
PHK Tokopedia Membongkar Ilusi: Kerja Keras Tidak Menjamin Aman
450 karyawan di-PHK 2024, 450 lagi 2025, dan 2026 rumor 90% dipangkas. Kalau kerja keras menjamin keamanan, kenapa ini terjadi?
450 karyawan, satu kali PHK
Januari 2024, TikTok resmi akuisisi 75% saham Tokopedia dari GoTo dengan nilai USD 1,5 miliar. Enam bulan kemudian, 450 karyawan di-PHK. Juni 2025, gelombang kedua: 450 karyawan lagi, sekitar 9% dari total tenaga kerja Tokopedia. Juli 2026, rumor beredar bahwa ByteDance memangkas hingga 90% karyawan Tokopedia di Indonesia. Tokopedia bantah, bilang itu "penataan tenaga kerja" dan "internal mobility". Tapi 200 karyawan sudah ambil paket kompensasi dan keluar.
Kalau kamu bekerja di Tokopedia, lelah lembur, naik jabatan, bawa target, dipuji performance review, lalu tiba-tiba dipanggil ke ruang HR dan dikasih surat pemutusan kerja, kamu nggak akan percaya narasi "penataan".
Kamu akan merasa dihapus.
Ilusi "kerja keras = aman"
Dari kecil kita diajarkan rumus yang sama: kerja keras, naik jabatan, jadi karyawan teladan, maka kamu aman. CV bagus, performance review bagus, loyal ke perusahaan, maka perusahaan akan menjaga kamu.
Tokopedia membuktikan rumus itu salah.
450 karyawan yang di-PHK di gelombang pertama bukan karyawan malas. Mereka orang-orang yang lolos seleksi di salah satu tech company terbesar Indonesia. Mereka yang ikut bangun Tokopedia jadi apa adanya sekarang. Tapi saat ByteDance butuh efisiensi, nama mereka muncul di spreadsheet, dan mereka dihapus dalam satu hari.
Saya pernah ngobrol dengan teman yang kerja di startup e-commerce. Dia bilang, "Gue ikut lembur tiap hari, bawa target 200%, performance review always exceeds expectation. Tapi pas restrukturisasi, gue tetap kena. Mereka nggak lihat performance. Mereka lihat divisi." Tiga bulan setelah obrolan itu, divisi dia dihapus.
Ini bukan cerita tentang Tokopedia. Ini cerita tentang cara kerja perusahaan. Kamu bisa kerja keras sampai tulang punggung kamu pegal, tapi kalau posisi kamu dianggap "tumpang tindih" pasca-merger, kamu keluar. Performance review bagus nggak akan menyelamatkan kamu dari spreadsheet efisiensi.
Kenapa ini terjadi (dan terus terjadi)
PHK Tokopedia bukan kecelakaan. Ini pola yang bisa diprediksi sejak akuisisi diumumkan.
Pertama, saat satu perusahaan dibeli perusahaan lain, fungsi yang tumpang tindih akan dihapus. Tokopedia punya tim IT, customer care, fulfillment. TikTok Shop juga punya tim yang sama. Begitu keduanya merge, nggak butuh dua tim untuk satu pekerjaan. Hasilnya: salah satu tim dihapus. Dan biasanya yang dihapus adalah tim dari perusahaan yang dibeli, bukan yang membeli.
Kedua, ByteDance bukan perusahaan amal. Mereka beli Tokopedia dengan USD 1,5 miliar. Itu investasi. Dan investasi butuh return. Cara tercepat untuk naikkan margin: potong biaya. Biaya terbesar di tech company adalah gaji karyawan. Jadi potong gaji karyawan. Bukan karena mereka jelek, tapi karena angka di laporan keuangan harus bagus.
Ketiga, "penataan tenaga kerja" yang dikatakan Stephanie Susilo di depan DPR itu kata yang dipilih dengan hati-hati. "Penataan" terdengar lebih lembut dari "PHK". Tapi efeknya sama: orang kehilangan pekerjaan. 200 karyawan "memilih" paket kompensasi. Tapi pilihan apa yang mereka punya? Tetap di perusahaan yang posisimu sudah nggak jelas, atau ambil uang dan keluar. Itu bukan pilihan. Itu situasi yang dipaksa.
Data dari BPS Februari 2025 menunjukkan proporsi pekerja informal naik ke 59,40%. Artinya, semakin banyak orang yang "bekerja" tapi tanpa kontrak jelas, tanpa pesangon, tanpa jaminan sosial. PHK Tokopedia cuma satu kasus yang viral. Ribuan kasus lain nggak masuk berita.
Ada pola yang lebih besar di sini. Startup Indonesia mengalami fase konsolidasi. Tokopedia bukan satu-satunya. Bukalapak sudah lama meredup. Shopee juga sudah PHK beberapa gelombang. E-commerce Indonesia sudah lewati masa pertumbuhan liar. Sekarang masa efisiensi. Dan efisiensi itu kata lain dari: karyawan keluar.
Ini bukan tren sementara. Ini struktur. Industri tech Indonesia sudah masuk fase di mana pertumbuhan user melambat, kompetisi makin ketat, dan investor menuntut profitabilitas. Fase pertumbuhan butuh orang banyak. Fase efisiensi butuh orang sedikit. Kamu yang masuk di fase pertumbuhan akan keluar di fase efisiensi. Bukan karena kamu berubah. Karena fase berubah.
Yang harus kamu lakukan sekarang
Kalau kamu masih percaya kerja keras di satu perusahaan akan menjamin keamanan finansial kamu, berhenti sekarang. Bukan berhenti kerja keras. Tapi berhenti percaya bahwa kerja keras di satu tempat cukup.
Bangun income di luar gaji. Gaji dari satu perusahaan adalah single point of failure. Kalau satu sumber income kamu putus, kamu nol. Freelance, side project, jualan online, konsultan, apa pun. Targetnya bukan langsung ganti gaji, tapi punya cadangan. Kalau gaji kamu Rp 8 juta dan side income kamu Rp 2 juta, kamu punya 20% buffer. Itu lebih baik dari 0%. Kalau kamu belum punya ide, mulai dari skill yang kamu sudah punya. Kerja di marketing? Bisa jasa kelola sosial media. Kerja di IT? Bisa freelance web development. Kerja di finance? Bisa konsultan pajak UMKM.
Simpan dana darurat minimal 6 bulan pengeluaran. Bukan 3 bulan. 6 bulan. Karena realitasnya, cari kerja baru di Indonesia sekarang butuh waktu 3-6 bulan. Kalau kamu di-PHK hari ini dan tabungan kamu cuma 3 bulan, kamu akan panik di bulan keempat. Panik bikin kamu ambil keputusan buruk: kerja di tempat yang lebih buruk, gaji lebih rendah, atau ambil pinjaman online. Dana darurat bukan lux, itu insurance hidup kamu. Baca panduan dana darurat untuk anak muda kalau kamu belum mulai.
Pelajari skill yang transferable. Skill spesifik ke satu perusahaan (cara pakai internal tool, proses satu tim, hubungan dengan satu boss) nggak bisa kamu bawa keluar. Skill transferable (negosiasi, analisis data, copywriting, manajemen proyek, public speaking) bisa kamu bawa ke mana pun. Luangkan waktu di luar jam kerja untuk asah skill yang nggak bergantung pada satu perusahaan. Online course di Coursera atau YouTube gratis. Yang dibutuhkan bukan sertifikat, tapi kemampuan yang bisa kamu demonstrasikan. Untuk ide skill apa yang relevan, lihat skill masa depan yang dicari industri.
Kenali posisi tawar kamu. Kamu bukan karyawan. Kamu penjual. Kamu jual waktu dan skill kamu ke perusahaan. Seperti penjual apa pun, kamu butuh pembeli. Kalau pembeli cuma satu (perusahaan tempat kamu kerja sekarang), posisi tawar kamu rendah. Kalau kamu punya opsi (tawaran dari tempat lain, proyek freelance, jaringan yang bisa kasih referensi), posisi tawar kamu naik.
Penutup
Tokopedia bukan korban. Tokopedia adalah bisnis. Dan bisnis akan lakukan apa pun untuk bertahan, termasuk menghapus orang-orang yang sudah bangun mereka.
Kamu nggak bisa menghentikan perusahaan dari PHK. Tapi kamu bisa menghentikan diri kamu dari ketergantungan pada satu perusahaan.
Kerja keras. Tapi kerja keras untuk masa depan kamu sendiri, bukan untuk loyalitas ke perusahaan yang akan menghapus kamu saat angka di spreadsheet nggak cocok.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Gig Economy Bukan Pilihan, Jebakan Produktivitas Rendah
2,41 juta pekerja digital, 75% di bawah Rp3 juta per bulan. Gen Z bukan pilih gig economy, sektor formal yang tidak mau serap.
Baca selengkapnya
96% Terbuka Pindah: Bukan Loyalitas yang Mati, Sistem yang Tidak Memberi Alasan Setia
47% Gen Z berencana resign dalam setahun. Bukan loyalitas yang mati, tapi sistem kerja yang tidak memberi alasan untuk tetap setia.
Baca selengkapnya
Quiet Quitting Bukan Malas, Sistem Kerja yang Tidak Mau Bayar Hati
60% Gen Z melakukan quiet quitting. Bukan karena malas, tapi karena sistem kerja mengeksploitasi tanpa batas dan tidak memberi alasan untuk peduli.
Baca selengkapnya