Lewati ke konten utama
Kripto Bukan Investasi Kalau Ikut FOMO
Teknologi5 menit baca

Kripto Bukan Investasi Kalau Ikut FOMO

60 persen pasar kripto Indonesia diisi Gen Z. Tapi OJK ingatkan: partisipasi tinggi belum berarti literasi tinggi. FOMO bukan strategi investasi.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

60 Persen Pasar Kripto Indonesia Diisi Gen Z

Data dari Tokocrypto tahun 2026 menunjukkan sesuatu yang menarik: 60 persen pengguna platform kripto di Indonesia adalah generasi muda. Sebanyak 26,9 persen investor berada di rentang usia 18-24 tahun, dan 35,1 persen di usia 25-30 tahun.

Gen Z tidak hanya menjadi mayoritas, tetapi juga tercatat sebagai segmen dengan aktivitas transaksi paling tinggi. Rata-rata nilai deposit mereka berkisar Rp100.000 hingga Rp500.000. Nominal yang terjangkau, tapi frekuensinya tinggi.

Pertumbuhan ini didorong oleh akses mudah, media sosial yang penuh konten "cuan," dan komunitas online yang aktif. Tapi ada satu pertanyaan yang jarang ditanyakan: apakah mereka investasi atau ikut tren?

FOMO Bukan Strategi Investasi

Kepala Departemen Pengawasan Inovasi Aset Keuangan Digital OJK, Dino Milano Siregar, mengungkapkan sesuatu yang jujur. Tingginya partisipasi generasi muda di pasar kripto belum sepenuhnya mencerminkan tingkat literasi keuangan yang matang.

"Partisipasi yang tinggi ini perlu kita lihat secara lebih kritis. Tidak semua didorong oleh pemahaman yang kuat, tetapi juga oleh faktor social learning, peer influence, hingga fear of missing out atau FOMO yang sangat kuat di kalangan generasi muda," katanya pada April 2026.

Ini bukan opini. Ini data dari regulator yang melihat transaksi secara langsung.

APRDI (Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia) mengamati fenomena serupa. Gen Z cenderung memilih investasi kripto demi keuntungan cepat akibat pengaruh tren FOMO di media sosial. Kripto banyak diminati karena sifatnya lebih agresif dan sering viral, sementara instrumen yang lebih stabil seperti reksa dana justru kurang populer.

"Generasi muda sebenarnya sudah semakin sadar pentingnya investasi. Namun, banyak yang masih memiliki orientasi pada instrumen dengan potensi keuntungan cepat," ujar pengurus APRDI, Gresia Kusyanto.

Beda Investasi dengan Spekulasi

Ini perlu dikatakan tegas: kalau kamu beli kripto karena melihat orang lain cuan di Twitter, tanpa memahami fundamental asetnya, tanpa strategi keluar, dan tanpa rencana diversifikasi, itu bukan investasi. Itu spekulasi.

Investasi punya tujuan jangka panjang, profil risiko yang dipahami, dan strategi yang terukur. Spekulasi punya satu tujuan: untung cepat. Dan spekulasi yang didorong FOMO adalah resep paling andal untuk kehilangan uang.

Riset dari jurnal ekonomi yang melibatkan 149 responden Gen Z di Jabodetabek (periode November 2025 hingga Januari 2026) menemukan bahwa media sosial, literasi keuangan, dan pengetahuan investasi semuanya berpengaruh terhadap keputusan investasi cryptocurrency. Tapi variabel yang paling dominan adalah literasi keuangan.

Artinya, mereka yang paham keuangan cenderung mengambil keputusan lebih baik. Mereka yang hanya ikut media sosial? Tidak.

Kenapa Gen Z Rentan Terjebak?

Ada beberapa alasan mengapa Gen Z sangat rentan terjebak FOMO investasi:

Pertama, akses. Platform kripto bisa diakses dari HP, 24 jam, dengan modal Rp100.000. Tidak ada friction. Tidak ada advisor yang bertanya "kamu tahu risikonya?" Tidak ada masa tunggu. Klik, beli, jadi.

Kedua, media sosial. Timeline dipenuhi konten "saya untung 300 persen dari kripto." Yang tidak pernah di-post adalah "saya rugi 80 persen dari kripto." Survivorship bias membuat investasi kripto terlihat lebih mudah dari yang sebenarnya.

Ketiga, komunitas. Grup Telegram dan Discord penuh dengan orang yang saling mengonfirmasi bias masing-masing. "Bullish terus, bro." "Akan naik lagi." Ketika satu orang bilang "jual, sudah terlalu tinggi," dia di-bully karena "tidak berani ambil risiko."

Keempat, identitas. Investasi kripto terasa modern, edgy, dan "generasi kita." Reksa dana terasa seperti investasi orang tua. Padahal reksa dana pasar uang bisa dimulai dari Rp10.000 dan jauh lebih stabil.

Risiko Nyata yang Jarang Dibahas

Konten kripto di media sosial hampir selalu menyoroti upside. "Bitcoin naik 50 persen dalam sebulan." "Solana naik 200 persen." Tapi yang jarang dibahas adalah downside.

Kripto adalah aset dengan volatilitas sangat tinggi. Naik 50 persen dalam sebulan bisa turun 60 persen dalam dua minggu. Tanpa mekanisme circuit breaker seperti bursa saham, tanpa jam trading yang terbatas, harga bisa bergerak 24 jam tanpa henti.

Untuk Gen Z yang rata-rata deposit Rp100.000 hingga Rp500.000, kerugian 60 persen berarti kehilangan modal yang seharusnya bisa dipakai untuk hal lain. Bukan uang surplus yang tidak terasa. Uang yang mungkin adalah sisa gaji setelah bayar kos dan makan.

OJK sendiri sudah mengingatkan bahwa partisipasi tinggi tanpa literasi yang memadai berisiko tidak hanya bagi investor individu, tapi juga untuk stabilitas ekosistem keuangan digital secara keseluruhan.

FOMO Tidak Akan Pernah Hilang

FOMO adalah sifat manusia. Tidak akan hilang. Tapi bisa dikelola.

Pertama, sebelum beli aset apapun, tanya: "Kalau aset ini turun 50 persen besok, apakah saya masih bisa tidur?" Kalau jawabannya tidak, berarti nominalnya terlalu besar atau kamu tidak siap secara mental. Kurangi nominal atau jangan beli.

Kedua, pelajari fundamental sebelum beli. Bukan hanya "ini koinnya lagi viral." Apa fungsinya? Siapa tim di belakangnya? Apa kasus penggunaannya? Kalau kamu tidak bisa menjelaskan ke teman dalam 3 kalimat kenapa aset ini punya nilai, kamu tidak cukup paham untuk membelinya.

Ketiga, diversifikasi. Jangan taruh semua modal di satu aset. Kalau kamu punya Rp500.000, alokasikan sebagian ke instrumen yang lebih stabil. Reksa dana pasar uang, emas, atau tabungan. Kripto boleh, tapi sebagai sebagian dari portofolio, bukan seluruh portofolio.

Seperti yang kami bahas di artikel passive income bukan tentang malas kerja, membangun kekayaan butuh waktu dan kesabaran. Tidak ada jalan pintas yang tanpa risiko. Kripto mungkin terlihat seperti jalan pintas, tapi jalan pintas yang salah arah akan membawa kamu lebih jauh dari tujuan.

Dan seperti yang kami tulis di FIRE movement: matematika yang nggak cocok untuk Indonesia, strategi keuangan yang diimpor dari negara lain tidak selalu cocok dengan kondisi kita. Begitu juga dengan strategi kripto yang kamu lihat dari influencer luar negeri. Konteks ekonomi mereka berbeda, regulasi mereka berbeda, dan yang paling penting: kapasitas finansial mereka berbeda.

Investasi Dimulai dari Literasi, Bukan dari Deposit

APRDI mencatat hanya 7 persen penduduk Indonesia yang berinvestasi. Angka ini menunjukkan peluang pasar yang besar, tapi juga menunjukkan bahwa mayoritas belum teredukasi.

Kamu tidak perlu jadi trader profesional untuk mulai investasi. Tapi kamu perlu paham dasarnya. Apa profil risiko kamu? Berapa lama horizon investasi kamu? Apa tujuan keuangan kamu dalam 5 tahun?

Kalau kamu tidak bisa jawab ketiga pertanyaan itu, jangan beli kripto dulu. Belajar dulu. Baca, tanya, pahami. Investasi yang baik dimulai dari literasi, bukan dari deposit.

Kripto bukan musuh. Kripto adalah instrumen. Tapi instrumen yang dipakai tanpa paham cara kerjanya akan melukai penggunanya, bukan sebaliknya.

Kalau kamu ikut FOMO, kamu bukan investor. Kamu cuma penumpang yang tidak tahu ke mana mobilnya pergi.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga