Lewati ke konten utama
AI Divide Indonesia: 70% Gen Z Tidak Pakai AI, Bukan Tidak Mau, Kuota Mahal
Teknologi8 menit baca

AI Divide Indonesia: 70% Gen Z Tidak Pakai AI, Bukan Tidak Mau, Kuota Mahal

Survei APJII 2026: hanya 29,4% Gen Z pakai AI. 70,6% tidak. Bukan tidak mau, 35,5% tidak tahu AI, kuota mahal. AI divide bukan kemampuan, akses.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Siapa yang Benar-benar Pakai

29,4 persen Gen Z Indonesia aktif mengakses AI pada 2026 menurut Survei APJII yang melibatkan 8.700 responden di 38 provinsi dengan margin of error 1,1 persen. Itu berarti 70,6 persen Gen Z, generasi yang dianggap paling melek teknologi, tidak menyentuh AI sama sekali. Angka adopsi AI nasional justru menurun dari 27,3 persen di 2025 menjadi 18,2 persen di 2026 menurut data APJII yang sama. Saat dunia bicara AI boom, Indonesia mundur. Dan alasannya bukan ketidakmampuan.

Boom Global, Indonesia Mundur

AI generatif ada di mana-mana. ChatGPT, Gemini, Claude, AI di WhatsApp, AI di Instagram, AI di Google Search. Pemerintah Indonesia bicara adopsi digital. Komdigi memetakan empat langkah strategis: Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (STRANAS KA), Peta Jalan AI Nasional, Etika AI Nasional, dan implementasi AI di lingkungan pendidikan. Nezar, perwakilan Komdigi, menyebut tantangan terbesar bukan lagi akses terhadap teknologi, melainkan kualitas pemakaiannya. "Ini bukan soal kesenjangan akses, tapi kesenjangan dalam hal kedalaman," ujarnya dilansir CNN Indonesia Juli 2026.

Tapi bagaimana bisa memperdalam sesuatu yang tidak bisa diakses? 81,8 persen penduduk Indonesia tidak menggunakan AI pada 2026 menurut data APJII yang sama. Angkanya naik dari 72,7 persen di 2025. Adopsi AI tidak tumbuh, justru menyusut. Dan yang tertinggal bukan satu atau dua orang.

Yang Tertinggal Bukan Satu Orang

APJII 2026 mencatat Gen Z (usia 13-28 tahun) sebagai kelompok pengguna AI terbesar: 29,4 persen. Tapi artinya 70,6 persen Gen Z tidak mengakses AI sama sekali. Milenial (29-44 tahun) hanya 16,7 persen yang pakai menurut data APJII. Gen X (45-60 tahun) 7,5 persen. Baby Boomers 0,8 persen.

Yang mengejutkan: penetrasi internet Gen Z mencapai 89,02 persen menurut APJII. Mereka punya akses internet, tapi tidak mengakses AI. Punya koneksi, tapi tidak terhubung dengan teknologi yang katanya akan mengubah masa depan. Ini bukan masalah infrastruktur internet, ini masalah hambatan yang lebih spesifik.

81% enggan pakai AI sudah kami bahas sebelumnya. Tapi artikel itu membahas sikap. Data terbaru APJII 2026 menunjukkan masalahnya lebih fundamental dari sekadar sikap: banyak Gen Z tidak tahu AI ada, dan yang tahu, banyak yang tidak mampu mengaksesnya.

Alasan Utama Non-adopsi

APJII 2026 mencatat alasan tidak menggunakan AI dengan rincian yang jelas. Alasan terbesar: 43,1 persen merasa tidak membutuhkan konten AI, naik tajam dari 22,7 persen di 2025. Lalu 35,5 persen tidak tahu mengenai teknologi AI, meski angka ini turun dari 46,6 persen di 2025. Sebanyak 8,1 persen tidak mengetahui cara menggunakan AI, 4,4 persen belum menemukan layanan AI menarik, 4 persen menganggap layanan AI sulit digunakan, 2,9 persen khawatir terhadap isu privasi dan keamanan, dan 2 persen tidak memiliki akses atau perangkat teknologi yang memadai menurut survei APJII.

