Lewati ke konten utama
Gen Z Naik Ojol ke Kantor: Bukan Manja, Transportasi Publik yang Tidak Ada
Uang•8 MENIT BACA

Gen Z Naik Ojol ke Kantor: Bukan Manja, Transportasi Publik yang Tidak Ada

“Gaji Gen Z Rp2,4 juta, biaya ojol Rp396.000-Rp1,2 juta/bulan. 17-50% gaji habis untuk transportasi. Bukan manja, transportasi publik yang tidak ada.”

Diterbitkan

Gen Z dibilang manja karena naik ojol kemana-mana. Tapi coba hitung. Gaji Rp2,4 juta menurut BPS Sakernas Februari 2026. Tarif ojol minimum Rp9.000 per trip menurut Gojek per Juli 2026. Dua trip sehari, 22 hari kerja, itu Rp396.000 per bulan. Kalau surge pricing, bisa Rp1.188.000. Itu 17-50% gaji Gen Z habis untuk transportasi. Bukan manja. Tidak ada alternatif yang layak.

Dibilang Manja, Padahal Tidak Ada Pilihan

Narasi lama bilang Gen Z manja: "Dulu orang naik bus, naik angkot, sekarang naik ojol terus." Survei Litbang Kompas Maret 2026 menemukan 7 dari 10 responden pakai ojol. Alasannya: mempercepat perjalanan, fleksibilitas, aksesibilitas, bukan kemewahan tapi kebutuhan.

Realitas transportasi publik Indonesia terbatas. Pemprov DKI Jakarta mencatat 4,9 juta perjalanan transportasi publik per hari pada 2026, moda share cuma 23,63%. Sisanya ojol, mobil pribadi, jalan kaki. Jakarta yang punya Transjakarta, KRL, MRT, LRT saja cuma 23,63%. Bayangkan kota tanpa semua itu.

Di luar Jakarta, Transjakarta, KRL, MRT tidak ada. Angkot ada, tapi rute tidak teratur, jam operasi terbatas, tidak aman malam hari. Gen Z di Bandung, Surabaya, Medan, Makassar? Ojol bukan pilihan, tapi satu-satunya pilihan.

Matematika Ojol vs Gaji Gen Z

BPS Sakernas Februari 2026 mencatat rata-rata gaji bersih Gen Z usia 20-24 tahun di angka Rp2,4 juta per bulan. Gojek per Juli 2026 menetapkan tarif ojek online GoRide Hemat minimum Rp9.000 dan GoRide Reguler minimum Rp13.500 per trip untuk Jabodetabek. Grab menetapkan tarif serupa.

Hitung biaya ojol per bulan untuk pekerja. Dua trip per hari, 22 hari kerja. Total 44 trip per bulan. GoRide Hemat: 44 kali Rp9.000 sama dengan Rp396.000. Itu 17% gaji. GoRide Reguler: 44 kali Rp13.500 sama dengan Rp594.000. Itu 25% gaji. Surge pricing 1,5-2 kali normal, Rp600.000 hingga Rp1.188.000, itu 25-50% gaji.

Biaya Transportasi per Bulan vs Gaji Gen Z

Ojol makan 17-50% gaji, transportasi publik cuma 6%

Sumber: BPS Sakernas Feb 2026 & Gojek Jul 2026

Sekarang hitung sisa gaji. Kos termurah di Jakarta Rp500.000 hingga Rp800.000 berdasarkan data Rukita dan sewa-kos.com 2025. Asumsi kos Rp500.000. Makan Rp50.000 per hari, 30 hari, Rp1.500.000. Gaji Rp2.400.000 dikurangi kos Rp500.000 dikurangi makan Rp1.500.000 sama dengan Rp400.000. Ojol Hemat Rp396.000. Sisa Rp4.000. Untuk pulsa, sabun, pasta gigi, segala kebutuhan pribadi. Nol sisa.

Gen Z yang hidup gaji ke gaji tanpa sisa tidak punya ruang untuk biaya transportasi Rp396.000. Apalagi Rp594.000. Apalagi Rp1.188.000 saat hujan dan surge pricing. Gaji yang tidak mau tumbuh sementara biaya transportasi terus naik setiap kali BBM naik.

Transportasi Publik Ada, Tapi untuk Siapa?

Transjakarta melayani 1,4 juta perjalanan per hari pada 2025 dengan 233 rute dan 5.227 armada. Tarif Rp3.500, murah, 44 trip per bulan sama dengan Rp154.000, hanya 6% gaji Gen Z, hemat Rp242.000 dibanding ojol Hemat. Tapi Transjakarta hanya covers Jakarta. Dari 233 rute, cuma 16 rute Transjabodetabek yang menjangkau kota penyangga. Bekasi, Depok, Tangerang, Bogor? Sebagian besar area tidak terjangkau halte. Saya punya teman di Depok yang halte Transjakarta terdekat 2 km dari kosnya. Jalan kaki 25 menit. Kalau hujan, ojol. Kalau pulang jam 10 malam, Mikrotrans sudah tidak beroperasi. Ojol. Dia pernah coba kombinasikan KRL dan Transjakarta. Naik KRL dari Depok ke Sudirman, lalu Transjakarta ke kantor di Kuningan. Total commute 1,5 jam satu arah, sementara ojol cuma 35 menit. Beda 55 menit per hari, 110 menit pulang pergi. Waktu itu uang, tapi uang itu juga waktu.

KRL Commuter Line melayani 1,05 juta perjalanan per hari kerja pada Semester I 2026 menurut KAI. 85 stasiun. Tarif Rp3.000 hingga Rp14.000 per trip. Tapi KAI sendiri bilang "kapasitas jadi tantangan." Jam sibuk pagi dan sore, KRL penuh sesak. Sisa area tanpa rel kereta? Ojol.

MRT Jakarta baru 128 ribu perjalanan per hari. Satu rute. Bundaran HI ke Lebak Bulus. MRT Fase 2A baru 55,89% rampung per Desember 2025. Tidak sampai ke mayoritas area kerja.

4,9 juta perjalanan transportasi publik per hari. Itu angka Pemprov DKI Jakarta 2026. Tapi populasi pekerja Jabodetabek jauh lebih besar dari 4,9 juta. Sisanya naik apa? Ojol, mobil pribadi, motor pribadi. Atau tidak bekerja sama sekali karena tidak bisa sampai ke kantor.

Di Luar Jakarta, Ojol Bukan Pilihan, Satu-satunya Pilihan

Jakarta setidaknya punya Transjakarta, KRL, MRT. Bandung tidak ada BRT skala Transjakarta, tidak ada KRL commuter. Angkot ada, tapi jam operasi terbatas dan rute tidak teratur. Surabaya, Medan, Makassar? Sama.

Gen Z di kota tier-2 menghadapi situasi yang lebih suram. Ojol bukan kenyamanan. Ojol satu-satunya transportasi yang ada setelah jam 9 malam. Shift kerja malam, lembur, weekend? Angkot tidak beroperasi. Bus kota tidak ada atau tidak teratur. Ojol satu-satunya pilihan. Dan tarif ojol di kota tier-2 tidak selalu lebih murah dari Jakarta. Jarak tempuh lebih jauh, order lebih sedikit, surge pricing lebih sering. Gen Z di Bandung yang kerja di Gedebage dari kos di Cibeunying? Rp15.000-Rp25.000 per trip, dua trip sehari, 22 hari, Rp660.000-Rp1.100.000 per bulan. Gaji rata-rata di Bandung lebih rendah dari Jakarta.

8 jam kerja yang makan 14 jam hidupmu karena commute. Tapi commute dengan ojol bukan masalah waktu. Masalah biaya. Setiap Rp9.000 yang keluar untuk ojol adalah Rp9.000 yang tidak masuk ke tabungan. Setiap surge pricing adalah pajak tidak resmi atas ketiadaan sistem.

Perpres 27/2026: Komisi Turun, Tarif Tetap Sama

Presiden Prabowo menandatangani Perpres Nomor 27 Tahun 2026 tentang Perlindungan Pekerja Transportasi Online pada 1 Mei 2026. Komisi platform turun dari 20% ke 8% per 1 Juli 2026. Driver dapat 92% dari tarif perjalanan.

Tapi Gojek menyesuaikan tarif dasar turun juga. Tarif perjalanan GoRide Reguler turun dari Rp13.000 ke Rp11.500. Promo Rp1.500 dihapus. Total tarif pelanggan tetap Rp13.500. GoRide Hemat: tarif perjalanan naik dari Rp10.500 ke Rp11.100, promo turun dari Rp3.500 ke Rp2.100. Total tarif pelanggan naik dari Rp7.000 ke Rp9.000.

Pierre Bernardo Ballo dari The Prakarsa memperingatkan: "Beban biaya tambahan berisiko dialihkan kepada konsumen." Tepat. Driver dapat 92% dari tarif yang lebih rendah. Platform dapat 8% dari tarif yang lebih rendah. Penumpang? Tarif tetap, bahkan naik untuk layanan Hemat.

Gen Z sebagai penumpang tidak dapat penghematan dari Perpres 27/2026. Regulasi yang ditujukan untuk melindungi driver justru menambah beban penumpang. Dan penumpang Gen Z yang gajinya Rp2,4 juta tidak punya ruang untuk tambahan biaya.

Bukan Manja, Sistem yang Gagal

Gen Z tidak memilih ojol karena malas naik bus. Mereka naik ojol karena bus tidak ada. Atau bus ada tapi rutenya tidak sampai ke kantor. Atau bus ada tapi jam 10 malam sudah tidak beroperasi. Atau halte terdekat 2 km dari kos. Atau mereka tinggal di kota yang tidak punya bus sama sekali.

Negara tidak sediakan transportasi publik yang layak, lalu menyalahkan Gen Z yang "boros" naik ojol. Sama seperti menyalahkan Gen Z yang "boros" beli air mineral padahal air PAM tidak bisa diminum. Sama seperti menyalahkan Gen Z yang tidak cukup uang untuk anak padahal gajinya stagnan. Sama seperti menyalahkan Gen Z yang tidak bisa beli rumah padahal harga rumah naik 3 kali gaji.

Transportasi publik bukan charity. Investasi publik yang seharusnya membuat mobilitas tenaga kerja murah. Tanpa itu, gaji Gen Z habis untuk transportasi, bukan untuk tabungan atau masa depan. Setiap Rp396.000 yang keluar untuk ojol adalah Rp396.000 yang seharusnya bisa masuk ke tabungan. Setiap surge pricing adalah uang yang seharusnya bisa masuk ke dana darurat. Tapi tidak, karena negara tidak sediakan alternatif.

Kamu mungkin bilang, naik Transjakarta saja, Rp3.500 per trip, murah. Kita semua setuju transportasi publik murah. Tapi coba tanya Gen Z yang kos di Depok, kerja di Jakarta Selatan. Halte terdekat 2 km, jalan kaki 25 menit. Kalau hujan, kalau pulang jam 10 malam, kalau akhir pekan lembur? Transjakarta tidak operasi 24 jam, Mikrotrans tidak sampai ke semua area. Ojol satu-satunya yang ada.

Ojol Bukan Kemewahan, Pajak atas Ketiadaan Sistem

Gen Z naik ojol bukan karena manja. Mereka naik ojol karena negara tidak sediakan alternatif. 17-50% gaji habis untuk transportasi yang seharusnya murah atau gratis. Setiap kali ada yang bilang "Gen Z manja naik ojol", tanyakan: naik apa? Bus yang tidak ada, KRL yang penuh, angkot yang tidak jelas rutenya, MRT yang baru satu rute?

Ojol bukan kemewahan. Ojol pajak atas ketiadaan sistem. Pajak yang dibayar Gen Z setiap hari, dari gaji yang sudah tipis, untuk mobilitas yang seharusnya jadi hak, bukan barang mewah.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Komentar (0)

Login untuk berkomentar