Lewati ke konten utama
Time Poverty Gen Z: Bukan Jelek Atur Waktu, 8 Jam Kerja yang Makan 14 Jam Hidupmu
Kehidupan•8 MENIT BACA

Time Poverty Gen Z: Bukan Jelek Atur Waktu, 8 Jam Kerja yang Makan 14 Jam Hidupmu

“8 jam kerja kamu sebenarnya makan 14 jam sehari. Commute, unpaid overtime, dan admin life yang tidak dihitung sistem. Time poverty bukan masalah kamu.”

Diterbitkan

Semua bilang Gen Z buruk manajemen waktu. Sibuk terus, tapi tidak produktif. Scroll TikTok sampai tengah malam, bangun siang, telat masuk kerja. Narasinya sudah jelas: kamu yang tidak bisa atur waktu.

Tapi BPS mencatat 25,47% pekerja Indonesia, sekitar 37,3 juta orang, bekerja lebih dari 49 jam per minggu pada Agustus 2025. Itu sudah di atas standar 40 jam. Dan angka itu belum menghitung waktu di jalan, lembur yang tidak dibayar, dan urusan hidup yang tidak masuk job description.

Kenapa Kamu Capek Padahal Cuma Kerja 8 Jam

Time poverty adalah kondisi ketika seseorang tidak punya waktu cukup untuk istirahat dan rekreasi karena beban kerja bayaran dan tidak bayaran terlalu berat. Konsep ini diperkenalkan Caroline Vickery pada 1977, lalu dikembangkan UN Women dalam laporan 2019. Bukan tentang malas atau tidak bisa prioritas, tapi tentang defisit waktu yang struktural.

Sistem kerja modern menghitung 8 jam sebagai jam kerja. Tapi tubuh kamu menghitung 14 jam. Karena 8 jam itu tidak berdiri sendiri. Ada 3 jam di jalan, 1 jam lembur yang tidak dibayar, dan 2 jam urusan hidup yang tidak ada di kontrak kerja. Total 14 jam. Sisa 10 jam untuk tidur, makan, mandi, bersosialisasi. Kalau kamu tidur 7 jam, sisa 3 jam untuk segalanya.

Artikel TAM sebelumnya membahas 57% Gen Z lembur dan 37% resign karena work-life balance. Time poverty adalah akar dari masalah itu. Bukan kamu yang tidak bisa atur waktu. Sistem yang tidak menghitung waktu nyata.

Breakdown 14 Jam: Dari yang Dihitung ke yang Tidak

Breakdown 14 Jam Waktu Harian

Breakdown waktu harian pekerja urban Indonesia

Sumber: BPS 2025, TomTom 2025, Australia Institute 2025

Data BPS Sakernas Agustus 2025 menunjukkan 25,47% pekerja Indonesia kerja lebih dari 49 jam per minggu. Menurut analisis Kompas.id dari data yang sama, 1 dari 4 pekerja usia 15-24 tahun bekerja 45-59 jam per minggu, dan 10% bekerja lebih dari 60 jam. Gen Z bukan cuma kerja 8 jam. Banyak yang kerja 9-12 jam per hari.

Australia Institute dalam laporan Go Home on Time Day 2025 menemukan pekerja usia 18-24 tahun rata-rata melakukan 4,7 jam unpaid overtime per minggu. Itu hampir 1 jam per hari kerja gratis untuk perusahaan. Kalau dihitung per 5 jam kerja bayaran, pekerja muda memberikan 1 jam gratis.

NCAER India dalam Time Use Survey 2024 menemukan 36,6% pekerja formal usia muda menghabiskan lebih dari 9 jam per hari untuk total aktivitas kerja (termasuk commute dan persiapan). Di India, pekerja muda rata-rata menghabiskan 50 menit per hari hanya untuk perjalanan ke kantor. Di Indonesia, polanya sama.

Commute: Waktu di Jalan yang Tidak Dihitung

TomTom Traffic Index 2025 mencatat Jakarta sebagai kota termacet peringkat 24 dunia. Tingkat kemacetan 59,8%, naik dari tahun sebelumnya. Setiap pengendara di Jakarta kehilangan 125 jam per tahun karena macet. Itu setara dengan 5 hari 5 jam.

INRIX Global Traffic Scorecard 2024 menempatkan Jakarta di peringkat 7 kota termacet dunia, naik dari posisi 10 di 2023. Setiap pengendara kehilangan 89 jam per tahun, naik 37% dari 2023 yang hanya 65 jam. Kecepatan kendaraan di pusat kota Jakarta hanya 20 km/jam.

BPS mencatat 7,59 juta pekerja Indonesia menjadi komuter per Agustus 2024. Di Jabodetabek saja, ada 4,4 juta komuter aktif. Menurut data BPS yang dilansir Trenasia, 35,5% komuter Jabodetabek menghabiskan lebih dari 1 jam per sekali jalan. Kompas.id melaporkan perjalanan komuter Jabodetabek 1,5-2 jam per sekali jalan. Pergi dan pulang: 3-4 jam per hari.

Kamu mungkin pikir 3 jam di jalan bukan "kerja". Tapi tubuh kamu tidak tahu bedanya. Bangun pagi untuk ke kantor, berdiri di KRL yang sesak, antre bus, ojek ke stasiun. Itu semua menguras energi yang seharusnya untuk kerja atau istirahat. Commute adalah kerja yang tidak dibayar.

Lembur Gratis: 1 Jam yang Tidak Dibayar

Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey Indonesia menemukan 77% Gen Z Indonesia menyebut pekerjaan sebagai faktor utama stres. Penyebabnya: budaya kerja toksik (57%), jam kerja panjang (56%), dan tidak cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan (55%). Tiga faktor ini saling berkaitan. Jam kerja panjang membuat tidak cukup waktu, tidak cukup waktu membuat stres, stres membuat budaya kerja memburuk.

Survei Deloitte 2026 menemukan hal serupa. 50% Gen Z menghindari posisi kepemimpinan karena takut stress dan burnout. 58% Gen Z mengalami digital fatigue, kelelahan dari terlalu banyak platform dan notifikasi. Dan 71% Gen Z Indonesia pernah butuh cuti khusus untuk melepas stres, menurut laporan Deloitte yang dilansir Detik Health.

Unpaid overtime tidak selalu berarti dipaksa bos. Kadang itu budaya. Meninggalkan kantor setelah bos pulang. Balas email malam hari karena "cepat respon". Kerja weekend karena deadline yang sebetulnya bisa diatur. Australia Institute menyebutnya "work creep": kerja yang merayap ke waktu personal tanpa kamu sadari.

Kamu yang merasa istirahat terasa seperti kejahatan, ini sumbernya. Bukan kamu yang tidak bisa berhenti kerja. Sistem yang membuat berhenti terasa salah.

Beban Hidup: 2 Jam di Luar Kontrak

Setelah 8 jam kerja dan 3 jam di jalan, kamu belum selesai. Ada urusan hidup yang tidak masuk hitungan siapa pun. Bayar kos, antar laundry, beli bahan makanan, masak, urus BPJS, bayar listrik, isi pulsa, antar paket ke kurir. Sebut saja admin life. Urusan yang tidak produktif, tidak menghasilkan uang, tapi harus dilakukan kalau kamu mau bertahan hidup.

UN Women dalam laporan 2019 mendefinisikan time poverty sebagai kekurangan waktu untuk istirahat dan rekreasi karena beban kerja bayaran dan tidak bayaran yang berlebihan. Admin life adalah kerja tidak bayaran. Tidak dihitung perusahaan, tidak dihitung pemerintah, tidak dihitung kalender produktivitas. Tapi tubuh kamu menghitung.

Cambridge University dalam publikasi 2023 tentang time poverty membedakan necessary time dan discretionary time. Necessary time adalah waktu yang harus dihabiskan untuk bertahan: kerja, commute, urus rumah, masak, bersih-bersih. Discretionary time adalah waktu yang tersisa untuk hal yang kamu mau: hobi, olahraga, bersosialisasi, atau cuma duduk tidak doing anything. Gen Z urban Indonesia punya sangat sedikit discretionary time, bukan karena mereka pilih begitu, tapi karena necessary time-nya sudah 14 jam.

Saya pernah hitung sendiri. Kerja 9 jam (termasuk lunch break yang tidak benar-benar istirahat), commute 2,5 jam PP, masak 30 menit, mandi 20 menit, urus admin digital 15 menit. Total 12 jam 55 menit, sisa 11 jam 5 menit. Tidur 7 jam, sisa 4 jam untuk segalanya. Dan itu hari biasa, bukan hari ada deadline atau lembur.

Time Poverty Bukan Masalah Kamu, Itu Defisit Struktural

47% Gen Z hidup gaji ke gaji. Tidak ada sisa uang, tidak ada sisa waktu. Keduanya punya akar yang sama: sistem yang menghitung apa yang bisa diukur dan mengabaikan sisanya.

Perusahaan menghitung 8 jam kerja karena itu yang bisa di-track, di-bill, di-pay. Pemerintah menghitung jam kerja formal karena itu yang bisa di-regulasi. Tapi tidak ada yang menghitung 6 jam hidden cost yang menyertai 8 jam itu. Tidak ada KPI untuk waktu hilang di jalan. Tidak ada metric untuk admin life. Tidak ada laporan tahunan tentang berapa jam kamu kerja gratis.

Sandwich generation punya beban tambahan: gaji dikirim ke kampung, sisa untuk diri sendiri makin tipis. Time poverty punya pola serupa: waktu kamu dikirim ke kantor, ke jalan, ke urusan rumah, sisa untuk diri sendiri makin tipis. Creator burnout terjadi karena algoritma eksploitasi waktu. Time poverty terjadi karena sistem kerja eksploitasi waktu.

Solusinya bukan time management. Tidak ada teknik pomodoro yang bisa menambah 6 jam yang hilang. Tidak ada aplikasi to-do list yang bisa memperpendek commute. Tidak ada journaling pagi hari yang bisa menghapus unpaid overtime. Time poverty bukan masalah individual. Itu desain sistem.

Matematika yang Tidak Masuk Akal

Jadi bukan kamu yang jelek atur waktu. Sistem yang menghitung 8 jam kerja tapi lupa menghitung 6 jam yang menyertainya. 14 jam per hari untuk kerja dan segala konsekuensinya. Itu realita yang tidak masuk spreadsheet perusahaan, tidak masuk kebijakan pemerintah, tidak masuk nasihat motivator.

Kalau kamu merasa tidak punya waktu untuk diri sendiri, kamu tidak salah. Matematikanya memang tidak masuk akal.

FAQ

Apa itu time poverty?

Time poverty adalah kondisi ketika seseorang tidak punya waktu cukup untuk istirahat dan rekreasi karena beban kerja bayaran dan tidak bayaran terlalu berat. Konsep ini diperkenalkan Caroline Vickery pada 1977 dan dikembangkan UN Women dalam laporan 2019.

Kenapa Gen Z selalu merasa sibuk tapi tidak produktif?

Karena 8 jam kerja sebenarnya makan 14 jam: 8 jam kerja, 3 jam commute, 1 jam unpaid overtime, 2 jam admin life. Sisa 10 jam untuk tidur, makan, dan segalanya. Tidak ada waktu tersisa untuk produktivitas personal atau hobi.

Berapa jam sebenarnya dihabiskan untuk kerja termasuk commute?

Total 14 jam per hari: 8 jam kerja formal, 3 jam commute pulang-pergi (berdasarkan data TomTom 2025 dan BPS komuter Jabodetabek), 1 jam unpaid overtime (Australia Institute 2025), dan 2 jam admin life. Sisa 10 jam dari 24 jam sehari.

Apakah time poverty bisa diatasi dengan manajemen waktu?

Tidak. Time poverty adalah defisit struktural, bukan masalah manajemen waktu. 6 jam hidden cost (commute, unpaid overtime, admin life) tidak bisa diatasi dengan teknik pomodoro atau to-do list. Solusinya ada di level sistem: jam kerja fleksibel, remote work, transportasi publik yang efisien.

Apa beda time poverty dan burnout?

Time poverty adalah kekurangan waktu. Burnout adalah kelelahan mental dan emosional. Time poverty bisa menyebabkan burnout, tapi keduanya berbeda. Time poverty soal matematika jam. Burnout soal kapasitas mental. Kamu bisa punya time poverty tanpa burnout, dan sebaliknya.

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Sumber & Metodologi

Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.

  1. 1.
    BPS Sakernas Agustus 2025: 25.47% pekerja Indonesia kerja >49 jam/minggu (37.3 juta orang), via Databoks
  2. 2.
    Kompas.id: Gen Z dalam Tekanan Overwork - 1 dari 4 pekerja usia 15-24 kerja 45-59 jam, 10% >60 jam, Sakernas BPS Agustus 2025
  3. 3.
    TomTom Traffic Index 2025: Jakarta 125 jam hilang per tahun karena macet, peringkat 24 dunia, congestion level 59.8%
  4. 4.
    INRIX Global Traffic Scorecard 2024: Jakarta peringkat 7 termacet dunia, 89 jam hilang/tahun, naik 37% dari 2023, via KatadataOTO
  5. 5.
    Deloitte Global 2025 Gen Z Survey Indonesia: 77% Gen Z stres karena pekerjaan, 56% sebut jam kerja panjang, 55% tidak cukup waktu, via SWA
  6. 6.
    Deloitte Global 2026 Gen Z Survey: 58% digital fatigue, 50% stress/burnout barrier to leadership, 71% butuh cuti untuk recharge
  7. 7.
    BPS via Databoks: 7.59 juta pekerja komuter Indonesia Agustus 2024
  8. 8.
    Trenasia: Komuter Jabodetabek 4.4 juta, 35.5% tempuh >1 jam per sekali jalan, BPS 2024
  9. 9.
    Kompas.id: Komuter Jabodetabek rata-rata 1.5-2 jam per sekali jalan, ongkos sepertiga gaji
  10. 10.
    Cambridge University: Time Poverty Conceptualization and Gender Differences, Vickery 1977 origin concept
  11. 11.
    UN Women 2019: Time poverty = lack of time for rest and leisure due to excess paid+unpaid work
  12. 12.
    Australia Institute Go Home on Time Day 2025: Young workers 18-24 rata-rata 4.7 jam unpaid overtime per minggu
  13. 13.
    NCAER India Time Use Survey 2024: Young adults commute 50 min/hari, 36.6% pekerja formal >9 jam total aktivitas harian
  14. 14.
    Detik Health: 71% Gen Z Indonesia pernah butuh cuti untuk melepas stres, Deloitte 2026
  15. 15.
    Detik Oto: Jakarta kota termacet ke-7 dunia, 89 jam hilang, kecepatan rata-rata 20 km/jam, INRIX 2024

Komentar (0)

Login untuk berkomentar