
Kripto: FOMO yang Didesain Exchange
Transaksi kripto Indonesia Rp650 triliun di 2024, 22 juta pengguna. Data bongkar kenapa exchange selalu menang dari volatilitas, bukan kenaikan harga.
Sebelumnya di Sistem Finansial Indonesia: Saham Indonesia punya 20 juta investor ritel yang berfungsi sebagai exit liquidity. IHSG 2024 anjlok 2,65%. "Investasi" pun berfungsi seperti kasino. Baca: Part 3
Hook
Semua bilang kripto adalah masa depan. Tapi exchange kripto tidak untung dari harga naik. Exchange untung dari kamu trading. Semakin sering, semakin baik. Bagi mereka.
Kamu mungkin pikir: "Aku beli Bitcoin, tunggu naik, jual. Untung." Itu narasi yang dijual. Realitasnya: setiap kali kamu beli, ada fee. Setiap kali kamu jual, ada fee. Setiap kali harga naik lalu turun, kamu panik dan trading lagi. Fee lagi. Exchange tidak peduli Bitcoin di Rp500 juta atau Rp300 juta. Exchange peduli kamu transaksi. Dan kamu akan transaksi, karena volatilitas didesain untuk membuatmu panik.
Konteks
Data Bappebti yang dilansir Kompas pada Februari 2025 menunjukkan transaksi kripto Indonesia mencapai Rp650,61 triliun sepanjang 2024. Naik 335,91% dari 2023 yang hanya Rp149,25 triliun. Jumlah pelanggan mencapai 22,91 juta. Tokocrypto saja mencatat volume Rp151 triliun, atau 23,21% dari total transaksi nasional.
Pada Januari 2025, pengawasan aset kripto pindah dari Bappebti ke OJK. Per Desember 2025, OJK melaporkan transaksi kripto sepanjang 2025 mencapai Rp482,23 triliun. Turun dari 2024, tapi jumlah konsumen justru naik menjadi 19,56 juta. Lebih banyak orang, lebih sedikit uang berputar. 1.373 aset kripto diperdagangkan. 29 entitas berlisensi.
Tapi di balik angka-angka ini, ada mekanisme yang tidak diceritakan. Exchange kripto tidak berfungsi seperti bank atau bursa saham. Exchange kripto berfungsi seperti kasino yang mengambil fee dari setiap putaran rolet. Dan kamu adalah pemainnya.
Volume Transaksi vs Pengguna Aktif: Siapa yang Trading?
Bappebti mencatat 22,91 juta pelanggan kripto per November 2024. Tapi yang aktif bertransaksi melalui CPFAK dan PFAK hanya 1,3 juta pelanggan. Artinya: 94% "pelanggan" tidak aktif trading. Mereka daftar, beli sekali, hold, atau keluar.
Pada 2025, OJK melaporkan 19,56 juta konsumen kripto per November 2025. Tapi nilai transaksi turun dari Rp650,61 triliun jadi Rp482,23 triliun. Lebih banyak orang masuk, lebih sedikit uang berputar. Ini pola yang konsisten: banyak orang daftar karena FOMO, sedikit yang konsisten trading, dan yang konsisten trading adalah yang rugi paling banyak.
Transaksi Kripto Indonesia 2021-2025
Triliun Rupiah per tahun
Sumber: Bappebti, OJK (2021-2025)
Exchange Untung dari Volatilitas, Bukan Kenaikan
Fee per transaksi di exchange kripto Indonesia berkisar 0,1% sampai 0,3% (maker/taker). Spread beli-jual biasanya 0,5% sampai 2%. Kalau kamu trading 10 kali sehari dengan modal Rp1 juta, fee saja Rp10.000 sampai Rp30.000 per hari. Setahun: Rp3,6 juta sampai Rp10,9 juta. Itu fee, bukan kerugian dari harga turun.
Exchange tidak peduli Bitcoin naik atau turun. Exchange peduli kamu trading. Volatilitas tinggi = lebih banyak trading = lebih banyak fee. Stabilitas = lebih sedikit trading = lebih sedikit fee. Jadi exchange secara struktural diuntungkan oleh volatilitas. Dan kripto adalah aset paling volatile yang pernah ada.
Kompas melaporkan bahwa kenaikan transaksi 2024 didorong oleh faktor eksternal: kemenangan Trump, persetujuan ETF kripto, adopsi institusi. Faktor fundamental? Tidak. Faktor FOMO. Gen Z beli karena "semua orang bilang naik." Whale keluar karena profit. Ritel masuk terakhir.
Bappebti ke OJK: Regulasi Terlambat
Januari 2025, pengawasan kripto pindah dari Bappebti ke OJK. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut pengalihan ini untuk "memberikan kepastian hukum." Tapi 22,91 juta orang sudah masuk sebelum regulasi pindah. Itu bukan regulasi. Itu penanganan korban.
Per Desember 2025, tercatat 1.373 aset kripto yang diperdagangkan. 29 entitas berlisensi di ekosistem. Tapi tidak ada batasan margin trading yang berarti. Tidak ada proteksi investor ritel yang serius. Tidak ada disclosure wajib untuk whale yang bisa memanipulasi harga. Regulasi datang setelah ekosistem terbentuk. Dan ekosistem yang terbentuk adalah: exchange menang dari fee, whale menang dari ritel, ritel menang dari harapan.
Gen Z sebagai Exit Liquidity Whale
Tokocrypto mencatat volume Rp151 triliun di 2024, 23,21% dari total nasional. Chief Marketing Officer Tokocrypto, Wan Iqbal, menjelaskan bahwa kenaikan didorong oleh "kondisi pasar global." Trump menang, ETF disetujui, institusi masuk. Gen Z beli karena FOMO. Whale keluar karena profit.
Grup Telegram "sinyal kripto" berfungsi sama seperti grup sinyal saham. Seseorang bilang beli koin A karena "bakal moon." Ritel beli. Harga naik karena demand. Whale jual. Harga turun. Ritel stuck. Bedanya dengan saham: kripto tidak punya circuit breaker, tidak punya jam trading, tidak punya batas naik-turun harian. Volatilitas 24/7. Dan setiap volatilitas adalah kesempatan untuk exchange mengambil fee.
Gen Z beli emas, bukan tradisi, tidak percaya sistem finansial. Itu judul artikel kami tentang gen Z yang beralih ke emas karena tidak percaya sistem. Tapi yang beralih ke kripto justru karena percaya "sistem baru." Padahal sistem baru ini punya struktur yang sama dengan sistem lama: ada pihak yang menang, dan ada pihak yang jadi likuiditas. Bedanya, di kripto, pihak yang menang tidak terlihat.
Insight
Kripto bukan scam. Tapi ekosistem kripto Indonesia didesain agar exchange selalu menang, terlepas dari harga. Volatilitas adalah produk. Semakin volatile, semakin banyak trading, semakin banyak fee. Kamu adalah produknya.
Regulasi datang setelah 22 juta orang sudah masuk. 1.373 aset diperdagangkan, 29 entitas berlisensi. Tapi tidak ada proteksi riil untuk investor ritel. Tidak ada batasan margin trading. Tidak ada disclosure whale. Yang ada adalah fee yang dipotong setiap transaksi, dan volatilitas yang membuat kamu ingin transaksi lagi.
Gue kenal seseorang yang mulai trading kripto di 2024. Modal awal Rp5 juta. Tiga bulan pertama, untung Rp2 juta. Merasa jenius. Mulai trading lebih serang. Setahun kemudian, modal Rp5 juta jadi Rp1,2 juta. Bukan karena Bitcoin turun. Karena fee. 15-20 transaksi per hari, 0,3% per transaksi, 365 hari. Fee total: lebih dari kerugian harga. Exchange menang, dia kalah. Dan dia masih pikir dia "investasi."
Conclusion
Kalau exchange untung dari setiap transaksi kamu, dan 94% pelanggan tidak aktif trading, siapa yang untung dari kripto? Bukan kamu. Bukan kripto. Exchange. 22 juta pelanggan, Rp650 triliun transaksi, fee 0,1-0,3% per transaksi. Kalau kamu hitung total fee yang masuk ke exchange dari 22 juta orang itu, angkanya akan membuatmu berpikir dua kali sebelum klik "beli" berikutnya.
Kripto bukan investasi jangka panjang. Kripto adalah aset spekulatif yang exchange-nya diuntungkan oleh volatilitas. Kalau kamu mau tahu kenapa Rp9,5 triliun lenyap di penipuan online, bagian dari jawabannya ada di sini: ekosistem yang didesain untuk membuat kamu trading, bukan untuk membuat kamu untung.
Selanjutnya di Sistem Finansial Indonesia: Bank, kredit, saham, kripto. Setiap lapis mengambil. Lalu kamu cari "proteksi" di asuransi dan pensiun. Tapi apakah premi yang kamu bayar benar-benar melindungi kamu? Lanjut ke Part 5
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Dana Pensiun Gen Z: Nabung 40 Tahun untuk Uang yang Belum Pasti Ada
Replacement ratio pensiun Indonesia hanya 15-20% vs standar ILO 40%. Gen Z nabung 40 tahun, hasilnya di bawah UMP. Bukan kamu yang salah, sistemnya.
Baca selengkapnya
BPJS Kelas 3 Dihapus: Gen Z Pilih Sakit Sendiri, Bukan Boros, Gaji Tidak Cukup
54% Gen Z belum punya asuransi. BPJS Kelas 3 cuma Rp35.000 tapi tetap tidak dibayar. Bukan tidak peduli kesehatan, matematika gaji vs premi yang tidak masuk.
Baca selengkapnya
Sintesis: Berapa Persen Gajimu yang Sebenarnya Milikmu?
PPh 21, BPJS, biaya bank, inflasi, fee investasi, premi asuransi. Hitung total ekstraksi sistem finansial Indonesia dari gaji 5 juta. Hasilnya mengejutkan.
Baca selengkapnya