Lewati ke konten utama
Gig Economy, Kamu Penyewa Waktu: Bukan Karyawan, Bukan Bos
Uang8 menit baca

Gig Economy, Kamu Penyewa Waktu: Bukan Karyawan, Bukan Bos

Pendapatan ojol turun 41% dalam 2 tahun. 75% pekerja digital di bawah Rp3 juta. Gig economy bukan kebebasan, kamu menyewa pekerjaan dari platform.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Sebelumnya di Generasi Sewa: Paylater Rp 43,28 triliun, 88 persen pengguna Milenial dan Gen Z. Paylater bukan kemudahan, kamu menyewa uang sendiri dengan bunga 30-60 persen per tahun. Baca: Part 3

Hook

Pengemudi ojek online di Indonesia bekerja rata-rata 9 sampai 12 jam per hari, 7 hari seminggu tanpa libur. Pendapatan mereka? Rp1,7 juta per bulan. Turun dari Rp2,9 juta dua tahun lalu. Mereka bukan karyawan. Mereka bukan bos. Mereka penyewa slot produktivitas dari aplikasi.

Kamu mungkin pernah naik ojol dan berpikir, "Setidaknya mereka punya kebebasan. Tidak ada bos. Kerja kapan saja." Tapi coba tanya pengemudi yang kerja 11 jam di jalan, 7 hari seminggu, dan bawa pulang Rp1,7 juta. Kebebasan yang mana?

Konteks

Gig economy di Indonesia sekarang menyerap jutaan pekerja. Ekosistem ojek online saja menyerap 2,91 juta pekerja langsung dan 2,62 juta pekerja tidak langsung, total 5,53 juta tenaga kerja, menurut riset Paramadina-INDEF yang dilaporkan MataKita pada Juni 2026. Kontribusi ke PDB mencapai Rp565 triliun. Angka yang besar. Tapi angka PDB tidak menjawab pertanyaan: berapa yang masuk ke kantong pengemudi?

Gig economy adalah ekonomi kerja berbasis platform di mana pekerja tidak memiliki hubungan kerja formal dengan platform. Di Indonesia, ekosistem ojek online menyerap 5,53 juta tenaga kerja (Paramadina-INDEF, 2026). Tapi 5,53 juta pekerja ini tidak punya BPJS, tidak punya THR, tidak punya pensiun, tidak punya jaminan PHK. Mereka "mitra," bukan karyawan.

Ekonom ISEAI yang dikutip CNN Indonesia pada Juli 2026 menyebut Gen Z lebih banyak bekerja di sektor informal atau gig. Pilihan ini bukan purely choice. Ini "constraint-driven choice." Kamu tidak bisa dapat kerja kantor, jadi kamu ojol. Bukan karena kamu mau jadi ojol. Karena tidak ada opsi lain. Seperti yang dibahas di Gojek Grab Bukan Jadi Bos, Algoritma yang Jadi Bosmu, ojol bukan kerja bebas. Kamu kerja untuk algoritma.

Pendapatan Anjlok, Jam Kerja Membengkak

Survei IDEAS terhadap 1.018 pengemudi ojol di 67 kabupaten/kota menemukan pendapatan bersih rata-rata turun dari Rp2,9 juta pada 2023 ke Rp1,7 juta per bulan pada 2025. Turun 41 persen dalam dua tahun. Sementara itu, biaya operasional naik dari Rp53 ribu ke Rp58 ribu per hari, atau 46 persen dari pendapatan kotor harian.

Pendapatan kotor harian turun dari Rp168 ribu (2023) ke Rp126 ribu (2025). Turun 25 persen. Tapi biaya operasional tetap naik karena harga bensin dan biaya pemeliharaan motor terus meningkat. Hasilnya: pendapatan bersih yang seharusnya naik justru turun drastis.

51 persen pengemudi ojol bekerja 9-12 jam per hari. 55,5 persen bekerja 7 hari penuh tanpa libur. Bayangkan: 11 jam di jalan, terkena panas, hujan, macet, resiko kecelakaan. Setiap hari. Tanpa hari libur. Dan bawa pulang Rp1,7 juta per bulan. Itu setara dengan UMR kota kecil di Indonesia. Tapi mereka kerja di kota besar di mana biaya hidupnya 2-3 kali UMR kota kecil.

Pendapatan Ojol 2023 vs 2025

Pendapatan bersih turun 41% dalam 2 tahun

Sumber: IDEAS Survei 2026 (via Intime, Mei 2026)

Biaya Tersembunyi dari Platform

Kamu tidak hanya tidak punya jaminan kerja. Kamu juga membayar sewa untuk bekerja.

Survei IDEAS menemukan 50,3 persen pengemudi ojol kena potongan 20 persen dari platform. 24,2 persen kena potongan 25-30 persen. Artinya, dari setiap Rp100 ribu yang kamu hasilkan, Rp20-30 ribu langsung masuk ke kantong platform. Sebelum kamu bayar bensin, sebelum kamu makan, sebelum kamu bayar cicilan motor.

Survei yang sama menemukan 59,2 persen pengemudi melaporkan pendapatan per order turun saat ada promo konsumen. Platform kasih diskon ke konsumen, tapi yang menanggung diskonnya adalah pengemudi. Platform tetap ambil potongan penuh, konsumen senang karena murah, platform untung karena volume naik, dan pengemudi yang rugi.

46,5 persen pengemudi pernah kena suspend. 9,4 persen pernah diputus kemitraan permanen. Kamu tidak punya kendali atas pekerjaanmu. Algoritma bisa "memecat" kamu kapan saja, tanpa peringatan, tanpa proses. Tidak ada HRD untuk komplain, tidak ada serikat pekerja, tidak ada mediasi. Kamu mitra, tapi tidak ada negosiasi. Kamu penyewa, dan platform adalah tuan tanah.

Jutaan Terdaftar, Ratusan Ribu Aktif

Grab Indonesia mencatat 3,7 juta mitra pengemudi terdaftar per Desember 2025, menurut laporan yang dilansir Akurat dan Katadata pada Februari 2026. Tapi hanya 700-800 ribu yang aktif. Itu 19-22 persen. Lebih dari 80 persen mitra terdaftar tidak aktif.

Grab menjelaskan bahwa lebih dari 80 persen mitra roda dua tidak menjadikan ojol sebagai nafkah utama. Mereka punya pekerjaan lain dan ojol cuma tambahan. Tapi ini sebenarnya mengkonfirmasi masalah: ojol tidak menghasilkan cukup untuk jadi nafkah utama. Kalau 80 persen mitra tidak bisa hidup dari ojol, berarti ojol bukan pekerjaan. Ojol adalah sumber pendapatan tambahan yang mengisi celah ketika pekerjaan utama tidak cukup.

Lebih dari 75 persen pekerja digital transportasi berpenghasilan di bawah Rp3 juta per bulan, menurut Next Policy yang dikutip CNN Indonesia pada Juli 2026. Sulit menopang tabungan, KPR, pensiun, atau investasi pendidikan dengan Rp3 juta per bulan di kota besar. Apalagi Rp1,7 juta.

ISEAI menyebut risiko "low productivity trap." Generasi pekerja besar tapi rapuh. Banyak orang bekerja, tapi produktivitas dan pendapatan rendah. Gen Z yang masuk gig economy sekarang akan sulit naik kelas. Tidak ada jalur karier. Tidak ada kenaikan gaji. Tidak ada skill development. Yang ada adalah algoritma yang bisa ubah tarif dan potongan kapan saja.

Gue pernah ngobrol sama pengemudi ojol yang umurnya 24 tahun. Dia lulus SMK, tidak dapat kerja, jadi ojol. Dia bilang, "Bang, gue kerja 12 jam tiap hari, tapi gaji gue tetep Rp1,8 juta. Kadang Rp1,5 juta kalau sepi." Dia tidak punya BPJS. Dia bayar sendiri kalau sakit. Dia tidak punya simpanan. Kalau motornya rusak, dia berhutang. Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan 5 tahun lagi. Dia tidak punya rencana. Bukan karena dia tidak mau bikin rencana. Tapi karena dari Rp1,8 juta, tidak ada ruang untuk rencana.

Insight

Gig economy adalah kamu menyewa pekerjaan dari platform. Bukan karyawan: tidak ada BPJS, THR, pensiun, jaminan PHK. Bukan bos: tidak punya kendali atas harga, potongan, atau aturan. Kamu penyewa: bayar potongan 20-30 persen ke platform untuk "menyewa" slot produktivitas.

"Kebebasan" yang dijual gig economy adalah ketidakpastian tanpa jaring pengaman. Kamu bebas memilih kapan kerja, tapi tidak bebas memilih berapa dibayar. Kamu bebas memilih di mana kerja, tapi tidak bebas dari potongan. Kamu bebas berhenti kapan saja, tapi tidak bebas memilih pekerjaan lain kalau tidak ada.

5,53 juta pekerja gig di Indonesia. Kontribusi PDB Rp565 triliun. Tapi pendapatan pekerja turun 41 persen dalam 2 tahun. Platform makin besar, pekerja makin kecil. Ini bukan kebetulan. Ini struktur. Platform yang untung dari skala, pekerja yang menanggung biaya skala. Sama seperti gig economy yang bukan pilihan tapi jebakan produktivitas rendah, sistem ini menghasilkan generasi pekerja besar tapi rapuh.

Conclusion

Rumah sewa, hiburan sewa, uang sewa, pekerjaan sewa. Empat hal paling fundamental dalam hidup kamu, dan kamu tidak memiliki satu pun. Kamu menyewa tempat tinggal dari pemilik kos. Kamu menyewa hiburan dari platform streaming. Kamu menyewa uang dari paylater. Dan kamu menyewa pekerjaan dari platform gig. Setiap bulan, gaji kamu masuk, lalu langsung keluar lagi untuk bayar sewa. Tidak ada yang tersisa untuk dimiliki.


Selanjutnya di Generasi Sewa: Kalau kamu tidak punya rumah, hiburan, uang, atau pekerjaan, setidaknya kamu masih punya barang, kan? Baju, sepatu, kamera. Tapi kalau itu semua thrifting dan rental, apakah kamu benar-benar memilikinya? Lanjut ke Part 5

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga