Lewati ke konten utama
Gen Z Doomerism: Pesimis Bukan Depresi, Mereka Baca Datanya
Mindset•10 MENIT BACA

Gen Z Doomerism: Pesimis Bukan Depresi, Mereka Baca Datanya

“Gen Z disebut sakit mental karena pesimis. Tapi data BPS, YouGov, dan Jakpat mendukung pesimisme itu. Mungkin yang perlu periksa mata adalah yang masih optimis.”

Diterbitkan

Angka yang Berbicara

Survei Jakpat Desember 2025 menunjukkan 60% Gen Z Indonesia cemas menghadapi masa depan. YouGov Februari 2025 mencatat 37% Gen Z pesimis terhadap arah negara, tertinggi di antara semua generasi, dengan 41% mempertimbangkan pindah ke luar negeri dalam beberapa tahun ke depan. Sebelum kamu menyebut mereka "sakit mental" atau "kurang bersyukur", coba periksa datanya.

Pesimisme Gen Z bukan pathology. Itu epistemology. Mereka tahu sesuatu yang generasi sebelumnya tidak mau akui: sistem tidak bekerja untuk mereka. Dan datanya mendukung kesimpulan itu, bukan sebaliknya.

Apa Itu Doomerism

Definisi: Pesimisme Berdasarkan Data, Bukan Gangguan Mood

Doomerism adalah sikap pesimis terhadap masa depan yang didasarkan pada observasi data objektif, bukan gangguan mood klinis. Berbeda dengan depresi yang merupakan kondisi medis memerlukan penanganan profesional, doomerism adalah respons rasional terhadap informasi yang memang tidak bagus. Seseorang yang membaca data pengangguran, krisis iklim, dan ketimpangan ekonomi lalu merasa pesimis tidak otomatis menderita gangguan mental. Mereka mungkin hanya membaca berita.

Asal Istilah: Dari Internet Culture ke Realita Generasi

Istilah "doomer" muncul di forum internet sekitar 2018-2019, menggambarkan orang muda yang melihat dunia menuju kehancuran dan memilih pasrah. Awalnya ini subkultur online. Tapi pandemi, krisis ekonomi, dan ketidakpastian karier mengubahnya jadi fenomena generasional. Gen Z yang besar di era informasi terus-menerus terpapar data negatif: PHK massal, krisis iklim, ketimpangan ekonomi. Pesimisme bukan pilihan, itu konsekuensi dari membaca.

Data yang Membuat Pesimisme Jadi Rasional

7,47 Juta Pengangguran, TPT Muda 16,42%

BPS Agustus 2024 mencatat 7,47 juta pengangguran di Indonesia. Data BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok umur muda (15-24 tahun) mencapai 16,42%, hampir enam kali lipat TPT dewasa, dengan rasio TPT muda terhadap TPT dewasa sebesar 5,84. Artinya, dari 100 orang penduduk berumur 15-24 tahun yang termasuk angkatan kerja, terdapat sekitar 16 orang yang menganggur.

Ini bukan data lama. Ini data BPS 2024 yang dirilis Desember 2024, dan angkanya tidak menunjukkan perbaikan besar. Kelas menengah menyusut, bukan gagal naik, tangganya yang dicabut.

75% Pekerja Digital di Bawah Rp3 Juta

Analis Senior ISEAI Ronny P Sasmita mengungkapkan bahwa lebih dari 75% pekerja digital transportasi berpenghasilan di bawah Rp3 juta per bulan. Data ISEAI mencatat dari 2,41 juta pekerja digital transportasi pada 2024, mayoritas terjebak dalam low productivity trap. "Ini bukan purely choice, tetapi juga constraint-driven choice," katanya kepada CNN Indonesia, Juli 2026.

Ketika kerja formal tidak menyerap, gig economy jadi katup pengaman. Tapi katup ini tidak mengantar ke mana-mana. Pendapatan di bawah Rp3 juta menurut data ISEAI sulit menopang tabungan, apalagi KPR atau investasi pendidikan. Gen Z melihat ini dan bertanya: untuk apa semangat kalau hasilnya sama?

64% Gen Z Stres Finansial, Harga Rumah Tak Terjangkau

Survei BTN 2026 menunjukkan 64% Gen Z mengalami stres finansial. Harga rumah di kota besar sudah setara 25 tahun gaji tanpa makan, sebuah matematika yang sudah kita hitung sebelumnya. Hasilnya: doom spending. Gen Z yang menyerah menabung memilih belanja impulsif sebagai pelarian. Ini bukan self-care, itu gejala menyerah. Lipstick effect modern: kalau kamu tidak bisa beli rumah, beli kopi premium. Setidaknya ada sesuatu yang bisa kamu kontrol.

Iklim: Warisan yang Tidak Diundang

Data Kompas melaporkan gelombang panas di Eropa menyebabkan lebih dari 10.000 kematian dalam satu musim panas, dengan suhu mencapai 40 derajat Celsius di negara yang sebelumnya tidak butuh AC. Kebakaran hutan, banjir, dan anomali cuaca jadi rutinitas berita. Gen Z akan mewarisi bumi yang suhunya terus naik, sementara kebijakan iklim global berjalan lebih lambat dari laju kerusakan. Pesimisme soal iklim bukan rewel, itu membaca laporan IPCC.

Dari Cemas ke Doomerism: Evolusi Mental Gen Z

2023-2024: Fase Anxiety

Jakpat mencatat 60% Gen Z cemas masa depan, 57% merasakan tekanan finansial, 62% mengalami mood swing, dan 50% mengalami gangguan tidur. Fase ini ditandai dengan kecemasan aktif: masih berusaha, masih berjuang, tapi sudah mulai merasa ada yang tidak beres. Quarter-life crisis bukan penyakit, sistemnya yang rusak.

2025: Fase KaburAjaDulu

YouGov Februari 2025 menemukan 41% Gen Z mempertimbangkan pindah ke luar negeri. Tagar #KaburAjaDulu viral di media sosial. Studi akademik yang dipublikasi di Open Access International Journal of Social Sciences (OAIJSS) menganalisis fenomena ini dengan wawancara intensif terhadap 30 profesional muda di Jakarta. Temuan mereka: "Working Dead Syndrome" (detachment emosional dari pekerjaan), "Digital Solidarity" (tagar sebagai ruang bertahan kolektif), dan "Green Pasture Mirage" (migrasi sebagai pencarian martabat sistemik).

Studi ini juga memvalidasi secara kuantitatif dengan Structural Equation Modeling dari 1.000 entri digital. Hasilnya: Workplace Toxicity dan Digital Peer Support secara kuat memprediksi Aspirasi Migrasi. Gen Z tidak kabur karena malas. Mereka kabur karena data survei menunjukkan 96% terbuka pindah, sistem yang tidak memberi alasan untuk setia.

2026: Fase Doom Spending

Kompas melaporkan Juni 2026 bahwa belanja impulsif Gen Z meningkat seiring kehilangan harapan punya rumah. "Mau menabung juga buat apa kalau gak akan cukup beli rumah," begitu pola pikir yang muncul. BNPL (Buy Now Pay Later) jadi enabler. Bukan karena Gen Z tidak tahu matematika, tapi karena menabung jadi irasional ketika targetnya mustahil dicapai dengan gaji sekarang.

Kenapa Menyebut Ini "Sakit Mental" Adalah Gaslighting

Data Mendukung Pesimisme, Bukan Sebaliknya

BPS mencatat 7,47 juta pengangguran, TPT muda 16,42% hampir 6 kali dewasa, ISEAI melaporkan 75% pekerja gig di bawah Rp3 juta, survei BTN 64% stres finansial, harga rumah 25 tahun gaji. Krisis iklim global. Menyebut Gen Z "lemah" atau "manja" karena pesimis adalah menyalahkan korban atas kondisi yang mereka tidak buat.

Stigma "Kurang Ibadah" dan "Manja" Mengabaikan Akar Masalah

Bengkel Narasi mencatat bahwa stigma terhadap Gen Z berasal dari generasi tua yang melihat krisis mental sebagai masalah spiritual, bukan struktural. Layanan kesehatan mental di Indonesia masih minim, data Bengkel Narasi mencatat hanya 2,6% populasi memiliki akses ke konseling profesional. Jadi ketika Gen Z mengungkapkan kecemasan, respons yang datang bukan empati, tapi nasihat. "Kurang ibadah," "Kurang bersyukur," "Zaman kami dulu lebih susah."

Tapi generasi stroberi bukan label untuk generasi yang lemah. Itu label untuk sistem yang gagal. Dan sistem yang gagal tidak suka dikritik. Lebih mudah menyalahkan 60% Gen Z yang cemas menurut data Jakpat daripada mengakui bahwa kecemasan itu punya dasar yang nyata.

Toxic Positivity: "Think Positive" Saat Sistem Tidak Positif

Toxic productivity mengajarkan bahwa istirahat terasa seperti kejahatan. Toxic positivity mengajarkan bahwa berpikir negatif adalah kelemahan. Tapi keduanya berbagi akar yang sama: menyalahkan individu atas respons yang sehat terhadap lingkungan yang tidak sehat. Menyuruh Gen Z optimis saat data menunjukkan sebaliknya bukan solusi. Itu gaslighting.

Insight

Doomerism Gen Z bukan pathology, itu epistemology. Mereka membaca data dan menarik kesimpulan yang logis dari angka yang memang tidak bagus. Pesimisme yang rasional bukan tanda kelemahan mental, itu tanda mereka membaca data. Solusinya bukan "think positive", tapi perbaiki data yang membuat pesimis itu rasional.

Saya perhatikan pola yang konsisten: setiap kali Gen Z mengungkapkan kecemasan, ada selalu suara yang bilang "kamu kurang bersyukur" atau "zaman dulu lebih susah". Tapi zaman dulu tidak punya data BPS 7,47 juta pengangguran, harga rumah 25 tahun gaji, dan krisis iklim global yang simultan. Perbandingan yang tidak adil ini bukan membangun, itu meremehkan.

Conclusion

Data BPS mencatat 7,47 juta pengangguran. Data ISEAI menunjukkan 75% pekerja gig di bawah Rp3 juta. Survei BTN mencatat 64% stres finansial. Harga rumah 25 tahun gaji tanpa makan. Krisis iklim yang tidak menunggu izin membuat Gen Z pesimis, dan mereka hanya baca datanya. Mungkin generasi yang perlu periksa mata adalah yang masih optimis melihat angka-angka itu.

FAQ

Apa itu doomerism?

Doomerism adalah sikap pesimis terhadap masa depan yang didasarkan pada observasi data objektif, bukan gangguan mood klinis. Berbeda dengan depresi yang merupakan kondisi medis, doomerism adalah respons rasional terhadap informasi yang memang tidak bagus.

Apa beda doomerism dengan depresi?

Depresi adalah gangguan klinis yang memerlukan penanganan profesional, ditandai dengan gejala seperti kehilangan minat, gangguan tidur, dan perasaan sedih berkelanjutan. Doomerism adalah sikap pesimis berdasarkan data objektif. Seseorang bisa pesimis tanpa menderita depresi, dan sebaliknya.

Kenapa Gen Z pesimis terhadap masa depan Indonesia?

Data BPS 2024 mencatat 7,47 juta pengangguran dengan TPT muda 16,42%, hampir 6 kali TPT dewasa. Survei YouGov 2025 menunjukkan 37% Gen Z pesimis dan 41% mempertimbangkan pindah. Survei Jakpat 2025 mencatat 60% cemas masa depan dan 57% mengalami tekanan finansial. Pesimisme ini didukung data objektif.

Apa itu tren KaburAjaDulu?

KaburAjaDulu adalah fenomena Gen Z Indonesia yang mempertimbangkan pindah ke luar negeri. Survei YouGov Februari 2025 menemukan 41% Gen Z mempertimbangkan migrasi, lebih tinggi dari milenial (31%), Gen X (26%), dan Baby Boomers (12%). Studi akademik mengidentifikasi "Working Dead Syndrome" dan "Green Pasture Mirage" sebagai faktor pendorong.

Apakah pesimisme Gen Z tanda gangguan mental?

Tidak selalu. Pesimisme Gen Z terhadap masa depan lebih tepat dipahami sebagai respons rasional terhadap data objektif yang memang tidak bagus. Menyebut pesimisme ini "sakit mental" tanpa mengakui akar strukturalnya bisa dianggap gaslighting sistemik. Namun, jika kecemasan berdampak pada fungsi harian, konsultasi profesional tetap dianjurkan.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Komentar (0)

Login untuk berkomentar