Lewati ke konten utama
Gen Z Kabur dari Indonesia, Bukan Cari Enak
Kehidupan•10 MENIT BACA

Gen Z Kabur dari Indonesia, Bukan Cari Enak

“150.875 WNI pindah tiap tahun. 41% Gen Z pertimbangkan kabur. Gaji Rp3,3 juta vs Korea Rp23 juta. Bukan cari enak, sistem yang nggak beri alasan tinggal.”

Diterbitkan

Hook

BPS mencatat 150.875 warga Indonesia pindah ke luar negeri setiap tahun, angka tertinggi yang pernah tercatat. Naik hampir 5 kali lipat dari 2020. Dan 41% Gen Z secara aktif mempertimbangkan ikut. Kamu pikir mereka kabur karena cari enak. Faktanya, mereka kabur karena diusir.

Tagar #KaburAjaDulu: Gejala Sistemik

Awal 2025, tagar #KaburAjaDulu viral di X dan TikTok. Lebih dari 200.000 posting di TikTok memakai tagar ini. Orang berbagi tips visa kerja dan perbandingan biaya hidup, lowongan di Jepang, Korea, Australia. Bukan sekadar curhat. Banyak yang benar-benar eksekusi.

YouGov melakukan survei pada 24-27 Februari 2025 kepada 2.003 responden. Hasilnya, 41% Gen Z (usia 1997-2009) mempertimbangkan pindah ke luar negeri. Bandingkan dengan Gen X yang cuma 26%, atau Baby Boomers yang 12%. Gen Z juga punya tingkat pesimisme tertinggi: 37% merasa kurang yakin terhadap masa depan Indonesia.

Survei terpisah oleh Populix terhadap 1.000 responden usia 18-35 tahun menemukan hasil yang lebih ekstrem. 100% responden ingin keluar Indonesia. 82% menyebut gaji lebih tinggi sebagai alasan utama. Responden Populix kebanyakan lulusan diploma atau S1, kelas menengah ke atas. Ini bukan pekerja migran tradisional yang mencari nafkah di pabrik Malaysia. Ini talenta terdidik yang punya pilihan.

Yanuar Nugroho, visiting senior fellow di ISEAS Singapura, menjelaskan fenomena ini sebagai respons anak muda di bawah 40 tahun yang merasa kondisi hidup di Indonesia makin buruk dan sulit. Bukan cuma ekonomi, tapi juga sosial, politik, lingkungan. Mereka merasa ikatan sosial sudah robek. Tidak ada rasa aman bahkan untuk hidup biasa.

Gaji Rp3,3 Juta vs Rp23 Juta: Matematika yang Tidak Masuk Akal

Indonesia: Rp3,29 Juta untuk Lulusan S1

BPS merilis data Sakernas Februari 2026. Gaji buruh atau karyawan di Indonesia cuma Rp3,29 juta per bulan. Untuk lulusan Diploma IV sampai S3, rata-ratanya Rp4,77 juta. Sektor tertinggi, aktivitas keuangan dan asuransi, baru Rp5,05 juta. Itu sektor terbaiknya, dan banyak yang dapat di bawah angka itu.

UMP DKI Jakarta 2026 sebesar Rp5,72 juta, tertinggi di Indonesia menurut ketetapan Pemprov DKI. Tapi biaya hidup di Jakarta untuk satu orang diperkirakan Rp7-8 juta per bulan, berdasarkan kalkulasi kost, transportasi, makan dari berbagai sumber online. Artinya, bahkan gaji tertinggi di Indonesia tidak cukup untuk hidup layak di kota termahal. Lulusan S1 yang kerja di Jakarta masih harus numpang ortu atau cari side hustle.

Gaji Indonesia per Sektor (2026)

BPS Sakernas Februari 2026

Sumber: BPS Sakernas, Februari 2026

Korea Selatan: Rp23,16 Juta, 7 Kali Lipat

Data BP2MI periode 2021-2023 menunjukkan gaji pekerja migran Indonesia di Korea Selatan mencapai Rp23,16 juta per bulan, Jepang Rp17,90 juta, Taiwan Rp15,87 juta, Hong Kong Rp13,33 juta, Singapura Rp12,25 juta. Bahkan Malaysia, yang paling rendah, Rp5,06 juta. Masih lebih tinggi dari gaji orang Indonesia.

Hirdan Radityatama, lulusan Universitas Indonesia yang kerja di Tokyo, menceritakan ke Nikkei Asia. Gajinya 6 juta yen per tahun, sekitar Rp41,6 juta. Hampir 6 kali lipat dari apa yang dia dapat di Indonesia dengan kualifikasi yang sama. "Kalau saya kerja di Indonesia, saya tidak bisa nabung, apalagi dengan kenaikan biaya hidup terakhir ini," katanya.

BBC News Indonesia mewawancarai Fajar, 33 tahun, yang pindah ke Amerika Serikat. Penghasilannya di sana sekitar Rp40 juta per bulan. Dia kirim Rp20 juta ke keluarga di Indonesia setiap bulan. Masih ada sisa untuk hidup. Di Indonesia, dengan kualifikasi yang sama, dia tidak akan dapat angka itu.

Dini, 28 tahun, guru di Chiang Mai, Thailand, yang juga diwawancarai BBC. Gajinya setara Rp10 juta per bulan. Bandingkan dengan UMR Bandung tempat asalnya, Rp4,5 juta. Dia sandwich generation, harus menghidupi diri sekaligus bantu ortu. "Kalau boleh jujur, saya sebetulnya ingin pulang ke Indonesia. Tapi melihat situasinya, cukup susah mendapatkan pekerjaan untuk menghidupi diri dan keluarga," ujarnya.

Gaji Indonesia vs 6 Negara Tujuan Migrasi

Gaji pekerja migran Indonesia per negara

Sumber: BP2MI 2021-2023 & BPS 2026

Dan angka ini bukan yang paling mengejutkan. Yang lebih mengejutkan: pemerintah yang mengirim mereka.

150.875 Orang/Tahun: Angka Tertinggi dalam Sejarah

Migrasi Neto Minus 53 per 100.000 Penduduk

BPS merilis data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 pada Mei 2026. Migrasi neto internasional Indonesia berada di level minus 0,53 per 1.000 penduduk. Artinya, 53 orang per 100.000 penduduk hilang dari Indonesia setiap tahun karena migrasi. Dengan total populasi 284,67 juta, itu setara dengan 150.875 orang per tahun.

Angka ini melonjak dari periode sebelumnya. Pada 2020, migrasi neto cuma minus 11 per 100.000 penduduk. Pada 2015, minus 50. Trennya jelas: lebih banyak orang keluar daripada masuk, dan gap-nya makin lebar. Migrasi keluar mencapai 114 orang per 100.000 penduduk per tahun. Migrasi masuk cuma 61.

Migrasi Neto Indonesia: 2015 vs 2020 vs 2025

Per 100.000 penduduk per tahun

Sumber: BPS SUPAS 2015, 2020, 2025

Skilled Worker Naik 2,3 Kali Lipat

Yang penting bukan cuma jumlahnya, tapi siapa yang pergi. Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) mencatat jumlah migrant baru dengan gelar diploma naik 83% dari 2019 ke 2024, menjadi 4.505 orang. Yang punya gelar sarjana naik 2,3 kali lipat, menjadi 3.421 orang. Gabungan kelompok terdidik ini naik dari 1,4% total migrant di 2019 menjadi 2,7% di 2024.

Persentasenya kelihatannya kecil, tapi trennya mengkhawatirkan. Naik hampir 2 kali lipat dalam 5 tahun. Dan ini cuma yang tercatat resmi. Banyak lulusan S1 yang pindah pakai visa kerja langsung, beasiswa, atau working holiday visa yang tidak masuk statistik PMI.

BPS Sakernas 2025 juga mencatat 315.100 penduduk Indonesia pernah bekerja di luar negeri dalam lima tahun terakhir. 36,8% dari mereka berusia 25-34 tahun. Ini kelompok usia produktif. Ini bukan pekerja migran tradisional yang kerja di pabrik atau jadi pembantu. Ini skilled worker, profesional muda, talenta yang seharusnya mengisi pasar kerja domestik.

Firman Budianto, peneliti di BRIN, menjelaskan ke Nikkei Asia: "Indonesia punya lebih banyak orang dengan pendidikan tinggi, tapi tidak banyak pekerjaan yang bisa membayar gaji kompetitif. Gaji yang umumnya rendah untuk pekerja white collar di Indonesia, ditambah tujuan pengembangan karier, saya percaya berkontribusi pada tenaga kerja terdidik yang meninggalkan Indonesia."

Indonesia ranking 90 dari 179 negara di indikator human flight and brain drain Fund for Peace. Termasuk terburuk di Asia Tenggara, setelah Laos, Myanmar, Kamboja. Bukan negara berkembang biasa. Negara yang seharusnya panen bonus demografi malah kehilangan generasi paling produktifnya.

Paradoks Pemerintah: Kirim 500 Ribu, Khawatir Brain Drain

Ini bagian paling absurd. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pelindungan Pekerja Migran, menargetkan pengiriman 300.000 sampai 500.000 skilled worker ke luar negeri mulai April 2026. Program SMA/SMK Go Global menargetkan lulusan sekolah menengah untuk kerja di Jepang, Korea Selatan, Eropa, Amerika Serikat. Sektornya welding, perhotelan, healthcare. Bukan pekerjaan rumah tangga lagi.

Menteri Pelindungan Pekerja Migran Mukhtarudin melaporkan penempatan 2025 sudah melampaui target. 286.422 penempatan, 110,5% dari target tahunan. Remitansi yang masuk ke Indonesia mencapai Rp212 triliun di kuartal ketiga 2025. Naik 38,6% dari Rp153 triliun di 2024. Pekerja migran jadi pahlawan devisa.

Tapi bersamaan dengan itu, pengusaha Indonesia mengkhawatirkan kehilangan talenta. Arsjad Rasjid, ketua dewan pembina Indonesia Business Council, bilang ke Nikkei Asia: "Tren anak muda mencari kerja di luar negeri ini mengkhawatirkan untuk daya saing jangka panjang Indonesia. Indonesia seharusnya panen bonus demografi dengan populasi yang melek digital. Tapi banyak bisnis masih beradaptasi dengan disrupsi yang cepat."

Core Indonesia memperkirakan kerugian ekonomi dari brain drain mencapai USD500 juta sampai USD1 miliar per tahun. Itu factoring in produktivitas hilang, pajak yang tidak masuk, dan efek domino lainnya. Dr Tadjuddin Noer Effendi, pakar ketenagakerjaan Universitas Gadjah Mada, mempertanyakan visi "Indonesia Emas 2045". "Brain drain bisa memperlambat inovasi dan menghambat pengembangan teknologi, yang akhirnya memengaruhi daya saing ekonomi," katanya.

Jadi di satu sisi, pemerintah aktif mengirim orang ke luar negeri. Di sisi lain, khawatir orang kabur. Ini bukan kontradiksi, ini pengakuan. Pengakuan bahwa ekonomi domestik tidak bisa menyerap talenta yang ada. Daripada menganggur di Indonesia, lebih baik dikirim ke luar negeri dan kirim devisa. Logis dari sisi pemerintah. Tapi ini juga pengakuan bahwa sistem gagal memberi ruang untuk hidup layak di dalam negeri.

Saya perhatikan dari 10 teman lulusan S1 yang saya kenal dekat dalam 3 tahun terakhir, 4 sudah pindah ke luar negeri. Dua ke Jepang pakai working holiday visa, satu ke Australia pakai skilled visa, satu ke Singapura. Yang tersisa di Indonesia, 3 kerja di startup dengan gaji di bawah Rp5 juta, 2 masih cari kerja, 1 lanjut S2 dengan beasiswa di Belanda. Tidak ada satu pun yang dapat gaji di atas Rp7 juta. Dan ini lulusan universitas top di Jakarta.

Bukan Kabur, Diusir

Narasi yang beredar di media sosial: Gen Z yang pindah ke luar negeri itu "cari enak", "tidak nasionalis", "lupa kampung". Kompas.id melaporkan bagaimana tagar #KaburAjaDulu memicu perdebatan. Ada yang bilang wajar, ada yang bilang pengkhianatan.

Tapi mari kita lihat matematikanya. Gaji median Indonesia Rp3,29 juta, biaya hidup minimum di Jakarta Rp7 juta. Defisit Rp3,7 juta setiap bulan. Kerja di Korea, gaji Rp23,16 juta, surplus Rp16 juta. Kerja di Jepang, gaji Rp17,90 juta, surplus Rp10 juta. Pilihannya bukan antara "nyaman di luar" vs "berjuang di dalam negeri". Pilihannya antara "hidup layak" vs "hidup defisit setiap bulan".

Ini bukan keputusan emosional, tapi rasional. Sama seperti ketika Jakarta mengusir Gen Z karena ekonomi, pindah bukan karena tidak cinta kota. Karena kota tidak memberi ruang untuk eksis. Sama seperti fenomena kerja remote untuk bule dengan upah termurah, talenta Indonesia dihargai lebih tinggi di luar daripada di dalam.

Data CNA dan The Straits Times melaporkan PHK naik dari 65.000 di 2023 menjadi 78.000 di 2024. Tingkat pengangguran usia 15-24 tahun di atas 16%. Lebih dari 1 juta lulusan universitas menganggur. Kontribusi manufaktur ke GDP turun dari 28% di 2004 menjadi 19%. Ekonomi formal menyusut, ekonomi informal membengkak. 44,3% pekerja muda usia 16-30 tahun di sektor informal di 2023, naik dari 39,6% di 2019. Gaji lebih rendah, tidak ada jaminan sosial. Ini konteksnya PHK membongkar ilusi kerja keras. Kerja keras tidak menjamin aman. Apalagi kalau gajinya tidak cukup hidup.

Ardianto Satriawan, peneliti lulusan doktoral yang sedang mengajukan permanent residence ke Korea Selatan, menjelaskan ke Kompas.id: "Dengan keterampilan yang sama, jam kerja yang sama, usaha yang sama, kerja di luar negeri mendapat fasilitas dan upah yang lebih layak. Dosen lulusan doktoral di Indonesia bisa digaji di bawah UMR, sedangkan di luar negeri keterampilan mereka sangat dihargai."

Kalau kamu mau pahami kenapa Gen Z kabur, coba hitung berapa lama kamu harus kerja untuk beli rumah di Indonesia. 25 tahun gaji. Itu kalau kamu dapat gaji di atas rata-rata. Kalau dapat Rp3,3 juta, rumah cuma mimpi. Di luar negeri, dengan gaji 5-7 kali lipat, matematikanya berbeda.

Conclusion

Jadi bukan Gen Z yang tidak nasionalis. Sistem ekonomi yang tidak memberi alasan untuk tinggal. Kalau gaji Rp3,3 juta tidak cukup hidup di Jakarta, kerja di Korea bayar 7 kali lipat, dan pemerintah sendiri mengirim kamu ke luar negeri, apa yang kamu tinggalkan?

150.875 orang per tahun, rekor migrasi tertinggi yang pernah tercatat. Naik 5 kali lipat dalam 5 tahun. Dan ini baru yang tercatat. Yang tidak tercatat pasti lebih banyak. Setiap tahun Indonesia kehilangan talenta terbaiknya, dan satu-satunya respons pemerintah adalah mengirim lebih banyak. Bukan memperbaiki gaji, bukan menciptakan lapangan kerja yang layak, mengirim lebih banyak.

FAQ

Apa itu brain drain Indonesia?

Brain drain adalah migrasi massal tenaga terdidik dan skilled profesional ke luar negeri. Indonesia ranking 90 dari 179 negara di indikator human flight and brain drain Fund for Peace, termasuk terburuk di Asia Tenggara. Lulusan S1 yang pindah naik 2,3 kali lipat dari 2019 ke 2024 menurut data KemenP2MI.

Kenapa Gen Z Indonesia pindah ke luar negeri?

Survei Populix menemukan 82% responden menyebut gaji lebih tinggi sebagai alasan utama. Gaji orang Indonesia Rp3,29 juta per bulan (BPS 2026), sementara gaji pekerja migran di Korea Selatan Rp23,16 juta (BP2MI). Selisih 7 kali lipat. Bukan cari enak, sistem ekonomi yang tidak memberi ruang untuk hidup layak.

Berapa banyak warga Indonesia yang pindah ke luar negeri?

BPS SUPAS 2025 mencatat 150.875 warga Indonesia pindah ke luar negeri setiap tahun. Migrasi neto minus 53 per 100.000 penduduk, rekor tertinggi yang pernah tercatat. Naik dari minus 11 per 100.000 di 2020. Selain itu, 315.100 penduduk pernah bekerja di luar negeri dalam lima tahun terakhir, dengan 36,8% berusia 25-34 tahun.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Sumber & Metodologi

Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.
  5. 5.
  6. 6.
  7. 7.
  8. 8.
  9. 9.
  10. 10.
  11. 11.
  12. 12.

Komentar (0)

Login untuk berkomentar