Lewati ke konten utama
Situationship Bukan Takut Komitmen, Ekonomi yang Membuat Komitmen Jadi Beban
Kehidupan6 menit baca

Situationship Bukan Takut Komitmen, Ekonomi yang Membuat Komitmen Jadi Beban

Situationship marak di Gen Z. Bukan takut komitmen, tapi ekonomi tidak pasti membuat setiap komitmen jadi beban tambahan yang tidak terjangkau.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Kamu suka sama seseorang. Sering ngobrol, sering ketemu, kadang pegang tangan. Tapi tidak ada label. Tidak ada "kita apa?", tidak ada kejelasan. Kalau ditanya, jawabannya "lagang dulu" atau "belum siap komitmen."

Generasi sebelumnya menyebut ini hubungan tidak jelas. Gen Z menyebutnya situationship, dan tren ini semakin marak. Studi FISIP UI 2026 menemukan bahwa semakin banyak Gen Z yang memilih hubungan tanpa label resmi. CNN Indonesia dan IDN Times melaporkan fenomena yang sama: muda-muda Indonesia memilih tetap dalam zona abu-abu daripada mengambil langkah komitmen.

Nasihat yang sering kamu dengar: "Gen Z takut komitmen." "Generasi sekarang tidak berani ambil tanggung jawab." "Dulu kami pacaran langsung nikah, sekarang anak muda takut ngomong 'kita pacaran'."

Tapi kalau kamu lihat lebih dalam, situationship bukan tentang takut. Ia tentang ekonomi yang membuat komitmen terasa seperti beban tambahan di atas beban yang sudah ada.

Komitmen itu mahal

Komitmen dalam hubungan tidak hanya soal perasaan. Ia soal sumber daya: waktu, uang, energi mental, dan stabilitas. Semua hal yang Gen Z punya dalam jumlah terbatas.

Bayangkan kamu Gen Z yang baru lulus, gaji Rp4 juta sebulan, kos di Jakarta. Setelah bayar kos, makan, transport, sisa sedikit. Lalu kamu pacaran. Biaya pacaran: makan bareng, nonton, kado ulang tahun, liburan, dan yang paling mahal: waktu.

Mau menikah tapi ekonomi menghalangi sudah membahas bahwa Gen Z tidak menolak pernikahan, tapi ekonomi yang membuatnya tidak terjangkau. Situationship adalah versi lebih awal dari fenomena yang sama: kalau menikah terlalu mahal, pacaran resmi pun terasa berat.

Survei Jakpat bersama GoodStats April 2026 menemukan 60% Gen Z cemas menghadapi masa depan dan 57% merasa tekanan finansial. Dalam kondisi cemas dan tertekan secara finansial, menambah komitmen hubungan terasa seperti menumpuk beban di atas pundak yang sudah berat.

Paradox of choice dan ketakutan salah pilih

Gen Z tumbuh di era di mana pilihan tidak pernah habis. Tinder, Bumble, Hinge, Instagram, TikTok. Setiap swipe memberi kandidat baru. Setiap scroll menunjukkan orang yang "lebih cocok."

Dalam ekonomi pilihan tak terbatas, komitmen terasa seperti pemborosan. Kenapa harus pilih satu kalau bisa terus mencari? Kenapa harus label kalau belum yakin ini yang terbaik?

Tapi paradox of choice tidak berarti Gen Z tidak mau komitmen. Riset menunjukkan kelebihan pilihan justru membuat orang lebih sulit memilih dan lebih tidak puas dengan pilihan yang diambil. Gen Z tidak takut komitmen, mereka takut salah komitmen. Dan dalam ekonomi yang tidak pasti, salah pilih terlalu mahal.

Ekonomi tidak pasti membuat rencana jangka panjang terasa Mustahil

Komitmen adalah bentuk rencana jangka panjang. "Kita pacaran" berarti "saya berkomitmen untuk setidaknya beberapa bulan ke depan dengan kamu." "Kita menikah" berarti "saya berkomitmen untuk dekade berikutnya dengan kamu."

Tapi bagaimana kamu membuat rencana jangka panjang kalau kamu tidak tahu bulan depan masih kerja atau tidak? Kalau gaji tidak cukup untuk hidup sendiri, apalagi hidup berdua? Kalau rumah butuh 25 tahun gaji tanpa makan?

IDN Research Institute dalam laporan IMGR 2027 menemukan kelas menengah Indonesia menyusut 1,2 juta orang. Gen Z melihat orang tuanya yang dulu kelas menengah sekarang kesulitan. Mereka melihat bahwa stabilitas yang dijanjikan oleh generasi sebelumnya tidak ada. Dalam kondisi seperti ini, menambah komitmen jangka panjang terasa seperti berjudi dengan kartu yang tidak kamu pegang.

Situationship sebagai mekanisme adaptasi

Situationship bukan kelemahan Gen Z. Ia mekanisme adaptasi terhadap kondisi yang tidak mereka pilih.

Kalau ekonomi stabil, gaji cukup, masa depan jelas, komitmen terasa aman. Kamu bisa berjanji "bersama sampai tua" karena kamu yakin bisa menepatinya. Tapi kalau ekonomi tidak pasti, gaji tidak cukup, masa depan kabur, komitmen terasa seperti janji yang kamu tidak tahu bisa tepati atau tidak.

Gen Z memilih situationship karena mereka jujur soal ketidakpastian ini. Mereka tidak mau berjanji sesuatu yang tidak tahu bisa tepati. Mereka tidak mau mengikat orang lain dalam komitmen yang mungkin tidak bisa mereka penuhi.

Healing culture sering dikritik sebagai performa. Tapi situationship bukan performa. Ia pengakuan jujur: "saya belum mampu berkomitmen, dan saya tidak mau menipu kamu dengan janji yang belum bisa saya tepati."

Yang tidak dimengerti generasi sebelumnya

Generasi sebelumnya tumbuh di ekonomi yang berbeda. Kerja keras menghasilkan stabilitas, satu gaji cukup untuk keluarga, rumah terjangkau, pensiun ada. Dalam kondisi seperti ini, komitmen jangka panjang masuk akal. Kamu bisa berjanji "sampai tua" karena kamu yakin bisa menepatinya.

Gen Z tumbuh di ekonomi yang berbeda. Kerja keras tidak menjamin stabilitas. Satu gaji tidak cukup untuk diri sendiri. Rumah butuh 25 tahun. Pensiun tidak ada. Dalam kondisi seperti ini, komitmen jangka panjang terasa seperti berjudi.

Bukan Gen Z yang berubah. Ekonomi yang berubah. Dan hubungan, seperti hal lain, dipengaruhi oleh ekonomi.

Bukan takut komitmen, tapi takut tidak bisa menepati

Saya punya teman yang 3 tahun situationship dengan seseorang. Saya tanya kenapa tidak pacaran saja. Jawabannya: "Gue gaji 4 juta, kos 1,5 juta. Kalau pacaran, tiap minggu harus kencan, kado ultah, liburan. Gue nggak mau berjanji sesuatu yang gue nggak bisa bayar. Mending jujur dari awal."

Jawaban ini bukan takut komitmen. Ia jujur soal keterbatasan. Ia tahu komitmen butuh sumber daya yang belum dia punya. Dan dia tidak mau menipu orang lain dengan janji yang belum bisa dia tepati.

Generasi sebelumnya mungkin berkata: "Dulu kami juga gak kaya, tapi tetap pacaran." Benar, tapi dulu pacaran tidak butuh biaya yang sama. Dulu nonton bioskop Rp5.000, sekarang Rp50.000. Dulu kos Rp200.000, sekarang Rp1,5 juta. Dulu gaji fresh graduate cukup untuk hidup, sekarang tidak.

Apa yang perlu diubah

Nasihat "Gen Z harus berani komitmen" sama dengan nasihat "Gen Z harus beli rumah." Kedua-duanya menempatkan beban pada individu tanpa melihat struktur yang membuat komitmen terlalu mahal.

1. Akui bahwa komitmen punya harga

Komitmen hubungan butuh waktu, uang, dan energi mental. Kalau Gen Z tidak punya ketiganya dalam jumlah cukup, bukan karena mereka tidak mau komitmen, tapi karena sistem tidak memberi mereka sumber daya untuk komitmen.

2. Stop menyalahkan Gen Z untuk ketidakpastian yang mereka tidak buat

Gen Z tidak menciptakan krisis ekonomi, stagnasi gaji, atau harga properti yang tidak masuk akal. Mereka hanya hidup di dalamnya. Situationship adalah respons rasional terhadap dunia yang tidak rasional.

3. Ubah percakapan

Bukan "kenapa Gen Z takut komitmen?" tapi "kenapa komitmen jadi terlalu mahal untuk Gen Z?" Pertanyaan kedua membuka ruang pembicaraan yang lebih jujur soal ekonomi, ketidakpastian, dan beban yang dipikul generasi muda.

Situationship bukan penyakit generasi muda. Ia gejala dari ekonomi yang sakit. Dan mengobati gejala tanpa mengobati penyakit tidak akan pernah bekerja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga