Lewati ke konten utama
Gen Z beralih dari LinkedIn ke TikTok dan Instagram untuk mencari informasi karier
Karier6 menit baca

LinkedIn Kena Ick: Gen Z Cari Kerja di TikTok, Bukan di Platform Profesional

Gen Z tidak lagi mengandalkan LinkedIn untuk mencari kerja. Mereka pindah ke TikTok dan Instagram, di mana informasi karier terasa lebih nyata.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

LinkedIn Dulu Jadi Standar Profesional

Ada waktu ketika LinkedIn adalah tempat wajib untuk mencari kerja. Bikin profil, upload foto profesional, tulis pengalaman kerja dengan bahasa formal, lalu tunggu recruiter mengirim pesan. Itu dulu.

Sekarang, Gen Z punya cara sendiri. Dan cara mereka mungkin akan membuat generasi sebelumnya mengernyit.

Riset terbaru dari Zety, perusahaan pembuat CV asal Amerika Serikat, menemukan fakta yang mengejutkan: 100 persen responden Gen Z menggunakan media sosial untuk mencari nasihat karier. Bukan LinkedIn. Bukan konsultan karier. Tapi media sosial.

Platform yang paling banyak dipakai? YouTube di angka 80 persen, disusul Instagram di 73 persen. TikTok 32 persen. LinkedIn? Hanya 26 persen. Berada di posisi terbawah, di bawah Facebook dan X.

Kenapa LinkedIn Kena "Ick"

Ada satu istilah yang mulai populer di kalangan Gen Z untuk menggambarkan perasaan mereka terhadap LinkedIn: "ick." Kata ini merujuk pada rasa muak atau tidak nyaman terhadap sesuatu. Dan itu yang dirasakan banyak Gen Z terhadap LinkedIn.

Isi LinkedIn dianggap makin banyak diisi konten hasil AI, unggahan sombong terselubung, dan kesan umum bahwa semua orang di sana mencapai hal-hal yang lebih besar dan lebih baik dibanding pembacanya. Feed LinkedIn bukan lagi tempat untuk mencari peluang kerja, tapi panggung untuk pamer pencapaian yang dibungkus dengan kalimat-kalimat motivasi palsu.

Gen Z melihat ini dan merasa tidak cocok. Mereka tidak ingin masuk ke ruangan yang semua orang terlihat sukses sempurna. Mereka ingin tahu seperti apa realitas bekerja di perusahaan itu, bukan versi PR-nya.

Media Sosial Lebih Jujur, Setidaknya Itu Harapannya

Gen Z beralih ke YouTube, Instagram, dan TikTok bukan karena tidak serius dengan karier. Justru karena mereka sangat serius. Mereka ingin informasi yang terasa nyata, dari orang yang terasa relatable, bukan dari profil profesional yang terlalu rapi untuk dipercaya.

Di YouTube, mereka bisa menonton vlog "sehari-hari sebagai software engineer di startup" dan melihat seperti apa pekerjaan itu sebenarnya. Di TikTok, mereka bisa menemukan video karyawan yang jujur menceritakan budaya kerja di kantornya, termasuk bagian-bagian yang tidak masuk di postingan LinkedIn. Di Instagram, mereka bisa melihat behind the scene kehidupan profesional yang tidak terlalu dipolish.

Riset Zety juga menemukan bahwa 45 persen Gen Z lebih percaya nasihat karier dari kreator dan influencer di media sosial dibanding sumber tradisional seperti penasihat karier atau perekrut. Angka ini mungkin terdengar mengejutkan. Tapi kalau dipikirkan, masuk akal. Kreator konten karier di media sosial berbicara dengan bahasa yang dimengerti Gen Z, membahas topik yang relevan dengan masalah mereka, dan tidak punya agenda untuk merekrut.

Transparansi yang Tidak Ditemukan di LinkedIn

Ada satu hal lagi yang membuat Gen Z menjauh dari LinkedIn: transparansi gaji. Riset Adobe Future Workforce Study menemukan bahwa 85 persen calon lulusan Gen Z cenderung tidak akan melamar pekerjaan jika perekrut tidak mencantumkan kisaran gaji secara jelas.

LinkedIn, selama bertahun-tahun, menjadi tempat di mana informasi gaji disembunyikan. Lowongan kerja dipasang dengan kalimat "gaji kompetitif" atau "sesuai standar perusahaan," frasa yang tidak memberi informasi apa-apa. Gen Z melihat ini sebagai red flag. Kalau perusahaan tidak transparan soal hal paling dasar seperti gaji, apa lagi yang mereka sembunyikan?

Seperti yang kami bahas di artikel 300 lamaran ditolak bukan pilih-pilih sistemnya yang tidak mau kamu, masalah Gen Z di pasar kerja bukan soal pilih-pilih. Mereka hanya ingin kejelasan sebelum menginvestasikan waktu dan energi untuk melamar.

Di media sosial, Gen Z bisa menemukan informasi gaji yang lebih jujur. Ada akun-akun yang khusus membahas range gaji di berbagai perusahaan, berdasarkan pengalaman nyata karyawan. Ada forum diskusi di Reddit atau Twitter di mana orang berbagi informasi kompensasi tanpa filter. Ini jenis transparansi yang tidak pernah mereka dapatkan dari LinkedIn.

Bukan Soal Platform, Tapi Soal Kepercayaan

Fenomena ini sebenarnya soal kepercayaan, bukan soal pilihan platform. Gen Z tidak percaya pada sistem rekrutmen yang terasa terlalu formal, terlalu rapi, dan terlalu tidak jujur. Mereka tumbuh di era di mana informasi bisa diverifikasi dalam hitungan detik. Review produk dipercaya lebih dari iklan resmi. Pengalaman nyata seseorang lebih meyakinkan daripada press release.

Seperti yang kami tulis di artikel S1 rebutan loker SMK pendidikan tinggi jadi trap, sistem kerja saat ini sudah berubah. Cara mencari kerja juga harus berubah. Gen Z tidak salah menggunakan TikTok untuk mencari informasi karere. Mereka hanya pergi ke tempat di mana informasi terasa lebih real.

Apa yang Bisa Dipelajari Perusahaan

Kalau perusahaan masih bertahan dengan cara lama, pasang lowongan tanpa info gaji di LinkedIn, dan berharap talenta muda datang, mereka akan kehilangan. Gen Z sudah pindah ke tempat lain.

Riset Jangkara Data Lab bersama Jakpat terhadap 1.185 responden Gen Z di Indonesia menemukan bahwa 65 persen menilai besaran gaji sebagai pertimbangan terbesar saat mencari pekerjaan. Setelah itu, 48 persen memperhatikan waktu kerja yang fleksibel, dan 44 persen memilih lingkungan kerja suportif.

Perusahaan yang ingin menarik talenta Gen Z perlu memahami bahwa cara mereka mengakses informasi sudah berubah. Kehadiran di media sosial bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Transparansi gaji bukan privilese, tapi standar baru. Dan kejujuran tentang budaya kerja akan lebih menarik daripada narasi sempurna yang tidak ada yang percaya.

Yang Hilang dari LinkedIn: Koneksi Manusia

Salah satu hal yang membuat LinkedIn terasa dingin bagi Gen Z adalah hilangnya koneksi manusia. LinkedIn dirancang untuk transaksi profesional: kamu menawarkan skill, perusahaan menawarkan pekerjaan. Tapi Gen Z mencari lebih dari itu. Mereka ingin tahu seperti apa suasana kantor, bagaimana atitud pemimpin, apakah karyawan benar-benar happy atau hanya terlihat happy di foto company outing.

Di TikTok dan Instagram, mereka bisa melihat semua ini. Ada karyawan yang dokumentasi hari kerjanya dari pagi sampai sore, jujur membahas kelebihan dan kekurangan tempatnya bekerja. Ada creator karere yang membahas gaji, budaya kerja, dan tips interview dengan bahasa yang tidak terlalu formal. Ada komunitas di Reddit di mana orang berbagi pengalaman buruk di perusahaan tertentu tanpa takut dikenali.

Informasi ini tidak sempurna. Bisa bias. Bisa subjektif. Tapi setidaknya terasa manusiawi. Dan untuk Gen Z yang tumbuh di era kelelahan terhadap konten yang terlalu dipolish, manusiawi jauh lebih berharga daripada profesional.

Bukan Akhir LinkedIn

Ini bukan berarti LinkedIn akan mati. Platform masih punya nilai untuk networking formal, verifikasi kredensial, dan akses ke recruiter besar. Tapi LinkedIn tidak lagi menjadi satu-satunya tempat untuk mencari kerja. Dan perusahaan yang hanya bertahan di LinkedIn akan kehilangan sebagian besar talenta muda yang sudah pindah ke tempat lain.

Gen Z tidak meninggalkan LinkedIn karena tidak serius dengan karere. Mereka pergi karena terlalu serius untuk puas dengan informasi yang setengah-setengah.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga