Lewati ke konten utama
FOMO: Perasaan Tidak Cukup Bukan Bug, Tapi Core Business Model
Mindset6 menit baca

FOMO: Perasaan Tidak Cukup Bukan Bug, Tapi Core Business Model

FOMO dan perasaan tidak cukup BUKAN bug, tapi core business model. Algoritma sengaja menampilkan highlight reel karena rasa inadequate = lebih lama di app.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Sebelumnya di Mental Health di Era Digital: Algoritma media sosial dirancang seperti mesin slot kasino, menggunakan variable reward schedule. Kamu tidak kecanduan karena lemah, tapi karena sistem dirancang. Baca Part 5.

Hook

Kamu pikir FOMO adalah masalah psikologismu. Tapi bagaimana kalau FOMO adalah business model? Bagaimana kalau perasaan tidak cukup itu sengaja dirancang karena itu yang membuat kamu stay?

Konteks

FOMO, atau Fear of Missing Out, didefinisikan oleh Alt pada 2020 sebagai kecemasan ketika merasa kehilangan pengalaman atau kesempatan yang dinikmati orang lain. Ini bukan kecemasan yang kamu pilih. Ini kecemasan yang dihasilkan oleh lingkungan.

Data dari Pew Research Center pada 2022 menunjukkan 95% remaja Gen Z di Amerika menggunakan media sosial setiap hari, dan hampir separuh mengakui sulit berhenti. Di Indonesia, Rachmi dan rekan pada 2024 menemukan bahwa kelompok usia 18-24 tahun adalah pengguna media sosial terbesar, dengan rata-rata lebih dari 3 jam per hari.

Zhu dan rekan pada 2023 menemukan bahwa FOMO berkorelasi dengan stres serta kecemasan dan gangguan tidur. Artinya, FOMO bukan sekadar "perasaan tidak enak." FOMO punya dampak nyata pada kesehatan mental.

Artikel FOMO: Desain Algoritma dan Perbandingan Diri di Era Media Sosial sudah membahas permukaan. Tapi di part ini, sesuatu berubah. Pertanyaan seri berubah.

Pikirkan juga: FOMO tidak hanya tentang barang atau pengalaman. FOMO juga tentang identitas. Kamu melihat orang lain yang "sudah nemu passion", "sudah punya career path", "sudah stable", dan kamu merasa ketinggalan. Algoritma menampilkan sisi terbaik ini tepat saat kamu sedang ragu dengan dirimu sendiri. Dan algoritma tahu kapan kamu ragu, karena algoritma merekam setiap interaksi mikro yang menunjukkan keraguanmu. Ini bukan kebetulan. Ini desain yang sangat presisi.

Algoritma Sisi Terbaik

Algoritma media sosial menonjolkan konten viral dan gaya hidup ideal, yang memperkuat perasaan kehilangan. Vogel pada 2021 menemukan bahwa paparan konten ideal di media sosial menurunkan kepuasan diri. JOECY pada 2025 menemukan bahwa AI dan algoritma adalah penguat utama budaya FOMO: sistem rekomendasi dan iklan tertarget bekerja sama untuk membuat kamu merasa selalu kurang.

Triwikrama pada 2025 menemukan bahwa FOMO mendorong perilaku konsumtif impulsif. Kamu lihat orang beli sesuatu, kamu merasa ketinggalan, kamu beli juga. FOMO bukan cuma bikin kamu cemas, FOMO bikin kamu belanjakan uang.

MIDPOINT REVERSAL: FOMO = Core Business Model

Di sinilah pertanyaan seri berubah total. Sampai part 5, kita bertanya: "kenapa kamu sakit?" Mulai part 6, pertanyaannya berubah: "siapa yang untung dari penderitaanmu?"

FOMO dan perasaan tidak cukup BUKAN bug. Ini core business model. Algoritma sengaja menampilkan sisi terbaik orang lain karena rasa inadequate membuat kamu stay lebih lama di app. Semakin lama kamu stay, semakin banyak ad revenue. Perasaan tidak cukup adalah fitur, bukan bug.

Pikirkan: kalau media sosial membuat kamu merasa cukup, kamu akan berhenti scroll. Kalau kamu berhenti scroll, platform tidak dapat uang. Jadi platform harus membuat kamu merasa tidak cukup, karena perasaan tidak cukup yang membuat kamu terus cari "lebih."

FOMO (Fear of Missing Out) dalam konteks media sosial bukan sekadar respons psikologis individu, melainkan bagian dari core business model platform. Algoritma sengaja menampilkan sisi terbaik dan gaya hidup ideal karena perasaan inadequate membuat pengguna stay lebih lama di aplikasi, yang berarti lebih banyak ad revenue. FOMO berkorelasi dengan stres, kecemasan, dan gangguan tidur, namun justru kondisi inilah yang menguntungkan platform secara finansial.

Ekonomi Ketakutan

Ini adalah reversal total. Selama ini kamu pikir FOMO adalah masalahmu. Kamu pikir kamu perlu "mindset lebih positif" atau "kurangi compare diri." Tapi sebenarnya, FOMO adalah desain. Sistem yang membuat kamu merasa tidak cukup adalah sistem yang menguntungkan dari perasaan tidak cukup itu sendiri.

Ekonomi Perasaan Tidak Cukup

Vogel pada 2021 menemukan bahwa paparan konten ideal di media sosial menurunkan kepuasan diri. Ini bukan opini, ini temuan penelitian. Setiap kali kamu melihat konten ideal, kepuasan dirimu turun. Dan algoritma menampilkan konten ideal terus-menerus, karena konten ideal menghasilkan engagement tertinggi.

JOECY pada 2025 menemukan bahwa AI dan algoritma adalah penguat utama budaya FOMO: sistem rekomendasi dan iklan tertarget bekerja sama untuk membuat kamu merasa selalu kurang. Iklan yang muncul di feed kamu tidak acak. Iklan yang muncul adalah iklan yang algoritma tahu akan membuat kamu merasa butuh, berdasarkan data perilakumu.

Triwikrama pada 2025 menemukan bahwa FOMO mendorong perilaku konsumtif impulsif. Kamu lihat orang beli sesuatu, kamu merasa ketinggalan, kamu beli juga. FOMO bukan cuma bikin kamu cemas, FOMO bikin kamu belanjakan uang. Dan uang yang kamu belanjakan mengalir kembali ke sistem yang membuat kamu merasa tidak cukup di tempat pertama. Siklus ini sempurna: sistem membuat kamu merasa tidak cukup, kamu belanja untuk mengatasi perasaan tidak cukup, sistem dapat uang, sistem membuat kamu merasa tidak cukup lagi.

Data dari Pew Research Center pada 2022 menunjukkan 95% remaja Gen Z di Amerika menggunakan media sosial setiap hari, dan hampir separuh mengakui sulit berhenti. Di Indonesia, Rachmi dan rekan pada 2024 menemukan bahwa kelompok usia 18-24 tahun adalah pengguna media sosial terbesar, dengan rata-rata lebih dari 3 jam per hari. 3 jam per hari terpapar konten yang membuat kamu merasa tidak cukup. Dan ini bukan bug, tapi fitur.

Zhu dan rekan pada 2023 menemukan bahwa FOMO berkorelasi dengan stres, kecemasan, dan gangguan tidur. FOMO bukan sekadar perasaan tidak enak. FOMO punya dampak nyata pada kesehatan mental. Dan FOMO adalah fitur, bukan bug, dari sistem yang menguntungkan dari perasaan tidak cukup.

Insight

Gue sadar hal ini ketika gue cek berapa lama gue habiskan waktu di Instagram setelah melihat story teman yang lagi liburan. Gue tidak butuh liburan. Tapi algoritma membuat gue merasa butuh. Dan setelah gue merasa butuh, gue scroll lebih lama, mencari liburan "alternatif" yang "terjangkau." Algoritma menang dua kali: sekali dari FOMO yang gue rasakan, sekali dari waktu yang gue habiskan di app.

FOMO dan perasaan tidak cukup bukan bug, tapi fitur. Algoritma sengaja menampilkan sisi terbaik karena rasa inadequate = lebih lama di app. Dan pertanyaan seri berubah: dari "kenapa kamu sakit?" menjadi "siapa yang untung dari penderitaanmu?"

Conclusion

Jadi kalau perasaan tidak cukup itu fitur, bukan bug, pertanyaannya bukan "kenapa aku merasa tidak cukup?" Pertanyaannya adalah: siapa yang untung dari perasaan tidak cukupmu?


Selanjutnya di Mental Health di Era Digital: Dan saat kamu merasa tidak cukup, kamu merasa sendirian. Kamu butuh koneksi. Tapi benda yang membuatmu kesepian adalah benda yang kamu pakai untuk merasa terhubung. Dan algoritma tahu ini, algoritma makan kesepianmu untuk engagement. Lanjut ke Part 7

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga