Lewati ke konten utama
Gen Z ingin menikah tapi terhalang ekonomi: biaya hidup dan perumahan yang tidak terjangkau
Kehidupan6 menit baca

Mau Menikah Bukan Tidak Mau: Ekonomi yang Menghalangi Gen Z

Gen Z sering dianggap tidak mau menikah. Tapi survei UNFPA menunjukkan dua pertiga ingin berkeluarga. Yang menghalangi bukan sikap, tapi ekonomi.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Narasi yang Salah

"Gen Z tidak mau menikah." "Generasi sekarang lebih milih karier daripada keluarga." "Anak muda sekarang egois, tidak mau ambil tanggung jawab."

Narasi ini sering muncul di ruang publik. Angka pernikahan yang menurun dan angka kelahiran yang turun di berbagai negara sering dipakai sebagai bukti bahwa generasi muda sudah tidak lagi memprioritaskan keluarga. Tapi apakah benar mereka tidak mau?

Survei terbaru justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Laporan Demographic Futures Survey 2026 dari United Nations Population Fund (UNFPA) yang melibatkan lebih dari 108.000 responden dewasa muda berusia 18-39 tahun di 73 negara, termasuk Indonesia, menemukan fakta yang mengejutkan: lebih dari dua pertiga responden ingin menikah, dengan mayoritas mendambakan rumah tangga ideal dengan dua orang anak.

Perwakilan UNFPA di Indonesia, Hassan Mohtashami, mengatakan: "Menariknya, anak muda di seluruh dunia itu ingin menikah. Mayoritas dari mereka mendambakan pernikahan, memikirkan hubungan di masa depan, serta ingin menjadi orangtua."

Jadi bukan mereka tidak mau. Mereka tidak mampu.

Ekonomi yang Menghalangi

Data UNFPA menunjukkan bahwa 88 persen responden menyebut keamanan finansial sebagai prasyarat wajib sebelum punya anak. Disusul pekerjaan yang stabil (87 persen) dan kesiapan emosional (85 persen). Ini bukan standar yang berlebihan. Ini standar minimum untuk membangun keluarga yang layak.

Masalahnya, standar minimum ini makin sulit dicapai. Laporan Deloitte 2026 menyebut 47 persen Gen Z hidup pas-pasan dari gaji ke gaji. 51 persen merasa impian punya rumah tidak akan pernah terwujud. Bagaimana bisa menikah kalau belum punya tempat tinggal? Bagaimana bisa punya anak kalau gaji sendiri saja pas-pasan?

Sebanyak 57 persen responden UNFPA menyoroti masalah ekonomi dan langkanya perumahan terjangkau sebagai alasan utama menunda untuk tinggal satu atap bersama pasangan. Bukan karena tidak committed, tapi karena realitas ekonomi tidak memberi pilihan.

Seperti yang kami bahas di artikel generasi stroberi label untuk sistem yang gagal, masalah Gen Z sering bukan soal sikap, tapi soal sistem yang tidak mendukung. Menunda menikah bukan egoisme. Itu respons rasional terhadap kondisi yang tidak rasional.

Bukan Hanya di Indonesia

Fenomena ini global. Di berbagai negara, angka pernikahan turun bukan karena orang tidak mau, tapi karena biaya hidup naik sementara upah stagnan. Perumahan makin tidak terjangkau. Pekerjaan makin tidak stabil. Biaya pendidikan anak makin mahal.

Di Indonesia, data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 mencatat angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) masih stabil di angka 2.13. Angka ini sebenarnya masih baik dibandingkan negara tetangga seperti Singapura atau Thailand yang sudah jauh di bawah level penggantian generasi.

Tapi jangan terlena. Stabilitas ini bisa terganggu kalau tekanan ekonomi terus berlanjut. Gen Z yang sekarang menunda menikah bukan karena tidak mau, bisa jadi 10 tahun lagi masih belum mampu. Dan kalau itu terjadi, penurunan angka kelahiran akan jauh lebih drastis.

Biaya Menikah yang Tidak Masuk Akal

Mari hitung secara realistis. Untuk menikah di Indonesia saat ini, biaya yang dikeluarkan tidak hanya sekadar akad nikah. Ada biaya resepsi, mahar, kamar kos atau kontrakan, furnitur, dan simpanan untuk masa depan. Bagi Gen Z yang gajinya pas-pasan, ini angka yang tidak realistis.

Belum lagi kalau bicara soal punya anak. Biaya persalinan, biaya kesehatan, biaya pendidikan, biaya harian. Semua ini naik setiap tahun, sementara kenaikan upah tidak sebanding. Banyak anak muda yang sadar: punya anak tanpa persiapan finansial yang matang bukan berani, tapi ceroboh.

Seperti yang kami tulis di artikel doom spending bukan self-care itu gejala menyerah, banyak perilaku Gen Z yang dianggap "tidak bertanggung jawab" sebenarnya adalah respons rasional terhadap sistem yang terasa tidak rasional. Menunda menikah karena belum mampu secara finansial adalah bentuk tanggung jawab, bukan kebalikannya.

Yang Salah Bukan Gen Z

Kalau ada begitu banyak anak muda yang ingin berkeluarga tapi tidak mampu, masalahnya bukan pada generasi. Masalahnya pada sistem. Upah yang tidak naik sebanding dengan inflasi. Perumahan yang makin tidak terjangkau. Biaya kesehatan dan pendidikan yang terus melonjak. Lapangan kerja yang makin tidak stabil.

Hassan Mohtashami dari UNFPA menegaskan: "Itu sangat bertolak belakang dengan persepsi yang menyebut mereka tidak mau berkeluarga. Ketidakstabilan finansial, minimnya akses perumahan, serta banyak isu lain, menghalangi apa yang mereka inginkan."

Pola pikir mereka sangat bisa dipahami. Mereka ingin memiliki kesehatan yang prima, keluarga bahagia, serta penghasilan memadai. Bukan ambisi yang berlebihan. Hanya standar dasar untuk hidup yang layak.

Apa yang Perlu Berubah

Alih-alih menyalahkan Gen Z karena "tidak mau menikah", sebaiknya kita bertanya: apa yang membuat mereka tidak mampu menikah? Ini pertanyaan yang lebih sulit dijawab, tapi jauh lebih penting.

Pemerintah perlu memikirkan kebijakan perumahan yang terjangkau untuk anak muda. Pasar kerja perlu memberikan stabilitas yang memadai, bukan hanya kontrak singkat tanpa jaminan. Upah perlu naik sebanding dengan biaya hidup, bukan stagnan sementara harga terus merangkak naik.

Dan yang paling penting, generasi sebelumnya perlu berhati-hati dengan narasi yang disebarkan. Menyalahkan Gen Z karena menunda menikah tidak membantu siapa pun. Yang membantu adalah memahami mengapa mereka menunda, lalu bekerja sama untuk mengatasi penyebabnya.

Bukan Pilihan, Tapi Keterbatasan

Ada perbedaan besar antara memilih tidak menikah dan tidak mampu menikah. Memilih tidak menikah adalah keputusan sadar berdasarkan preferensi personal. Tidak mampu menikah adalah kondisi yang dipaksakan oleh keadaan. Survei UNFPA menunjukkan bahwa mayoritas Gen Z berada di kategori kedua.

Data LHH menunjukkan 68 persen pekerja kantoran Gen Z merasa khawatir gaji mereka tidak cukup untuk menghadapi inflasi. Kalau gaji sendiri saja dirasa tidak cukup, bagaimana bisa menanggung biaya keluarga? Ini bukan pertanyaan retoris. Ini pertanyaan yang dihadapi jutaan anak muda setiap hari.

Gen Z yang menunda menikah bukan sedang menolak tanggung jawab. Justru sebaliknya. Mereka mengambil tanggung jawab dengan jujur mengakui bahwa mereka belum mampu. Memaksakan menikah tanpa kesiapan finansial bukan berani. Itu ceroboh, dan yang paling menderita bukan mereka, tapi anak-anak yang lahir dari ketidaksiapan itu.

Pergeseran Paradigma

Pemerintah sebenarnya sudah mulai menyadari. Fokus program kependudukan tidak lagi pada pengendalian kuantitas, melainkan bergeser untuk memastikan tingginya kualitas sumber daya manusia. Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, menyebut angka TFR Indonesia masih stabil di 2.13, dekat dengan level ideal 2.1.

Tapi stabilitas ini tidak akan bertahan kalau tekanan ekonomi terus berlanjut. Gen Z yang sekarang berusia 20-an dan menunda menikah bisa jadi 10 tahun lagi masih belum mampu. Kalau itu terjadi, penurunan angka kelahiran akan jauh lebih drastis dari yang diperkirakan.

Gen Z tidak butuh diajari tentang nilai keluarga. Mereka sudah tahu. Yang mereka butuh adalah sistem yang memungkinkan mereka untuk mewujudkan keinginan itu tanpa harus mengorbankan kelayakan hidup.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga