
Overconsumption Core: Gen Z Mulai Kritik Budaya Belanja Berlebihan
Gen Z dulu terkenal dengan haul dan checkout impulsif. Sekarang muncul tren overconsumption core, kritik terhadap budaya belanja berlebihan dari Gen Z sendiri.
Dari Haul ke Overconsumption Core
Kalau kamu pernah scroll TikTok atau Instagram, pasti pernah melihat konten haul. Seseorang memamerkan belanjaan terbaru: baju, skincare, aksesoris, barang elektronik. Konten ini dulu sangat populer. Algoritma mendorongnya, orang menontonnya, dan tren belanja berlebihan terlihat normal.
Tapi sekarang, ada tren yang berbeda muncul di linimasa. Namanya overconsumption core. Bukan tren untuk membeli lebih banyak, tapi tren untuk mengkritik kebiasaan membeli terlalu banyak. Dan yang menarik, tren ini datang dari Gen Z sendiri.
Istilah ini digunakan untuk mempertanyakan normalisasi konsumsi berlebihan. Konten yang dulunya memamerkan keranjang belanja penuh kini dikritisi. Video unboxing yang dulu dipuja kini dipertanyakan: "Apakah kamu benar-benar butuh semua ini?"
Data di Balik Budaya Konsumtif
Data terbaru dari berbagai sumber memang menunjukkan bahwa konsumtif berlebihan adalah masalah nyata. Survei menemukan 58 persen Gen Z memiliki kecenderungan konsumtif yang tinggi demi mengikuti tren. Layanan buy now, pay later (BNPL) marak digunakan untuk mendanai liburan (54 persen), fesyen (42 persen), dan gawai terbaru (43 persen).
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 dari OJK dan BPS mencatat indeks literasi keuangan nasional di angka 66,46 persen, sementara tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Gap antara akses dan pemahaman melebar dari sekitar 9,6 poin menjadi sekitar 14 poin. Artinya, akses terhadap produk keuangan tumbuh jauh lebih cepat dibanding kemampuan menggunakannya secara bijak.
Ini kombinasi berbahaya. Kemudahan akses finansial tanpa literasi yang memadai membuat banyak anak muda terjebak dalam siklus utang yang tidak pernah mereka rencanakan.
Seperti yang kami bahas di artikel paylater bukan kemudahan penjaga gaji kamu, kemudahan akses ke produk keuangan tanpa pemahaman yang cukup bisa berubah menjadi jebakan. Overconsumption core adalah respons langsung terhadap realitas ini.
Ironi Gen Z: Peduli Lingkungan Tapi Suka Flash Sale
Ada satu ironi dari fenomena ini. Gen Z sering dianggap sebagai generasi yang paling sadar terhadap isu lingkungan. Mereka membawa tumbler, memakai tote bag, thrifting, dan mengurangi plastik sekali pakai. Tapi mereka juga sangat dekat dengan budaya konsumtif digital, terutama kebiasaan berburu flash sale.
Sistem flash sale dirancang untuk membuat orang membeli lebih cepat tanpa banyak berpikir. Tulisan "stok hampir habis" atau "promo tinggal 5 menit" memicu FOMO. Algoritma rekomendasi membuat belanja terasa sangat cepat dan minim hambatan. Live shopping dan konten influencer meningkatkan kecenderungan pembelian impulsif.
Hasilnya, banyak anak muda yang membawa tumbler sendiri ke mana-mana, tapi tetap rutin checkout barang saat flash sale datang. Setiap paket yang datang membawa sampah kemasan. Kesadaran lingkungan bertabrakan dengan kebiasaan konsumsi digital.
Tren overconsumption core muncul dari ketegangan ini. Gen Z mulai menyadari bahwa belanja berlebihan bukan cuma soal uang, tapi juga soal lingkungan dan pola pikir. Barang yang dibeli tapi tidak digunakan menjadi limbah. Produksi barang baru membutuhkan bahan baku dan energi. Dan kebiasaan terus membeli membuat seseorang tidak pernah merasa puas dengan apa yang sudah dimiliki.
Bukan Anti-Belanja, Tapi Belanja Sadar
Pesan utama dari tren overconsumption core bukan melarang orang untuk berbelanja. Pesannya adalah: belanjalah karena butuh, bukan karena tren. Pertanyakan setiap pembelian: apakah ini benar-benar aku butuhkan, atau aku hanya takut ketinggalan tren?
Ini pergeseran pola pikir yang cukup besar. Dari budaya checkout yang menormalisasi pembelian impulsif, menuju budaya konsumsi yang lebih sadar. Bukan soal siapa yang paling hemat atau paling sedikit memiliki barang, tapi soal membangun hubungan yang lebih sehat dengan kebiasaan konsumsi.
Seperti yang kami tulis di artikel doom spending bukan self-care itu gejala menyerah, belanja sebagai pelarian dari stres hanya menunda masalah, tidak menyelesaikan. Overconsumption core mendorong pertanyaan yang lebih dalam: kenapa kita belanja? Apakah kita mencari barang, atau mencari perasaan?
Peran Ganda Media Sosial
Media sosial punya peran ganda dalam fenomena ini. Di satu sisi, algoritma sering mendorong kita untuk belanja produk viral. Feed dipenuhi rekomendasi barang, racun belanja, dan konten haul. Di sisi lain, media sosial juga jadi ruang untuk mengkritisi kebiasaan tersebut.
Konten overconsumption core menyebar karena algoritma yang sama yang dulunya mendorong haul. Ini menarik: algoritma tidak punya moral. Dia hanya menyebar apa yang dilihat orang. Kalau orang mulai menonton konten kritik konsumsi berlebihan, algoritma akan menyebarkannya lebih jauh.
Ini berarti perubahan tidak datang dari platform, tapi dari pengguna. Gen Z yang mulai kritis terhadap kebiasaan konsumsi mereka sendiri menciptakan konten yang menyebar dan memengaruhi orang lain. Perubahan pola pikir ini bersifat organik, bukan kampanye dari atas.
Apa yang Bisa Dipelajari
Tren overconsumption core menunjukkan bahwa cara pandang Gen Z terhadap konsumsi mulai berubah. Setelah lama hidup di tengah budaya checkout, haul, dan tren yang terus berganti, kini makin banyak yang belanja dengan lebih sadar.
Ada beberapa hal yang bisa diambil. Pertama, literasi keuangan perlu ditingkatkan. Gap antara akses finansial dan pemahaman yang melebar dari 9,6 menjadi 14 poin adalah bomb waktu. Anak muda butuh edukasi yang sesuai dengan cara mereka belajar, bukan seminar formal yang membosankan.
Kedua, perlu disadari bahwa belanja berlebihan bukan cuma soal finansial, tapi juga soal lingkungan dan kesejahteraan mental. Produksi barang baru berdampak pada lingkungan. Dan kebiasaan terus membeli tanpa puas adalah gejala masalah yang lebih dalam.
Ketiga, perubahan tidak harus ekstrem. Tidak perlu detox belanja total atau minimalisme ekstrem. Cukup bertanya sebelum checkout: apakah aku butuh ini, atau aku hanya ingin merasa baik sebentar?
Dampak yang Tidak Terlihat di Tagihan
Overconsumption bukan cuma soal uang yang keluar dari rekening. Dampaknya lebih luas dari yang terlihat. Setiap barang yang dibeli tapi tidak digunakan menjadi limbah. Produksi setiap barang baru membutuhkan bahan baku, energi, dan proses distribusi yang menghasilkan emisi karbon.
Gen Z sering bicara soal lingkungan, soal sustainability, soal perubahan iklim. Tapi kebiasaan belanja berlebihan langsung bertentangan dengan nilai yang mereka dukung. Tumbler dan tote bag tidak akan mengkompensasi puluhan paket yang datang setiap bulan dari marketplace.
Tren overconsumption core menarik karena justru menghubungkan dua hal ini. Belanja berlebihan bukan cuma masalah finansial, tapi juga masalah lingkungan. Dan Gen Z yang mulai menyadari koneksi ini menunjukkan kedewasaan berpikir yang layak diapresiasi.
Tanda Kesadaran, Bukan Tren Sementara
Ada pertanyaan: apakah overconsumption core akan bertahan, atau hanya tren sementara yang akan digantikan oleh tren baru di bulan depan? Tidak ada yang tahu pasti. Tapi ada alasan untuk optimis.
Pertama, tren ini lahir dari kesadaran, bukan dari algoritma. Gen Z yang membuat konten kritik konsumsi berlebihan tidak melakukannya karena dipromosikan oleh brand atau diinfluencer oleh iklan. Mereka melakukannya karena pengalaman pribadi: punya terlalu banyak barang, utang paylater menumpuk, merasa kosong setelah checkout.
Kedua, tren ini sejalan dengan tekanan ekonomi yang nyata. Biaya hidup yang terus naik, upah yang stagnan, ketidakpastian ekonomi global. Semua ini mendorong anak muda untuk lebih hati-hati dengan uang mereka. Overconsumption core bukan tren estetik, tapi respons rasional terhadap kondisi finansial yang sulit.
Ketiga, tren ini punya dampak nyata. Makin banyak orang yang mulai bertanya sebelum belanja, makin sedikit limbah yang dihasilkan, makin sedikit utang yang menumpuk. Ini perubahan kecil, tapi nyata.
Overconsumption core bukan tren untuk pamer hemat. Ini ajakan untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah semua yang aku beli benar-benar membuat hidupku lebih baik, atau hanya membuat rak lebih penuh?
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Rp9,5 Triliun Hilang: Penipuan Online Bukan Soal Bodoh, Soal Sistem
Rp9,5 triliun hilang akibat scam, 1 dari 4 WNI jadi korban. Penipuan online bukan soal bodoh, tapi sistem yang tidak melindungi.
Baca selengkapnya
Beli Rumah Bukan Soal Kopi, Soal 25 Tahun Gaji Tanpa Makan
Rasio harga rumah dan gaji di Jakarta butuh 26 tahun tanpa makan. Bukan kopi yang bikin Gen Z sulit beli rumah, tapi sistem.
Baca selengkapnya
85% Gen Z Menolak Lamar Kerja Tanpa Info Gaji: Bukan Arogan, Rasional
85% Gen Z menolak melamar tanpa info gaji. Bukan arogansi generasi manja, tapi respons rasional terhadap ekonomi yang tidak menjanjikan stabilitas.
Baca selengkapnya