Lewati ke konten utama
Kesepian Dibungkus Estetik: Algoritma TikTok Makan Trauma
Kehidupan6 menit baca

Kesepian Dibungkus Estetik: Algoritma TikTok Makan Trauma

TikTok menormalisasi kesepian lewat konten estetik. Gen Z menyangka itu pilihan, padahal algoritma yang membentuk kebiasaan isolasi sosial.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Ada video TikTok dengan aesthetic yang lembut: lampu tidur orange, secangkir kopi, journal terbuka, dan teks "me time karena cuma diri sendiri yang bisa jaga diri sendiri." Video itu mendapat 2 juta likes. Ribuan komentar: "relate banget," "aku juga begini tiap malem," "sudah lama tidak bertemu teman."

Video itu indah, tapi pesan di baliknya bermasalah. Kesepian dibingkai sebagai estetika, bukan sebagai masalah yang perlu diatasi. Dan Gen Z, generasi yang paling terhubung secara digital, justru menjadi generasi yang paling kesepian.

Data di balik fenomena

Riset dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang viral awal 2026 menemukan bahwa 61% Gen Z Indonesia mengaku kesepian secara sosial. Angka ini lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya pada usia yang sama.

Peneliti Dr. Aulia Qisthi dari UMY menjelaskan bahwa kesepian sosial pada Gen Z berkorelasi dengan intensitas penggunaan media sosial. Semakin tinggi screen time, semakin tinggi skor kesepian. Ini bukan opini, ini data dari survei terhadap 1.247 responden usia 18-25 tahun.

Yang menarik: banyak Gen Z tidak menyadari mereka kesepian. Mereka menganggap "me time" sebagai pilihan gaya hidup, bukan gejala isolasi sosial. Algoritma TikTok memperkuat persepsi ini dengan menyodorkan konten yang menormalisasi kesendirian. Sehingga kesepian tidak lagi terasa seperti masalah, tapi seperti identitas.

Data dari Global Web Index 2025 menunjukkan Gen Z Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam 32 menit per hari di media sosial, tertinggi di antara semua generasi. Lebih banyak waktu di media sosial berarti lebih sedikit waktu untuk interaksi tatap muka. Dan penelitian UMY menunjukkan korelasi yang jelas: semakin tinggi screen time, semakin tinggi skor kesepian sosial.

Konten trauma sebagai hiburan

TikTok punya genre konten yang spesifik: "sad girl aesthetic" atau "lonely boy aesthetic." Videonya cantik, musiknya melankolis, captionnya tentang rasa sepi yang dianggap deep. Algoritma tahu konten ini mendapat engagement tinggi, jadi dipush lebih banyak ke feed.

Hasilnya: Gen Z yang merasa kesepian melihat konten yang menormalisasi kesepian, lalu merasa "saya tidak sendiri, banyak orang seperti saya." Validasi ini terasa nyaman. Tapi validasi tidak sama dengan solusi.

Seorang mahasiswa yang saya wawancarai untuk artikel ini, Rama (22), mengatakan bahwa TikTok-nya penuh video tentang "enjoying your own company." "Awalnya aku merasa oke sendirian. Tapi setelah 6 bulan jarang keluar, aku sadar aku tidak punya teman yang bisa dihubungi kalau ada masalah," katanya.

Konten estetik kesepian memberi ilusi bahwa kesendirian adalah pilihan sadar. Padahal, untuk banyak orang, kesendirian itu bukan pilihan, melainkan konsekuensi dari kebiasaan yang terbentuk. Kamu berhenti menghubungi teman karena sibuk, lalu teman berhenti menghubungi kamu karena kamu tidak pernah balas. Satu bulan jadi dua bulan, dua bulan jadi enam bulan, dan tiba-tiba kamu tidak punya siapa-siapa lagi.

Yang membuat loop ini berbahaya adalah validasi yang kamu terima dari konten. Ribuan komentar "relate banget" memberi kamu sensasi bahwa kamu tidak sendirian dalam kesepian. Tapi sensasi ini palsu. Kamu tidak terhubung dengan orang-orang yang komentar itu. Kamu hanya mengkonsumsi konten mereka, dan mereka mengkonsumsi konten kamu. Tidak ada percakapan, tidak ada kedekatan, tidak ada koneksi yang nyata.

Bagaimana kamu terjebak

Cara kerja algoritma TikTok sederhana: konten yang kamu tonton lama akan muncul lebih sering di feed kamu. Kalau kamu tonton video tentang kesepian, algoritma menganggap kamu suka konten itu dan menyodorkan lebih banyak video serupa. Loop ini terus berputar tanpa kamu sadari.

Kamu yang awalnya cuma iseng nonton video "sad aesthetic" tiba-tiba FYP-nya penuh konten tentang kesepian, anxiety, dan mental health. Bukan karena kamu punya masalah, tapi karena algoritma mengira kamu suka konten itu. Dalam hitungan minggu, persepsi kamu tentang normal mulai bergeser. Kamu mulai berpikir bahwa kesepian adalah default, bahwa jarang bertemu teman adalah hal yang wajar.

Riset dari University of Texas 2025 yang dipublikasikan di journal New Media & Society menemukan bahwa paparan konten mental health di TikTok meningkatkan self-diagnosis pada pengguna muda. Partisipan yang awalnya tidak melaporkan gejala anxiety mulai melaporkan gejala setelah 2 minggu terpapar konten anxiety di TikTok.

Algoritma tidak membedakan antara "suka karena relate" dan "suka karena estetik." Yang dia tahu: kamu nonton lama, dia kasih lebih banyak.

Kapan kesendirian jadi masalah

Tidak semua kesendirian buruk. Me time yang sehat adalah pilihan sadar untuk recharge, lalu kembali ke interaksi sosial dengan energi yang baru. Isolasi sosial adalah keadaan di mana kamu jarang berinteraksi dengan orang lain, dan keadaan itu menetap tanpa kamu sadari.

Ciri isolasi sosial yang perlu diwaspadai: jarang keluar rumah bukan karena sibuk tapi karena tidak ada tujuan untuk keluar, komunikasi dengan teman hanya lewat chat dan jarang bertemu langsung, merasa tidak nyaman di keramaian, dan menolak undangan sosial dengan alasan yang dibuat-buat. Gejala ini sering muncul bertahap, sehingga sulit disadari oleh orang yang mengalaminya.

Kalau kamu mengalami hal-hal ini selama lebih dari 3 bulan, bukan "me time" namanya. Itu isolasi sosial yang berisiko memperburuk kesehatan mental. Riset dari UMY yang sama menunjukkan bahwa Gen Z yang mengalami isolasi sosial berisiko 2,3 kali lebih tinggi untuk mengembangkan gejala depresi dibanding yang menjaga interaksi sosial rutin.

Mulai bergerak

Mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk berbulan-bulan tidak mudah. Tapi ada langkah konkret yang bisa diambil untuk keluar dari loop ini.

Pertama, audit FYP TikTok kamu. Scroll tanpa like selama 10 menit, lihat apa yang muncul. Kalau dominan konten tentang kesepian, anxiety, atau "alone aesthetic," reset algoritma dengan mencari konten hobi, olahraga, atau komunitas lokal. TikTok akan menyesuaikan dalam beberapa hari.

Kedua, jadwalkan minimal satu interaksi tatap muka per minggu. Bukan chat, bukan video call, tapi tatap muka. Kopi dengan teman, ikut kelas, atau hadiri meetup komunitas. Interaksi tatap muka mengaktifkan sistem neurokimia yang tidak bisa digantikan oleh chat atau video call.

Ketiga, batasi screen time di jam sosial. Kalau kamu punya waktu luang malam, gunakan untuk keluar atau telepon teman, bukan scroll TikTok sampai tengah malam. Kesepian sering bertambah di malam hari ketika tidak ada distraksi dan kamu sendirian dengan pikiran kamu sendiri.

Keempat, kalau kamu merasa kesepian sudah memengaruhi kesehatan mental, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Banyak kampus dan kota menyediakan layanan konseling gratis atau terjangkau. Kesepian bukan sesuatu yang harus kamu tanggung sendirian.

Kalau kamu merasa kesepian adalah estetika yang kamu pilih, coba tanya diri sendiri: kalau besok semua media sosial hilang, apakah kamu masih merasa oke sendirian? Kalau jawabannya tidak, maka yang kamu jalani bukan pilihan, melainkan kebiasaan.

Kesepian bukan estetika. Kesepian adalah sinyal bahwa kamu butuh koneksi sosial. Jangan biarkan algoritma membungkus sinyal itu dengan filter cantik.

Kalau kamu tertarik bagaimana media sosial membentuk persepsi, baca juga bahaya self-diagnosis kesehatan mental dari TikTok.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga