
Thrifting Bukan Hemat, Sistem Ekonomi yang Paksa Gen Z Beli Bekas
63% pelanggan thrift Gen Z, 67% beli untuk hemat. Bukan tren, tapi sistem yang tidak mampu sediakan barang baru terjangkau.
37 Kali Lipat yang Tidak Tercatat
IDN Research Institute, dalam laporan IMGR 2027, menemukan kesenjangan mencolok dalam data impor pakaian bekas Indonesia. Catatan resmi kepabeanan Indonesia untuk kode HS pakaian bekas cuma USD 16,4 juta secara kumulatif sepanjang 2005-2024. Tapi data UN Comtrade menunjukkan negara-negara mitra dagang mengekspor barang yang sama menuju Indonesia senilai USD 607,4 juta. Selisihnya 37 kali lipat.
Artinya, pasar preloved Indonesia jauh lebih besar dari yang terlihat di statistik resmi. Yang tercatat cuma puncak gunung es. Yang tidak tercatat mengalir lewat jalur informal, pasar-pasar tradisional, platform online, dan rantai pasok yang tidak terdokumentasi.
Riset Iva Latifa (2025) berjudul "Eksplorasi minat tren thrifting di kalangan generasi Z" menunjukkan bahwa 63% pelanggan toko barang bekas di Indonesia berasal dari Gen Z. Alasan utama mereka: 67% membeli pakaian bekas untuk mengurangi pengeluaran.
Tapi thrifting bukan cuma soal harga. Latifa menemukan bahwa thrifting telah menjadi bagian dari gaya hidup dan ekspresi identitas. Barang bekas bermerek atau vintage dianggap punya nilai eksklusivitas justru karena tidak dimiliki banyak orang. Gen Z thrift bukan cuma untuk hemat, tapi juga untuk tampil unik.
Gaji Riil Turun, Barang Baru Mahal
Mandiri Institute mengolah data BPS dan menemukan: real net income per pekerja turun dari sekitar Rp1,8 juta pada 2019 menjadi Rp1,5 juta pada 2024. World Bank mencatat real wages Indonesia turun rata-rata 1,1% per tahun dari 2018 hingga 2024. Pendapatan tidak mengikuti biaya hidup, jadi setiap rupiah harus dialokasikan lebih hati-hati.
Bank Indonesia, dalam Consumer Survey Agustus 2025, mencatat average propensity to consume di angka 74,8%, turun dari 75,4% bulan sebelumnya, menurut data BI. Rasio pembayaran cicilan atau utang terhadap pendapatan justru naik ke 11,4%, dari 10,9%, berdasarkan survei yang sama. Belanja tetap jalan, tapi makin banyak yang ditopang kredit dan paylater, bukan pendapatan riil.
BPS memperkuat gambaran ini dari sisi GDP. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tahunan berada di bawah 5% sejak Q3 2024, dan menyentuh 4,89% di Q3 2025, menurut data BPS. Angka itu level terendah dalam 14 tahun. Alvara Research Center mencatat 49% belanja rumah tangga Indonesia untuk kebutuhan dasar. Katadata Insight Center (KIMCI) mencatat 40,5% pendapatan kelas menengah dialokasikan ke konsumsi harian, indikasi tekanan finansial.
Kelas menengah Indonesia susut dari 47,9 juta orang (2024) menjadi 46,7 juta orang (2025), penurunan terdalam sejak metode ini dipakai, menurut data IDN. Tapi belanja non-makanan tetap tumbuh 6,4%, didorong lonjakan pembelian ponsel (+31,2%) dan elektronik (+26,2%), berdasarkan data BPS. Konsumsi pangan nyaris stagnan di 0,9%, berdasarkan data BPS.
Pola ini jelas: orang tetap belanja gawai dan transportasi, sambil mengerem belanja makanan dan barang gaya hidup yang dianggap kurang penting. Dan untuk barang yang dianggap penting tapi tidak terjangkau baru, thrifting jadi solusi.
Ditopang Utang, Bukan Pendapatan
Bagian yang paling jarang dibahas media adalah dari mana belanja yang "tetap jalan" ini sebenarnya dibiayai. OJK mencatat pinjaman daring (fintech lending) tumbuh 25% secara tahunan dengan nilai outstanding Rp96,6 triliun per Desember 2025, menurut data OJK. Pembiayaan pergadaian tumbuh lebih tajam: naik 48% mencapai Rp130 triliun pada periode yang sama, berdasarkan data OJK.
Berbeda dengan data survei persepsi, angka OJK ini berasal dari data transaksi resmi. Ini menggambarkan aliran dana yang benar-benar terjadi, bukan sikap atau ekspektasi konsumen. Orang tetap belanja, tapi makin banyak yang dibiayai oleh utang.
Doom spending bukan self-care, itu gejala menyerah. Begitu juga thrifting yang dipuja sebagai "konsumerisme sadar". Realitasnya, banyak Gen Z thrift bukan karena pilih gaya hidup berkelanjutan, tapi karena gaji tidak cukup untuk beli baru. Paylater menutup celah, thrifting menutup celah lain. Keduanya adalah respons adaptif terhadap sistem yang tidak mampu menyediakan kebutuhan terjangkau.
Bukan Tren, Adaptasi Ekonomi
Saya perhatikan bahwa media sosial memperkuat narasi bahwa thrifting adalah pilihan gaya hidup. TikTok dan Instagram penuh konten "thrifting haul" yang terlihat aesthetic dan intentional. Tapi di balik konten itu, data IDN menunjukkan tekanan ekonomi struktural. Kamu bisa thrift karena kamu mau, tapi riset Iva Latifa mencatat 67% Gen Z thrift karena terpaksa.
Gaji riil turun, kelas menengah menyusut, utang konsumtif naik, konsumsi pangan stagnan. Dan 67% Gen Z yang thrift mengaku melakukannya untuk mengurangi pengeluaran.
Overconsumption core mulai dikritik Gen Z, tapi kritik itu datang dari posisi ekonomi yang terjepit, bukan dari posisi moral yang superior. Gen Z tidak thrift karena mereka lebih sadar lingkungan dari generasi sebelumnya. Mereka thrift karena sistem tidak memberi opsi lain.
Pemerintah berencana melarang impor pakaian bekas. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut akan menerapkan sanksi berlapis: barang dimusnahkan, pelaku didenda dan dipenjara, masuk daftar hitam, dilarang impor seumur hidup. Alasannya: melindungi industri tekstil dalam negeri. Tapi data Kemenperin mencatat 13,8 ribu pekerja tekstil sudah dirumahkan pada 2024, dan industri tekstil belum pulih dari krisis pasca-pandemi.
Larangan impor pakaian bekas tanpa solusi daya beli adalah menutup keran dari bawah tanpa membuka keran dari atas. Gen Z yang tidak mampu beli baru akan tetap tidak mampu beli baru. Yang berubah cuma dari mana mereka dapat barang bekas: dari impor yang dilarang, atau dari pasar lokal yang harganya naik karena pasokan terbatas.
FAQ
Apakah thrifting benar-benar tren gaya hidup Gen Z?
Riset Iva Latifa (2025) menunjukkan 63% pelanggan thrift di Indonesia adalah Gen Z, dan 67% melakukannya untuk mengurangi pengeluaran. Thrifting memang telah menjadi bagian dari ekspresi identitas, tapi alasan utama tetap ekonomi. Gen Z thrift bukan hanya karena pilih, tapi karena gaji riil turun dan barang baru makin tidak terjangkau.
Berapa besar pasar thrifting Indonesia?
IDN Research Institute menemukan kesenjangan 37 kali lipat antara data impor resmi pakaian bekas Indonesia (USD 16,4 juta) dan data ekspor negara mitra (USD 607,4 juta). Selisih ini menunjukkan pasar preloved Indonesia jauh lebih besar dari statistik resmi, dengan sebagian besar mengalir lewat jalur informal.
Kenapa gaji riil pekerja Indonesia turun?
Mandiri Institute mengolah data BPS dan menemukan real net income per pekerja turun dari Rp1,8 juta (2019) menjadi Rp1,5 juta (2024). World Bank mencatat real wages Indonesia turun rata-rata 1,1% per tahun dari 2018 hingga 2024. Pendapatan tidak mengikuti kenaikan biaya hidup, sehingga daya beli tergerus.
Apakah pemerintah melarang thrifting?
Pemerintah berencana melarang impor pakaian bekas (balpres) untuk melindungi industri tekstil dalam negeri. Larangan ini menyasar importir, bukan penjual di pasar. Tapi kritik menyebut bahwa larangan tanpa solusi daya beli hanya menutup opsi Gen Z tanpa memberikan alternatif barang baru yang terjangkau.
Bagaimana thrifting berkaitan dengan utang konsumtif?
OJK mencatat fintech lending tumbuh 25% YoY (Rp96,6 triliun) dan pegadaian tumbuh 48% (Rp130 triliun) per Desember 2025. Banyak konsumsi yang "tetap jalan" sebenarnya ditopang utang, bukan pendapatan riil. Thrifting adalah salah satu cara Gen Z mengurangi ketergantungan pada utang untuk belanja.
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Rp9,5 Triliun Hilang: Penipuan Online Bukan Soal Bodoh, Soal Sistem
Rp9,5 triliun hilang akibat scam, 1 dari 4 WNI jadi korban. Penipuan online bukan soal bodoh, tapi sistem yang tidak melindungi.
Baca selengkapnya
Beli Rumah Bukan Soal Kopi, Soal 25 Tahun Gaji Tanpa Makan
Rasio harga rumah dan gaji di Jakarta butuh 26 tahun tanpa makan. Bukan kopi yang bikin Gen Z sulit beli rumah, tapi sistem.
Baca selengkapnya
85% Gen Z Menolak Lamar Kerja Tanpa Info Gaji: Bukan Arogan, Rasional
85% Gen Z menolak melamar tanpa info gaji. Bukan arogansi generasi manja, tapi respons rasional terhadap ekonomi yang tidak menjanjikan stabilitas.
Baca selengkapnya