Lewati ke konten utama
Quarter-Life Crisis Bukan Penyakit, Sistemnya yang Rusak
Kehidupan6 menit baca

Quarter-Life Crisis Bukan Penyakit, Sistemnya yang Rusak

Satu generasi penuh mengalami krisis yang sama di usia yang sama. Kalau semua orang sakit di tempat yang sama, bukan orangnya yang rusak.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Kamu nggak rusak

Umur 23. Lulus kuliah cumlaude. CV dikirim ke 50 perusahaan. Diterima di satu, gaji Rp 4 juta, kerja tiga divisi sekaligus. Setahun kemudian, kamu mulai bangun pagi dengan dada berdebar dan mual. Bukan karena kamu sakit. Karena kamu bertanya: "Ini yang aku kuliah 4 tahun untuk apa?"

Umur 26. Masih kerja, sudah pindah dua kali. Gaji naik tipis, tapi harga kos naik 30%, tiket pulang naik 40%, dan kamu masih nggak bisa beli rumah bahkan kalau nabung 10 tahun. Teman seangkatan ada yang sudah menikah, ada yang S2, ada yang kerja di luar negeri. Kamu scroll Instagram jam 2 pagi dan ngerasa tertinggal.

Psikolog menyebut ini quarter-life crisis. Artikel-artikel menyebut ini fase normal, emerging adulthood, transisi identitas. Mereka bilang: cari psikolog, eksplorasi diri, pahami minat kamu.

Tapi tidak ada yang bertanya: kenapa satu generasi penuh mengalami krisis yang sama persis di usia yang sama? Kalau semua orang sakit di tempat yang sama, bukan orangnya yang rusak. Lingkungannya yang rusak.

Sistem yang janji palsu

Kita dibesarkan dengan sistem yang punya kontrak tidak tertulis: ikuti aturan ini, kamu akan aman. Masuk kuliah bagus, dapat IPK tinggi, lulus cepat, kerja di perusahaan keren, gaji besar, beli rumah, menikah, hidup bahagia. Kontrak itu dijual orang tua, sekolah, kampus, dan media sejak kita SD.

Masalahnya, kontrak itu kedaluwarsa.

Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka kelompok usia 15-24 tahun konsisten jadi yang tertinggi dibanding kelompok usia lain. Lulusan S1 punya tingkat pengangguran lebih tinggi dari lulusan SMK. Artinya, semakin tinggi gelar kamu, semakin besar kemungkinan kamu nganggur di awal karier. Sistem yang bilang "kuliah tinggi = kerja bagus" berbohong.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, menyebut fenomena ini identity foreclosure: kondisi ketika seseorang membuat komitmen masa depan dengan mengadopsi harapan orang tua atau tren masyarakat, tanpa eksplorasi mandiri. Singkatnya, kamu pilih jurusan karena mama bilang, bukan karena kamu tahu kamu mau apa. Empat tahun kemudian, kamu lulus dan baru sadar kamu nggak kenal diri sendiri.

Tapi tunggu. Anak umur 17 tahun diminta memilih jurusan yang menentukan 40 tahun karier ke depan. Dia belum pernah kerja, belum pernah bayar tagihan sendiri, belum tahu apa yang dia suka di luar kelas. Dan kalau dia salah pilih, sistem bilang itu salah dia. Bukan salah sistem yang maksa dia memilih di usia 17.

Matematika yang nggak cocok

Quarter-life crisis bukan cuma soal identitas. Itu soal matematika yang nggak cocok.

Ambil contoh Nisa, lulusan PTN di Jogja yang ceritanya dimuat Mojok.co. Dia kerja dengan gaji UMR Jogja, sekitar Rp 2,5 juta. Harga rumah sederhana di Jogja sekarang menyentuh ratusan juta. Kenaikan UMR per tahun rata-rata nggak sampai 5%. Kenaikan harga rumah bisa 10-15% per tahun. Secara hitungan kertas, sekeras apa pun Nisa kerja, dia nggak akan beli rumah dalam waktu dekat.

Ini bukan cerita satu orang. Ini struktur.

Seorang pekerja di Jakarta dengan gaji Rp 5 juta harus keluar uang kos Rp 1,5 juta, makan Rp 1,5 juta, transport Rp 500 ribu, pulang kampung sekali sebulan Rp 500 ribu. Sisa: Rp 1 juta. Itu kalau dia nggak bantu orang tua, nggak bayar cicilan, nggak sakit, nggak ada acara kantor yang wajib hadir. Nabung rumah? Butuh 15 tahun untuk DP rumah pinggiran.

Lalu kamu dipanggil ke ruang HR dan dikasih target baru. Atau kamu lihat postingan teman yang sudah beli mobil. Atau orang tua telepon dan tanya kapan menikah. Dan kamu ngerasa krisis. Tapi yang kamu alami bukan krisis identitas. Yang kamu alami adalah ketidaksesuaian antara janji sistem dan realitas angka.

Kamu nggak rusak. Kamu cuma baru sadar bahwa tangga yang kamu naiki menempel di dinding yang salah.

Media sosial memperparah, bukan menyebabkan

Riset tim mahasiswa UMY menemukan keterkaitan antara konsumsi konten TikTok dan meningkatnya rasa kesepian Gen Z. Algoritma TikTok mendorong konten kesepian ke linimasa, yang dibagi ulang sebagai coping mechanism, yang memicu lebih banyak konten kesepian. Lingkaran setan.

Tapi media sosial nggak menyebabkan quarter-life crisis. Media sosial cuma memperbesar efeknya.

Kamu sudah merasa tertinggal sebelum buka Instagram. Kamu sudah merasa gagal sebelum scroll TikTok. Media sosial cuma memberi kamu bukti visual bahwa orang lain "lebih maju". Padahal yang kamu lihat adalah highlight reel, bukan full match. Teman yang posting liburan ke Bali mungkin punya utang kartu kredit yang nggak dia posting. Teman yang posting promosi mungkin kerja 14 jam sehari dan mau resign.

Masalahnya, kalau kamu sudah merasa tertinggal di dunia nyata, media sosial ngasih kamu alasan untuk memperdalam perasaan itu. Kamu bukan krisis karena media sosial. Kamu krisis karena sistem nggak ngasih kamu apa yang dijanjikan, dan media sosial bikin kamu lihat orang lain yang juga berjuang tapi terlihat lebih sukses.

Yang bisa kamu lakukan

Kalau quarter-life crisis bukan penyakit, maka solusinya bukan terapi. Solusinya adalah menghentikan ekspektasi yang salah dan mulai main dengan aturan yang benar.

Berhenti bandingkan diri dengan timeline orang lain. Teman kamu menikah umur 24, beli rumah umur 26, punya anak umur 28. Itu timeline dia, bukan timeline kamu. Dan kamu nggak tahu berapa harga yang dia bayar untuk timeline itu. Mungkin dia menikah karena tekanan keluarga. Mungkin beli rumah karena bantuan orang tua. Mungkin dia juga krisis tapi nggak posting. Jalan hidup kamu nggak harus cocok dengan jalan orang lain. Baca PHK Tokopedia: kerja keras tidak menjamin aman kalau kamu butuh pengingat bahwa rencana hidup bisa berubah seketika.

Kenali beda kebutuhan dan keinginan. Kamu butuh makan, bayar kos, dan punya dana darurat. Kamu kepingin beli iPhone baru, kopi 30 ribu tiap hari, dan liburan ke Bali. Quarter-life crisis sering berasal dari kebingungan antara dua hal ini. Kamu ngerasa miskin padahal sebenarnya kamu cuma konsumtif. Catat pengeluaran kamu satu bulan. Lihat berapa yang kamu habiskan untuk kebutuhan vs keinginan. Hasilnya mungkin mengejutkan. Untuk panduan lebih lanjut, lihat kategori kehidupan untuk artikel-artikel seputar manajemen ekspektasi.

Pilih satu hal yang bisa kamu kontrol. Kamu nggak bisa kontrol pasar kerja, harga rumah, atau algoritma Instagram. Tapi kamu bisa kontrol skill kamu, tabungan kamu, dan lingkaran pertemanan kamu. Fokus pada satu hal yang bisa kamu ukur progress-nya tiap bulan. Kalau itu skill, ambil satu kursus online bulan ini. Kalau itu tabungan, targetkan nabung Rp 500 ribu bulan ini. Kalau itu pertemanan, hubungi satu teman lama minggu ini. Progress kecil yang konsisten mengalahkan eksistensial besar yang nggak berujung.

Hentikan narasi "aku tertinggal". Kamu nggak tertinggal dari siapa pun. Kamu cuma jalan di tempo yang berbeda. Orang yang menikah umur 24 bisa cerai umur 28. Orang yang beli rumah umur 26 bisa gagal bayar umur 30. Orang yang S2 dulu bisa nganggur 2 tahun setelah lulus. Hidup bukan sprint. Hidup juga bukan maraton. Hidup adalah jalan yang nggak ada garis finish, jadi berhenti lari ke arah orang lain.

Penutup

Quarter-life crisis adalah kata yang terdengar klinis untuk pengalaman yang sebenarnya sederhana: kamu baru sadar dunia nggak berjalan seperti yang dijanjikan.

Itu bukan penyakit. Itu momen bangun.

Dan momen bangun itu menyakitkan, tapi perlu. Karena selama kamu tidur, kamu percaya sistem yang berbohong. Selama kamu percaya, kamu ikut aturan yang nggak menguntungkan kamu. Dan selama kamu ikut aturan itu, kamu hidup untuk ekspektasi orang lain, bukan untuk diri sendiri.

Kamu nggak rusak. Kamu baru sadar. Dan kesadaran itu, meski menyakitkan, adalah langkah pertama untuk hidup dengan mata terbuka.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga