
Sandwich Generation Gen Z: Bukan Boros, Gaji yang Dibagi untuk Orang Tua
“Gen Z dibilang boros karena tidak nabung. Padahal 30-50% gaji sudah dikirim ke orang tua tanpa dana pensiun. Hanya 16% pekerja Indonesia punya pensiun.”
Misbah, 27 tahun, mengirim 30 hingga 50% gajinya ke orang tua setiap bulan. Sisa dari gaji Rp5 juta itu harus cukup untuk dirinya dan istrinya di Jakarta. Dia dibilang boros karena tidak bisa nabung. Tapi Misbah bukan anomali. Survei Sun Life pada Februari 2026 menemukan 90% pekerja Indonesia berada di posisi yang sama: sandwich generation, terjepit antara menafkahi diri sendiri dan menafkahi orang tua yang sudah tidak produktif.
Ini bukan masalah orang tua 40-an. Data DataIndonesia.id dari survei 472 responden Gen Z pada 2023 menunjukkan 46,3% Gen Z Indonesia sudah jadi sandwich generation. Hampir separuh. Di usia yang seharusnya baru mulai mandiri finansial, mereka sudah jadi tulang punggung keluarga.
Narasi yang Beredar
Setiap kali ada artikel tentang Gen Z yang tidak bisa nabung, cerita yang muncul hampir selalu sama: Gen Z boros, terlalu banyak ngopi, langganan Netflix, beli baju thrift tapi tidak investasi. Financial advisor menyarankan "sisihkan 10% gaji untuk investasi" atau "kurangi pengeluaran tidak perlu".
Narasi ini mengasumsikan gaji Gen Z adalah milik mereka sendiri. Asumsinya: yang masuk ke rekening adalah uang untuk diri sendiri, tinggal atur berapa yang ditabung. Tapi asumsi itu salah untuk hampir separuh Gen Z Indonesia. Bagi mereka yang jadi sandwich generation, gaji bukan milik sendiri. Gaji sudah dititipkan ke dua generasi sebelum sempat menyentuh tabungan pribadi.
Data yang Sulit Diterima
46,3% Gen Z Sudah Jadi Tulang Punggung
Survei DataIndonesia.id pada Agustus hingga Oktober 2023 terhadap 472 responden Gen Z di seluruh Indonesia menemukan bahwa 46,3% Gen Z sudah masuk kategori sandwich generation. Mereka harus menanggung beban keuangan untuk diri sendiri, orang tua, dan dalam beberapa kasus, adik atau anak.
Dampaknya bukan cuma finansial. Survei yang sama menemukan 73,38% Gen Z sandwich generation merasa bersalah jika tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Sebanyak 66,19% khawatir terhadap masa depan diri sendiri. Dan 51,8% mengaku sulit memiliki tabungan pribadi atau keluarga inti. Lebih dari 40% mengalami stres dan burnout.
Data BPS 2020 memperkuat skala masalah ini. BPS mencatat 71 juta penduduk Indonesia termasuk generasi sandwich, lebih dari seperempat total populasi. Dari jumlah itu, 8,4 juta orang harus menanggung biaya hidup anggota keluarga di luar keluarga inti. Dan 16,3% pekerja muda usia di bawah 24 tahun sudah masuk kategori sandwich generation. Dengan populasi Gen Z sebanyak 71,5 juta jiwa, angka itu setara dengan 11,65 juta orang.
83% Lansia Bergantung pada Keluarga
Kenapa beban jatuh ke anak? Karena orang tua mereka tidak punya dana pensiun yang cukup. Data BPS 2024 menunjukkan 83,74% lansia Indonesia menggantungkan kebutuhan hidupnya dari penghasilan anggota keluarga yang bekerja. Hanya 5,01% yang bergantung pada uang pensiun. Sisanya bergantung pada kiriman dari pihak lain atau investasi.
BPS juga mencatat 35,37% lansia tinggal dalam rumah tangga tiga generasi. Artinya, dalam satu atap ada kakek atau nenek, anak, serta cucu. Struktur rumah tangga ini langsung menempatkan beban finansial pada generasi di tengah, yang harus menafkahi dua generasi sekaligus.
BKKBN 2025 menunjukkan tren yang sama. Hasil Pendataan Keluarga 2025 menunjukkan 25,17 juta keluarga atau 33,98% dari seluruh keluarga Indonesia memiliki sedikitnya satu anggota berusia lanjut. Hampir satu dari tiga keluarga.
Hanya 16% Pekerja Indonesia Punya Pensiun
Akar masalahnya jelas. Kementerian Keuangan pada Oktober 2025 melaporkan bahwa dari total 144,6 juta tenaga kerja Indonesia, hanya 23,6 juta yang terdaftar dalam program pensiun wajib. Angka itu setara dengan 16,32% dari total pekerja. Sisanya, lebih dari 120 juta pekerja, tidak punya jaminan pensiun yang memadai.
Data OJK per Desember 2024 menunjukkan kondisi yang lebih parah untuk pensiun sukarela. Hanya 4,1 juta pekerja yang terdaftar sebagai peserta dana pensiun sukarela, atau 2,7% dari total angkatan kerja. Tingkat densitas industri dana pensiun hingga akhir 2023 baru mencapai 18,94% dari 147,7 juta angkatan kerja berdasarkan data BPS.
Jadi, ketika orang tua Gen Z pensiun, mayoritas dari mereka tidak punya tabungan pensiun. Dan siapa yang menanggungnya? Anak-anak mereka yang baru mulai kerja.
Gaji Rp2 Juta, 50% ke Orang Tua: Matematika yang Tidak Masuk Akal
Sisa Rp1 Juta untuk Hidup Sebulan
BPS mencatat pendapatan bulanan Gen Z di sektor formal berkisar Rp1,7 juta hingga Rp2,7 juta. Kompas.com pada Agustus 2026 melaporkan kisah Misbah (27) yang mengirim 30 hingga 50% gaji Rp5 jutanya ke orang tua. Misbah menyebut ada orang yang bahkan menyisihkan sampai 80% gaji untuk orang tua.
Mari hitung. Gaji Rp2 juta per bulan. Kirim 50% ke orang tua berarti Rp1 juta. Sisa Rp1 juta untuk kontrakan, makan, transportasi, pulsa, dan kebutuhan dasar sebulan di kota. Berdasarkan data Rukita dan sewa-kos.com pada 2025, harga kos termurah di Jakarta berkisar Rp500 ribu hingga Rp800 ribu per bulan. Sisa Rp200 ribu hingga Rp500 ribu untuk makan 30 hari, atau Rp6.600 hingga Rp16.600 per hari.
Nasihat "kurangi ngopi" terdengar seperti lelucon untuk orang yang punya Rp16.000 per hari untuk makan. Nasihat "sisihkan 10% untuk investasi" berarti investasi Rp100 ribu per bulan dari sisa yang sudah tidak ada. Bukan perencanaan keuangan, tapi matematika yang tidak masuk akal.
Cerita Misbah dan Larasati: Tidak Punya Rumah karena Bantu Keluarga
Misbah menerima gaji sekitar Rp5 juta per bulan. Setelah mengirim 30-50% ke orang tua dan menafkahi istri, tidak ada sisa untuk menabung. "Alokasi untuk orang tua itu sekitar 30 sampai 50 persen dari gaji kita. Bahkan, ada orang yang menyisihkan sampai 80 persen gajinya untuk orang tua," ujar Misbah kepada Kompas.com pada Agustus 2026.
Cerita serupa dari Larasati (33). Penghasilannya Rp6 juta per bulan, harus dibagi untuk membantu keluarga. "Sangat sulit, bagi kita yang termasuk generasi sandwich, pendapatan kerja tidak hanya digunakan untuk diri sendiri, tetapi juga harus dibagi dengan keluarga atau orang tua," kata Larasati. Untuk membeli rumah, katanya, mereka harus melakukan upaya yang jauh lebih besar daripada orang yang gajinya bisa dinikmati sendiri.
Inilah kenapa beli rumah bukan soal kopi, tapi soal 25 tahun gaji tanpa makan. Gen Z sandwich generation tidak punya sisa untuk DP. Bukan karena boros, tapi karena gaji sudah dibagi sebelum sempat menyentuh tabungan.
Siklus Sandwich: Orang Tua Tanpa Pensiun, Anak Tanpa Tabungan
59% Sandwich Generation Berhenti Nabung Pensiun
Laporan Allianz Life yang dikutip Kiplinger menunjukkan 75% anggota sandwich generation mengaku kesulitan mencapai tujuan keuangan mereka. Sebanyak 70% menyatakan kondisi tersebut berdampak pada rencana pensiun. Dan 59% mengurangi atau menghentikan tabungan pensiun demi membantu keluarga.
Siklusnya berbahaya. Orang tua tidak punya pensiun, jadi beban jatuh ke anak. Anak tidak bisa nabung pensiun karena harus menafkahi orang tua. Ketika anak ini nanti pensiun, mereka juga tidak punya dana. Beban jatuh ke cucu. Siklus berulang.
Survei Sun Life 2026 menemukan 77% pekerja Indonesia memperkirakan tetap bekerja setelah usia pensiun. Bukan karena ingin tetap aktif, tapi karena tidak punya pilihan. Dan 40% responden menurunkan ekspektasi gaya hidup saat pensiun. Bukan perencanaan pensiun, tapi menyerah pada realitas bahwa pensiun mungkin tidak akan pernah datang.
Pinjol sebagai Jalan Keluar yang Justru Menjerat
Ketika gaji tidak cukup dan tidak ada tabungan, pinjaman online jadi jalan keluar. Data OJK per Maret 2024 menunjukkan 9,18 juta rekening pinjol dari kelompok usia 19-34 tahun, dengan nilai pinjaman mencapai Rp28,8 triliun. Naik hampir Rp2 triliun dalam setahun.
Gen Z yang sudah hidup gaji ke gaji dan harus menafkahi orang tua, terpaksa berutang untuk menutup kekurangan. Tapi pinjol bukan solusi. Pinjol bukan salah kamu, itu sistem yang didesain untuk menangkap. Bunga tinggi membuat siklus utang semakin dalam. Alih-alih keluar dari sandwich generation, mereka justru terjebak lebih lama.
Indonesia Masuk Aging Population: Beban Makin Berat
1 dari 3 Keluarga Sudah Tinggal dengan Lansia
Data SUPAS 2025 menunjukkan proporsi penduduk lansia Indonesia telah mencapai 11,97% dari total populasi. Indonesia resmi memasuki fase ageing population sejak 2021, ketika proporsi lansia melampaui 10%. Usia harapan hidup naik dari 70,78 tahun pada 2015 menjadi 72,39 tahun pada 2024.
BKKBN melalui Pendataan Keluarga 2025 menemukan 25,17 juta keluarga atau 33,98% dari seluruh keluarga yang terdata memiliki sedikitnya satu anggota lansia. Artinya, hampir satu dari tiga keluarga di Indonesia saat ini hidup bersama lansia. Beban sandwich generation bukan proyeksi masa depan. Sudah terjadi sekarang.
Rasio Ketergantungan 47,3%: 47 Orang Ditanggung 100 Pekerja
BPS mencatat rasio ketergantungan penduduk Indonesia mencapai 47,3% pada 2025. Artinya, setiap 100 orang usia produktif menanggung 47 orang usia non-produktif. Naik dari 44,67% pada 2022. Setiap kenaikan satu poin berarti jutaan pekerja tambahan menanggung lebih banyak tanggungan.
Data UN ESCAP 2023 mencatat penduduk usia 60 tahun ke atas mencapai 30,9 juta orang atau 11,1% populasi. Angka ini diproyeksikan naik menjadi 64,9 juta orang atau 20,5% pada 2050. Sandwich generation belum mencapai puncak. IDN Research Institute memperkirakan tekanan tertinggi akan terjadi antara 2030 dan 2045.
Ketika gaji tidak mau tumbuh sementara tanggungan bertambah, matematikanya jelas. Beban per pekerja makin berat setiap tahun. Dan tanpa perubahan pada sistem jaminan sosial, Gen Z yang sekarang menanggung orang tua akan menjadi lansia yang ditanggung cucu mereka nanti.
Pengamatan dari Lapangan
Saya perhatikan di lingkaran teman saya. Yang paling sering bilang "tidak bisa ikut kumpul" bukan yang paling boros. Yang paling sering absent adalah yang setiap bulan transfer uang ke kampung halaman. Mereka tidak beli iPhone baru. Mereka tidak langganan Spotify Premium. Mereka kirim Rp1-2 juta ke orang tua setiap tanggal gajian, lalu hidup dengan sisa yang pas-pasan.
Yang paling menyedihkan: mereka tidak pernah mengeluh. Mengirim uang ke orang tua dianggap kewajiban, bukan beban. Tapi ketika financial advisor bilang "kamu harus nabung 20% gaji", mereka diam. Karena 20% dari gaji yang sudah dibagi dua tidak ada. Saran dana darurat 6x gaji terdengar seperti joke untuk orang yang sisa gajinya Rp1 juta.
Gen Z sandwich generation tidak butuh nasihat nabung. Mereka butuh sistem yang tidak menempatkan mereka sebagai satu-satunya jaring pengaman keluarga.
Sistem yang Gagal, Bukan Individu yang Boros
Sandwich generation tidak soal generasi yang tidak bisa mengatur uang. Ini soal jaminan sosial yang, menurut data Kemenkeu 2025, hanya menjangkau 16% pekerja. Ketika BPS mencatat 83% lansia bergantung pada keluarga, ketika gaji Gen Z Rp2 juta dan 50% harus dikirim ke orang tua, nasihat "kurangi ngopi" tidak hanya tidak membantu. Nasihat itu menambahkan rasa bersalah pada beban yang sudah tidak tertanggung.
Gen Z dibilang boros, padahal ekonomi tumbuh karena konsumsi mereka. Mereka tidak menabung bukan karena tidak mau. Karena tidak ada sisa untuk ditabung. Dan ketika dana pensiun Gen Z berarti nabung 40 tahun untuk uang yang belum pasti ada, mereka tahu bahwa tanpa perubahan sistem, mereka akan menjadi orang tua yang ditanggung anak mereka nanti. Siklus berulang.
Pertanyaannya bukan apakah Gen Z bisa lebih hemat. Pertanyaannya: kapan sistem mulai bekerja untuk mereka?
FAQ
Apa itu sandwich generation?
Sandwich generation adalah individu usia produktif yang menanggung beban finansial dua generasi sekaligus: orang tua yang sudah tidak produktif dan anak atau adik yang masih bergantung. Survei Sun Life pada Februari 2026 menemukan 90% pekerja Indonesia berada di posisi sandwich generation.
Berapa persen Gen Z Indonesia yang jadi sandwich generation?
Survei DataIndonesia.id pada 2023 terhadap 472 responden Gen Z menemukan 46,3% Gen Z Indonesia sudah jadi sandwich generation. Data BPS 2020 menunjukkan 16,3% pekerja muda di bawah 24 tahun masuk kategori ini, setara dengan 11,65 juta orang dari total populasi Gen Z 71,5 juta jiwa.
Kenapa Gen Z sulit nabung padahal sudah kerja?
Gen Z sandwich generation mengirim 30 hingga 50% gaji ke orang tua setiap bulan. Dengan gaji sektor formal Rp1,7-2,7 juta menurut BPS, sisa setelah dikirim ke orang tua hanya Rp850 ribu hingga Rp1,9 juta untuk hidup sebulan di kota. Survei DataIndonesia.id menemukan 51,8% Gen Z sandwich generation sulit memiliki tabungan pribadi.
Apakah sandwich generation bisa dihindari?
Sulit dihindari tanpa perubahan sistem. Hanya 16,32% pekerja Indonesia yang punya pensiun wajib menurut Kemenkeu 2025, dan hanya 2,7% yang punya pensiun sukarela menurut OJK 2024. Selama 83% lansia bergantung pada keluarga menurut BPS 2024, beban akan terus jatuh ke generasi muda.
Bagaimana cara mengatasi sandwich generation?
Solusi individu terbatas. Laporan Allianz Life menunjukkan 59% sandwich generation berhenti nabung pensiun demi membantu keluarga. Yang bisa dilakukan individu: komunikasi terbuka dengan keluarga tentang kemampuan finansial, pisahkan anggaran dengan nominal tetap untuk orang tua, dan cari penghasilan tambahan. Tapi solusi seutuhnya butuh perluasan jaminan pensiun yang saat ini hanya menjangkau 16% pekerja.
Newsletter
Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMSumber & Metodologi
Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.
- 1.
- 2.
- 3.
- 4.
- 5.
- 6.
- 7.
- 8.
- 9.
- 10.
- 11.
- 12.
- 13.
Bunga Tabungan 0.5%, Bunga Pinjaman 24%: Bank Makan Kamu
Bunga tabungan 0.5%, inflasi 2.88%, kartu kredit 24%. Bank pinjamkan balik uangmu di 24%. Selisihnya bikin bank untung Rp78 triliun dalam 5 bulan.