Lewati ke konten utama
Vape Bukan Gaya Hidup, Industri Tembakau yang Ganti Kemasan
•7 MENIT BACA

Vape Bukan Gaya Hidup, Industri Tembakau yang Ganti Kemasan

“15,5% remaja Indonesia pakai vape. Pasar Rp 25,4 triliun. Iklan Instagram 53%. Vape bukan gaya hidup, industri tembakau yang ganti kemasan untuk hook Gen Z.”

Diterbitkan

Semua bilang vape pilihan gaya hidup. Tapi data bilang sebaliknya. 15,5% remaja Indonesia usia 15-19 tahun sudah pakai vape, pasar senilai Rp 25,4 triliun, dan iklan vape di Instagram menyumbang 53% dari seluruh pemasaran tembakau online. Itu bukan gaya hidup, itu industri yang ganti kemasan.

8 Tahun Bebas Pasar

Vape masuk Indonesia sekitar 2007, tapi baru di-legalisasi lewat sistem pajak oleh Kementerian Keuangan pada 2018. Sejak itu, vape bebas dipromosikan dan dipasarkan tanpa batasan berarti. Tidak ada batas usia pembeli, tidak ada larangan iklan di media sosial, tidak ada standar kemasan. Nikotin seolah-olah bebas dijual tanpa batas.

Hasilnya: lonjakan 10 kali lipat dalam 10 tahun. Data Global Adult Tobacco Survey yang dirilis Kemenkes dan WHO menunjukkan prevalensi pengguna vape naik dari 0,3% pada 2011 menjadi 3% pada 2021. BNN melaporkan sekitar 6,6 juta orang usia 15 tahun ke atas mengonsumsi rokok elektrik, dengan prevalensi tertinggi di kelompok remaja 15-19 tahun.

Regulasi baru akhirnya datang. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 mengatur pengendalian rokok elektronik setara rokok konvensional: larang pembelian di bawah 21 tahun, batasi iklan termasuk di media sosial, wajibkan standar kandungan nikotin, serta pencantuman peringatan kesehatan bergambar. Implementasi dijadwalkan Juli 2026.

Tapi 8 tahun sudah berlalu dan industri punya waktu 8 tahun untuk hook Gen Z tanpa batas.

Kalau kamu lihat polanya, kombinasi rasa buah, kemasan kartun, dan influencer TikTok bukan kebetulan. Strategi ini pernah dipakai industri rokok konvensional puluhan tahun lalu. Bedanya, vape dipasarkan sebagai produk "modern" dan "aman".

Rasa Buah, Kemasan Lucu

Studi TPackSS 2025 membeli 825 produk vape di tiga kota besar. Hasilnya: 58% kemasan menggunakan daya tarik khusus untuk anak muda, mulai dari kartun, animasi, meme, font lucu, hingga nama merek yang menyenangkan. Beberapa kemasan menampilkan bentuk potongan telinga kelinci, rujukan ke game seluler seperti Candy Crush, atau wajah influencer Indonesia.

Sebanyak 96% kemasan mencantumkan keterangan rasa. Yang paling dominan: buah-buahan (58%) dan pencuci mulut (22%). Penelitian di PubMed 2024 yang mensurvei 1.600 siswa menemukan 76% pengguna vape memilih rasa buah. Rasa buah dan menthol menarik remaja, memperluas pasar, dan cocok buat mereka yang cari sensasi baru.

Industri rokok konvensional pakai strategi yang sama: rasa, kemasan menarik, target anak muda. Bedanya, rokok konvensional akhirnya kena regulasi ketat setelah puluhan tahun, sementara vape baru kena regulasi setelah 8 tahun bebas pasar. Sama seperti detoks dopamin yang kamu pikir pilihan, nikotin dari vape bekerja di sistem reward otak yang sama. Bukan keputusan sadar, tapi conditioning.

Medsos: Tempat Industri Hook Gen Z

Laporan Canary dan Vital Strategies menemukan pemasaran rokok elektronik menyumbang 68% dari seluruh pemasaran tembakau online di Indonesia. Instagram jadi platform terpopuler dengan 53% volume, diikuti X (22%) dan Facebook (13%). TikTok hanya 4% volume, tapi punya engagement tertinggi dibanding platform lain.

Studi di Tobacco Induced Diseases 2024 menganalisis 14.040 post Instagram terkait tembakau. Dari jumlah itu, 2.131 post atau 15,2% memasarkan vape. 86,72% post vape berasal dari akun brand resmi, bukan komunitas. Strategi utamanya: iklan langsung (93,43%) dengan menonjolkan fitur produk (60,44%). Mereka pamer desain dan warna langsung ke konsumen.

Penelitian Universitas Diponegoro 2024 mensurvei 625 remaja usia 14-19 tahun. Hasilnya: remaja yang lebih sering terpapar iklan vape 2,3 kali lebih mungkin mencoba vape. 50% responden melihat influencer menggunakan vape, sementara 40,2% tertarik mencoba setelah melihatnya. Instagram dan YouTube jadi platform utama paparan iklan.

Data BMC Public Health 2025 dari 1.600 remaja usia 15-24 tahun menemukan paparan iklan vape di Instagram dan TikTok meningkatkan kemungkinan pemakaian (OR=1,35). TikTok secara unik berasosiasi dengan peningkatan kerentanan pada remaja perempuan. Pengaruh teman juga kuat: setiap tambahan teman yang pakai vape, kemungkinan pemakaian naik (OR=1,20).

Kasus YouTuber Bigmo pada Agustus 2026 menunjukkan celah regulasi. Bigmo diduga melibatkan anak-anak dalam siaran langsung promosi vape. Yayasan Lentera Anak melaporkan kasus ini ke polisi, menyebutnya sebagai alarm bahwa ruang digital belum aman bagi anak. PP 28/2024 Pasal 446 sebenarnya melarang segala bentuk promosi produk tembakau, termasuk vape, di media sosial, tapi penegakan masih lemah.

Sama seperti doomscrolling di mana algoritma menjual ketakutan, algoritma media sosial juga menjual vape. Dan sama seperti FOMO yang bukan bug tapi core business model, pemasaran vape di media sosial bukan kebetulan tapi strategi.

Kamu pikir vape masalah kesehatan. Sebenarnya vape gejala dari sistem yang mengizinkan industri mengakses anak muda tanpa batas selama 8 tahun.

Regulasi Juli 2026: 8 Tahun Terlambat

PP 28/2024 menjadi regulasi pertama yang mengatur vape secara komprehensif di Indonesia. Aturannya mencakup lima hal utama: larang pembelian di bawah 21 tahun, batasi iklan termasuk media sosial, standar maksimal kandungan nikotin, peringatan kesehatan bergambar, serta kewajiban kemasan seragam atau plain packaging.

Kemenkes memperkuat koordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital untuk menekan paparan iklan vape di ruang digital. Langkahnya mencakup sosialisasi regulasi ke penyedia platform dan penindakan berupa takedown konten iklan yang melanggar.

BPOM siap menjalankan pengawasan mulai 26 Juli 2026. Kepala BPOM Taruna Ikrar menyebut pengawasan akan didasarkan pada kajian ilmiah untuk menentukan produk yang berbahaya dan perlu dilarang.

Tapi regulasi datang terlambat. 15,5% remaja sudah pakai vape, 6,6 juta orang sudah mengonsumsi, dan industri sudah selesai menarik Gen Z. Regulasi Juli 2026 menutup pintu setelah kuda kabur.

Cukai Mengalir, Gen Z Membayar

Data Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menunjukkan penerimaan cukai rokok elektrik pada 2025 mencapai Rp 2,84 triliun, naik 7,38% dari Rp 2,65 triliun pada 2024. Cukai naik, pasar tumbuh, pengguna muda naik. Industri dan negara sama-sama untung.

Mordor Intelligence memproyeksikan pasar vape Indonesia tumbuh dari USD 413,73 juta pada 2026 ke USD 703,77 juta pada 2031, dengan CAGR 11,21%. JakartaMarketLab menempatkan nilai pasar lebih besar: USD 1,62 miliar atau sekitar Rp 25,4 triliun pada 2026. Rata-rata pengeluaran bulanan per pengguna: Rp 350.000 hingga Rp 750.000.

Pola ini sama dengan rokok konvensional. Negara mengambil dari kecanduan, industri mengambil dari kecanduan, dan Gen Z yang membayar. Sama seperti industri yang untung dari kesengsaraanmu, vape bisnis yang profit dari ketidakmampuan Gen Z membedakan pilihan dari propaganda industri.

Bukan Pilihan, Sistem yang Memilihkan

Saya perhatikan dari teman-teman Gen Z yang mulai pakai vape, hampir semua punya cerita yang sama. "Karena enak," kata yang satu. "Karena teman pada pakai," kata yang lain. "Karena rasanya buah-buahan, nggak kayak rokok," kata satu lagi. Tidak ada yang menyebut alasan sebenarnya.

Tidak ada yang bilang, "Karena saya terpapar iklan vape di Instagram setiap hari selama 6 bulan, dan algoritma TikTok menunjukkan konten vape tricks di FYP saya, dan teman saya yang pakai vape diundang oleh brand ke event konser gratis, dan kemasannya lucu, dan rasanya stroberi."

Tapi itulah yang terjadi. Data dari 412 remaja Indonesia menunjukkan peer influence sebagai prediktor terkuat pemakaian vape (OR=4,12), diikuti kemudahan akses produk (OR=2,54) serta rendahnya pengetahuan kesehatan (OR=1,96). Sensation-seeking juga kuat (OR=2,19). Bukan keputusan rasional yang dibuat di ruang hampa, tapi keputusan yang dibentuk oleh tekanan teman, algoritma, dan akses tanpa batas.

Sama seperti kopi yang kamu minum bukan gaya hidup tapi self-medikasi sistemik, vape bukan pilihan gaya hidup. Vape industri tembakau yang ganti kemasan, dan sistem yang mengizinkan mereka mengaksesmu tanpa batas selama 8 tahun.

Yang Tidak Pernah Diajarkan

Vape bukan pilihanmu, industri tembakau yang ganti kemasan. Dan selama 8 tahun, sistem membiarkan mereka hook Gen Z tanpa batas. Regulasi Juli 2026 datang terlambat untuk jutaan remaja yang sudah kecanduan. Cukai Rp 2,84 triliun mengalir ke kas negara, pasar Rp 25,4 triliun terus tumbuh, sementara 15,5% remaja Indonesia sudah terjangkit. Iklan Instagram 53%, kemasan kartun 58%, rasa buah 96%. Angka-angka ini bukan kebetulan, sama seperti strategi industri rokok konvensional puluhan tahun lalu.

Pertanyaannya bukan "kenapa kamu pakai vape". Pertanyaannya: kenapa sistem mengizinkan industri mengaksesmu selama 8 tahun tanpa batas? Dan kenapa negara mengambil dari kecanduanmu?

FAQ

Apakah vape lebih aman dari rokok konvensional?

Riset tentang efektivitas vape sebagai alat berhenti merokok masih tidak meyakinkan. Vape tetap mengandung nikotin yang adiktif dan zat kimia yang meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, serta paru. Bahaya vape tidak hilang hanya karena tidak ada tar. "Lebih aman" bukan berarti "aman". (BMC Public Health 2025, Kemenkes 2026)

Kenapa remaja Indonesia mulai pakai vape?

Data dari 412 remaja Indonesia menunjukkan peer influence sebagai prediktor terkuat (OR=4,12), diikuti kemudahan akses produk (OR=2,54) dan rendahnya pengetahuan kesehatan (OR=1,96). Paparan iklan di Instagram dan TikTok meningkatkan kecenderungan mencoba 2,3 kali lipat. (Public Health of Indonesia 2026, Undip JPKI 2024)

Kapan regulasi vape berlaku di Indonesia?

PP Nomor 28 Tahun 2024 mengatur pengendalian rokok elektronik setara rokok konvensional: larang under 21, batasi iklan termasuk media sosial, standar kandungan nikotin, peringatan kesehatan bergambar, serta kemasan seragam. Implementasi dijadwalkan Juli 2026. (Kemenkes via Antara 2026)

Prevalensi Vape di Indonesia (2011-2023)

Lonjakan 10x lipat dalam 10 tahun

Sumber: GATS 2011/2021, Public Health of Indonesia 2026

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Sumber & Metodologi

Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.
  5. 5.
  6. 6.
  7. 7.
  8. 8.
  9. 9.
  10. 10.
  11. 11.
  12. 12.
  13. 13.
  14. 14.
  15. 15.
  16. 16.
  17. 17.

Komentar (0)

Login untuk berkomentar