Lewati ke konten utama
Menabung Jadi Irasional: Bukan Gen Z Boros, Matematikanya yang Tidak Masuk Akal
Mindset6 menit baca

Menabung Jadi Irasional: Bukan Gen Z Boros, Matematikanya yang Tidak Masuk Akal

Gaji Gen Z Rp 2,7-3,2 juta, kenaikan upah minus 0,06% sementara inflasi 2,72%. Menabung bukan soal niat, tapi matematika yang tidak berpihak.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Niat Ada, Matematikanya yang Tidak Mau

"Kamu itu kan tidak bisa menabung karena boros. Jajan kopi terus, beli ini beli itu. Zaman kami dulu, gaji kecil tapi bisa menabung."

Pernah dengar ini? Atau mungkin sering. Narasi ini tersebar di mana-mana: media sosial, kolom komentar, obrolan keluarga. Logikanya sederhana, kalau kamu tidak bisa menabung, berarti kamu boros. Kalau kamu boros, berarti kamu yang salah.

Tapi mari kita lihat matematikanya.

Data BPS per November 2025 menunjukkan rata-rata gaji Gen Z di Indonesia, usia 20-29 tahun, berada di kisaran Rp 2,7 sampai Rp 3,2 juta per bulan. Kenaikan upah rata-rata? Minus 0,06 persen pada November 2025. Sementara inflasi di periode yang sama berada di angka 2,72 persen.

Artinya, gaji kamu tahun ini lebih kecil dari tahun lalu setelah disesuaikan dengan inflasi. Bukan stagnan. Turun.

Ekonom CELIOS Shafa Kalila menjelaskan ini kepada Terusterang pada Februari 2026: ada ketidakseimbangan antara pendapatan Gen Z yang rendah dengan pengeluaran yang makin hari makin besar. Boro-boro menabung, buat harian saja jalan-jalannya masih mantab, makan tabungan.

Upah Riil yang Terus Terkikis

NEXT Indonesia Center dalam laporan Februari 2026 menemukan upah riil Indonesia melemah sejak paruh kedua 2025. Pada Agustus 2025, inflasi meningkat menjadi 2,31 persen, sementara kenaikan upah hanya 1,94 persen. Upah riil terkontraksi minus 0,37 persen. Pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga.

BRI Economic Outlook 2026 menemukan hal yang sama dari sudut berbeda: rata-rata gaji bulanan bersih masyarakat terus menurun relatif terhadap UMR. Sejak 2020, gaji bersih rata-rata berada di bawah UMR. Kenaikan UMR tidak tercermin dalam pendapatan riil pekerja.

Jadi kalau kamu merasa gaji tidak cukup, bukan karena kamu tidak bisa mengatur keuangan. Gaji yang kamu terima memang sudah berkurang nilainya sebelum sempat kamu keluarkan.

Indeks Kemampuan Menabung: Yang Mau Banyak, Yang Bisa Sedikit

LPS merilis Indeks Menabung Konsumen per Juni 2026. Hasilnya mencerminkan realita yang tidak nyaman. Indeks Kemauan Menabung naik ke 90,2, menunjukkan banyak orang yang ingin menabung. Tapi Indeks Kemampuan Menabung justru turun ke 73,2. Porsi responden yang menyatakan sering menabung menurun dari 18,9 persen ke 17,1 persen.

Yang lebih mencolok, 37,1 persen responden mengaku jumlah yang ditabung lebih kecil dari yang direncanakan. Mau menabung, tapi tidak bisa sebanyak yang diharapkan. Bukan karena boros. Karena sisa uang setelah biaya hidup memang tipis.

Kelompok berpendapatan di atas Rp 7 juta per bulan tetap berada di atas level 100 untuk indeks menabung. Artinya, kemampuan menabung kelompok ini relatif kuat. Tapi kelompok berpendapatan Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan, yang mencakup banyak Gen Z, justru mengalami penurunan.

Menabung bukan soal niat. Soal sisa. Dan sisanya makin tipis setiap tahun.

High Time Preference: Bukan Boros, Rasional

Kompas pada Juni 2026 melaporkan pergeseran orientasi finansial generasi muda. Ketidakpastian ekonomi, sulitnya cari kerja, dan lonjakan biaya hidup mengubah cara Gen Z mengelola uang. Mereka semakin terdorong memakai uang untuk kebutuhan dan kepuasan saat ini, bukan menabung atau berinvestasi untuk masa depan.

Ekonom yang diwawancarai Kompas menjelaskan: ketika rata-rata kenaikan gaji berkisar 4-5 persen per tahun, sementara harga rumah di area urban melonjak belasan persen, tabungan konvensional terasa sia-sia. Muncul pemikiran: kalau menabung 10 tahun tetap tidak cukup untuk uang muka rumah, untuk apa saya menyiksa diri hari ini?

Ini bukan kemalasan finansial. Ini yang ekonom sebut high time preference, kondisi ketika nilai uang saat ini dianggap lebih berharga daripada nilai uang di masa depan. Dan ini bukan keputusan irasional. Justru sebaliknya, ini respons rasional terhadap sistem di mana menabung tidak lagi menghasilkan perubahan yang berarti.

Ini konsisten dengan apa yang kita bahas tentang doom spending. Kalau target besar seperti punya rumah terasa mustahil dicapai dengan menabung, orang beralih ke hal yang memberi kepuasan langsung. Bukan karena tidak tahu pentingnya menabung. Karena menabung terasa tidak mengarah ke mana-mana.

Working Poor: Kerja Tapi Miskin

CELIOS mengidentifikasi fenomena working poor yang menimpa banyak Gen Z. Kondisi orang yang sudah bekerja tapi masih rentan, bahkan miskin. Penyebab utamanya: mayoritas Gen Z bekerja di sektor informal tanpa kontrak kerja jelas, tanpa jaminan sosial, dan tanpa pendapatan tetap.

Hasilnya, mereka tidak punya tabungan yang cukup untuk menjadi penyangga kehidupan. Kalau ada keadaan darurat, tidak ada cadangan. Kalau ada peluang yang butuh modal, tidak ada awal. Lingkaran ini sulit diputus hanya dengan niat menabung lebih banyak.

Bisnis.com pada Januari 2026 melaporkan Bhima Yudhistira dari CELIOS memprediksi tekanan daya beli konsumen sepanjang 2026 akan meningkat. Salah satu pemicunya: kesulitan mencari pekerjaan di sektor formal. Lapangan kerja yang tersedia banyak yang informal, dengan upah rendah dan tanpa jaminan.

Yang Bisa Kamu Lakukan

Menyalahkan diri sendiri karena tidak bisa menabung tidak akan mengubah matematika. Tapi ada beberapa hal yang bisa kamu lakukan dalam sistem yang tidak berpihak.

Pertama, pahami bahwa menabung konvensional saja tidak cukup. Kalau kamu bisa menabung Rp 500 ribu per bulan dari gaji Rp 3 juta, setahun kamu kumpulkan Rp 6 juta. Harga rumah naik Rp 69 juta per tahun. Tabungan kamu kalah jauh. Ini bukan berarti berhenti menabung, tapi jangan jadikan menabung satu-satunya strategi.

Kedua, cari sumber pendapatan tambahan. Seperti yang kita bahas tentang gaji yang tidak mau tumbuh, gaji tunggal di bawah Rp 5 juta hampir mustahil untuk membangun keamanan finansial. Side hustle bukan pilihan, tapi kebutuhan.

Ketiga, belajar investasi dengan modal kecil. Reksa dana, saham fractional, atau instrumen lain yang bisa dimulai dari Rp 100 ribu. Return investasi mungkin tidak besar, tapi setidaknya melampaui inflasi. Menabung di bank dengan bunga 1-2 persen sementara inflasi 2,7 persen sama dengan kehilangan uang perlahan.

Bukan Kamu, Matematikanya

Menabung bukan soal disiplin kalau matematikanya tidak mendukung. Gen Z tidak menabung bukan karena tidak tahu pentingnya. Mereka tahu. Tapi setiap kali mencoba, biaya hidup menyerap lebih banyak dari yang diharapkan, dan sisa yang tersedia makin tipis.

Jadi kalau kamu pernah merasa gagal karena tidak bisa menabung, coba hitung ulang. Bukan hitung berapa banyak kopi yang kamu beli. Tapi hitung berapa sisa gaji setelah kebutuhan dasar, dan bandingkan dengan target tabungan yang realistis. Kemungkinan besar, masalahnya bukan kamu.

Menabung menjadi irasional bukan karena generasinya berubah. Karena ekonominya yang tidak mau berpihak pada yang berusaha menabung. Dan mengerti ini bukan alasan untuk berhenti mencoba, tapi alasan untuk berhenti menyalahkan diri sendiri dan mulai mencari cara yang lebih cerdas.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga