Lewati ke konten utama
Rumah yang Tidak Pernah Jadi Milik: KPR Bukan Membeli, Kamu Menyewa dari Bank
Uang8 menit baca

Rumah yang Tidak Pernah Jadi Milik: KPR Bukan Membeli, Kamu Menyewa dari Bank

Rasio harga rumah vs pendapatan Indonesia 16,73. Butuh 17 tahun gaji untuk beli rumah. KPR bukan kepemilikan, kamu menyewa dari bank 25 tahun.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Hook

Di Indonesia, kamu butuh 17 tahun gaji untuk beli rumah. Di Amerika, butuh 3 tahun. Di Malaysia, 9 tahun. Angka itu bukan dari media sosial atau opini. Itu dari Numbeo, situs peringkat dunia yang mengumpulkan data harga properti. Dan angka itu menjelaskan kenapa 81 juta generasi muda Indonesia belum mampu membeli rumah, menurut Kompas pada November 2025.

Coba bayangkan. Tujuh belas tahun. Tanpa makan, tanpa bayar kos, tanpa transportasi, tanpa belanja apa pun. Tujuh belas tahun seluruh gaji kamu cuma untuk rumah. Itu baru harga rumahnya. Belum bunga KPR, belum biaya notaris, belum pajak. Dan kamu heran kenapa Gen Z pilih sewa?

Konteks

Bagi orang tua kita, rumah adalah simbol keberhasilan. Bukti bahwa kamu sudah "sampai." Tapi generasi yang lahir antara 1997 dan 2012 menghadapi realita yang berbeda. Gaji Gen Z per bulan rata-rata Rp1,68 juta sampai Rp2,28 juta, menurut BPS 2024. Harga rumah di kota besar bisa mencapai 8 sampai 12 kali pendapatan tahunan rumah tangga muda. Angka ini membuat uang muka dan cicilan rumah jadi beban yang sulit dijangkau.

Sementara itu, harga properti terus naik lebih cepat dari pendapatan. Data Bank Indonesia menunjukkan Indeks Harga Properti Residensial terus meningkat dalam jangka panjang, meski pertumbuhan tahunannya melambat. Pada kuartal IV 2025, pertumbuhan harga properti hanya 0,83 persen secara tahunan. Tapi perlambatan harga tidak berarti rumah jadi lebih terjangkau. Pendapatan generasi muda tumbuh lebih lambat lagi.

Hasilnya: era "rent first" sudah tiba. Data Rumah123 pada Q2 2026 menunjukkan minat menyewa hunian mencapai 58,6 persen, melampaui minat membeli yang hanya 41,4 persen. Tren ini konsisten selama 5 kuartal terakhir. Sebanyak 53,9 persen pengguna Rumah123 berasal dari kelompok usia 18-34 tahun. Mereka tidak memilih sewa karena malas. Mereka memilih sewa karena membeli tidak rasional.

Rasio harga rumah terhadap pendapatan (price-to-income ratio) mengukur berapa tahun pendapatan tahunan dibutuhkan untuk membeli rumah. Indonesia mencatat angka 16,73, jauh di atas Malaysia (9) dan Amerika Serikat (3), berdasarkan data Numbeo yang dikutip Kompas pada November 2025.

KPR Bukan Membeli, Kamu Menyewa dari Bank

Selama 25 tahun, rumah itu bukan milik kamu. Rumah itu milik bank.

KPR adalah skema pembiayaan di mana bank membeli rumah dan kamu membayar cicilan plus bunga selama 10 sampai 30 tahun. Sertifikat baru berpindah ke nama kamu setelah lunas. Selama proses itu, kalau kamu gagal bayar satu bulan, rumah bisa disita. Kalau kamu kehilangan pekerjaan dan tidak bisa cicil selama 3 bulan, kamu kehilangan rumah.

Data Bank Indonesia pada kuartal IV 2025 menunjukkan 70,88 persen pembelian rumah di pasar primer dilakukan melalui KPR. Sisanya tunai bertahap 19,18 persen dan tunai langsung 9,94 persen. Artinya, 7 dari 10 orang yang "membeli" rumah sebenarnya menyewa dari bank.

Tenor KPR yang paling populer adalah 16-20 tahun, dipilih oleh 36,9 persen pengguna Rumah123. Diikuti tenor hingga 10 tahun (30,1 persen) dan 11-15 tahun (28,1 persen). Bayangkan: kamu mengikat 30 persen dari gaji kamu setiap bulan selama 20 tahun. Selama 20 tahun, kamu tidak bisa kehilangan pekerjaan, tidak bisa sakit kronis, tidak bisa bisnis bangkrut. Karena cicilan tidak punya kompromi untuk berhenti menunggu.

Yang lebih mengkhawatirkan, rasio kredit bermasalah (NPL) KPR terus naik. Dari 2,51 persen pada 2024 menjadi 3 persen pada 2025, lalu 3,14 persen pada Februari 2026 dan 3,26 persen pada April 2026, menurut data Bank Indonesia dan SMF. Artinya, semakin banyak orang yang "memiliki" rumah via KPR ternyata tidak mampu membayar cicilannya.

Suku Bunga Melonjak

Pada Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan BI Rate ke level 5,50 persen. Keputusan ini diambil di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur bulanan, menandakan urgensi. Konsekuensinya langsung: bunga KPR diproyeksikan naik 15-25 basis poin dalam 1-2 bulan.

Ketua Umum The Housing and Urban Development Institute, Zulfi Syarif Koto, menjelaskan bahwa untuk pinjaman KPR Rp1 miliar dengan tenor 20 tahun, kenaikan ini menambah cicilan sekitar Rp150.000 sampai Rp200.000 per bulan. Bagi calon pembeli kelas menengah yang rasio cicilannya sudah menyentuh batas aman 30 persen dari pendapatan, tambahan ini mengoreksi rencana finansial mereka cukup besar.

Dampaknya ke pasar: penjualan rumah tapak kecil turun 46 persen secara tahunan, menurut data BI SHPR kuartal I 2026. Segmen rumah tapak nonsubsidi harga Rp800 juta sampai Rp2,5 miliar diproyeksikan melambat 20-30 persen hingga kuartal IV 2026. Ini segmen yang dihuni pekerja muda yang mengandalkan KPR.

Rasio Harga Rumah vs Pendapatan per Negara

Berapa tahun pendapatan tahunan dibutuhkan untuk beli rumah

Sumber: Numbeo (via Kompas, Nov 2025)

Pilihan Rasional, Bukan Sikap Malas

Riset Inventure yang dikutip Kompas pada November 2025 menemukan bahwa 65 persen Gen Z tidak percaya mampu membeli rumah dalam tiga tahun mendatang. Bahkan, 36 persen dari 587 responden Gen Z menyatakan bahwa mereka lebih memilih untuk menyewa rumah atau ngekos.

Ini bukan sikap malas atau boros. Ini kalkulasi rasional. Dengan gaji Rp2 juta per bulan dan harga rumah minim Rp300 juta di pinggiran kota, uang muka 10 persen saja butuh Rp30 juta. Itu setara dengan 15 bulan gaji tanpa makan. Cicilan KPR 20 tahun untuk rumah Rp300 juta dengan bunga 8 persen sekitar Rp2,5 juta per bulan. Itu 125 persen dari gaji. Matematika tidak masuk akal.

Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia, Syarifah Syaukat, menilai keraguan Gen Z wajar. Sebagai pembeli rumah pertama, generasi ini mencari hunian yang sesuai kemampuan finansial. Tapi di tengah harga rumah yang terus meningkat, serapan pada segmen Gen Z cukup menantang.

Yang menarik, fenomena lipstick effect terjadi. Konsumen cenderung tetap membelanjakan uang untuk kesenangan kecil yang terjangkau, bukan aset besar. Terlihat dari pesatnya pertumbuhan sektor makanan dan minuman yang menyumbang hampir separuh tenant baru di pusat perbelanjaan Jakarta. Gen Z tidak menabung untuk rumah, mereka beli kopi Rp30 ribu. Bukan karena tidak tahu nabung, tapi karena nabung untuk rumah terasa mustahil.

Gue perhatikan ini di teman-teman gue. Yang gajinya Rp3-4 juta, tidak satu pun yang bicara tentang beli rumah. Yang dibicarakan adalah cari kos lebih murah, pindah ke kota yang biaya hidupnya lebih rendah, atau kumpul bareng teman untuk sewa rumah bersama. Tidak ada yang bermimpi KPR. Bukan karena tidak mau. Karena angka di kalkulator KPR lebih menakutkan daripada mimpi buruk apa pun.

Backlog perumahan Indonesia mencapai 9,6 juta unit pada 2025, menurut SMF. Angka ini menunjukkan permintaan rumah tetap tinggi. Tapi kemampuan masyarakat untuk membeli tidak mengimbangi. Kelas menengah menyusut, penjualan rumah turun 7,69 persen secara kuartalan pada Q1 2026. Masyarakat memilih mempertahankan likuiditas dibandingkan membeli aset bernilai besar. Seperti yang dikatakan Martin dari SMF: "Rumah itu investasi jangka panjang. Ketika kondisinya tidak pasti, masyarakat memilih tidak dulu beli rumah karena yang penting ada uang di tabungan untuk makan."

Insight

KPR bukan kepemilikan. KPR adalah sewa jangka panjang dengan bunga. Selama 20-25 tahun, kamu bekerja untuk membayar sewa rumah ke bank. Sertifikat hanya berpindah ketika lunas. Dan kalau kamu gagal bayar, kamu kehilangan rumah dan semua uang yang sudah kamu bayar.

"Memiliki" rumah di Indonesia jadi mewah karena sistem yang membuat harga properti tumbuh lebih cepat dari gaji. Bukan salah Gen Z tidak beli rumah. Sistem yang membuat "memiliki" tidak rasional. Ketika butuh 17 tahun gaji untuk beli rumah, menyewa bukan pilihan. Menyewa adalah satu-satunya opsi yang tersisa.

Ini bukan cerita tentang satu orang yang boros dan tidak bisa nabung. Ini cerita tentang generasi pertama yang menghadapi matematika kepemilikan yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Seperti yang sudah dibahas di Beli Rumah Bukan Soal Kopi, Soal 25 Tahun Gaji Tanpa Makan, kepemilikan rumah di Indonesia bukan lagi soal kesiapan finansial. Soal sistem yang membuat 25 tahun gaji habis untuk satu aset. Orang tua kita beli rumah di era ketika harga rumah 3-4 kali pendapatan tahunan. Kamu menghadapi era ketika harga rumah 17 kali pendapatan tahunan. Bedanya bukan 4 kali lipat. Bedanya adalah antara "mungkin" dan "tidak mungkin."

Conclusion

Orang tua kamu mungkin punya rumah. Kamu mungkin tidak akan pernah. Bukan karena kamu boros atau malas. Tapi karena rumah yang mereka beli dengan gaji 90-an, sekarang harganya 17 kali gaji kamu. Kelas menengah yang dulu bisa beli rumah sekarang menyusut dan kehilangan tangga. Selama 25 tahun kamu bisa bayar KPR, dan pada tahun ke-25 kamu baru punya rumah. Atau pada tahun ke-3 kamu kehilangan pekerjaan, dan pada bulan ke-4 kamu kehilangan rumah. Itulah kepemilikan di era ekonomi sewa. Kamu tidak memiliki rumah. Kamu menyewa dari bank.


Selanjutnya di Generasi Sewa: Kalau rumah saja kamu sewa dari bank, apa lagi yang kamu kira milik? Mulai dari hiburan sampai penyimpanan file, kamu membayar sewa setiap bulan tanpa sadar. Lanjut ke Part 2

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga