus Kapok
Alarm bunyi jam 4 pagi. Kamu bangun, buka laptop, kerjakan side hustle sebelum jam kerja utama dimulai jam 8. Siang hari meeting back-to-back. Malam hari, kamu scroll LinkedIn dan lihat orang umur 23 sudah jadi Head of Something. Sebelum tidur, kamu nonton video motivator yang bilang "grind now, rest later".
Kapan terakhir kamu merasa cukup?
Bukan cukup dalam arti puas malas. Tapi cukup dalam arti: hari ini sudah selesai, dan kamu tidak perlu membuktikan apa-apa lagi ke siapa pun.
Kalau jawabannya sulit, kamu tidak sendirian. Survei Deloitte Global Gen Z 2025 terhadap lebih dari 23.000 responden menemukan bahwa 48% Gen Z tidak merasa financially secure, naik dari 30% di 2024. Lebih dari setengah hidup paycheck to paycheck. Dan lebih dari 80% menyebut keuangan sebagai faktor utama yang memicu anxiety.
Ini bukan cerita tentang generasi yang malas. Ini cerita tentang sistem nilai yang minta kamu berlari tanpa henti, dan apa yang terjadi ketika kamu menyadari lintasan itu tidak mengantar ke mana-mana.
Namanya hustle culture. Dan Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh di dalamnya sejak SMA, sebelum pernah punya pekerjaan pertama.
Dari Pabrik ke Silicon Valley ke TikTok FYP
Hustle culture bukan fenomena baru. Akarnya bisa ditelusuri ke Industrial Revolution, ketika jam kerja 12-16 jam di pabrik dianggap normal. Tapi bentuk yang kita kenal sekarang lahir di Silicon Valley, ditaruh dalam kemasan startup, dan dijual sebagai gaya hidup.
Gary Vaynerchuk, salah satu arsitek narasi ini, mempopulerkan #grindset: kerja 18 jam sehari, tidur adalah untuk yang lemah, kalau kamu belum sukses berarti kamu belum cukup kerja. "Rise and grind" jadi mantra. 5 AM Club, Bulletproof Coffee, cold plunge, journaling pukul 4.30 pagi. Semua dirangkai menjadi satu paket identitas: kamu apa yang kamu kerjakan.
BBC Worklife menulis di 2023 bahwa hustle culture menggabungkan optimisme Silicon Valley dengan tekanan ekonomi nyata. Narasinya: kerja keras sekarang, nikmati hasilnya nanti. Tapi "nanti" itu kapan, tidak pernah dijelaskan.
Yang lebih penting: bagaimana narasi ini sampai ke Indonesia?
Tidak lewat buku teks atau kebijakan pemerintah. Lewat TikTok dan LinkedIn. Algoritma FYP menampilkan konten motivasi yang paling engaging, bukan yang paling akurat. Creator lokal mengadopsi narasi "side hustle wajib" dan "kalau umur 25 belum punya passive income, kamu ketinggalan". Tidak ada konteks bahwa narasi ini lahir di ekosistem ekonomi berbeda, dengan safety net berbeda, dengan struktur upah berbeda.
Gen Z Indonesia mengkonsumsi narasi ini tanpa filter. Side hustle jadi syarat, bukan pilihan. Personal branding jadi kewajiban, bukan ekspresi. Dan ketika hasilnya tidak sesuai janji, yang disalahkan adalah individu: "kamu belum cukup kerja keras".
Burnout Bukan Kelemahan, Fenomena Struktural
Tahun 2019, World Health Organization (WHO) memasukkan burnout ke dalam ICD-11, daftar klasifikasi penyakit internasional. Tapi WHO tidak mengklasifikasikannya sebagai medical condition. WHO menyebutnya occupational phenomenon: fenomena yang muncul dari lingkungan kerja, bukan dari kelemahan individu.
Definisi WHO spesifik. Burnout punya tiga dimensi: pertama, kelelahan energi atau exhaustion. Kedua, jarak mental dari pekerjaan, atau sikap sinis dan negatif terhadap pekerjaan. Ketiga, penurunan efektivitas profesional. Seseorang yang dulu produktif jadi tidak bisa menyelesaikan tugas yang dulu mudah.
Ini bukan "lagi malas". Ini respons sistem saraf yang sudah overwhelmed secara kronis.
McKinsey Health Institute melakukan survei terhadap 30.000 karyawan di 30 negara antara April dan Juni 2023. Hasilnya: 22% karyawan global mengalami gejala burnout. Tapi yang penting adalah distribusinya. Kelompok usia 18-24, yang sebagian besar adalah Gen Z, melaporkan tingkat burnout tertinggi dibandingkan semua kelompok usia. Bukan karena mereka lebih lemah. Tapi karena mereka masuk pasar kerja di periode paling tidak stabil dalam dekade terakhir.
Data dari McKinsey Future of Wellness 2025 memperkuat ini: 40% Gen Z di AS melaporkan "almost always stressed", hampir dua kali lipat dari rata-rata semua usia yang hanya 23%.
Di Indonesia, penelitian Handayani dan Purnasiwi yang dipublikasikan di Jurnal Kwikkiangie (2026) menemukan bahwa technostress dan tekanan tempat kerja memprediksi burnout pada Gen Z dengan model regresi yang menjelaskan 63,1% varians. Artinya: lebih dari separuh burnout Gen Z bisa dijelaskan oleh faktor lingkungan kerja, bukan faktor personal.
American Medical Association, dalam respons mereka terhadap klasifikasi WHO, menyatakan dengan tegas: "Best response is to fix the workplace, not the worker." Perbaiki tempat kerjanya, bukan orangnya. Tapi dalam praktik, yang sering terjadi adalah sebaliknya. Yang disuruh meditasi, ikut workshop mindfulness, atau "belajar manage stress" adalah karyawan. Bukan perusahaan yang mengevaluasi beban kerja.
Ketika "Kerja Keras = Sukses" Tidak Terbukti
Narasi hustle culture punya satu janji inti: kalau kamu kerja keras, kamu akan sukses secara finansial. Mari kita cek apakah janji ini terbukti.
Deloitte 2025: 48% Gen Z tidak merasa financially secure, naik dari 30% hanya dalam satu tahun. Lebih dari setengah Gen Z dan Milenial hidup paycheck to paycheck. Lebih dari sepertiga kesulitan membayar biaya hidup setiap bulan. Dan 40% khawatir mereka tidak akan bisa pensiun dengan nyaman.
Yang lebih menarik dari data Deloitte: korelasi antara financial security dan happiness. 60% Gen Z yang merasa financially secure melaporkan mereka happy dengan hidupnya. Tapi di kelompok yang financially insecure, hanya 28% yang merasa happy. Selisih 32 poin. Uang tidak menjamin kebahagiaan, tapi ketiadaannya jelas menghapusnya.
Di Indonesia, BPS Februari 2026 mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk kelompok usia 15-24 sebesar 16,36%, lebih dari tiga kali lipat rata-rata nasional yang 4,68%. Ini kelompok yang baru masuk pasar kerja, yang seharusnya "kerja keras dan sukses". Tapi yang mereka temukan adalah: tidak ada pekerjaan yang cukup, dan yang ada tidak membayar cukup.
Menurut data Jakpat yang dikutip Mojok.co, 69% pekerja Gen Z Indonesia punya kecenderungan untuk resign dari pekerjaan mereka saat ini. Bukan karena tidak mau kerja. Tapi karena apa yang ditawarkan kerja tidak sepadan dengan apa yang diminta dari mereka.
Ada logika matematis yang jarang dibahas. Gaji UMR di Yogyakarta sekitar Rp2,5 juta per bulan. Harga rumah sederhana di sana sudah menyentuh ratusan juta. Secara hitungan di atas kertas, sekeras apa pun seseorang menahan stres di kantor, gaji itu tidak akan cukup untuk membeli rumah dalam waktu dekat. Belum lagi kalau dia bagian dari generasi sandwich: gaji yang langsung terpotong untuk membiayai orang tua, membayar utang keluarga, atau menyekolahkan adik.
"Kerja keras = sukses" adalah rumus yang mungkin berlaku di tahun 80-an atau 90-an. Tapi data menunjukkan rumus itu tidak lagi valid di 2026. Bukan karena Gen Z tidak mau kerja keras. Tapi karena hasil dari kerja keras itu tidak lagi cukup untuk hidup yang layak.
Quiet Quitting: Bukan Malas, Bukan Pemberontakan
Kalau kamu dengar "quiet quitting", mungkin yang terbayang adalah anak muda yang rebahan dan tidak mau kerja. Tapi data mengatakan cerita yang berbeda.
Gallup State of the Global Workplace 2024: 59% karyawan global berada di kategori quiet quitting (not engaged). Mereka hadir, menyelesaikan tugas, tapi tidak terlibat secara emosional. Hanya 23% yang engaged secara aktif. 18% sisanya actively disengaged, atau yang Gallup sebut "loud quitters".
Quiet quitting bukan about mengerjakan sesedikit mungkin. Ini tentang menyelesaikan pekerjaan sesuai batas kontrak, tidak lebih, tidak kurang. Tidak lembur sukarela yang tidak dikompensasi. Tidak ambil tanggung jawab tambahan yang tidak diakui. Tidak terlibat secara emosional dalam pekerjaan yang tidak memberi makna.
Randstad Workmonitor 2025, survei terhadap 26.778 responden di 35 negara, menemukan sesuatu yang mengubah cara kita melihat fenomena ini. Pertama kalinya dalam sejarah survei Randstad, work-life balance melampaui gaji sebagai motivator utama: 83% responden memprioritaskan work-life balance, sementara 82% memprioritaskan gaji. Selisih satu poin, tapi arah pergeserannya jelas.
Di Indonesia spesifik, 1 dari 3 karyawan berhenti dari pekerjaan karena values mereka tidak sejalan dengan budaya perusahaan. 44% talent berhenti karena toxic workplace, naik 33% year-over-year. Dan 72% Gen Z mengaku mereka menyembunyikan aspek-aspek diri mereka di tempat kerja. Mereka tidak merasa aman untuk menjadi diri sendiri.
Studi Taufik et al. (2024) yang diterbitkan di Jurnal Ekonomi Publik Indonesia menemukan bahwa quiet quitting di kalangan Gen Z Indonesia adalah indikasi krisis makna kerja. Ketika pekerjaan tidak lagi dirasakan sebagai sarana aktualisasi diri, ketika nilai pekerjaan bertentangan dengan nilai pribadi, keterlibatan emosional turun. Bukan karena malas. Karena tidak ada alasan untuk terlibat.
Ini perbedaan kunci: generasi sebelumnya mungkin menoleransi pekerjaan yang tidak bermakna karena janji pensiun, stabilitas, atau jalur karier yang jelas. Gen Z tidak melihat janji itu terbukti. Jadi mereka bertanya: kalau tidak ada janji yang ditepati, kenapa saya harus memberi lebih dari yang dibayar?
Bukan Tidak Ambisius, Tapi Definisi Suksesnya Berbeda
Satu kritik paling umum terhadap Gen Z yang menolak hustle culture: "kalian tidak ambisius." Data mengatakan sebaliknya.
Deloitte 2025: 70% Gen Z mengembangkan skill untuk karier mereka minimal seminggu sekali, lebih tinggi dari 59% Milenial yang melakukan hal sama. 67% Gen Z bahkan mengembangkan skill di luar jam kerja, sebelum atau sesudah kerja, atau di hari libur. Ini bukan perilaku generasi yang tidak ambisius.
Tapi ambisi mereka punya arah yang berbeda. 86% Gen Z percaya soft skills (komunikasi, kepemimpinan, empati) lebih penting untuk karier daripada AI skills. 63% khawatir AI akan menghilangkan pekerjaan. 61% khawatir AI akan menyulitkan generasi muda untuk masuk pasar kerja. Mereka tidak menolak kerja keras. Mereka menolak kerja keras yang tidak ada arahnya.
Jakpat 2026 melihat pergeseran ini di Indonesia: 41% Gen Z Indonesia aktif membatasi jam kerja di luar jadwal resmi. Mereka menolak notifikasi pekerjaan setelah jam tertentu. 57% memprioritaskan kualitas lingkungan sosial, komunitas, dan pertemanan di atas pencapaian karier tunggal.
Ini bukan rebahan. Ini structured intentionality: mendesain ulang rutinitas dengan batas yang jelas, bukan asal berhenti. Mereka masih ambisius, tapi definisi suksesnya bergeser. Bukan jabatan atau follower count. Tapi pengalaman bermakna, kontribusi yang terasa, dan kesehatan yang terjaga.
Dilema Indonesia: Resign Kena Mental, Bertahan Bisa Gila
Di Indonesia, penolakan terhadap hustle culture punya lapisan tambahan yang tidak ada di negara lain: tekanan sosial dari keluarga dan lingkungan.
Mojok.co, dalam liputan jurnalistik mereka tahun 2026, menceritakan dilema ini lewat pengalaman nyata. Nisa, 25 tahun, lulusan perguruan tinggi negeri di Yogyakarta, resign dari pekerjaan kantornya setelah satu setengah tahun karena tekanan yang mulai merusak kesehatan mentalnya.
"Jujur aja psikolog mahal. Kalau aku nggak resign, bisa gila mungkin dulu," kata Nisa kepada Mojok.co.
Tapi keputusan resign itu tidak diterima dengan empati. Tetangga bertanya dengan nada menyindir: "Loh, kok jam segini belum berangkat kerja?" Orang tua mengomel: "Sayang sekali ijazah kampus negeri kalau cuma buat bengong di rumah." Keputusan untuk keluar dari sistem yang merusak justru dianggap sebagai kegagalan personal.
Dimas, 26 tahun, juga lulusan negeri di Jogja, mengalami hal serupa. Setelah resign dari kantor dengan sistem kerja yang dia deskripsikan "hancur-hancuran", dia dianggap beban keluarga. Setiap hari mendengar kalimat yang membandingkan dirinya dengan anak tetangga yang sudah mapan.
Gen Z Indonesia terjebak di antara dua tekanan. Bertahan di pekerjaan yang toxic: kesehatan mental hancur, burnout, kehilangan rasa aman. Resign: dihujat keluarga, dihakimi tetangga, dianggap gagal. Tidak ada pilihan yang aman.
Dan stigma kesehatan mental di Indonesia memperparah situasi. Banyak Gen Z yang sudah secara internal menolak hustle culture, tapi belum berani mengubah perilaku karena tekanan sosial dari lingkungan yang masih mengukur nilai seseorang dari produktivitasnya. Seolah-olah nilai manusia ditentukan oleh seberapa sibuk dia.
Bukan Berhenti, Tapi Berganti Arah
Gen Z bukan generasi yang berhenti berlari. Mereka berhenti berlari di lintasan yang tidak mengantar ke mana-mana, lalu bertanya: kenapa saya berlari di sini?
Data sudah mendukung pergeseran ini. Burnout adalah occupational phenomenon, bukan kelemahan individu. 22% karyawan global mengalaminya, dan Gen Z paling terdampak. 48% Gen Z tidak merasa aman secara finansial meski sudah bekerja. 59% karyawan global quiet quitting, bukan karena malas, tapi karena tidak ada alasan untuk terlibat lebih dari yang dibayar. Dan untuk pertama kalinya, work-life balance melampaui gaji sebagai prioritas utama.
American Medical Association mengatakan dengan tegas: perbaiki tempat kerjanya, bukan orangnya. Tapi perbaikan tempat kerja tidak terjadi kalau yang dianggap bermasalah adalah generasinya. Selama narasi "Gen Z malas" terus diulang, struktur yang menyebabkan burnout tidak akan disentuh.
Pertanyaan yang mungkin perlu kamu tanyakan, bukan kepada saya, bukan kepada motivator di TikTok: kalau sistem yang minta kamu berlari ternyata tidak mengantar ke mana-mana, apa yang masih kamu kejar?
Mungkin bukan kamu yang perlu berlari lebih cepat. Mungkin lintasannya yang perlu diganti.
Referensi
- WHO (2019). Burn-out an Occupational Phenomenon: ICD-11.
- McKinsey Health Institute (2023). Reframing Employee Health: Moving Beyond Burnout to Holistic Health. Survey 30.000 karyawan di 30 negara.
- McKinsey (2025). Future of Wellness Trends Survey.
- Deloitte Global (2025). Gen Z and Millennial Survey: Pursuing a Balance of Money, Meaning, and Well-being.
- Randstad (2025). Workmonitor: A New Workplace Baseline. 26.778 responden di 35 negara.
- Gallup (2024). State of the Global Workplace Report.
- BPS (2026). Tingkat Pengangguran Terbuka Februari 2026.
- Jakpat (2026). Gen Z Characteristics and Behaviors Outlook.
- Handayani, K. & Purnasiwi, R.G. (2026). Mental Health Pekerja Generasi Z: Technostress dan Burnout. Jurnal Kwikkiangie.
- Mojok.co (2026). Gen Z: Kerja Bikin Stres dan Gila, tapi Resign Dihujat Tetangga.
- Taufik et al. (2024). Fenomena Resign Massal dan Pengangguran Terselubung di Kalangan Gen Z. Jurnal Ekonomi Publik.
- American Medical Association. WHO Adds Burnout to ICD-11: What It Means for Physicians.
- BBC Worklife (2023). Hustle Culture: Is This the End of Rise-and-Grind?
- NPR Code Switch (2020). Hustle Culture's Black Roots.
- PwC (2025). Hopes and Fears Survey Indonesia.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Gig Economy Bukan Pilihan, Jebakan Produktivitas Rendah
2,41 juta pekerja digital, 75% di bawah Rp3 juta per bulan. Gen Z bukan pilih gig economy, sektor formal yang tidak mau serap.
Baca selengkapnya
96% Terbuka Pindah: Bukan Loyalitas yang Mati, Sistem yang Tidak Memberi Alasan Setia
47% Gen Z berencana resign dalam setahun. Bukan loyalitas yang mati, tapi sistem kerja yang tidak memberi alasan untuk tetap setia.
Baca selengkapnya
Quiet Quitting Bukan Malas, Sistem Kerja yang Tidak Mau Bayar Hati
60% Gen Z melakukan quiet quitting. Bukan karena malas, tapi karena sistem kerja mengeksploitasi tanpa batas dan tidak memberi alasan untuk peduli.
Baca selengkapnya