
Pajak Gen Z Bukan PPh 21, PPN 11% yang Makan Gaji Mereka
“Gaji Gen Z di bawah Rp5,4 juta, PPh 21 mereka 0%. Tapi PPN 11% dipungut dari setiap pembelian. Pajak konsumsi regresif, dipotong dari gaji yang tipis.”
Gen Z dibilang bayar pajak setiap bulan. Datanya bilang sebaliknya. PPh 21 untuk gaji di bawah Rp5,4 juta adalah 0% sesuai PMK 168/2023. UMP 2026 Jawa Barat Rp2,3 juta, Jawa Tengah Rp2,3 juta, Jawa Timur Rp2,4 juta. Gen Z tidak bayar PPh 21. Tapi ada pajak lain yang lebih mahal, lebih invisible, dan lebih regresif: PPN 11%. Kamu bayar setiap hari tanpa sadar.
Dua Jenis Pajak, Satu yang Tidak Kelihatan
Pajak penghasilan (PPh) bersifat progresif. Makin besar gaji, makin besar tarif. Berdasarkan PMK 168/2023, Tarif Efektif Rata-rata (TER) Kategori A untuk wajib pajak lajang tanpa tanggungan menetapkan tarif 0% untuk penghasilan bruto bulanan sampai Rp5,4 juta. Artinya, mayoritas pekerja Gen Z yang gajinya di kisaran UMP tidak terkena PPh 21 sama sekali.
Pajak pertambahan nilai (PPN) bersifat flat. 11% untuk semua orang, miskin atau kaya. Studi di Jurnal BEST 2026 menemukan PPN 11% bersifat regresif: kelompok berpenghasilan rendah menanggung proporsi beban PPN lebih besar dibanding kelas menengah atas. Jurnal Transportation Research 2026 (RePEc) mengkonfirmasi pola inverted U-shaped, lower-income groups bear higher proportion of VAT burden.
Selain PPh dan PPN, ada BPJS. BPJS Kesehatan memotong 1% dari gaji pekerja, BPJS Ketenagakerjaan atau JHT memotong 2%. Total potongan wajib 3% dari gaji. Untuk gaji Rp2,4 juta, itu Rp72.000 per bulan. Lebih besar dari PPh 21 yang Rp0.
PPh 21 Gen Z = 0%, Tapi Mereka Tidak Tahu
Data UMP 2026 dari Kemnaker yang dilansir Suara.com menunjukkan mayoritas provinsi menetapkan upah di bawah Rp5,4 juta. Hanya DKI Jakarta (Rp5.729.876) yang di atas threshold TER A. Jawa Barat Rp2.317.601, Jawa Tengah Rp2.327.386, Jawa Timur Rp2.446.880. Gen Z fresh graduate yang gajinya mengikuti UMP tidak bayar PPh 21. Tarif efektif 0% per bulan, Rp0 per tahun.
Tapi survei DJP 2024 yang dilansir Kumparan 2026 menemukan 42,27% Gen Z tidak paham prosedur perpajakan. Mereka pikir "dipotong pajak" berarti PPh 21, padahal yang memotong gaji mereka adalah BPJS dan PPN yang embedded di harga barang. Gen Z tidak tahu bahwa PPh 21 mereka Rp0. Mereka juga tidak tahu bahwa pajak yang betul mereka bayar justru lebih besar dari PPh 21, tapi tidak terlihat di slip gaji.
Saya pernah nanya ke teman yang baru mulai kerja, "Tahu berapa PPh 21 kamu?" Dia jawab, "Tidak tahu, yang penting gaji masuk." Coba lihat slip gajinya. Potongan PPh 21: Rp0. Potongan BPJS: Rp72.000. Dia pikir Rp72.000 itu "pajak negara." Padahal itu BPJS, bukan pajak. Pajak yang betul dia bayar, PPN 11%, tidak ada di slip. Ada di struk kasir, di harga ojol, di tagihan pulsa. Invisible.
PPN 11%, Pajak Invisible yang Regresif
PPN 11% dipungut dari setiap pembelian barang dan jasa kena pajak. Gen Z yang naik ojol ke kantor membayar PPN dari tarif ojol. Gen Z yang beli makan di restoran membayar PPN. Gen Z yang isi pulsa membayar PPN. Setiap transaksi, 11% masuk ke kas negara.
Studi Jurnal BEST 2026 menganalisis dampak PPN 11% pada bahan pokok dan menemukan kelompok menengah ke bawah terdampak paling besar. Meskipun bahan pokok seperti beras dan gula diberikan fasilitas PPN dibebaskan, biaya PPN masukan tetap dimasukkan ke harga jual oleh produsen. Akibatnya, harga naik secara bertahap dan menggerus daya beli kelompok rentan. Jurnal Transportation Research 2026 (RePEc) menggunakan data Susenas 2020 dan model Seemingly Unrelated Regression untuk mengestimasi elastisitas pengeluaran rumah tangga. Hasilnya mengkonfirmasi: lower-income groups bear relatively higher proportion of the VAT burden. Pola inverted U-shaped mengkonfirmasi sifat regresif PPN di Indonesia.
Hitung konkret. Gen Z gaji Rp2,4 juta, asumsi Rp1,5 juta per bulan untuk konsumsi barang dan jasa kena pajak (makan, transportasi, pulsa, kebutuhan harian). PPN 11% dari Rp1,5 juta sama dengan Rp165.000 per bulan. Setahun, Rp1,98 juta. Bandingkan dengan PPh 21 yang Rp0. PPN mengambil hampir Rp2 juta per tahun dari gaji Gen Z, tapi tidak ada di slip gaji.
Pajak dan Potongan Gen Z per Tahun
PPh 21 = Rp0, PPN dan BPJS yang betul motong gaji
Sumber: PMK 168/2023, Jurnal BEST 2026, perhitungan penulis
BPJS: Potongan Wajib yang Bukan Pajak Tapi Rasanya Pajak
BPJS Kesehatan memotong 1% dari gaji pekerja. BPJS Ketenagakerjaan atau JHT memotong 2%. Total 3% per bulan. Untuk gaji Rp2,4 juta, potongan BPJS Rp72.000 per bulan, Rp864.000 per tahun. Itu lebih besar dari PPh 21 yang Rp0. Tapi apa yang Gen Z dapat dari BPJS? Kelas 3 BPJS Kesehatan dihapus. Gen Z yang pilih sakit sendiri karena gaji tidak cukup untuk kelas 1 atau 2. JHT? Nabung 40 tahun untuk uang yang belum pasti bisa diambil. Potongan wajib tanpa layanan yang dirasakan.
BPJS bukan pajak, tapi secara fungsi, mirip. Negara memotong gaji untuk program jaminan sosial. Kalau layanan jaminan sosial tidak dirasakan, apa bedanya dengan pajak tanpa representasi? Kontan Januari 2026 melaporkan kebijakan blokir layanan publik untuk penunggak pajak hanya berdampak pada kelas menengah bawah. Yang kaya tidak terdampak, yang miskin kena sanksi.
Tax Ratio 11,8%: Pajak Sedikit, Layanan Tipis
OECD dalam laporan Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026 mencatat tax ratio Indonesia 11,8% pada 2024. Menurut OECD, itu terendah ketiga di Asia Pasifik, hanya di atas Bangladesh (6,7%) dan Timor-Leste (10%). Rerata kawasan 19,7%, hampir dua kali lipat Indonesia. OECD sendiri 34,1%, tiga kali lipat.
Tax ratio rendah artinya pemerintah mengumpulkan pajak sedikit. Konsekuensinya, layanan publik juga minim. APBN 2026 mengalokasikan pendidikan Rp757,8 triliun (20% belanja negara) dan kesehatan Rp244 triliun (6,4%) menurut Kemenkeu DJPB Desember 2025. Angka pendidikan terbesar sepanjang sejarah, kata Presiden Prabowo. Tapi 47% Gen Z hidup gaji ke gaji. Apakah mereka merasakan Rp757,8 triliun itu? Sekolah swasta tetap mahal, kuliah tetap berbayar. Kesehatan Rp244 triliun, tapi Gen Z tetap pilih berobat sendiri karena BPJS kelas 3 dihapus. Anggaran besar di kertas, tipis di realitas.
Target PPh 21 Turun, PPN Tetap Dipungut
Pemerintah memangkas target PPh 21 sebesar 19,88% pada 2026, dari Rp313,51 triliun menjadi Rp251,19 triliun menurut CNBC Indonesia Januari 2026. Penurunan ini dipengaruhi oleh PHK massal 2025 serta insentif PPh 21 Ditanggung Pemerintah untuk sektor pariwisata dan manufaktur (gaji s.d. Rp10 juta dibebaskan).
Tapi PPN tidak ada insentif. PPN 11% tetap dipungut dari semua orang, untuk semua transaksi kena pajak. Pemerintah pangkas target PPh 21, tapi tidak pangkas PPN. Gen Z yang gajinya di bawah Rp5,4 juta bebas PPh 21, tapi tetap bayar PPN 11% untuk setiap pembelian. Pajak penghasilan dipangkas, pajak konsumsi tetap jalan.
Menurut CNBC Indonesia yang sama, PPh Badan justru dinaikkan targetnya 17,43% menjadi Rp434,42 triliun. Pemerintah menggeser beban pajak dari karyawan ke korporasi. Tapi korporasi juga akan meneruskan beban ke konsumen lewat harga. Gen Z tetap yang bayar. Lewat PPN, lewat harga barang yang naik, lewat BPJS yang potong gaji.
Pajak Konsumsi Tanpa Representasi
Gen Z tidak merasa "dipotong pajak" karena PPh 21 mereka 0%. Tapi setiap kali beli makan, naik ojol, isi pulsa, bayar listrik, mereka membayar PPN 11%. PPN adalah pajak paling tidak adil untuk kelas bawah. Proporsi gaji yang habis untuk PPN makin besar makin miskin seseorang. Studi Jurnal BEST 2026 dan JTR 2026 mengkonfirmasi sifat regresif ini. Tax ratio Indonesia 11,8% berarti pemerintah mengumpulkan pajak sedikit, dan memberikan layanan sedikit. Gen Z bayar PPN untuk ojol, untuk makan, untuk pulsa. Tapi transportasi publik tidak ada, BPJS kurang, kesehatan mahal. "No taxation without representation" adalah prinsip demokrasi modern. Gen Z bayar PPN, tapi tidak punya suara di APBN.
Berapa persen gajimu yang benar-benar milikmu? Kalau PPh 21 = 0%, BPJS = 3%, PPN = sekitar 7% dari gaji (asumsi 60% gaji untuk konsumsi taxable), total potongan tidak resmi sekitar 10% dari gaji. Dari gaji Rp2,4 juta, Rp240.000 per bulan hilang ke pajak dan potongan wajib. Setahun, Rp2,88 juta. Hampir setara satu bulan gaji.
Pajak yang Tidak Ada di Slip Gaji
Gen Z tidak bayar PPh 21. Tapi mereka bayar PPN 11% untuk setiap ojol, setiap makan, setiap pulsa. Pajak yang tidak ada di slip gaji, tapi ada di setiap struk kasir. Pajak yang dipungut dari gaji yang sudah tipis, untuk layanan publik yang tidak mereka rasakan. Bukan Gen Z yang tidak bayar pajak. Pajaknya saja yang tidak kelihatan.
FAQ
Berapa PPh 21 untuk gaji Gen Z di bawah Rp5,4 juta? 0%. Sesuai TER Kategori A dalam PMK 168/2023, penghasilan bruto bulanan sampai Rp5,4 juta tidak dikenai PPh 21.
Apakah PPN 11% berlaku untuk semua barang? Tidak semua. Bahan pokok seperti beras, gula, minyak goreng diberikan fasilitas PPN dibebaskan. Tapi secara praktis, biaya PPN masukan tetap dimasukkan ke harga jual oleh produsen, sehingga harga tetap terdampak.
Berapa total potongan wajib dari gaji Gen Z selain PPh 21? BPJS Kesehatan 1% + BPJS Ketenagakerjaan (JHT) 2% = 3% dari gaji. Untuk gaji Rp2,4 juta, total Rp72.000 per bulan.
Kenapa tax ratio Indonesia rendah? Tax ratio Indonesia 11,8% pada 2024 (OECD), terendah ke-3 Asia Pasifik. Penyebab utama: basis wajib pajak kecil, kepatuhan rendah, dan penerimaan pajak didominasi PPh Badan bukan PPh orang pribadi.
Apakah Gen Z wajib lapor SPT pajak? Ya, jika penghasilan setahun di atas PTKP (Rp54 juta untuk TK/0). Tapi jika PPh 21 sudah dipotong employer dan penghasilan di bawah PTKP, kewajiban pelaporan minimal.
Newsletter
Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMSumber & Metodologi
Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.
- 1.
- 2.
- 3.
- 4.
- 5.
- 6.
- 7.
- 8.
- 9.
- 10.
Bunga Tabungan 0.5%, Bunga Pinjaman 24%: Bank Makan Kamu
Bunga tabungan 0.5%, inflasi 2.88%, kartu kredit 24%. Bank pinjamkan balik uangmu di 24%. Selisihnya bikin bank untung Rp78 triliun dalam 5 bulan.