Lewati ke konten utama
Gen Z Childfree Bukan Egois: Gaji Tidak Cukup untuk Anak
Kehidupan•9 MENIT BACA

Gen Z Childfree Bukan Egois: Gaji Tidak Cukup untuk Anak

“74% Gen Z mau punya anak. Tapi 39% bilang tidak cukup uang. Dengan gaji Rp2,4 juta dan biaya anak Rp3,3-8 juta/bulan, childfree bukan egois. Matematika.”

Diterbitkan

Gen Z tidak mau punya anak. Itu narasi yang beredar. Egois, hedonis, terlalu mengejar karier sampai lupa kodrat. BKKBN sampai merancang program Tamasya, penitipan anak untuk "mengatasi" childfree. Menteri BKKBN Wihaji bilang 71 ribu perempuan Indonesia ingin childfree dan pemerintah harus "menjawab keresahan mereka."

Tapi UNFPA dalam laporan State of World Population 2025 menemukan hal yang bertolak belakang: 74% perempuan dan 77% laki-laki Indonesia ingin punya dua anak atau lebih. Mau. Bukan tidak mau. Yang menghalangi: 39% bilang tidak cukup uang, 22% bilang tidak punya rumah, 20% bilang pekerjaan tidak stabil. Gen Z tidak menolak anak. Mereka menolak miskin dengan anak.

Kodrat vs Data Kependudukan

Narasi lama bilang banyak anak banyak rezeki. Kodrat. Kewajiban. "Kapan punya cucu?" jadi pertanyaan wajib di setiap family gathering. Tapi data BPS menunjukkan narasi ini mulai retak. Berdasarkan Susenas 2022, 8,2% perempuan usia subur Indonesia atau sekitar 71 ribu orang memilih childfree. Angka naik dari 6,3% di 2020. Tren ini bukan anomali. BPS mencatat Total Fertility Rate turun dari 5,6 anak per perempuan di 1970 menjadi 2,13 pada SUPAS 2025. Seluruh provinsi di Jawa sudah di bawah replacement level 2,1. Jakarta cuma 1,79.

BKKBN mengidentifikasi tiga faktor utama: ekonomi, karier, pergeseran nilai sosial. Wihaji menyebut ketiga kecemasan ini harus dijawab. Tapi pertanyaannya: apakah Gen Z benar-benar egois, atau mereka sedang melakukan matematika yang tidak bisa dihindari?

Bukan Soal Keinginan, Soal Kemampuan

UNFPA SWP 2025 punya data yang bongkar asumsi "Gen Z tidak mau punya anak." Survei UNFPA/YouGov di 14 negara, termasuk Indonesia, nemuin bahwa mayoritas orang mau punya anak. Di Indonesia, 74% perempuan dan 77% laki-laki ingin punya dua anak atau lebih. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata global, 62% perempuan dan 61% laki-laki.

Tapi ada gap. Hampir 1 dari 5 orang under 50 yang disurvei berpikir mereka akan punya lebih sedikit anak dari ideal. Alasannya: 39% bilang tidak cukup uang. 22% bilang tidak punya rumah untuk menempatkan keluarga. 20% bilang pekerjaan tidak stabil. 16% perempuan bilang ketimpangan tanggung jawab pengasuhan antara laki-laki dan perempuan.

Aleksandar Bodiroza, direktur regional UNFPA Asia Pacific, menyebut ini "krisis fertilitas sesungguhnya." Bukan orang tidak mau punya anak, tapi orang tidak mampu membuat keluarga yang mereka inginkan. Hassan Mohtashami, UNFPA Indonesia Representative, bilang: "Krisis fertilitas sesungguhnya bukanlah soal orang yang tidak ingin punya anak, melainkan banyak yang ingin punya anak tapi tidak mampu."

Matematika Gaji vs Biaya Anak

BPS Sakernas Februari 2026 mencatat rata-rata gaji bersih Gen Z usia 20-24 tahun di angka Rp2,4 juta per bulan. Kelompok usia 25-29 tahun dapat Rp3 juta. Angka ini stagnan, hanya naik Rp100 ribu dari tahun sebelumnya. Rata-rata upah seluruh pekerja Indonesia pun cuma Rp3,29 juta.

Sekarang hitung biaya punya anak. Bappenas dalam laporan Investasi Antargenerasi 2026 bilang biaya membesarkan anak berkisar Rp 23 juta hingga Rp 57 juta per tahun. Tapi biaya paling berat ada di dua tahun pertama. Berdasarkan data lapangan yang dikompilasi Bisadipercaya, pengeluaran tambahan di dua tahun pertama setelah punya anak adalah Rp 3,3 juta hingga Rp 8 juta per bulan. Rinciannya: popok Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta, susu formula Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta, dokter dan vaksin Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta, daycare atau pengasuh Rp 2 juta hingga Rp 4 juta.

Gaji Gen Z vs Biaya Anak per Bulan

Defisit Rp900 ribu hingga Rp5,6 juta setiap bulan

Sumber: BPS Sakernas Feb 2026 & Bisadipercaya 2026

Mari hitung. Gaji Rp2,4 juta. Kos termurah di Jakarta Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu berdasarkan data Rukita dan sewa-kos.com 2025. Asumsi kos Rp 800 ribu. Sisa Rp 1,6 juta. Biaya anak minimum Rp 3,3 juta per bulan. Defisit Rp 1,7 juta setiap bulan. Itu belum termasuk makan, transportasi, pulsa, kebutuhan dasar diri sendiri. Gen Z yang hidup gaji ke gaji tanpa sisa tidak punya ruang untuk biaya tambahan Rp 3,3 juta.

Saran "tabung sebelum punya anak" masuk akal. Tapi tabung dari mana? Dari sisa Rp 1,6 juta yang sudah harus untuk makan 30 hari menurut hitungan di atas? Itu Rp 53 ribu per hari untuk makan, transport, segala kebutuhan pribadi. Tidak ada sisa untuk ditabung.

Kamu mungkin bilang, pilih kos yang lebih murah. Oke, kos Rp 500 ribu menurut data Rukita. Sisa Rp 1,9 juta. Masih kurang dari Rp 3,3 juta biaya anak minimum menurut Bisadipercaya. Selisihnya Rp 1,4 juta. Itu pun belum makan.

Siklus Sandwich Generation ke Childfree

Gen Z yang jadi sandwich generation punya matematika yang lebih suram. Survei DataIndonesia.id menemukan 46,3% Gen Z sudah masuk kategori sandwich generation, menanggung beban keuangan untuk diri sendiri, orang tua, kadang adik atau anak. Dengan gaji Rp 2 juta menurut data BPS untuk kelompok usia 15-19 tahun dan 50% dikirim ke orang tua, sisa cuma Rp 1 juta.

Sisa Rp 1 juta dikurangi biaya anak minimum Rp 3,3 juta menurut data Bisadipercaya sama dengan defisit Rp 2,3 juta per bulan. Tidak ada pekerjaan sampingan yang menutup defisit itu tanpa mengorbankan kesehatan dan waktu tidur. Gen Z yang sudah menanggung orang tua tidak punya sisa untuk anak. Childfree bukan pilihan egois di sini. Hasil alami dari sistem yang menempatkan mereka sebagai jaring pengaman keluarga sebelum mereka siap.

Siklusnya berbahaya. Orang tua tidak punya pensiun, jadi beban jatuh ke anak. Anak tidak bisa nabung atau punya anak karena harus menafkahi orang tua. Ketika anak ini nanti pensiun, mereka juga tidak punya dana. Beban jatuh ke cucu. Saya punya teman yang sudah mulai nyicil biaya pengobatan orang tuanya sejak umur 26. Gajinya Rp 3 juta, Rp 1,2 juta langsung ke kampung. Dia bilang ke saya, "Punya anak? Gaji saya aja buat orang tua belum cukup." Dan mau menikah pun sudah jadi masalah ekonomi, apalagi punya anak. Beli rumah bukan soal kopi, tapi soal 25 tahun gaji yang tidak cukup. Punya anak di atas semua itu bukan kodrat, tapi kemewahan yang tidak terjangkau.

Daycare Bukan Menyelesaikan Akar Masalah

Kemendukbangga merespons childfree dengan Program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya). Per Februari 2026, tercatat 3.730 unit Tamasya yang menyediakan penitipan anak aman dan terjangkau untuk ibu bekerja. Wihaji menyebut program ini sebagai "bukti negara hadir." Perusahaan, terutama yang pekerjanya banyak perempuan, didorong menyediakan fasilitas serupa.

Tamasya menyelesaikan satu masalah: pengasuhan. Tapi Tamasya tidak menyelesaikan masalah yang lebih besar: daya beli. Daycare di kota besar berkisar Rp 2 juta hingga Rp 4 juta per bulan menurut data Bisadipercaya. Tamasya mungkin memberi subsidi sebagian. Tapi gaji Gen Z Rp 2,4 juta menurut BPS. Subsidi daycare tidak menaikkan gaji. Subsidi daycare tidak membuat sisa Rp 1,6 juta tiba-tiba cukup untuk popok, susu, dokter anak.

Selama gaji tidak mau tumbuh sementara biaya hidup terus naik, program penitipan anak hanya menambal lubang tanpa menutup kebocoran. Negara fokus pada "cara membuat orang tua bisa bekerja sambil punya anak", bukan "cara membuat orang mampu menafkahi anak." Itu dua hal yang berbeda.

Bukan Egois, Rasional

UNFPA menyebut gap antara keinginan dan kemampuan sebagai cerita sistem, bukan sikap. Datanya jelas: 74% mau anak, 39% tidak cukup uang. Kalau tiga dari empat orang mau punya anak tapi tidak bisa, masalahnya bukan pada keinginan. Masalahnya pada kondisi yang membuat keinginan itu tidak terjangkau.

Saya perhatikan di setiap family gathering, pertanyaan "kapan punya cucu?" selalu muncul dari kerabat yang sudah punya rumah, pensiun, tabungan. Mereka tidak pernah bertanya "gajimu sekarang berapa?" atau "kosmu berapa?" Kita jarang membahas biaya punya anak di meja makan. Mereka tidak tahu, atau tidak mau tahu, bahwa cucu yang mereka minta butuh Rp 3,3 juta per bulan dari gaji Rp 2,4 juta menurut data BPS dan Bisadipercaya. Rasa bersalah yang muncul bukan karena Gen Z tidak mau jadi orang tua. Rasa bersalah muncul karena sistem membuat mereka merasa gagal untuk sesuatu yang memang tidak terjangkau.

"Banyak anak banyak rezeki" valid kalau rezeki memang ada. Kalau gaji Rp 2,4 juta menurut BPS dan biaya anak Rp 3,3 juta hingga Rp 8 juta per bulan menurut Bisadipercaya, rezekinya dari mana? Gen Z tidak menolak anak. Mereka menolak miskin dengan anak. Mereka menolak menghadirkan anak ke dunia yang tidak menyiapkan apa-apa untuk anak itu selain tumpukan utang dan tekanan.

Matematika Sistem

Childfree bukan egois. Matematika. 74% Gen Z mau punya anak menurut UNFPA, 39% bilang tidak cukup uang. Itu bukan sikap, itu sistem. Negara bisa bikin program Tamasya, bisa dorong perusahaan buat TPA, bisa kampanye "banyak anak banyak rezeki." Tapi selama gaji Gen Z Rp 2,4 juta menurut BPS dan biaya anak Rp 3,3 juta hingga Rp 8 juta per bulan menurut Bisadipercaya, childfree akan terus ada. Bukan karena Gen Z tidak mau jadi orang tua. Karena sistem tidak membuat mereka mampu jadi orang tua.

FAQ

Apakah childfree itu egois?

Tidak. Data UNFPA 2025 menunjukkan 74% perempuan dan 77% laki-laki Indonesia ingin punya dua anak atau lebih. Childfree bukan soal tidak mau punya anak, tapi tidak mampu. 39% responden UNFPA menyebut tidak cukup uang sebagai alasan utama. Egois adalah mereka yang memaksa orang punya anak tanpa peduli apakah mereka mampu menafkahi anak itu.

Kenapa Gen Z memilih childfree?

BKKBN mengidentifikasi tiga faktor: ekonomi, karier, pergeseran nilai sosial. Faktor ekonomi paling dominan. Gaji Gen Z rata-rata Rp 2,4 juta per bulan menurut BPS 2026, sementara biaya punya anak Rp 3,3 juta hingga Rp 8 juta per bulan di dua tahun pertama. Gen Z yang sudah jadi sandwich generation juga tidak punya sisa untuk anak setelah mengirim sebagian gaji ke orang tua.

Berapa biaya punya anak di Indonesia?

Bappenas 2026 melaporkan biaya membesarkan anak Rp 23 juta hingga Rp 57 juta per tahun. Di dua tahun pertama, pengeluaran bulanan tambahan berkisar Rp 3,3 juta hingga Rp 8 juta, mencakup popok, susu formula, dokter dan vaksin, serta daycare atau pengasuh. Biaya persalinan normal di RS swasta menengah Rp 5 juta hingga Rp 15 juta, caesar Rp 15 juta hingga Rp 40 juta.

Apakah pemerintah punya program untuk childfree?

Kemendukbangga/BKKBN meluncurkan Program Tamasya, fasilitas penitipan anak aman dan terjangkau. Per Februari 2026 tercatat 3.730 unit Tamasya. Program ini membantu masalah pengasuhan, tapi tidak mengatasi akar masalah: gaji Gen Z yang stagnan dan biaya hidup yang terus naik. Subsidi daycare tidak menaikkan daya beli.

Apakah childfree akan memperparah aging population?

Ya. BPS mencatat proporsi lansia Indonesia sudah mencapai 11,97% dari total populasi. TFR turun ke 2,13, mendekati replacement level 2,1. Seluruh provinsi di Jawa sudah di bawah replacement level. Childfree berkontribusi pada penurunan kelahiran, tapi solusinya bukan menyalahkan Gen Z. Solusinya adalah membuat kondisi ekonomi yang memungkinkan mereka punya anak.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Komentar (0)

Login untuk berkomentar