Lewati ke konten utama
TikTok Bukan Terapis: Algoritma Menciptakan Gejala, Bukan Mengidentifikasi
Mindset6 menit baca

TikTok Bukan Terapis: Algoritma Menciptakan Gejala, Bukan Mengidentifikasi

76% pengguna TikTok adalah Gen Z. Algoritma tidak mengidentifikasi penyakit, algoritma menciptakan gejala melalui self-fulfilling prophecy kesehatan mental.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Sebelumnya di Mental Health di Era Digital: Ini adalah Part 1 dari 12 part investigasi tentang sistem kesehatan mental di era digital.

Hook

Semua bilang TikTok bikin Gen Z sadar kesehatan mental. Data bilang sebaliknya: TikTok tidak mengidentifikasi penyakit, TikTok menciptakan gejala.

Buka FYP kamu sekarang. Hitung berapa video yang menampilkan seseorang menjelaskan gejala ADHD, autism, trauma, atau anxiety. Lalu hitung berapa video yang menampilkan solusi profesional, psikolog berlisensi, atau terapi berbasis bukti. Angka pertama akan jauh lebih banyak. Dan itu bukan kebetulan, tapi desain.

Konteks

TikTok punya 194 juta pengguna aktif pada 2025, dengan kelompok usia 18-24 tahun sebagai dominan, menurut data Jurnal Pendidikan dan Ilmu Islam 2025. Penelitian oleh Febriana dan Amalia pada 2024 menemukan bahwa 76% pengguna TikTok didominasi Gen Z. Di saat yang sama, 81% Gen Z mencari informasi kesehatan secara online, menurut Pew Research Center yang dikutip Normansyah pada 2025.

Kenapa ini masalah? Karena sumber informasi kesehatan mental di TikTok bukanlah psikolog atau psikiater. Sumbernya adalah kreator konten yang mungkin punya pengalaman personal, tapi tidak punya kualifikasi klinis. Dan algoritma tidak membedakan antara keduanya. Video dari psikolog berlisensi dan video dari seseorang yang "merasa" punya ADHD ditampilkan dengan bobot yang sama di FYP.

Fenomena ini sudah mulai dibahas, termasuk di artikel TikTok Bukan Terapis: Bahaya Self-Diagnosis Kesehatan Mental. Tapi masalahnya lebih dalam dari sekadar "sumber tidak kredibel." Masalahnya adalah algoritma secara aktif menciptakan kondisi yang membuat self-diagnosis tidak hanya mungkin, tapi hampir tidak terhindarkan.

Algoritma sebagai Terapis Palsu

Algoritma TikTok bekerja dengan prinsip sederhana: konten yang mendapat engagement tinggi ditampilkan ke lebih banyak orang. Konten tentang kesehatan mental mendapat engagement tinggi karena emosi. Orang lebih cenderung like, comment, dan share konten yang membuat mereka merasa sesuatu. Dan algoritma tidak peduli apakah konten itu akurat atau tidak, apakah dibuat oleh profesional atau bukan, apakah informasinya benar atau berbahaya.

Penelitian oleh Pariser pada 2011 dan Cindelli et al. pada 2021, yang dikutip K-PIN Bulletin 2025, menunjukkan bahwa algoritma menciptakan filter bubble dan echo chamber. Artinya, setelah kamu menonton satu video tentang gejala ADHD, algoritma menampilkan video serupa lagi dan lagi. Semakin banyak kamu tonton, semakin kuat keyakinanmu bahwa kamu memang memiliki kondisi tersebut. Filter bubble ini tidak bisa dipecahkan dari dalam, karena semua yang kamu lihat mengkonfirmasi keyakinanmu.

Yang jarang disadari: algoritma merekam interaksi mikro. Bukan hanya like atau comment, tapi milidetik kamu berhenti scroll, repeat view, dan berapa lama kamu membaca komentar. Semua ini menjadi data yang dipakai untuk memperkuat filter bubble. Kamu tidak sadar dianalisis, tapi setiap gerakanmu direkam dan dijadikan input untuk menentukan apa yang muncul berikutnya di FYP. Kamu berpikir kamu "menemukan" konten tentang ADHD, tapi sebenarnya algoritma yang menemukanmu.

Self-Fulfilling Prophecy

Inilah bagian yang tidak dibahas banyak orang. Self-diagnosis di TikTok tidak sekadar "salah diagnosa." Ini lebih kejam dari itu, karena algoritma tidak hanya salah mengidentifikasi, tapi menciptakan gejala yang sebelumnya tidak ada.

Penelitian oleh Febriana dan Amalia pada 2024 menemukan bahwa self-diagnosis menyebabkan gangguan aktivitas harian, penurunan energi, penurunan mood, dan meningkatnya kepekaan emosional. Artinya, sebelum kamu "tahu" kamu punya ADHD, kamu mungkin hanya kadang susah fokus, seperti banyak orang normal. Setelah kamu "tahu" dari TikTok, kamu mulai perhatikan setiap kali kamu susah fokus, mengkonfirmasi diagnosa sendiri, dan perilaku kamu berubah sesuai label yang kamu tempel pada dirimu.

Yang lebih mengejutkan: penelitian oleh Ocktaviani pada 2025 di Universitas Mercu Buana menemukan bahwa literasi kesehatan mental tidak berpengaruh banyak terhadap kecenderungan self-diagnosis. Artinya, masalahnya bukan kamu kurang pengetahuan. Orang yang paham kesehatan mental pun tetap rentan self-diagnosis di TikTok. Masalahnya adalah desain algoritma yang terlalu efektif membuat kamu percaya, terlepas dari seberapa well-informed kamu.

Self-diagnosis kesehatan mental di TikTok terjadi ketika algoritma menampilkan konten tentang kondisi mental tertentu secara berulang, menciptakan filter bubble yang memperkuat keyakinan individu bahwa mereka memiliki kondisi tersebut. Studi menunjukkan literasi kesehatan mental tidak berpengaruh banyak terhadap kecenderungan self-diagnosis, yang berarti masalahnya bukan kurang pengetahuan, tapi desain algoritma yang menciptakan self-fulfilling prophecy.

Dari "Tahu" ke "Candu"

Setelah kamu "tahu" sakitmu, kamu cari obat. Dan kamu mencarinya di platform yang sama: TikTok. Obat yang kamu temukan terlihat seperti perawatan diri. Video-video tentang self-care, healing, dan mindfulness membanjiri FYP kamu, karena algoritma tahu kamu "butuh" solusi setelah memberi kamu "diagnosa."

Tapi apakah ini benar-benar menyembuhkan, atau hanya mengganti satu candu dengan candu yang lebih estetik?

Coba perhatikan polanya. Kamu tonton video tentang gejala ADHD, algoritma menampilkan lebih banyak, kamu mulai percaya kamu punya ADHD, lalu algoritma beralih ke konten "healing" yang juga membuat kamu stay di app. Dari diagnosa ke "obat", semuanya terjadi di platform yang sama. Dan platform yang sama menghasilkan uang dari setiap detik kamu scroll.

Ini yang disebut candu yang dikemas ulang: kamu pikir kamu mencari kesembuhan, tapi sebenarnya kamu tetap berada dalam sistem yang membuatmu butuh terus scroll. Sistem yang membuatmu sakit sekaligus menjual obatnya, seperti yang dibahas dalam Perbandingan Diri di Era Media Sosial.

Insight

Gue perhatikan pola ini di teman-teman gue. Seseorang yang sebelumnya tidak pernah bicara tentang kesehatan mental, tiba-tiba punya daftar diagnosa setelah dua minggu intensif TikTok. Bukan karena mereka tiba-tiba sadar. Tapi karena algoritma berhasil meyakinkan mereka bahwa setiap perilaku normal manusia adalah gejala dari suatu kondisi.

Sulit fokus, itu ADHD. Suka sendirian, itu introvert yang ternyata autism spectrum. Mudah emosi, itu trauma. Tidak suka kerjaan rutin, itu dopamine deficiency. Semua label tersedia, semua "relatable", dan algoritma cenderung menemukan label yang pas untuk kamu. Karena algoritma tidak mencari diagnosa yang akurat, algoritma mencari konten yang membuat kamu stay.

Algoritma tidak peduli apakah kamu benar-benar ADHD atau tidak. Yang penting adalah kamu stay di app, scroll lebih lama, engage lebih banyak. Self-diagnosis adalah engagement goldmine untuk algoritma. Setiap video tentang gejala menghasilkan jutaan views, dan setiap view adalah uang. Semakin banyak orang yang "diagnosa" diri sendiri, semakin banyak konten tentang diagnosa yang dibuat, semakin banyak orang yang "diagnosa" diri sendiri. Siklus ini memperkuat dirinya sendiri.

Conclusion

Diagnosis dari algoritma bukan diagnosis. Tapi tidak peduli diagnosis itu akurat atau tidak, rasa sakit yang kamu alami setelah percaya itu nyata. Dan sistem yang membuatmu percaya kamu sakit tidak akan membantu kamu sembuh. Sistem itu hanya butuh kamu terus scroll.


Selanjutnya di Mental Health di Era Digital: Tapi setelah "tahu" sakitmu, kamu cari obat. Dan obat yang kamu temukan terlihat seperti perawatan diri. Tapi apakah benar-benar menyembuhkan, atau hanya mengganti satu candu dengan candu yang lebih estetik? Lanjut ke Part 2

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga