
6% Ingin Jadi Bos: Bukan Gen Z Kurang Ambisi, Sistem yang Tidak Menarik
Hanya 6% Gen Z mau jadi bos. Tapi 70% develop skill tiap minggu. Bukan kurang ambisi, sistem kerja yang tidak sepadan dengan harga yang harus dibayar.
Hanya 6% Gen Z di seluruh dunia yang mau jadi bos. Itu hasil Deloitte Global Gen Z Survey 2025 yang mensurvei 23.482 responden di 44 negara, termasuk 535 dari Indonesia. Angka yang membuat manajer senior menggelengkan kepala dan media menulis headline tentang "generasi yang kehilangan ambisi."
Tapi di survei yang sama, 70% Gen Z mengembangkan skill baru setiap minggu. 67% belajar di luar jam kerja. 89% menilai pembelajaran di tempat kerja sebagai hal penting. Angka-angka ini bukan kontradiksi. Ini pernyataan posisi.
Narasi "Gen Z Malas" versus data yang berbicara lain
Media dan manajer senior cepat memberi label. Gen Z disebut kurang ambisi, tidak mau tanggung jawab, kerja setengah hati. Narasi ini nyaman karena menempatkan masalah pada individu, bukan pada sistem.
Tapi data Robert Walters Indonesia 2026 membongkar narasi itu. Dari survei mereka, 75% profesional Gen Z di Indonesia masih memandang posisi manajer sebagai tahapan karier yang penting. Mereka tidak menolak kepemimpinan. Mereka menolak kondisi kepemimpinan yang mereka lihat.
Fenomena ini punya nama: conscious unbossing. Istilah ini menggambarkan kecenderungan profesional muda yang menghindari posisi manajerial meski punya peluang untuk mendudukinya. Bukan karena tidak mau memimpin, tapi karena mereka melihat harga yang harus dibayar dan menyimpulkan bahwa harga itu terlalu mahal.
Quiet quitting sudah menunjukkan bahwa Gen Z berhenti peduli berlebihan ketika sistem tidak menghargai ekstra mereka. Menolak jadi bos adalah langkah lebih jauh: berhenti bercita-cita naik ke posisi yang terlihat seperti jebakan, bukan tangga.
75% masih pandang manajer penting, tapi menolak promosi
Data Robert Walters Indonesia 2026 menunjukkan 68% perusahaan di Indonesia sudah merasakan atau memperkirakan akan kesulitan mengisi posisi manajer tingkat menengah dalam satu hingga dua tahun ke depan. Ini krisis pipeline kepemimpinan yang nyata.
Tapi alasan di balik angka itu lebih menjelaskan. Dari Gen Z yang ragu menerima promosi ke posisi manajerial, 64% menyebut kenaikan gaji sebagai faktor utama yang bisa mengubah keputusan mereka. 38% menginginkan kewenangan pengambilan keputusan yang lebih jelas. 24% menyoroti pentingnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Respons perusahaan ternyata belum sejalan dengan harapan ini. Hanya 38% perusahaan yang mengaku sedang meninjau ulang paket gaji dan insentif. Mayoritas perusahaan justru lebih fokus pada jalur promosi yang lebih jelas (69%) dan program pengembangan kepemimpinan (62%).
Kesenjangan ini bukan masalah komunikasi. Ini masalah struktur. Gen Z minta kompensasi yang sepadan, perusahaan tawarkan pelatihan. Gen Z hitung nominal, perusahaan hitung program. Kedua belah pihak berbicara bahasa yang berbeda.
Manajer yang dilihat Gen Z: stres, beban besar, kewenangan terbatas
Kenapa Gen Z menolak promosi? Mereka tidak perlu jauh mencari contoh. Cukup lihat manajer mereka sendiri.
Data Robert Walters menunjukkan hanya 27% Gen Z yang melihat manajer mereka saat ini sebagai sosok inspiratif yang ingin ditiru. Sebaliknya, 33% menilai para manajer terlihat mengalami stres berkepanjangan atau bekerja secara berlebihan. 27% lainnya melihat manajer memiliki tanggung jawab besar tetapi kewenangan yang terbatas.
Eric Mary, Country Head Robert Walters Indonesia, menjelaskan bahwa gelar manajer tidak lagi memiliki daya tarik yang sama bagi generasi muda. "Gen Z ingin memimpin, tetapi mereka melihat tekanan yang dihadapi para manajer tingkat menengah saat ini. Mereka ragu melangkah maju kecuali imbalan finansial yang diberikan sebanding dengan tanggung jawabnya."
Michelle Tanjung, Associate Director Robert Walters Indonesia, melukiskan gambar yang lebih tajam. Banyak profesional muda Indonesia bersikap pragmatis karena harus menyeimbangkan tuntutan karier dengan kebutuhan finansial keluarga. Mereka melihat atasan mereka bertindak sebagai "pejuang korporat" yang memikul beban berlebih, harus memenuhi tuntutan pimpinan senior sekaligus melindungi tim junior tanpa kompensasi yang layak.
Gen Z melihat ini dan melakukan perhitungan sederhana. Tanggung jawab naik, stres naik, waktu pribadi turun, tapi gaji tidak naik cukup untuk menutup kerugiannya. Kenapa harus ambil?
Definisi sukses yang bergeser
Deloitte 2026 update menemukan pergeseran dalam cara Gen Z mendefinisikan sukses karier. 44% Gen Z memilih kemajuan stabil dan bertahap, bukan promosi cepat. 25% masih mau promosi cepat. 20% bahkan lebih tertarik pindah lateral untuk mendapat pengalaman baru.
Dari responden Indonesia, 34% menempatkan stabilitas finansial sebagai prioritas utama. Gen Z mencari tiga hal sekaligus dalam pekerjaan: pekerjaan yang bermakna, keamanan finansial, dan kesejahteraan yang nyata. Satu responden Deloitte mengatakan bahwa tiga hal penting dalam pekerjaan adalah fleksibilitas, gaji, dan minat. Dan sangat sulit mendapatkan ketiganya sekaligus.
Ini bukan sikap generasi yang malas. Ini sikap generasi yang sudah belajar dari kesalahan generasi sebelumnya. Mereka melihat gaji yang tidak tumbuh selama bertahun-tahun. Mereka melihat manajer yang lembur tanpa dibayar, sakit tanpa diakui, lalu di-PHK tanpa peringatan. Mereka memilih jalan yang berbeda.
Generasi yang belajar, bukan generasi yang malas
Kalau Gen Z benar-benar kurang ambisi, mereka tidak akan mengembangkan skill setiap minggu. Tapi data Deloitte membuktikan sebaliknya. 70% Gen Z mengembangkan skill setiap minggu, dibandingkan 59% milenial. 67% belajar di luar jam kerja. 86% menilai mentorship berperan dalam perkembangan karier mereka.
Tapi ada gap antara harapan dan realitas. 72% Gen Z berharap dukungan pengembangan dari atasan, tapi hanya 52% yang merasakannya. Gen Z ambisius dalam bentuk pembelajaran dan pengembangan diri. Mereka hanya tidak tertarik menukar hidup mereka dengan titel manajerial yang tidak memberikan kewenangan nyata.
Saya punya kenalan yang bekerja di agensi pemasaran Jakarta. Dia ditawari promosi jadi Head of Marketing setelah tiga tahun. Gaji naik Rp1,5 juta, tapi jam kerja berubah dari 8 jam jadi 11 jam, akhir pekan jadi rutinitas, dan dia harus menerima keluhan klien langsung di WhatsApp pribadi. Dia menolak. Bukan karena tidak mau memimpin. Tapi karena Rp1,5 juta tidak sebanding dengan 15 jam tambahan kerja per minggu dan hilangnya seluruh akhir pekan.
96% Gen Z terbuka pindah kerja bukan karena tidak loyal. Mereka pindah karena sistem tidak memberi alasan untuk setia. Menolak promosi menggunakan logika yang sama: sistem tidak memberi alasan untuk naik.
Bukan ambisi yang mati, sistem yang tidak menarik
Media salah baca. Gen Z bukan kurang ambisi. Mereka menolak sistem yang menukar hidup dengan titel. Manajer tingkat menengah menjadi "pejuang korporat" dengan beban berlebih dan kewenangan terbatas, tapi kompensasi yang tidak sepadan. Perusahaan respond dengan pelatihan (62%) bukan kenaikan gaji (38%).
Gen Z melihat semua ini dan mengambil keputusan yang rasional. Kenapa harus ambil tanggung jawab manajerial kalau gaji tidak naik cukup dan kewenangan tidak bertambah, sementara waktu pribadi hilang? Kenapa harus jadi manajer kalau yang mereka lihat di atas mereka adalah orang stres yang bekerja 60 jam per minggu tanpa kehidupan di luar kantor?
Gen Z tidak menolak memimpin. Mereka menolak membayar mahal untuk harga murah. Selama jabatan berarti 60 jam kerja dan kewenangan yang terbatas, 6% akan tetap menjadi 6%. Bukan karena generasi ini malas. Tapi karena generasi ini bisa menghitung. Kalau kamu ditawari naik tapi harus bayar lebih mahal dari yang kamu dapat, kamu juga akan menolak.
FAQ
Apakah Gen Z benar-benar tidak mau jadi bos?
Tidak tepat. Data Robert Walters Indonesia 2026 menunjukkan 75% Gen Z masih memandang posisi manajer sebagai tahapan karier yang penting. Yang terjadi bukan menolak kepemimpinan, tapi menunda atau menolak promosi karena kompensasi yang tidak sebanding dengan tanggung jawab. 64% Gen Z yang ragu menerima promosi menyebut kenaikan gaji sebagai faktor utama yang bisa mengubah keputusan mereka.
Apa itu conscious unbossing?
Conscious unbossing adalah fenomena profesional muda yang menolak atau menghindari posisi manajerial meski punya peluang untuk mendudukinya. Di Indonesia, masalah utamanya bukan perbedaan karakter antargenerasi, tapi ketidaksesuaian antara tanggung jawab manajerial dengan kompensasi dan kualitas hidup yang diperoleh.
Kenapa Gen Z menolak promosi padahal gaji naik?
Karena kenaikan gaji sering kali tidak sebanding dengan tambahan tanggung jawab dan jam kerja. Gen Z menghitung secara pragmatis: kalau gaji naik Rp1-2 juta tapi jam kerja naik 15-20 jam per minggu, tarif per jam mereka justru turun. Selain gaji, 38% Gen Z juga menginginkan kewenangan pengambilan keputusan yang lebih jelas, bukan sekadar titel tanpa otoritas.
Apakah ini terjadi di Indonesia atau cuma global?
Terjadi di Indonesia dengan karakteristik yang lebih tajam. 68% perusahaan di Indonesia sudah merasakan kesulitan mengisi posisi manajer tingkat menengah. Di Indonesia, masalah utamanya lebih berkaitan dengan kompensasi dan desain pekerjaan, juga beban kerja, dibanding sekadar perbedaan karakter antargenerasi. 34% Gen Z Indonesia menempatkan stabilitas finansial sebagai prioritas utama dalam karier.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Freelance Bukan Kebebasan, Itu Jebakan Tanpa Jaring Pengaman
84% Gen Z Indonesia condong ke freelance. Tapi 75% pekerja platform penghasilannya di bawah Rp3 juta. Freelance bukan kebebasan, jebakan tanpa jaminan sosial.
Baca selengkapnya
Gig Economy Bukan Pilihan, Jebakan Produktivitas Rendah
2,41 juta pekerja digital, 75% di bawah Rp3 juta per bulan. Gen Z bukan pilih gig economy, sektor formal yang tidak mau serap.
Baca selengkapnya
96% Terbuka Pindah: Bukan Loyalitas yang Mati, Sistem yang Tidak Memberi Alasan Setia
47% Gen Z berencana resign dalam setahun. Bukan loyalitas yang mati, tapi sistem kerja yang tidak memberi alasan untuk tetap setia.
Baca selengkapnya