
Girl Math Bukan Joke, Rasionalisasi Belanja Saat Nabung Tak Masuk Akal
20 juta Gen Z Indonesia belum punya tabungan. Utang BNPL Rp28,3 triliun. Tapi girl math di TikTok bilang belanja itu investasi. Bukan humor, itu coping.
Angka di Balik Tren
Bank Indonesia mencatat sekitar 20 juta Gen Z belum memiliki tabungan di bank per November 2025. Otoritas Jasa Keuangan melaporkan total utang Buy Now Pay Later nasional mencapai Rp28,3 triliun dengan 30,81 juta pengguna per Maret 2026. Gen Z juga menjadi kelompok dengan rasio kredit macet tertinggi di antara pengguna BNPL.
Tapi di TikTok, ada tren yang merayakan logika belanja sebagai humor. Namanya girl math. Beli tas Rp2 juta tapi dipakai 200 kali, jadi cuma Rp10 ribu per pakai. Bayar pakai cashback, berarti gratis. Belanja pakai QRIS, berarti tidak keluar uang. Diskon 50 persen, berarti rugi kalau tidak beli.
Tren ini lucu dan relatable. Tapi tren ini juga punya konsekuensi nyata ketika 20 juta Gen Z tidak punya tabungan dan utang BNPL sudah Rp28,3 triliun.
Asal Usul Istilah
Istilah girl math berasal dari Selandia Baru pada 2023. Seorang presenter radio ZM menggunakan istilah ini untuk menjustifikasi pembelian seorang penelepon yang dinilai mahal. Dari sana, tren menyebar ke TikTok global dan menjadi fenomena yang diperbincangkan jutaan orang.
Girl math merujuk pada cara kreatif merasionalisasi pengeluaran. Beberapa logika yang paling populer: uang tunai dianggap "free money" karena tidak mengurangi saldo di aplikasi mobile banking. Pembayaran via QRIS atau cashback dianggap "tidak dihitung." Barang mahal dibagi per pemakaian supaya terasa murah. Diskon dianggap "hemat," bukan "belanja."
Secara psikologis, fenomena ini bukan hal baru. Dalam ilmu ekonomi, konsep ini dikenal sebagai mental accounting bias, dicetuskan oleh ekonom Richard Thaler. Konsep ini menjelaskan bahwa orang cenderung tidak memperlakukan semua uang secara sama. Kita secara tidak sadar membuat "rekening mental" berbeda berdasarkan sumber atau tujuan uang, sehingga membuat keputusan keuangan secara tidak rasional.
Perencana Keuangan Finansialku, Laurensia Vina Dharmawan, menjelaskan bahwa girl math masuk dalam kategori mental accounting bias. Artinya, cara pandang seseorang terhadap setiap pengalokasian uang berbeda, sehingga memengaruhi kebiasaan berbelanja dan menabung.
Psikolog keuangan Brad Klontz memberikan penilaian lebih tajam: "Girl math hanya rasionalisasi perilaku keuangan yang seharusnya tidak kita lakukan."
Survei yang Membuka Mata
Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2025 dari OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan nasional sebesar 66,46 persen, sementara indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Gap antara akses dan pemahaman melebar dari 9,6 poin menjadi 14 poin. Artinya, akses terhadap produk keuangan tumbuh jauh lebih cepat dibanding kemampuan menggunakannya secara bijak.
Untuk Gen Z usia 18-25 tahun, kesenjangannya bahkan lebih besar. Indeks inklusi keuangan mencapai 89,96 persen, sementara literasi keuangan sebesar 73,26 persen. Hampir 9 dari 10 Gen Z punya akses ke layanan keuangan digital, tapi kurang dari 3 dari 4 memahami cara menggunakannya secara optimal.
Data BPS DKI Jakarta 2025 menunjukkan rata-rata pengeluaran Gen Z di Jakarta mencapai Rp11.969.830 per bulan. Porsi terbesar bukan untuk makanan, melainkan kebutuhan nonmakanan sebesar Rp7.142.427. Tingkat Pengangguran Terbuka kelompok usia 15-29 tahun di Jakarta mencapai 13,65 persen, jauh lebih tinggi dari kelompok usia 30-59 tahun yang hanya 3,25 persen.
Di tingkat nasional, BPS Februari 2026 mencatat TPT kelompok usia 15-24 tahun sebesar 16,36 persen, tertinggi di antara semua kelompok umur. Beban pengangguran di Indonesia paling besar ditanggung anak muda yang baru masuk pasar kerja.
Indonesia Millennial and Gen Z Report 2026 dari IDN Research Institute melihat ada tekanan untuk berkinerja secara finansial dalam sistem yang tidak selalu mendukung Gen Z. Survei ini melibatkan 1.500 responden di 12 kota besar, dilakukan Februari sampai April 2025.
Girl math muncul di tengah konteks ini. Ketika gaji stagnan, biaya hidup naik, dan menabung terasa seperti tidak masuk akal secara matematis, otak mencari justifikasi untuk belanja. Girl math adalah justifikasi itu.
Jembatan Logika ke Utang
Data OJK per Maret 2026 menunjukkan kelompok usia 19-34 tahun menyumbang 48,65 persen dari kredit macet pinjaman online. Total utang BNPL nasional Rp28,3 triliun dengan 30,81 juta pengguna. Pembiayaan paylater oleh perusahaan pembiayaan tumbuh 71,13 persen secara tahunan menjadi Rp12,18 triliun per Januari 2026.
Survei APJII 2025 mencatat 86,6 persen peminjam online berasal dari kalangan milenial dan Gen Z. Gen Z menyumbang hampir 40 persen dari total pengguna BNPL, dengan rasio kredit macet paylater sekitar 4 persen.
Girl math menjadi jembatan logika ke utang ini. "Diskon 50 persen, rugi kalau tidak beli" adalah justifikasi untuk checkout keranjang Shopee pakai paylater. "Beli sekarang bayar nanti, berarti tidak keluar uang hari ini" adalah girl math versi BNPL. Logika ini terdengar tidak masuk akal secara finansial, tapi terasa benar secara emosional.
Survei Konsumen Bank Indonesia mencatat porsi pendapatan untuk konsumsi turun ke 74,3 persen pada Desember 2025. Ini berarti porsi tabungan mulai naik. Tapi di saat yang sama, utang BNPL terus melonjak. Tabungan naik sedikit, utang naik banyak. Girl math menjelaskan kenapa: orang merasa sudah "hemat" di satu sisi, lalu merasa boleh belanja di sisi lain.
Studi netnografi dari Universitas Mercu Buana menemukan bahwa girl math adalah bentuk budaya partisipasi perempuan dalam konsumsi via TikTok. Tren ini menciptakan ruang di mana belanja tidak hanya ditoleransi, tapi dirayakan. Komunitas online memberikan validasi: "Kamu tidak sendirian, kita semua girl math."
Bukan Kecerdasan, Bukan Kebodohan
Beberapa pihak membela girl math sebagai bentuk pemberdayaan. The Conversation, dalam artikel yang membahas tren ini, menulis bahwa girl math membantu perempuan merasa berdaya dengan uangnya. Studi menunjukkan 49 persen perempuan cemas soal keuangan, dan girl math bisa menjadi jembatan emosional untuk mulai peduli pada keuangan pribadi.
Tapi The Conversation juga mengakui: girl math belum tentu merupakan nasihat keuangan yang baik.
Jerome Polin, dalam video di kanal YouTube Malaka, membahas fenomena ini dari sudut pandang ekonomi. Ia menjelaskan bahwa konsep mental accounting membuat manusia memberi label emosi ke setiap sumber uang. Cashback terasa seperti penghasilan tambahan, padahal itu uang sendiri yang kembali. Hasilnya, menurut Jerome: "Kita bisa ngerasa hemat padahal boros. Kita bisa spend uang berlebihan ke barang yang benar-benar tidak kita butuhin."
Profesor J.P. Krahel dari Loyola University melihat girl math sebagai ironi yang melanggengkan stereotip perempuan kurang cakap dalam mengelola uang. Menurutnya, tren ini hanya merasionalisasi perilaku keuangan yang kurang baik.
Girl math bukan tentang perempuan tidak pintar matematika. Girl math tentang otak manusia yang mencari justifikasi ketika realitas tidak match dengan ekspektasi. Ketika menabung tidak masuk akal secara matematis (gaji 4 juta, biaya hidup 4 juta, sisa 0), otak tidak mengatakan "kamu tidak mampu menabung." Otak mengatakan "kamu layan beli ini karena kamu sudah kerja keras." Itu bukan matematika. Itu coping mechanism.
Seperti yang kami bahas di artikel doom spending bukan self-care, itu gejala menyerah, belanja impulsif sebagai pelarian dari stres ekonomi bukan fenomena baru. Girl math adalah versi yang lebih tersystematisasi: ada rumusnya, ada komunitasnya, ada validasinya.
Pola yang Menormalisasi Belanja
Girl math bukan sesekali. Kalau kamu sekali bilang "beli sepatu Rp2 juta, pakai 200 kali, jadi Rp10 ribu per pakai" dan itu membuat kamu lebih aware tentang value, mungkin tidak masalah. Tapi girl math jarang sesekali. Girl math jadi pola. Setiap kali ada dorongan belanja, otak langsung cari rumus girl math untuk menjustifikasi.
Dan pola ini menormalisasi belanja impulsif. Bukan karena kamu butuh barangnya, tapi karena girl math bilang kamu "hemat." Padahal, seperti yang kami tulis di paylater bukan kemudahan, penjaga gaji kamu, sistem pembayaran digital didesain untuk membuat batas antara "mau beli" dan "mampu membayar" menjadi kabur.
Girl math juga tidak terjadi di vakum. Tren ini hidup di ekosistem TikTok di mana algoritma mendorong konten belanja, influencer mempromosikan produk, dan fitur checkout terintegrasi langsung di platform. Girl math bukan sekadar lelucon yang lahir organik. Girl math adalah bagian dari sistem yang profit dari keraguan kamu untuk berhenti belanja.
Saya perhatikan sendiri, setiap kali scroll TikTok malam hari, minimal tiga konten girl math muncul di FYP. Dan setiap konten itu punya link afiliasi. Creator dapat komisi, platform dapat engagement, kamu dapat barang yang tidak betul-betul kamu butuhkan. Girl math bukan humor yang gratis. Girl math adalah marketing yang dikemas sebagai relatable content.
Tagihan Tetap Ada
20 juta Gen Z tanpa tabungan. Rp28,3 triliun utang BNPL. 48,65 persen kredit macet pinjol dari kelompok usia 19-34 tahun. Girl math tidak akan mengubah angka itu.
Humor boleh. Kalau kamu sesekali girl math untuk beli kopi Rp25 ribu dan bilang "ini investasi mental health," tidak masalah. Tapi ketika humor menjadi cara untuk menormalisasi pola yang menumpuk utang dan mengosongkan tabungan, itu bukan humor lagi. Itu alasan untuk tidak berhenti.
Menabung memang sulit di sistem yang tidak mendukung. Gaji stagnan, biaya hidup naik, BNPL gampang diakses. Tapi girl math bukan solusi. Girl math adalah alasan untuk tidak mencoba. Dan seperti yang kami bahas di menabung irasional: bukan boros, matematika yang tidak masuk akal, ketika menabung terasa tidak masuk akal, masalahnya bukan selalu pada kamu. Tapi girl math memastikan kamu tidak pernah mencoba menemukan solusi yang nyata.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah girl math berbahaya?
Girl math sebagai humor sesekali tidak berbahaya. Tapi ketika jadi pola untuk menormalisasi belanja impulsif dan menumpuk utang BNPL, girl math menjadi defense mechanism yang merugikan secara finansial. 20 juta Gen Z tanpa tabungan dan Rp28,3 triliun utang BNPL adalah bukti bahwa pola ini punya konsekuensi nyata.
Apa itu mental accounting dalam girl math?
Mental accounting adalah konsep dari ekonom Richard Thaler di mana orang mengelompokkan uang ke dalam "rekening mental" berbeda berdasarkan sumber atau tujuan, sehingga membuat keputusan keuangan secara tidak rasional. Girl math adalah contoh mental accounting bias: uang tunai dianggap "gratis," cashback dianggap "pendapatan," padahal semuanya adalah uang yang sama.
Kenapa girl math viral di TikTok?
Karena tren ini relatable. Banyak orang merasa sama. Algoritma TikTok mendorong konten yang membuat orang merasa "tidak sendirian." Tapi viral tidak berarti sehat secara finansial. Konten girl math juga sering kali punya link afiliasi, jadi creator dan platform profit dari belanja yang girl math justifikasi.
Apakah girl math hanya dilakukan perempuan?
Tidak. Meski dinamai "girl math," pola rasionalisasi pengeluaran dilakukan semua orang. Jerome Polin membahas "boy math" dengan pola serupa: standar ganda dalam pengeluaran, di mana pria merasa berat mengeluarkan Rp50 ribu untuk makan sendiri tapi menganggap Rp1 juta murah untuk menyenangkan pasangan.
Bagaimana cara keluar dari pola girl math?
Sadari bahwa uang tunai, saldo e-wallet, dan BNPL semua adalah sumber daya yang sama. Buat anggaran bulanan, tetapkan batas belanja, dan evaluasi pengeluaran secara rutin. Jangan belanja saat emosional. Beri jeda 48 jam sebelum checkout barang nonpenting. Dan seperti yang kami bahas di langganan digital: pengeluaran tak kasat mata, waspadai juga pengeluaran kecil yang terakumulasi tanpa kamu sadari.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

KPR Gen Z: Bukan Gagal Nabung, Rumah yang Naik 3x Gaji
Rasio harga rumah vs gaji 48% = krisis internasional. Gaji Gen Z Rp2.4 juta, rumah Jabodetabek Rp400-600 juta. Bukan soal kopi, matematikanya tidak masuk akal.
Baca selengkapnya
Asuransi Swasta Gen Z: Bayar Premi untuk Sistem yang Didesain Menang dari Kamu
Premi Rp300-500K/bulan selama 20-30 tahun. Rasio klaim 83.59%. Industri laba Rp16T. Kamu tidak dilindungi, kamu yang ngasih untung perusahaan asuransi.
Baca selengkapnya
Dana Pensiun Gen Z: Nabung 40 Tahun untuk Uang yang Belum Pasti Ada
Replacement ratio pensiun Indonesia hanya 15-20% vs standar ILO 40%. Gen Z nabung 40 tahun, hasilnya di bawah UMP. Bukan kamu yang salah, sistemnya.
Baca selengkapnya