Lewati ke konten utama
Quiet Quitting Bukan Malas, Sistem Kerja yang Tidak Mau Bayar Hati
Karier6 menit baca

Quiet Quitting Bukan Malas, Sistem Kerja yang Tidak Mau Bayar Hati

60% Gen Z melakukan quiet quitting. Bukan karena malas, tapi karena sistem kerja mengeksploitasi tanpa batas dan tidak memberi alasan untuk peduli.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Kamu mungkin pernah dengar istilah quiet quitting. Kerja sesuai jam, sesuai job desc, tidak lebih. Tidak lembur tanpa dibayar, tidak nanggung pekerjaan orang lain, tidak pura-pura sibuk demi terlihat dedicated.

Boomer dan Gen X menyebut ini malas. "Dulu kami kerja sampai malam, tidak pernah ngeluh." "Gen Z sekarang lemah, tidak punya work ethic." "Bangun komitmen profesional, jangan setengah-setengah."

Tapi data Gallup State of the Global Workplace 2026 mencatat 60% Gen Z sudah melakukan quiet quitting. Dan Randstad Workmonitor 2026 menemukan 68% dari mereka melakukannya karena work-life balance yang hancur. Bukan karena malas. Karena lelah memberi lebih dari yang dibayar.

Quiet quitting bukan berhenti kerja, tapi berhenti peduli berlebihan

Quiet quitting tidak berarti kamu berhenti kerja. Kamu tetap datang, tetap menyelesaikan tugas, tetap profesional. Yang berhenti adalah ekstra yang tidak pernah dihargai.

Lembur tanpa dibayar, tidak lagi. Nanggung project orang lain yang telat, bukan tanggung jawabmu. Balas email kerja jam 11 malam, tidak. Kerja sesuai kontrak, sesuai jam, sesuai deskripsi. Itu bukan malas, itu boundary.

Masalahnya, budaya kerja Indonesia menganggap boundary sebagai pelanggaran. Kamu disuruh "punya inisiatif", "proaktif", "tanggung jawab". Padahal yang dimaksud sering kali: kerja lebih tanpa kompensasi lebih. Kalau kamu menolak, kamu tidak "committed". Kalau kamu pulang tepat waktu, kamu "tidak dedicated".

Toxic productivity sudah membahas bagaimana istirahat dijadikan kejahatan di budaya kerja modern. Quiet quitting adalah respons logis terhadap budaya ini: kalau istirahat dianggap kejahatan, maka kerja sesuai standar dianggap pembangkangan.

Matematika yang tidak masuk akal

Mari kita hitung jujur. Gaji entry-level di Indonesia rata-rata Rp4-6 juta per bulan. Jam kerja "resmi" 8 jam, 5 hari seminggu. Tapi realitasnya: lembur 2-3 jam sehari hampir setiap hari, kadang kerja akhir pekan, balas WhatsApp grup kerja sampai malam.

Kalau kamu kerja 10-11 jam sehari, 6 hari seminggu, dengan gaji Rp5 juta, tarif jam-mu sekitar Rp18.000 per jam. Tarif parkir di mall Jakarta lebih mahal dari waktu kerjamu.

Lalu kenapa kamu harus memberi lebih, dan untuk apa? Untuk promosi yang tidak ada? Untuk bonus yang dipotong pajak sampai tinggal sedikit? Untuk "pengalaman" yang tidak bisa bayar tagihan?

Hustle culture mengajarkan bahwa kerja keras adalah jalan satu-satunya. Tapi Gen Z sudah melihat ke mana jalan itu membawa: PHK tanpa peringatan, gaji yang tidak tumbuh, dan ekspektasi yang terus naik tanpa kompensasi yang menyusul.

Sistem yang mengeksploitasi tanpa batas

Quiet quitting terjadi karena sistem kerja mengeksploitasi tanpa memberi alasan untuk peduli.

Survei Jakpat bersama GoodStats April 2026 menemukan 63% Gen Z merasa kompetisi kerja semakin ketat. McKinsey 2026 mencatat 48% Gen Z butuh fleksibilitas kerja, tapi banyak perusahaan masih memaksakan RTO (return to office) tanpa alasan yang jelas. SERUJI survey 2026 menemukan tingkat engagement kerja Gen Z jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya.

Kenapa? Karena Gen Z melihat apa yang generasi sebelumnya tidak mau lihat:

1. Loyalitas tidak dibalas dengan loyalitas

Kamu loyal 5 tahun, perusahaan tetap PHK kamu kalau bisnis turun. Kamu lembur 10 tahun, perusahaan tetap cari orang lebih murah kalau bisa. Loyalitas dalam hubungan pekerjaan adalah one-way street: perusahaan minta kamu loyal, tapi perusahaan tidak loyal ke kamu.

Gen Z menolak kerja tanpa info gaji dibilang arogan. Tapi menolak transparansi gaji dan ekspektasi kerja yang tidak jelas, itu bukan arogan, itu rasional.

2. "Kerja keras = sukses" sudah tidak berlaku

Generasi sebelumnya percaya: kerja keras = naik gaji = beli rumah = hidup layak. Gen Z melihat rumus ini pecah. Gaji tidak tumbuh, rumah semakin tidak terjangkau, dan kerja keras tidak menjamin aman dari PHK.

Kalau rumusnya pecah, kenapa harus ikut main?

3. Kesehatan mental jadi harga yang harus dibayar

Emotional exhaustion sudah membahas bagaimana Gen Z tidak sekadar capek, tapi kosong. Quiet quitting adalah mekanisme pertahanan diri: kalau sistem tidak melindungi kesehatan mentalmu, kamu harus melindungi sendiri. Dan caranya adalah dengan tidak memberi lebih dari yang dibayar.

Yang tidak dimengerti generasi sebelumnya

Generasi sebelumnya tumbuh di ekonomi yang berbeda. Kerja keras benar-benar menghasilkan mobilitas sosial. Lembur dibayar, promosi berdasarkan senioritas, rumah masih terjangkau dengan satu gaji. Sistem kerja waktu itu, sekalipun tidak sempurna, memberi imbalan yang masuk akal untuk ekstra yang kamu berikan.

Gen Z tumbuh di ekonomi yang berbeda. Kerja keras tidak menjamin apa-apa. Lembur tidak dibayar atau "dihitung" dengan kompensasi yang tidak jelas. Promosi sering kali berdasarkan kedekatan, bukan kinerja. Dan harga rumah butuh 25 tahun gaji tanpa makan.

Generasi sebelumnya berkata: "Kami dulu juga lembur, kami tidak ngeluh." Benar, tapi dulu lembur menghasilkan sesuatu. Sekarang lembur hanya menghasilkan kelelahan.

Quiet quitting sebagai respons rasional

Saya pernah kerja di tempat yang budayanya "kalau kamu pulang sebelum jam 6, kamu tidak dedicated." Saya kerja 9 jam sehari, 6 hari seminggu, dengan gaji yang tidak cukup bayar kos dan makan di Jakarta. Setelah 8 bulan, saya quiet quit. Datang jam 9, pulang jam 6, kerja sesuai job desc, tidak lebih.

Hasilnya? Tidak ada yang berubah. Kerjaan saya tetap selesai, performa tetap sama, tidak ada yang complain. Satu-satunya hal yang berubah: saya punya waktu untuk diri sendiri, tidur cukup, dan tidak lagi merasa kosong setiap pulang kerja.

Quiet quitting bukan tentang malas. Ia tentang menghentikan eksploitasi diri yang tidak dihargai. Kalau sistem tidak memberi alasan untuk peduli lebih, kamu tidak berkewajiban untuk peduli lebih.

Yang perlu diubah

Bukan Gen Z yang harus "bangun komitmen profesional." Sistem kerja yang harus memberi alasan untuk berkomitmen.

Untuk perusahaan

Kalau 60% karyawan Gen Z sudah quiet quitting, masalahnya bukan di Gen Z. Masalahnya di sistem yang tidak memberi: gaji yang layak, jam kerja yang masuk akal, transparansi promosi, dan penghargaan untuk ekstra yang diberikan. Kalau kamu minta lebih, bayar lebih. Sederhana.

Untuk Gen Z

Quiet quitting strategi yang valid, tapi bukan solusi jangka panjang. Kalau kamu quiet quit di tempat yang tidak menghargaimu, kamu tetap stuck. Gunakan waktu yang kamu simpan untuk membangun skill, portofolio, atau mencari tempat yang menghargai. 300 lamaran ditolak bukan alasan untuk menyerah, tapi alasan untuk lebih selektif.

Quiet quitting bukan akhir, tapi jeda. Jeda untuk berhenti memberi lebih dari yang dibayar, sambil mencari tempat yang layak menerima lebih dari yang kamu berikan. Karena kamu tidak berhutang loyalitas pada sistem yang tidak loyal padamu.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga