
96% Terbuka Pindah: Bukan Loyalitas yang Mati, Sistem yang Tidak Memberi Alasan Setia
47% Gen Z berencana resign dalam setahun. Bukan loyalitas yang mati, tapi sistem kerja yang tidak memberi alasan untuk tetap setia.
Loyalitas yang Dituduh Mati
Gen Z kerja cuma 1,1 tahun di tempat pertama. 47 persen berencana resign dalam setahun. 58 persen melihat pekerjaan mereka sebagai situationship. Satu dari tiga siap pindah dalam 12 bulan.
Angka-angka ini sering dipakai untuk menuduh Gen Z tidak loyal. Kutu loncat. Generasi yang tidak tahan keras. Tapi coba balik pertanyaannya: sistem kerja memberi apa untuk dibalas dengan loyalitas?
Survei Gateway Commercial Finance yang dilibatkan lebih dari 1.000 responden, dilaporkan Viva dan Kompas pada Mei 2026, menemukan 55 persen Gen Z menyebut gaji lebih tinggi di tempat lain sebagai alasan utama ingin pindah. 34 persen mengalami burnout. 22 persen merasa tidak dihargai.
Ini bukan cerita ketidakloyalan. Ini cerita sistem yang tidak memberi alasan untuk setia.
1,1 Tahun: Angka yang Membuka Mata
Randstad dalam laporan The Gen Z Workplace Blueprint rilis Februari 2026 menemukan rata-rata Gen Z hanya bertahan 1,1 tahun dalam pekerjaan pertama mereka selama lima tahun awal karier. Bandingkan: Milenial 1,8 tahun, Gen X 2,8 tahun, Baby Boomers 2,9 tahun.
Studi ini melibatkan 11.250 responden dari 15 pasar global serta analisis 126 juta lowongan kerja. Dan ada temuan yang menjelaskan mengapa durasinya pendek: posisi entry-level mengalami penurunan 29 poin persentase sejak Januari 2024. Lowongan untuk pemula makin sedikit, persaingan makin ketat, dan yang tersedia sering tidak sesuai harapan.
Hanya 45 persen Gen Z saat ini berada dalam pekerjaan penuh waktu tradisional. Dari kelompok itu, 31 persen memilih side hustle tambahan. Gen Z tidak menolak kerja. Mereka menolak ketergantungan pada satu sumber penghasilan yang tidak cukup.
Bukan Gaji Saja, Tapi Makna
Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey, yang melibatkan 23.482 responden dari 44 negara, menemukan 31 persen Gen Z berencana mengganti pemberi kerja dalam dua tahun ke depan. Alasannya bukan cuma gaji:
- Kondisi pasar kerja dan peluang: 32 persen
- Work-life balance: 28 persen
- Kenaikan kompensasi: 26 persen
- Fleksibilitas waktu dan pengembangan karier
Yang lebih mencolok: 89 persen Gen Z menganggap rasa memiliki tujuan dalam pekerjaan sebagai syarat kepuasan kerja. 44 persen pernah meninggalkan pekerjaan karena tugas yang dikerjakan tidak memiliki makna atau tidak selaras dengan nilai pribadi.
Hanya 6 persen Gen Z yang menempatkan jabatan kepemimpinan sebagai target karier tertinggi. Mereka tidak mengejar kursi bos. Mereka mengejar stabilitas dan kesempatan belajar. Dan kalau tempat saat ini tidak memberi keduanya, mereka cari tempat lain.
Dosen Manajemen UMM Kenny Roz, diwawancarai Bisnis.com pada Juni 2026, menjelaskan: ketidaksesuaian antara janji perusahaan dan kondisi asli di lapangan menjadi pemicu utama kepergian Gen Z. Gaji besar pun bukan jaminan. Banyak Gen Z bersedia menerima gaji lebih rendah jika lingkungan kerjanya sehat dan tidak toksik.
Sistem yang Tidak Memberi Alasan Setia
Randstad Workmonitor 2025 sudah membuktikan arahnya. Untuk pertama kalinya dalam 22 tahun, work-life balance mengungguli gaji sebagai motivator utama. 44 persen pekerja sudah pernah berhenti karena tempat kerja toxic, naik 33 persen dari tahun sebelumnya. 29 persen berhenti karena tidak setuju dengan pandangan leadership.
Gen Z melihat pekerjaan secara lebih transaksional bukan karena mereka tidak menghargai loyalitas. Mereka tumbuh di tengah ketidakpastian ekonomi, PHK massal, dan stagnasi gaji. Seperti yang kita bahas tentang PHK yang membongkar ilusi kerja keras, sistem sudah menunjukkan bahwa loyalitas satu arah adalah jebakan.
Kalau perusahaan bisa PHK karyawan kapan saja, kenapa karyawan tidak boleh pindah kapan saja? Kalau gaji tidak naik, kenapa harus bertahan? Kalau lingkungan toxic, kenapa harus setia?
Yang Salah Bukan Gen Z-nya
Akademisi Kenny Roz menegaskan fenomena Gen Z sebagai kutu loncat tidak lagi dilihat sebagai kelemahan, melainkan sinyal dan kritik konstruktif bagi dunia industri agar mau beradaptasi. Perusahaan yang berhasil mempertahankan talenta Gen Z bukan yang menawarkan gaji tertinggi, tapi yang mampu mendengarkan kebutuhan karyawan secara proaktif.
Tapi banyak perusahaan masih membaca ini sebagai masalah sikap. Solusi yang ditawarkan: wellness program, yoga, free coffee. Hal-hal yang tidak menyentuh akar masalah. Seperti yang kita bahas tentang quiet quitting, sistem menolak melihat bahwa masalahnya ada di struktur, bukan di individu.
Deloitte mencatat 48 persen Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Banyak hidup dari gaji ke gaji. Randstad menemukan 1 dari 3 pekerja Indonesia berhenti karena nilai pribadi tidak sejalan dengan budaya perusahaan. Ini bukan generasi yang tidak tahu apa yang mereka mau. Ini generasi yang tahu persis apa yang mereka mau, dan sistem tidak menyediakannya.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan
Pertama, jangan merasa bersalah kalau mau pindah. Loyalitas ke perusahaan bukan loyalitas ke keluarga. Perusahaan adalah entitas bisnis yang mengambil keputusan berdasarkan kepentingan finansial. Kamu boleh melakukan hal yang sama.
Kedua, pindah dengan strategi, bukan emosi. Kalau kamu pindah karena gaji, pastikan kenaikannya cukup untuk mengubah kualitas hidup, bukan cuma 5-10 persen. Kalau kamu pindah karena lingkungan toxic, pastikan tempat baru benar-benar berbeda, bukan cuma janji.
Ketiga, bangun skill yang membuat kamu layak diperebutkan. Seperti yang kita bahas tentang skill vs ijazah, sistem masih pakai ijazah sebagai filter, tapi skill yang membuat kamu tidak mudah diganti. Kalau kamu punya skill yang langka, kamu punya posisi tawar.
Keempat, jangan takut menjadi "kutu loncat" kalau itu strategi. Generasi sebelummu mungkin menganggap pindah kerja sebagai tanda ketidakstabilan. Tapi konteksnya berbeda. Mereka hidup di era di mana perusahaan menjamin pensiun, gaji naik stabil, dan PHK jarang terjadi. Kamu hidup di era di mana semua janji itu sudah tidak berlaku. Pindah kerja bukan ketidakstabilan. Itu adaptasi.
Loyalitas Butuh Alasan
Loyalitas tidak tumbuh di tanah yang tandus. Gen Z tidak menolak loyalitas. Mereka menolak memberikan loyalitas tanpa menerima apa pun sebagai gantinya.
Survei Gateway Commercial Finance menemukan 58 persen Gen Z melihat pekerjaan mereka sebagai situationship. Hubungan tanpa kejelasan, tanpa komitmen, tanpa janji masa depan. Kalau perusahaan sendiri tidak berkomitmen, kenapa menuntut karyawan berkomitmen?
Randstad menemukan 45 persen Gen Z saat ini berada dalam pekerjaan penuh waktu tradisional. Sisanya? Freelance, kontrak, side hustle. Generasi yang tumbuh di tengah ketidakpastian belajar satu hal: jangan menaruh harapan pada satu pintu. Kalau pintu itu tertutup, kamu butuh pintu lain.
Dan angka 96 persen terbuka pindah bukan sekadar angka. Itu adalah suara generasi yang sudah lelah dituntut setia pada sistem yang tidak setia pada mereka. Perusahaan menuntut loyalitas, tapi memberikan kontrak pendek, gaji stagnan, dan lingkungan kerja yang tidak sehat. Menuntut dedikasi, tapi PHK tanpa kompensasi yang adil saat bisnis turun.
96 persen terbuka pindah bukan angka ketidakloyalan. Itu angka kekecewaan. Dan kekecewaan itu bukan salah Gen Z. Sistem yang tidak memberi alasan untuk setia, tidak berhak menuntut kesetiaan.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Gig Economy Bukan Pilihan, Jebakan Produktivitas Rendah
2,41 juta pekerja digital, 75% di bawah Rp3 juta per bulan. Gen Z bukan pilih gig economy, sektor formal yang tidak mau serap.
Baca selengkapnya
Quiet Quitting Bukan Malas, Sistem Kerja yang Tidak Mau Bayar Hati
60% Gen Z melakukan quiet quitting. Bukan karena malas, tapi karena sistem kerja mengeksploitasi tanpa batas dan tidak memberi alasan untuk peduli.
Baca selengkapnya
Skill Not School: Tapi Sistem Tetap Pakai Ijazah
Menaker bilang skill lebih penting dari ijazah. Tapi lowongan tetap syarat S1. Sistem tetap minta ijazah yang kamu ambil hutang untuk dapatkan.
Baca selengkapnya