Lewati ke konten utama
Trauma Content: Algoritma Tidak Peduli, Penderitaan adalah Engagement Tertinggi
Mindset6 menit baca

Trauma Content: Algoritma Tidak Peduli, Penderitaan adalah Engagement Tertinggi

Algoritma tidak menampilkan konten trauma karena peduli. Trauma content = engagement tertinggi. Echo chamber penderitaan sebagai pengganti koneksi asli.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Sebelumnya di Mental Health di Era Digital: FOMO dan perasaan tidak cukup bukan bug, tapi core business model. Pertanyaan seri berubah: siapa yang untung dari penderitaanmu? Baca Part 6.

Hook

Buka TikTok. Hitung berapa video tentang trauma, anxiety, atau breakdown di FYP kamu hari ini. Sekarang bandingkan dengan video tentang kesembuhan, dan angkanya tidak seimbang, dan itu bukan kebetulan.

Konteks

Self-disclosure di TikTok adalah perpaduan antara ekspresi terapeutik dan praktik performative yang beradaptasi dengan algoritma. Definisi ini berasal dari penelitian INJECT pada 2025. Artinya, berbagi trauma di TikTok bukan sekadar "curhat." Ini adalah praktik yang bentuknya ditentukan oleh algoritma.

Diefenbach dan Anders pada 2021 menemukan bahwa konten paling emosional adalah yang paling viral. Diefenbach dan Anders pada 2021 menemukan bahwa video dengan ekspresi kesedihan dibagikan 34% lebih banyak daripada konten netral. Algoritma tahu ini. Dan algoritma memperkuat ini.

Pew Research Center pada 2023 menemukan bahwa 43% Gen Z pernah membagikan pengalaman personal yang disesali, dengan 60% mengatakan dorongan utama adalah validasi sosial. Yang dicari bukan penyembuhan atau kesadaran, tapi validasi sosial.

Artikel Kesepian Dibungkus Estetik: Algoritma TikTok Makan Trauma sudah membahas permukaan masalah ini. Tapi di sini kita melihat dari sisi sistem.

Yang juga perlu diperhatikan: trauma content dikonsmsi sekaligus diproduksi. Gen Z tidak hanya menonton video tentang trauma, mereka juga membuatnya. Dan ketika membuat konten tentang trauma menghasilkan engagement, ada insentif untuk memproduksi lebih banyak penderitaan. Bukan penderitaan yang asli, tapi penderitaan yang diproduksi untuk kamera. Performative grief, yang ditemukan Jurnal Komunikasi BSI pada 2025, adalah ekspresi kesedihan yang dikonstruksi secara visual dan naratif untuk engagement. Kesedihan yang diproduksi, bukan kesedihan yang dibagi.

Ruang Gema Penderitaan

Jurnal Pendidikan dan Ilmu Islam pada 2025 menemukan bahwa algoritma TikTok menciptakan echo chamber melalui pengulangan konten, yang menghasilkan kecemasan, stres, serta FOMO dan kesepian. Feed kamu dibanjiri konten yang sama terus-menerus. Setelah kamu menonton satu video tentang trauma, algoritma menampilkan video serupa lagi dan lagi.

Jurnal Komunikasi BSI pada 2025 menemukan fenomena "performative grief": ekspresi kesedihan yang dikonstruksi secara visual, naratif, dan musikal untuk engagement. Bukan kesedihan yang dibagi, tapi kesedihan yang diproduksi.

Komodifikasi Rasa Sakit

Kompasiana pada 2025 menulis tentang komodifikasi emosi: penderitaan menjadi mata uang sosial. Semakin tragic ceritamu, semakin banyak engagement. Semakin banyak engagement, semakin algoritma menampilkan kontenmu. Semakin algoritma menampilkan kontenmu, semakin kamu didorong untuk memproduksi penderitaan lebih banyak.

JPPKn pada 2025 menemukan bahwa konten dengan sentimen positif di TikTok menghasilkan engagement yang banyak lebih tinggi (Pillai's Trace = 0.373, p < 0.001). Tapi tunggu: konten sentimen tinggi, bukan konten positif. Konten tentang penderitaan punya sentimen tinggi (negatif), dan inilah yang menghasilkan engagement tertinggi.

Trauma content di TikTok adalah fenomena di mana penderitaan personal dikonsumsi dan diproduksi untuk engagement algoritma. Diefenbach dan Anders pada 2021 menemukan bahwa konten paling emosional adalah yang paling viral, dengan video ekspresi kesedihan dibagikan 34% lebih banyak. Algoritma menciptakan echo chamber penderitaan melalui pengulangan konten yang sama. Pew Research Center pada 2023 menemukan bahwa 43% Gen Z membagikan pengalaman personal dengan dorongan utama validasi sosial. Penderitaan menjadi mata uang sosial yang dikomodifikasi untuk engagement.

Simulasi Koneksi Manusia

Inilah ironi terbesar: kamu mengkonsumsi penderitaan orang lain sebagai pengganti koneksi asli. Kamu menonton video tentang trauma orang lain dan merasa "tidak sendirian." Tapi itu bukan koneksi. Itu konsumsi. Algoritma tidak peduli, algoritma butuh engagement, dan penderitaan adalah engagement tertinggi. Jadi algoritma memberi kamu lebih banyak penderitaan, dan kamu mengkonsumsinya, dan algoritma memberi lebih banyak lagi. Lingkaran ini tidak pernah berakhir, karena algoritma tidak dirancang untuk berakhir.

Ini sama dengan pola yang dibahas dalam Curhat ke AI: Ketika Mesin Jadi Ruang Aman Gen Z. Kamu mencari koneksi di tempat yang tidak bisa memberikan koneksi asli.

Lingkaran Penderitaan yang Menguntungkan

Inilah ironi terbesar dari trauma content: kamu mengkonsumsi penderitaan orang lain sebagai pengganti koneksi asli. Kamu menonton video tentang trauma orang lain dan merasa "tidak sendirian." Tapi itu bukan koneksi. Itu konsumsi. Koneksi butuh interaksi timbal balik, butuh kehadiran, butuh kerentanan bersama. Konsumsi hanya butuh kamu duduk dan scroll.

Algoritma tidak peduli dengan perbedaan ini, algoritma butuh engagement, dan penderitaan adalah engagement tertinggi. Jadi algoritma memberi kamu lebih banyak penderitaan, dan kamu mengkonsumsinya, dan algoritma memberi lebih banyak lagi. Lingkaran ini tidak pernah berakhir, karena algoritma tidak dirancang untuk berakhir. Algoritma dirancang untuk membuat kamu stay.

Penelitian oleh Diefenbach dan Anders pada 2021 menemukan bahwa konten paling emosional adalah yang paling viral. Diefenbach dan Anders pada 2021 menemukan bahwa video dengan ekspresi kesedihan dibagikan 34% lebih banyak daripada konten netral. Ini berarti algoritma secara sistematis memprioritaskan penderitaan di atas konten lain. Bukan karena algoritma "jahat", tapi karena algoritma dioptimasi untuk engagement, dan penderitaan menghasilkan engagement tertinggi.

Pew Research Center pada 2023 menemukan bahwa 43% Gen Z pernah membagikan pengalaman personal yang disesali, dengan 60% mengatakan dorongan utama adalah validasi sosial. Yang dicari bukan penyembuhan atau kesadaran, melainkan validasi sosial. Gen Z membagikan penderitaan bukan untuk sembuh, tapi untuk divalidasi. Dan algoritma memberikan validasi ini dalam bentuk likes dan views, yang tidak pernah cukup, yang membuat kamu terus membagikan lebih banyak penderitaan.

Jurnal Pendidikan dan Ilmu Islam pada 2025 menemukan bahwa algoritma TikTok menciptakan echo chamber melalui pengulangan konten, yang menghasilkan kecemasan, stres, FOMO, dan kesepian. Feed kamu dibanjiri konten yang sama terus-menerus. Echo chamber ini tidak bisa dipecahkan dari dalam, karena semua yang kamu lihat mengkonfirmasi penderitaanmu.

Insight

Gue pernah scroll TikTok dan sadar FYP gue penuh dengan video orang curhat tentang trauma. Bukan satu atau dua, tapi puluhan. Dan setiap video membuat gue merasa lebih "dimengerti." Tapi setelah satu jam scroll, gue tidak merasa lebih baik. Gue merasa lebih berat, karena gue tidak terhubung dengan orang, gue mengkonsumsi penderitaan mereka.

Algoritma tidak menampilkan konten trauma karena peduli. Trauma content adalah engagement tertinggi. Feed dibanjiri konten yang sama, echo chamber penderitaan. Dan kamu mengkonsumsi penderitaan orang lain sebagai pengganti koneksi asli yang sebenarnya kamu butuhkan.

Conclusion

Kita pikir berbagi trauma adalah keberanian. Padahal algoritma menghitung penderitaanmu sebagai metrik engagement. Bukan keberanian yang diviral, tapi rasa sakit yang menguntungkan.


Selanjutnya di Mental Health di Era Digital: Perhatianmu sedang dipanen. Tapi untuk apa? Dan apa yang terjadi pada otakmu saat perhatianmu terus-menerus terfragmentasi? Sesuatu yang tidak bisa kamu undur. Sesuatu yang mengubah cara otakmu bekerja permanen. Lanjut ke Part 8

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga