Lewati ke konten utama
Karier Portofolio Bukan Kebebasan, Itu Kerugian yang Dikemas Jadi Pilihan
Karier5 menit baca

Karier Portofolio Bukan Kebebasan, Itu Kerugian yang Dikemas Jadi Pilihan

63% Gen Z beralih ke gig economy tanpa BPJS, tanpa jaminan sosial. Fleksibilitas yang dijual sebagai kebebasan sebenarnya adalah keputusan terpaksa.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Narasi Kebebasan yang Kita Beli

Buka LinkedIn atau TikTok, kamu akan menemukan puluhan konten tentang karier portofolio. Kerja freelance untuk 3 klien sekaligus, punya waktu fleksibel, tidak terikat jam kantor, tidak perlu minta izin cuti ke atasan. Diceritakan seperti kemenangan generasi muda atas sistem kerja konvensional yang dianggap kaku dan out-of-date.

Narasi ini menyebar cepat karena terdengar membebaskan. Siapa yang tidak mau bekerja dari kafe, mengatur jam sendiri, dan menghindari toxic workplace? Tapi kalau kita lihat lebih dekat, ada hal yang tidak masuk akal. Kenapa sebuah generasi yang baru masuk pasar kerja sudah begitu cepat menyerah pada pekerjaan tetap?

Survei Jakpat terhadap 1.158 responden Gen Z usia 17-28 tahun menemukan bahwa 63% dari mereka beralih ke gig economy. Alasannya bukan semata-mata keinginan untuk fleksibilitas. Kompetisi kerja yang semakin ketat, otomatisasi yang menggantikan posisi entry-level, dan tekanan ekonomi yang terus meningkat memaksa mereka ke jalur kontrak jangka pendek.

Jadi pertanyaannya: apakah karier portofolio benar-benar pilihan, atau satu-satunya jalan yang tersisa?

Yang Tidak Diceritakan tentang Gig Economy

Ketika seseorang memilih menjadi freelancer full-time, ada beberapa hal yang hilang dari paket pekerjaan konvensional. BPJS Ketenagakerjaan, cuti tahunan, jaminan pensiun, dan perlindungan terhadap PHK semuanya menguap. Pendapatan menjadi fluktuatif. Bulan ini bisa dapat 15 juta, bulan depan bisa nol.

Survei Deloitte 2026 terhadap 22.500 responden dari 44 negara menemukan bahwa 48% Gen Z mengalami burnout. Faktor penyebab terbesar? Kekhawatiran tentang masa depan finansial jangka panjang, diikuti oleh kondisi keuangan dan tekanan pekerjaan. Bayangkan kamu sudah khawatir tentang masa depan finansial, lalu kamu masuk ke sistem kerja yang pendapatannya tidak bisa diprediksi. Itu bukan kebebasan, itu sumber kecemasan tambahan.

Yang juga jarang dibahas adalah beban administrasi yang ditanggung freelancer. Pajak sendiri, asuransi kesehatan sendiri, tidak ada THR, tidak ada bonus tahunan. Semua yang dulu jadi tanggung jawab perusahaan sekarang jadi tanggung jawab individu. Sebuah penelitian yang dikutip IDN Times menyebut Gen Z sebagai manusia multi-peran yang harus mengelola jadwal, pendapatan fluktuatif, dan jaminan sosial secara mandiri tanpa perlindungan tetap dari perusahaan konvensional.

Kalau kamu seorang freelancer yang sedang baca ini, kamu mungkin sudah merasakannya. Bulan sepi itu bikin panik. Klien yang bayar telat itu bikin frustrasi. Tidak ada rekan kerja untuk minta saran. Tidak ada HR untuk lapor kalau ada masalah. Semua diatur sendiri, semua ditanggung sendiri.

Perbedaan Antara Memilih dan Terpaksa

Ada perbedaan besar antara memilih karier portofolio karena kamu punya kekuatan tawar, dan terpaksa masuk ke gig economy karena tidak ada opsi lain. Yang pertama adalah privilege. Yang kedua adalah survival.

Banyak konten kreator yang mempromosikan karier portofolio berada di posisi pertama. Mereka punya skill yang dicari pasar, punya jaringan klien yang sudah mapan, punya tabungan untuk bertahan saat bulan sepi. Mereka memang punya kebebasan untuk memilih. Tapi ketika narasi ini ditransfer ke Gen Z yang baru lulus, belum punya pengalaman, belum punya klien, dan belum punya tabungan, narasinya menjadi menyesatkan.

Survei Jakpat yang sama menemukan bahwa 71% Gen Z menempatkan gaji dan kompensasi sebagai pertimbangan utama dalam memilih pekerjaan. Lingkungan kerja yang suportif di posisi kedua dengan 57%, peluang pengembangan karier 55%, dan work-life balance 50%. Kalau gaji adalah prioritas nomor satu, kenapa banyak yang masuk ke gig economy yang pendapatannya tidak pasti? Jawabannya: karena opsi pekerjaan tetap dengan gaji layak semakin sedikit.

Ini bukan kebebasan memilih. Ini pilihan yang menyempit.

Biaya Tersembunyi dari Karier Portofolio

Ada biaya yang tidak terlihat saat seseorang memilih karier portofolio di awal karier mereka:

Tidak ada jenjang karier. Di perusahaan konvensional, ada jalur yang jelas. Junior, mid-level, senior, manager. Setiap level punya ekspektasi dan kompensasi yang berbeda. Sebagai freelancer, kamu tidak punya jalur seperti ini. Kamu hanya punya portofolio dan testimoni klien. Tidak ada promosi, tidak ada kenaikan gaji otomatis, tidak ada struktur.

Tidak ada perlindungan hukum. Kalau klien tidak bayar, kamu harus kejar sendiri. Tidak ada serikat pekerja yang membela, tidak ada HR yang bisa diajak kompromi. Kontrak freelance sering kali satu arah: klien punya banyak opsi, kamu punya sedikit.

Tidak ada jaring pengaman. Sakit satu minggu, tidak ada penghasilan. Klien utama pindah ke freelancer lain, pendapatan bisa turun drastis. Tidak ada pesangon, tidak ada uang pesangon, tidak ada asuransi kesehatan perusahaan.

Isolasi sosial. Bekerja sendirian dari rumah atau kafe terdengar menyenangkan sampai kamu menyadari bahwa tidak ada rekan kerja untuk berbagi frustrasi, minta saran, atau sekadar ngobrol di jam istirahat. Survei IDN Research Institute menemukan bahwa 81,1% Gen Z Indonesia pernah curhat ke AI karena merasa lingkungan sekitar tidak menyediakan ruang aman. Isolasi yang datang dari kerja solo memperburuk kondisi ini.

Apa yang Sebenarnya Terjadi di Pasar Kerja

Kita perlu jujur tentang apa yang terjadi. Pasar kerja konvensional memang tidak menampung semua orang. Otomatisasi menggantikan banyak posisi entry-level. Perusahaan lebih suka kontrak jangka pendek karena lebih murah dan tidak ada kewajiban jangka panjang. Tapi alih-alih mengakui bahwa ini adalah masalah struktural, narasi yang beredar menyalahkan Gen Z: kamu terlalu pilih-pilih, kamu tidak mau kerja keras, kamu terlalu manja.

Kita sudah bahas ini di artikel tentang 300 lamaran ditolak. Bukan Gen Z yang pilih-pilih, sistemnya yang tidak menampung. Dan di artikel tentang S1 rebutan loker SMK, kita lihat bagaimana pendidikan tinggi yang seharusnya jadi jaminan malah jadi trap.

Karier portofolio bukan solusi dari masalah ini. Karier portofolio adalah gejala. Gejala dari pasar kerja yang tidak lagi menjamin stabilitas, dari perusahaan yang tidak lagi mau berinvestasi pada karyawan jangka panjang, dari sistem yang menggeser risiko dari perusahaan ke individu.

Lalu Apa

Bukan berarti karier portofolio selalu buruk. Untuk mereka yang punya skill langka, jaringan yang kuat, dan tabungan yang cukup, freelance bisa jadi pilihan yang masuk akal. Tapi kita perlu berhenti memasarkannya sebagai kebebasan untuk semua orang.

Kalau kamu sedang di posisi harus freelance karena tidak ada opsi lain, ada beberapa hal yang perlu kamu lindungi:

Pisahkan rekening pribadi dan rekening bisnis. Alokasikan minimum 20% dari setiap pembayaran ke dana darurat. Cari komunitas freelancer untuk mengurangi isolasi sosial. Pelajari kontrak kerja agar tidak gampang ditipu klien. Dan kalau memungkinkan, tetap cari pekerjaan tetap paralel dengan freelance sampai pendapatan freelance kamu stabil.

Jangan terjebak narasi bahwa karier portofolio adalah pilihan superior. Itu hanya salah satu cara bertahan. Dan bertahan bukan sama dengan bebas.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga