
Situationship Bukan Takut Komitmen, Ekonomi yang Membuat Komitmen Jadi Beban
63% Gen Z menunda nikah karena tekanan biaya hidup. Situationship bukan ketakutan, tapi respons rasional terhadap ekonomi yang tidak pasti.
Bukan Takut Cinta, Takut Biayanya
Situationship. Hubungan tanpa label, tanpa komitmen, tanpa kejelasan arah. Kedekatan emosional ada, waktu bersama ada, bahkan rasa cemburu ada. Tapi kalau ditanya "kita ini apa?", jawabannya menggantung.
Banyak yang menyebut ini bukti Gen Z takut berkomitmen. Generasi strawberry yang tidak berani mengambil keputusan. Tapi kalau kita lihat datanya, ceritanya berbeda.
Survei IDN Research Institute 2024 menemukan 63 persen Gen Z Indonesia menunda pernikahan karena tekanan biaya hidup dan perencanaan finansial yang belum matang. Bukan karena tidak mau komitmen. Karena komitmen punya harga, dan harga itu semakin tidak terjangkau.
Matematika Komitmen yang Tidak Masuk Akal
Komitmen romantis di Indonesia tidak berhenti di label "pacar". Tekanan sosial mengaitkan hubungan serius dengan ekspektasi menikah. Dan menikah di Indonesia punya biaya yang membuat banyak Gen Z mundur sebelum maju.
BPS mencatat penurunan angka pernikahan nasional secara konsisten: dari 2,1 juta pasangan pada 2014 menjadi 1,4 juta pada 2025. Penurunan hampir 30 persen dalam sebelas tahun. Ini bukan pergeseran tren biasa. Ini sinyal dari generasi yang menghitung ulang apakah mereka mampu menanggung beban komitmen.
Sosiolog UGM Fina Itriyati menegaskan bahwa situasi ekonomi yang tidak pasti membuat pernikahan menjadi keputusan yang harus dipertimbangkan secara matang, bukan sekadar tugas perkembangan. Ekspektasi sosial memperparah situasi: kepemilikan rumah sebelum menikah, biaya resepsi, hingga kesiapan menanggung anak. Semua butuh fondasi finansial yang bagi mayoritas Gen Z masih jauh dari stabil.
Kepala BKKBN Wihaji pada Juni 2026 menyebut kecemasan akut terhadap masa depan finansial sebagai faktor utama Gen Z menunda pernikahan. Banyak anak muda khawatir karier berantakan setelah punya anak, dan bingung siapa yang akan mengasuh kalau mereka bekerja.
Ini konsisten dengan apa yang kita bahas tentang menikah yang dihalangi ekonomi. Gen Z tidak menolak institusi pernikahan. Mereka menolak masuk ke dalam komitmen yang mereka tidak mampu menanggung konsekuensinya.
Sandwich Generation: Beban yang Tidak Bisa Dilepas
Ada lapisan masalah yang jarang dibicarakan saat membahas situationship. Gen Z bukan cuma menanggung diri sendiri. Banyak yang sudah jadi sandwich generation: menanggung orang tua yang memasuki usia tidak produktif sekaligus berusaha membangun hidup sendiri.
Survei Litbang Kompas 2022 di 34 provinsi menunjukkan 67 persen generasi muda Indonesia menanggung kebutuhan orang tua yang memasuki usia tidak produktif. Gen Z 1997 yang akan masuk usia 30 tahun pada 2027 berdiri di persimpangan: tekanan sosial untuk menikah di satu sisi, realitas finansial yang belum mendukung di sisi lain.
Di tengah beban ini, situationship menjadi zona aman. Bukan karena Gen Z tidak ingin dicintai. Justru karena mereka ingin dicintai tanpa harus menanggung beban tambahan yang belum mampu mereka pikul. Ada kedekatan emosional yang tetap bisa dirasakan, tanpa ekspektasi besar yang dianggap bisa membatasi atau mengganggu fokus bertahan hidup.
Risk-Averse Bukan Penakut
Slate dalam analisis 2024 menemukan Gen Z adalah generasi paling risk-averse dalam catatan sejarah modern. Lebih sedikit yang mengambil SIM, mengonsumsi alkohol, atau berhubungan intim di usia remaja dibanding generasi sebelumnya. Ketakutan terhadap risiko ini merambah ke ranah komitmen romantis.
Profesor Elizabeth Armstrong dari University of Michigan, dikutip BBC, menyebut situationship mencerminkan cara generasi muda merekonstruksi hubungan modern: menikmati kedekatan tanpa harus langsung terikat pada komitmen jangka panjang.
Antropolog Dr. Helen Fisher menyebut fenomena ini "slow love", yaitu kecenderungan membangun hubungan secara perlahan melalui pertimbangan yang matang sebelum memutuskan berkomitmen. Bukan pelarian dari cinta, tapi pendekatan yang lebih hati-hati terhadap keputusan yang punya konsekuensi seumur hidup.
Ini logis. Kalau kamu tahu biaya menikah bisa menghabiskan puluhan juta, kalau kamu tahu harga rumah butuh 26 tahun gaji tanpa makan, kalau kamu tahu karier bisa berantakan setelah punya anak, mengapa kamu harus terburu-buru memberi label pada hubungan?
Yang Tidak Dilihat Pengamat
Psikolog Susan Albers dari Cleveland Clinic menjelaskan situationship ditandai dengan kurangnya kewajiban atau eksklusivitas, tapi ciri khasnya adalah kurangnya batasan atau label yang jelas. Otak kita menyukai kejelasan, dan area abu-abu ini bisa sulit diproses, bahkan menimbulkan kecemasan.
Jadi bukan bahwa Gen Z menikmati ketidakjelasan. Banyak yang sebenarnya stres dalam situationship. Tapi pilihan yang ada terasa sama-sama tidak ideal: berkomitmen penuh dengan beban finansial yang belum siap, atau bertahan di zona abu-abu yang tidak nyaman tapi lebih aman.
Riset dalam Journal of Social Research 2025 menemukan Gen Z Indonesia masih memandang pernikahan sebagai institusi yang sakral, tapi menempatkannya sebagai komitmen yang harus dilakukan secara sadar dan terencana, bukan sekadar mengikuti tekanan budaya atau agama. Ini bukan penolakan terhadap komitmen. Ini penolakan terhadap komitmen yang dipaksakan tanpa kesiapan.
Apa yang Bisa Kamu Lakukan
Pertama, jangan salahkan diri sendiri kalau kamu berada di situationship. Ini bukan bukti kamu lemah atau takut. Ini bukti kamu sedang berhitung dengan realitas yang tidak mudah. Tapi jangan juga bertahan terlalu lama di zona yang membuatmu cemas.
Kedua, komunikasikan. Psikolog Albers mengingatkan: jangan berasumsi pasangan menyadari perasaanmu. Kalau kamu ingin kejelasan, ucapkan. Kalau kamu belum siap komitmen, jujur saja. Situationship yang sehat adalah yang kedua pihak tahu posisi masing-masing, bukan yang saling menebak.
Ketiga, bangun kesiapan finansial tanpa menunggu sempurna. Seperti yang kita bahas tentang gaji yang tidak mau tumbuh, sistem tidak akan menunggu kamu siap. Tapi kamu juga tidak perlu menunggu sistem berpihak. Cari celah, bangun pendapatan tambahan, dan ambil keputusan ketika kamu merasa cukup, bukan ketika semuanya sempurna.
Komitmen Butuh Fondasi, Bukan Keberanian
Situationship bukan epidemi ketakutan komitmen. Ini gejala dari ekonomi yang membuat komitmen terasa seperti melompat ke jurangan tanpa parasut. Gen Z tidak takut cinta. Mereka takut pada harga yang harus dibayar untuk cinta itu.
Dan harga itu bukan bikinan mereka. Sistem ekonomi yang membuat gaji tumbuh 1,78 persen sementara harga rumah tumbuh 2,76 persen, sistem sosial yang mengaitkan pernikahan dengan pesta mahal dan kepemilikan rumah, sistem kerja yang tidak menjamin karier tetap aman setelah punya anak. Semua ini bukan tanggung jawab Gen Z.
Menyalahkan generasi yang berhati-hati karena sistem tidak memberi mereka rasa aman adalah logika yang terbalik. Bukan Gen Z yang harus berani. Sistem yang harus memberi alasan untuk berani.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Pulang ke Rumah Bukan Gagal Terbang, Sistem yang Hancurkan Landasannya
62,7% Gen Z Indonesia masih bergantung finansial pada orang tua. Bukan manja, 70% yang pulang justru bekerja. Sistem ekonominya yang hancurkan landasan.
Baca selengkapnya
Gen Z Belanja Rp12 Juta, Tapi BPJS Ditunda: Bukan Boros, Krisis Persepsi
Gen Z Jakarta spend Rp12 juta per bulan, tapi iuran BPJS Rp35.000 dianggap bisa ditunda. Bukan soal boros, tapi krisis persepsi nilai kesehatan.
Baca selengkapnya
Situationship Bukan Takut Komitmen, Ekonomi yang Membuat Komitmen Jadi Beban
Situationship marak di Gen Z. Bukan takut komitmen, tapi ekonomi tidak pasti membuat setiap komitmen jadi beban tambahan yang tidak terjangkau.
Baca selengkapnya