Lewati ke konten utama
Paylater, Menyewa Uang Sendiri: Rp 43 Triliun Utang Generasi Sewa
Uang•8 MENIT BACA

Paylater, Menyewa Uang Sendiri: Rp 43 Triliun Utang Generasi Sewa

“Utang paylater Indonesia Rp 43,28 triliun per Mei 2026. 88% pengguna Milenial dan Gen Z. Paylater bukan kemudahan, kamu menyewa uang sendiri dengan bunga.”

Diterbitkan

Sebelumnya di Generasi Sewa: Kamu membayar 8-15 langganan digital setiap bulan tanpa sadar, total 2,5 kali perkiraan. Langganan adalah sewa akses, bukan kepemilikan. Berhenti bayar, kehilangan semua. Baca: Part 2

Hook

Semua bilang paylater itu kemudahan. OJK bilang utang paylater Indonesia Rp 43,28 triliun per Mei 2026. 88 persen penggunanya Milenial dan Gen Z. Kalau itu kemudahan, kenapa 31,76 juta orang Indonesia berhutang untuk "mudah"?

Kemudahan yang dijual paylater adalah ilusi. Kamu tidak mendapatkan kemudahan. Kamu mendapatkan akses ke uang yang seharusnya kamu punya, tapi dengan bunga. Kamu menyewa uang sendiri. Dan seperti semua sewa dalam ekonomi ini, ada pihak yang untung dari kamu menyewa. Pihak itu bukan kamu.

Konteks

Paylater atau Buy Now Pay Later (BNPL) adalah skema pembiayaan yang memungkinkan konsumen membeli barang dengan cara menunda pembayaran. Di Indonesia, total outstanding paylater mencapai Rp 43,28 triliun per Mei 2026, menurut data OJK yang dilansir Katadata. Angka ini terdiri dari paylater perbankan Rp 30,1 triliun dan paylater multifinance Rp 13,18 triliun.

Pertumbuhannya mengkhawatirkan. Paylater perbankan tumbuh 37,72 persen secara tahunan, jauh lampaui pertumbuhan kredit konsumsi yang hanya 5,89 persen. Paylater multifinance tumbuh 53,78 persen secara tahunan. Bahkan data OJK pada Januari 2026 menunjukkan pembiayaan paylater multifinance naik 71,13 persen secara tahunan, seperti dilansir Antara.

Kenapa paylater tumbuh 6 kali lebih cepat dari kredit konsumsi? Bukan karena orang makin konsumtif. Tapi karena gaji tidak cukup sampai akhir bulan. Paylater menjadi jembatan antara gaji yang stagnan dan biaya hidup yang terus naik. Tapi jembatan ini berbunga. Dan bunga ini yang membuat kamu tidak pernah keluar.

Rp 43 Triliun: Siapa yang Berhutang?

Data OJK yang dilansir Tempo pada April 2025 menunjukkan 48,27 persen pengguna paylater adalah Milenial dan 39,94 persen adalah Gen Z. Total 88 persen pengguna dari dua generasi. Yang menarik, 41,9 persen transaksi paylater dilakukan melalui QRIS. Artinya paylater tidak digunakan untuk beli barang mahal. Paylater digunakan untuk belanja harian: makan, belanja minimarket, bayar ojek online.

31,76 juta rekening pengguna paylater. Itu 31,76 juta orang yang menyewa uang. Bukan untuk investasi. Bukan untuk beli aset. Untuk makan dan belanja sehari-hari. Kalau 31 juta orang butuh paylater untuk beli nasi goreng dan indomie, struktur ekonomi kita ada yang salah.

NPF atau Non-Performing Loan paylater multifinance naik dari 2,99 persen pada April 2026 menjadi 3,44 persen pada Mei 2026. NPF bank juga naik dari 3,48 persen ke 3,78 persen. Artinya, semakin banyak pengguna paylater yang tidak mampu membayar. "Kemudahan" ini berubah jadi beban yang tidak bisa ditanggung.

Pertumbuhan Paylater vs Kredit Konsumsi

Paylater tumbuh 6x lebih cepat dari kredit konsumsi

Sumber: OJK (via Katadata & Kontan, Jul 2026)

Bunga yang Tidak Terlihat

Paylater dijual dengan tagline "0 persen bunga" atau "cicilan tanpa bunga." Tapi bunganya ada, hanya saja tidak disebut bunga. Disebut "biaya layanan" atau "biaya administrasi" atau "fee."

Paylater berbunga efektif 2,5 sampai 5 persen per bulan. Setahun itu 30 sampai 60 persen. Bandingkan dengan KPR yang 8 persen per tahun. Paylater 4 sampai 7 kali lebih mahal dari KPR. Tapi paylater terasa "murah" karena tagihannya kecil dan dibagi bulan-bulan.

Beli barang Rp2 juta via paylater 12 bulan. Dengan bunga efektif 3 persen per bulan, total bayar sekitar Rp2,7 juta. Kamu membayar Rp700 ribu lebih untuk "kemudahan" menunda pembayaran. Itu setara dengan 35 persen dari harga barang. Kamu menyewa uang Rp2 juta selama 12 bulan dengan harga Rp700 ribu.

Yang lebih parah, banyak pengguna paylater berhutang untuk membayar hutang lain. Gaji masuk, bayar cicilan paylater A. Tapi sisa gaji tidak cukup sampai akhir bulan. Buka paylater B untuk belanja harian. Bulan depan, gaji masuk, bayar paylater A dan B. Sisa tidak cukup. Buka paylater C. Siklus ini yang membuat 3,44 persen NPF naik setiap bulan.

Faktor Pendorong dari Sisi Permintaan

Trioksa Siahaan dari LPPI, dikutip Kontan pada Juli 2026, menjelaskan bahwa pertumbuhan paylater didorong oleh daya beli tertekan, proses cepat, dan limit kecil. Bukan karena orang konsumtif. Karena gaji tidak cukup.

Paylater tumbuh karena ada gap antara pendapatan dan kebutuhan. Gaji Rp3 juta per bulan, kos Rp1 juta, makan Rp1 juta, transportasi Rp500 ribu, langganan digital Rp300 ribu, sisa Rp200 ribu. Tapi bulan ini ada tagihan listrik Rp400 ribu. Darimana? Paylater.

Tapi risikonya naik jika daya beli belum pulih dan regulasi semakin ketat. OJK sudah mulai memperketat aturan paylater. Tapi aturan tidak menyelesaikan akar masalah. Akar masalahnya adalah gaji yang tidak cukup untuk hidup. Selama gaji tidak cukup, orang akan terus berhutang. Dan selama orang berhutang, platform paylater akan terus untung.

Pinjaman online (pinjol) outstanding mencapai Rp101,03 triliun pada Januari 2026, tumbuh 26,25 persen secara tahunan, menurut OJK yang dilaporkan Antara. Paylater Rp43,28 triliun ditambah pinjol Rp101,03 triliun sama dengan Rp144 triliun utang konsumen Indonesia. Itu setara dengan 6 persen dari PDB Indonesia. Generasi muda Indonesia berhutang Rp144 triliun untuk hidup, bukan untuk berinvestasi.

Gue punya teman yang gajinya Rp4,5 juta. Dia punya 3 paylater aktif. Total cicilan per bulan Rp1,2 juta. Itu 27 persen dari gajinya. Setiap bulan, dia bayar cicilan dengan gaji bulan itu, lalu buka paylater lagi untuk belanja harian karena sisa gaji habis buat cicilan. Dia tidak pernah keluar dari siklus ini. Dia bekerja untuk membayar bunga paylater. Dan paylater ini yang membuat platform fintech makin kaya.

Insight

Paylater bukan menyewa barang. Paylater adalah menyewa uang. Kamu membayar bunga untuk menggunakan uang yang seharusnya kamu punya. Kalau kamu butuh paylater untuk beli barang Rp200 ribu, kamu tidak punya uang. Kamu menyewa akses ke uang yang seharusnya kamu miliki. Dan kamu membayar bunga 30 sampai 60 persen per tahun untuk itu. Ini sudah dibahas lebih lanjut di Paylater Bukan Kemudahan, Penjaga Gaji Kamu.

"Kemudahan" yang dijual paylater adalah jebakan di mana kamu selalu berhutang untuk hidup. Paylater tumbuh 6 kali lebih cepat dari kredit konsumsi. Bukan karena orang makin konsumtif. Tapi karena orang makin tidak mampu hidup tanpa berhutang. Ini bukan masalah gaya hidup. Ini masalah struktur pendapatan yang tidak mengimbangi biaya hidup.

Setiap bulan, jutaan orang Indonesia membayar sewa uang ke platform fintech. Rp43,28 triliun outstanding paylater berarti miliaran rupiah per bulan mengalir dari kantong generasi muda ke kas perusahaan fintech. Bukan karena mereka bodoh. Karena mereka tidak punya pilihan. Sama seperti pinjol yang didesain untuk menangkap, paylater adalah sistem yang dibuat untuk membuat kamu terus berhutang.

Conclusion

Paylater dijual sebagai kemudahan. Tapi kalau kamu butuh paylater untuk beli barang Rp200 ribu, kamu tidak punya uang. Kamu menyewa akses ke uang yang seharusnya kamu miliki. Dan kamu membayar bunga 30 sampai 60 persen per tahun untuk itu. Kemudahan yang membuat kamu tidak pernah benar-benar punya uang. Itulah paylater dalam ekonomi sewa.


Selanjutnya di Generasi Sewa: Kalau uang saja kamu sewa, apakah pekerjaanmu benar-benar milikmu? Ribuan Gen Z bekerja di Gojek dan Grab, tapi mereka bukan karyawan. Mereka menyewa waktu dari platform. Lanjut ke Part 4

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Sumber & Metodologi

Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.
  5. 5.

Komentar (0)

Login untuk berkomentar