Lewati ke konten utama
47% Gen Z Hidup Gaji ke Gaji: Bukan Tidak Bisa Nabung, Tidak Ada Sisa untuk Nabung
Uang•8 MENIT BACA

47% Gen Z Hidup Gaji ke Gaji: Bukan Tidak Bisa Nabung, Tidak Ada Sisa untuk Nabung

“Deloitte 2026: 47% Gen Z hidup gaji ke gaji. BPS catat upah Rp 2,7 juta, biaya hidup Jakarta Rp 5-8 juta. Tidak ada sisa untuk nabung. Bukan boros, sistem.”

Diterbitkan

Deloitte 2026 mencatat 47% Gen Z hidup dari gaji ke gaji. BPS mencatat upah Gen Z Indonesia Rp 2,7-3,2 juta per bulan. Biaya hidup minimum di Jakarta Rp 5-8 juta per bulan. UMP Jakarta 2026: Rp 5.729.876. Tapi pengeluaran Gen Z Jakarta menurut BPS DKI: Rp 11,96 juta per bulan.

Semua bilang "belajar nabung". Tapi dari mana nabung kalau pengeluaran sudah melebihi pendapatan?

Konteks

Deloitte 2026 Gen Z and Millennial Survey melibatkan 22.500 responden di 44 negara. Biaya hidup menjadi kekhawatiran utama lima tahun berturut-turut. 55% Gen Z menunda keputusan besar: menikah, punya anak, beli rumah. 51% merasa tidak mampu beli rumah. 69% bilang harga hunian memengaruhi pilihan karier. 38% menyebut biaya hidup sebagai kekhawatiran terbesar, di atas perubahan iklim dan pengangguran.

Tapi survei ini global. Di Indonesia, angkanya lebih tajam. BPS mencatat upah Gen Z stagnan, bahkan minus 0,06% per November 2025. Sementara inflasi 2,72%. Dan 58% pekerja Indonesia berada di sektor informal tanpa jaminan sosial. Ini bukan masalah manajemen keuangan. Tidak ada sisa untuk dikelola.

Upah Stagnan, Biaya Meroket

Matematika yang Tidak Masuk Akal

BPS November 2025 mencatat upah Gen Z Indonesia usia 20-29 tahun hanya Rp 2,7-3,2 juta per bulan. Data ini dilansir dari ekonom CELIOS Shafa Kalila. Kenaikan upah tahunan minus 0,06%, sementara inflasi 2,72%. Artinya, daya beli Gen Z secara nyata menurun setiap bulan.

BPS juga melaporkan data yang lebih spesifik. Kelompok usia 15-19 tahun hanya mengalami kenaikan gaji Rp 100 ribu, dari Rp 1,8 juta menjadi Rp 1,9 juta. Kelompok usia 20-24 tahun stagnan di Rp 2,4 juta. Kelompok usia 25-29 tahun naik Rp 100 ribu, dari Rp 2,9 juta menjadi Rp 3 juta. Dalam setahun, kenaikan upah Gen Z tidak sebanding dengan inflasi dan kenaikan biaya hidup.

Sementara itu, BPS DKI Jakarta melaporkan pengeluaran Gen Z di Jakarta mencapai Rp 11,96 juta per bulan pada Juli 2026. Komponen non-makanan menyumbang Rp 7,14 juta. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) usia 15-29 tahun di Jakarta mencapai 13,65%. Dan 21,47% pekerja muda di Jakarta berada di sektor informal.

UMP Jakarta 2026 ditetapkan Rp 5.729.876, naik 6,17% dari 2025. Antara News melaporkan biaya hidup lajang di Jakarta berkisar Rp 5-8 juta per bulan dengan pola hidup hemat. Kos Rp 1-2,5 juta, makan Rp 1,5-3 juta, transportasi Rp 300 ribu-Rp 1 juta, kebutuhan lain Rp 500 ribu-Rp 1,5 juta.

Gaji tidak mau tumbuh sudah membahas bagaimana Gen Z menunda keputusan besar karena gaji tidak kejar biaya hidup. Tapi data BPS DKI menunjukkan masalah lebih dalam dari sekadar "tidak kejar." Pengeluaran Gen Z Jakarta (Rp 11,96 juta) hampir 2 kali UMP (Rp 5,7 juta) dan hampir 4 kali upah Gen Z (Rp 3 juta). Ini bukan gap. Ini jurang.

Upah Gen Z vs Biaya Hidup Jakarta 2026

Jurang Rp 8-9 juta antara pendapatan dan pengeluaran

Sumber: BPS Nov 2025, BPS DKI Jul 2026, UMP DKI 2026

Working Poor: Bekerja tapi Tetap Rentan

58% di Sektor Informal

Ekonom CELIOS Shafa Kalila menjelaskan fenomena "working poor" yang menimpa Gen Z Indonesia. Working poor adalah kondisi orang yang sudah bekerja tapi tetap rentan, bahkan miskin. Data BPS menunjukkan 58% pekerja Indonesia berada di sektor informal. Hanya 42% di sektor formal.

"Orang-orang yang bekerja di sektor informal tidak memiliki pendapatan yang tetap, pendapatan fluktuatif, dan mereka tidak memiliki jaminan sosial yang jelas karena tidak punya kontrak kerja yang jelas. Dari situ, marak sekali fenomena working poor, terutama di kalangan Gen Z di Indonesia," kata Shafa.

Data Next Policy mencatat pekerja digital transportasi mencapai 2,41 juta orang pada 2024. Lebih dari 75% di antaranya berpenghasilan di bawah Rp 3 juta per bulan. Analis Senior ISEAI Ronny P Sasmita menilai dominasi sektor gig membawa risiko stagnasi produktivitas. "Kalau angkatan kerja muda terlalu banyak terserap dalam pekerjaan informal berpendapatan rendah, ekonomi kehilangan jalur pembentukan kelas menengah," katanya.

Gig economy sudah membahas bagaimana pekerjaan platform menjadi jebakan produktivitas rendah. Tapi data 75% pekerja digital di bawah Rp 3 juta menunjukkan masalah yang lebih mendesak. Ini bukan sekadar "tidak ada jenjang karier." Ini tidak ada sisa untuk hidup.

BPS juga mencatat gaji buruh Indonesia per November 2025 hanya Rp 3,33 juta. Buruh berpendidikan S1 ke atas mendapat Rp 4,63 juta, sementara buruh berpendidikan SD ke bawah hanya Rp 2,22 juta. Gap upah berdasarkan pendidikan mencapai 2,1 kali lipat. Tapi bahkan gaji S1 pun (Rp 4,63 juta) masih di bawah biaya hidup minimum Jakarta.

Literasi Keuangan vs Akses Keuangan

Gap yang Melebar

OJK Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat literasi keuangan masyarakat Indonesia 66,46%. Sementara inklusi keuangan mencapai 80,51%. Gap antara keduanya melebar dari 9,6 poin pada 2024 menjadi 14 poin pada 2025.

Artinya, akses ke produk keuangan tumbuh lebih cepat daripada kemampuan menggunakannya. Orang Indonesia semakin mudah mendapat kartu kredit, paylater, pinjaman online. Tapi kemampuan untuk mengelola produk-produk ini tidak ikut tumbuh.

Kelompok usia 18-25 tahun menunjukkan pola yang lebih ekstrem. Inklusi keuangan mencapai 89,96%, tapi literasi hanya 73,22%. Gen Z punya akses tertinggi ke produk keuangan, tapi kemampuan mengelolanya paling rendah relatif terhadap aksesnya.

Nasihat "belajar nabung" mengasumsikan Gen Z punya uang untuk dikelola. Tapi data BPS menunjukkan upah Gen Z Rp 2,7-3,2 juta, sementara biaya hidup minimum Rp 5-8 juta. Menabung jadi irasional ketika pengeluaran melebihi pendapatan. Tidak ada aplikasi budgeting yang bisa menyelesaikan defisit struktural.

Yang terjadi justru sebaliknya. Paylater menjadi jembatan arus kas. Bukan karena Gen Z boros, tapi karena gaji tidak cukup untuk sampai akhir bulan. Gap literasi-inklusi yang melebar berarti Gen Z punya akses ke utang lebih cepat daripada pengetahuan untuk mengelolanya.

Insight

Saya pernah ikut workshop "manajemen keuangan untuk Gen Z." Pembicaranya perencana keuangan dengan gaji estimasi Rp 30-50 juta. Sarannya: "Sisihkan 20% gaji untuk investasi. Kurangi kopi premium. Berhenti langganan Netflix."

Saya hitung di kepala: 20% dari Rp 3 juta = Rp 600 ribu. Kurangi kopi = hemat Rp 150 ribu. Berhenti Netflix = hemat Rp 54 ribu. Total "hemat": Rp 804 ribu. Sisa gaji setelah hemat: Rp 2,2 juta. Biaya kos: Rp 1,5 juta. Sisa: Rp 700 ribu. Makan 30 hari: Rp 23 ribu per hari. Itu belum termasuk transport, pulsa, listrik, air, kebutuhan dasar lain.

Nasihat finansial dari orang yang gajinya 10x lipat tidak relevan untuk orang yang hidup dengan Rp 3 juta sebulan. Bukan karena nasihatnya salah. Tapi karena nasihatnya mengasumsikan ada sisa. Untuk 47% Gen Z yang hidup gaji ke gaji, tidak ada sisa. Tidak ada ruang untuk "kurangi pengeluaran" karena pengeluaran sudah di minimum.

"Living paycheck to paycheck" bukan gaya hidup. Bukan kegagalan manajemen keuangan. Bukan karena beli kopi premium atau langganan Netflix. Ini aritmatika sederhana: kalau pendapatan Rp 3 juta dan pengeluaran minimum Rp 5 juta, defisit Rp 2 juta. Tidak ada aplikasi budgeting yang bisa menyelesaikan defisit struktural.

Conclusion

Jadi bukan kamu yang salah tidak bisa nabung. Sistemnya yang tidak dirancang untuk membayar kamu cukup. Dan nasihat "kurangi kopi" dari orang yang belum pernah hidup dengan Rp 3 juta sebulan bukan solusi. Itu penghinaan yang dikemas sebagai tips keuangan.

47% Gen Z global hidup gaji ke gaji menurut Deloitte 2026. Di Indonesia, BPS mencatat upah Gen Z Rp 2,7-3,2 juta sementara biaya hidup minimum Rp 5-8 juta. 58% pekerja di sektor informal tanpa jaminan sosial. Pertanyaannya bukan "kenapa Gen Z tidak bisa nabung." Pertanyaannya: "kenapa sistem membayar Gen Z di bawah biaya hidup?"

FAQ

Berapa gaji Gen Z Indonesia?

BPS November 2025 mencatat upah Gen Z usia 20-29 tahun Rp 2,7-3,2 juta per bulan. Kenaikan upah tahunan minus 0,06%, sementara inflasi 2,72%. BPS juga mencatat gaji usia 20-24 stagnan di Rp 2,4 juta dan usia 25-29 naik hanya Rp 100 ribu menjadi Rp 3 juta.

Kenapa Gen Z sulit nabung?

Bukan karena boros. BPS mencatat upah Gen Z Rp 2,7-3,2 juta, sementara biaya hidup minimum di Jakarta Rp 5-8 juta per bulan. BPS DKI melaporkan pengeluaran Gen Z Jakarta Rp 11,96 juta. Pengeluaran melebihi pendapatan. 58% pekerja Indonesia berada di sektor informal tanpa jaminan sosial. Tidak ada sisa untuk nabung.

Apakah living paycheck to paycheck hanya terjadi di Indonesia?

Tidak. Deloitte 2026 mencatat 47% Gen Z global hidup gaji ke gaji dari 22.500 responden di 44 negara. Tapi di Indonesia lebih parah karena upah lebih rendah (Rp 2,7-3,2 juta vs biaya hidup Rp 5-8 juta) dan 58% pekerja di sektor informal tanpa jaminan sosial.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Sumber & Metodologi

Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.
  5. 5.
  6. 6.
  7. 7.
  8. 8.

Komentar (0)

Login untuk berkomentar