Tapi ada lapisan masalah yang lebih dalam. APJII juga mencatat 18,28 persen penduduk Indonesia belum terkoneksi internet sama sekali. Dari kelompok ini, 34 persen tidak memiliki komputer atau gadget yang bisa terhubung ke internet, 31,5 persen tidak tahu cara menggunakan perangkat digital, dan 17,2 persen menyebut harga kuota internet masih terlalu mahal.

Hybrid.co.id yang melaporkan data APJII menemukan ketimpangan yang lebih spesifik. Gen Z yang tidak terkoneksi internet menyebut kendala daya beli sebagai hambatan utama: 52,5 persen tidak punya perangkat keras. Pulau Jawa mencatat penetrasi internet 85,95 persen, sementara Maluku dan Papua hanya 69,74 persen. Rumah tangga dengan pendapatan di atas Rp15 juta mencatat penetrasi 92,69 persen, jauh di atas rumah tangga berpendapatan rendah.

AI divide di Indonesia bukan satu lapis menurut data APJII. 35,5 persen tidak tahu AI ada. 2 persen dari pengguna internet tidak punya perangkat, dan 34 persen dari yang tidak internet sama sekali juga tidak punya perangkat. 17,2 persen punya perangkat tapi kuota mahal. 8,1 persen punya semua tapi tidak tahu cara pakai. AI tidak mengambil kerjamu, tapi AI juga tidak menjangkau kamu kalau kamu tidak punya akses.

Pakai untuk Hiburan, Bukan Produktivitas

Dari Gen Z yang menggunakan AI, apa yang mereka lakukan? APJII 2026 mencatat penggunaan AI secara nasional: hiburan 36,5 persen (pembuatan video atau gambar generatif), edukasi dan riset 30,2 persen (chatbot, ringkasan akademik), pekerjaan dan produktivitas 26,9 persen (penulisan otomatis, copywriting, analisis data), dan asisten digital suara 6,4 persen.

Gen Z spesifik: 44,4 persen memakai AI untuk hiburan dan 34,9 persen untuk edukasi menurut Bloomberg Technoz yang melaporkan data APJII yang sama. Hiburan, bukan produktivitas. AI untuk buat video lucu, bukan untuk belajar skill yang bisa naikkan kelas ekonomi.

Ini menciptakan dua jalur AI divide menurut data APJII. Jalur pertama: 70,6 persen Gen Z tidak bisa akses AI sama sekali. Jalur kedua: dari 29,4 persen yang bisa akses, mayoritas pakai untuk hiburan, bukan untuk naik kelas. Curhat ke AI sudah kami bahas sebagai fenomena Gen Z yang pakai AI untuk kesehatan mental. Tapi data APJII menunjukkan penggunaan AI untuk produktivitas kerja hanya 26,9 persen, lebih rendah dari hiburan.

Narasi Pemerintah vs Realitas di Lapangan

Komdigi merancang empat langkah strategis untuk menutup kesenjangan AI. STRANAS KA sedang diproses menjadi Peraturan Presiden. Peta Jalan AI Nasional sedang disusun. Etika AI Nasional sedang dirumuskan. AI akan didorong di lingkungan pendidikan dengan tetap menjaga keamanan dan kesesuaian usia.

Tapi 35,5 persen responden APJII tidak tahu teknologi AI ada. Kebijakan AI yang dirancang untuk orang yang sudah mengakses AI tidak akan menyentuh 81,8 persen populasi yang tidak menggunakannya menurut data APJII. Pemerintah bicara "kesenjangan kedalaman" sementara 17,2 persen penduduk tidak bisa internet karena kuota mahal menurut survei yang sama. Ini bukan kesenjangan kedalaman, ini kesenjangan akses yang lebih mendasar.

ChatGPT bukan curang, tapi ChatGPT juga bukan solusi kalau kamu tidak punya kuota untuk membukanya. Regulasi AI tidak berguna untuk orang yang tidak tahu AI ada. Etika AI tidak relevan untuk orang yang tidak punya perangkat untuk mengaksesnya. Pemerintah membangun aturan untuk lantai dua, sementara lantai satu belum selesai.

Infrastruktur, Bukan Kemampuan

Saya perhatikan hampir semua diskusi tentang AI di Indonesia berasumsi semua orang sudah bisa akses. Seminar AI, workshop AI, kursus AI, semua mengasumsikan peserta punya laptop, kuota internet, dan tahu cara membuka ChatGPT. Tapi data APJII 2026 membongkar asumsi itu. 35,5 persen tidak tahu AI ada menurut survei tersebut. 2 persen tidak punya perangkat menurut data APJII. 17,2 persen tidak bisa internet karena kuota mahal menurut survei yang sama. Dari yang bisa akses AI, 44,4 persen Gen Z pakai untuk hiburan menurut Bloomberg Technoz.

AI divide di Indonesia bukan tentang kemampuan teknis. Bukan tentang siapa yang bisa prompt engineering dan siapa yang tidak. Ini tentang infrastruktur dan ekonomi. Siapa yang punya perangkat dan siapa yang tidak. Siapa yang punya kuota dan siapa yang tidak. Siapa yang tahu teknologi ini ada dan siapa yang tidak.

Pemerintah bicara adopsi digital, STRANAS KA, Peta Jalan AI. Tapi 81,8 persen penduduk tidak menggunakan AI menurut APJII. Kebijakan AI tidak menyentuh mayoritas populasi yang seharusnya dilayani. Komdigi menyebut "bukan soal kesenjangan akses, tapi kedalaman." Tapi 35,5 persen tidak tahu AI ada menurut data APJII. Tidak bisa memperdalam sesuatu yang tidak kamu tahu ada.

Pintu Masuk yang Masih Tertutup

18,2 persen orang Indonesia pakai AI pada 2026 menurut APJII. Angka itu turun dari 27,3 persen di 2025. Saat dunia berlomba membangun AI, Indonesia bergerak mundur. Bukan karena Gen Z tidak mau. Mayoritas Gen Z tidak menyentuh AI, dan alasan terbesarnya: lebih dari sepertiga tidak tahu teknologi ini ada. Hampir seperlima penduduk tidak bisa internet karena kuota mahal. Lebih dari setengah Gen Z yang tidak terkoneksi tidak punya perangkat. Adopsi digital tidak bisa dimulai dari orang yang tidak tahu apa yang harus diadopsi. Sebelum bicara kedalaman, pastikan dulu pintunya bisa dibuka.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa persen Gen Z Indonesia yang pakai AI?

Hanya 29,4 persen Gen Z (usia 13-28 tahun) yang aktif mengakses AI pada 2026, menurut Survei APJII 2026 yang melibatkan 8.700 responden di 38 provinsi dengan margin of error 1,1 persen. Artinya 70,6 persen Gen Z tidak menggunakan AI sama sekali. Adopsi AI nasional secara umum juga menurun dari 27,3 persen di 2025 menjadi 18,2 persen di 2026.

Kenapa adopsi AI di Indonesia rendah?

Survei APJII 2026 mencatat alasan utama tidak menggunakan AI: 43,1 persen merasa tidak membutuhkan, 35,5 persen tidak tahu teknologi AI, 8,1 persen tidak tahu cara menggunakan, dan 2 persen tidak memiliki akses atau perangkat. Selain itu, dari 18,28 persen penduduk yang belum terkoneksi internet, 34 persen tidak punya perangkat, 31,5 persen tidak tahu cara menggunakan perangkat digital, dan 17,2 persen menyebut kuota internet terlalu mahal.

Apa itu AI divide?

AI divide adalah kesenjangan akses dan kemampuan menggunakan kecerdasan buatan. Di Indonesia, AI divide bukan tentang kemampuan teknis, tapi tentang akses. Survei APJII 2026 menunjukkan 35,5 persen responden tidak tahu teknologi AI ada, 17,2 persen tidak bisa internet karena kuota mahal, dan 52,5 persen Gen Z yang tidak terkoneksi internet tidak punya perangkat keras. AI divide di Indonesia adalah masalah infrastruktur dan ekonomi, bukan masalah skill.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga