Lewati ke konten utama
Thrifting dan Rental: Solusi dari Ketidakmampuan, Bukan Pilihan Gaya Hidup
Uang•7 MENIT BACA

Thrifting dan Rental: Solusi dari Ketidakmampuan, Bukan Pilihan Gaya Hidup

“63% pelanggan thrift adalah Gen Z. 67% thrift untuk mengurangi pengeluaran. Thrifting dan rental bukan pilihan gaya hidup, tapi adaptasi dari ketidakmampuan.”

Diterbitkan

Sebelumnya di Generasi Sewa: Gig economy adalah menyewa pekerjaan dari platform. Pendapatan ojol turun 41 persen dalam 2 tahun. Kamu bukan karyawan, bukan bos, kamu penyewa waktu. Rumah, hiburan, uang, pekerjaan: semua sewa. Baca: Part 4

Hook

Thrifting dijual sebagai pilihan gaya hidup. Sustainable, unik, anti-fast fashion. Media sosial membingkainya sebagai ekspresi diri, bukan kebutuhan ekonomi. Tapi 67 persen Gen Z yang thrifting melakukannya untuk mengurangi pengeluaran. Bukan untuk lingkungan. Bukan untuk keunikan. Karena tidak mampu beli baru.

Dan itu bukan sesuatu yang harus dibungkus estetik. Thrifting adalah jawaban rasional dari generasi yang gajinya tidak cukup untuk beli barang baru. Tapi kalau kamu tidak mampu beli baju baru, apakah kamu akan mampu beli rumah?

Konteks

Dahulu, beli baju baru di mall adalah hal normal. Harga baju branded Rp300 ribu sampai Rp1 juta. Sekarang, thrifting menjadi tren. Baju thrift di Pasar Senen Jakarta dijual Rp10.000 sampai Rp300.000. Paket 3 item cukup Rp50.000. Bandingkan dengan harga retail branded yang bisa 5 sampai 10 kali lipat.

Thrifting adalah kegiatan membeli barang bekas yang masih layak pakai, terutama pakaian, dengan harga lebih murah dari retail. Di Indonesia, 63 persen pelanggan toko barang bekas adalah Gen Z, dengan 67 persen melakukannya untuk mengurangi pengeluaran, menurut riset yang dikutip Kompasiana pada Januari 2026.

Media sosial seperti TikTok dan Instagram memainkan peran penting dalam memperkuat tren ini. Thrifting tidak lagi dipandang sebagai pilihan terakhir, tapi sebagai metode hidup yang trendi. Tapi framing "trendi" ini menyembunyikan fakta: thrifting tumbuh karena daya beli turun, bukan karena kesadaran lingkungan naik. Seperti yang sudah dibahas di Thrifting Bukan Hemat, Sistem Ekonomi yang Paksa Gen Z Beli Bekas, thrifting adalah adaptasi ekonomi yang dibungkus estetik.

Profil Konsumen Thrift

Riset yang dikutip Kompasiana pada Januari 2026 menemukan bahwa sekitar 63 persen pelanggan dari toko barang bekas di Indonesia berasal dari Generasi Z. Alasan utama mereka mencakup aspek ekonomi dan psikologi. 67 persen beli pakaian bekas dengan tujuan untuk mengurangi pengeluaran. Faktor ekonomi paling dominan, bukan lingkungan atau keunikan.

Jurnal Almufi pada November 2025 meneliti 33 responden berusia 18-29 tahun dan menemukan tiga faktor dominan yang memengaruhi motivasi thrifting: ekonomi, sosial, dan produk. Faktor ekonomi ditunjukkan melalui harga yang terjangkau sesuai kemampuan finansial. Faktor sosial terlihat dari pengaruh teman dan media sosial. Faktor produk ditandai dengan keunikan barang. Tapi faktor ekonomi selalu menjadi alasan pertama.

Dilansir Katadata pada 2025, anak muda yang thrifting mencari pakaian bermerek internasional dengan kondisi masih layak pakai dan harga jauh lebih murah. Daya tarik utama bukan hanya harga, tapi juga keinginan tampil unik. Barang yang ditemukan tidak selalu ada duanya. Tapi tetap, harga adalah alasan nomor satu. Keunikan nomor dua. Lingkungan tidak masuk tiga besar.

Rental: Menyewa Segalanya

Thrifting adalah satu bentuk adaptasi. Rental adalah bentuk lain. Dan rental sekarang tidak cuma untuk baju.

Rental baju untuk wedding atau event: Rp200-500 ribu per event. Beli baju baru untuk acara yang kamu datang sekali? Rp2-5 juta. Sewa kamera untuk konten: Rp200-500 ribu per hari. Beli kamera mirrorless? Rp10-30 juta. Rental furniture untuk kos atau apartemen sewa: bayar bulanan, tidak perlu beli. Co-living seperti Rukita dan Travelio: sewa kamar sudah termasuk furniture dan utilities.

Pola ini menjawab satu pertanyaan: kalau kamu tidak punya rumah, kenapa beli furniture? Kalau kamu pindah kos setiap tahun, kenapa beli kamera? Kalau kamu butuh baju untuk satu acara, kenapa beli? Rental masuk akal ketika kepemilikan tidak masuk akal.

Tapi pola ini juga berarti kamu tidak memiliki barang. Kamu menyewa barang untuk fungsi sementara: setelah acara selesai baju dikembalikan, setelah konten selesai kamera dikembalikan, setelah kontrak kos selesai furniture dikembalikan. Kamu tidak punya apa-apa, kamu cuma punya akses sementara.

Dilema: Thrifting Impor vs Industri Lokal

Di balik tren thrifting, ada masalah yang jarang dibahas. Sebagian besar barang thrift yang diminati adalah pakaian bekas impor. Pemerintah melarang impor pakaian bekas melalui Permendag No. 40 Tahun 2022. Tapi praktik masih berlangsung, terutama melalui platform online.

Data BPS menunjukkan volume impor pakaian bekas yang masuk ke Indonesia pada 2022 meningkat 227,75 persen dibanding tahun sebelumnya. Negara pengimpor tertinggi adalah Jepang. Meskipun pemerintah melarang, importir masih menemukan celah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pembayaran pajak bahkan sebesar 10 persen sekalipun tidak mengubah status barang tersebut yang sejak awal dikategorikan ilegal, seperti dilansir Katadata pada 2025.

Dampaknya ke industri lokal nyata. PHK industri tekstil mencapai 13,8 ribu pekerja pada pertengahan 2024, naik dari 7.500 pada 2023, menurut data Kementerian Perindustrian yang dilaporkan Katadata. Enam perusahaan menutup pabrik, empat melakukan efisiensi. Industri tekstil belum pulih dari pandemi, pelemahan rupiah, dan persaingan dengan produk impor dari Cina. Thrifting impor memperparah situasi.

Jadi Gen Z thrift untuk menghemat uang. Tapi setiap baju thrift yang dibeli adalah baju baru yang tidak dibeli dari industri lokal. Setiap baju impor yang masuk adalah tekanan bagi pekerja tekstil Indonesia. Solusi individual yang menciptakan masalah sistemik. Gen Z tidak salah. Sistem yang membuat barang baru terlalu mahal dan barang bekas impor lebih murah.

Gue sendiri pernah thrifting. Beli jaket vintage Rp75 ribu yang di mall harganya Rp800 ribu. Gue pikir gue hemat. Dan memang gue hemat, untuk kantong gue. Tapi gue tidak pikir tentang pekerja tekstil yang kehilangan kerja karena pabrik tutup. Gue tidak pikir tentang importir ilegal yang untung dari balpres. Gue cuma pikir: gue butuh jaket, gue cuma punya Rp100 ribu. Dan itu bukan salah gue. Itu struktur ekonomi yang membuat pilihan rasional gue berdampak negatif ke orang lain.

Insight

Thrifting dan rental bukan pilihan. Adaptasi dari ketidakmampuan. "Sustainable" dan "unique" adalah narasi yang dibungkus setelah fakta. Generasi sebelumnya membeli baru karena mampu. Gen Z thrift karena tidak mampu.

Thrifting adalah ekonomi sekunder yang lahir dari ekonomi primer yang gagal. Ekonomi primer gagal karena gaji stagnan sementara harga barang naik. Ekonomi sekunder tumbuh karena orang mencari alternatif lebih murah. Tapi ekonomi sekunder ini menekan ekonomi primer lebih lanjut: industri lokal mati karena tidak bersaing dengan barang bekas impor. Ini bagian dari pola overconsumption yang mulai dikritik Gen Z: konsumsi yang terlihat sadar tapi sebenarnya didorong ketidakmampuan.

Setiap barang yang kamu thrift adalah barang yang tidak dibeli baru. Setiap barang yang tidak dibeli baru adalah pekerjaan yang hilang dari industri lokal. Gen Z tidak salah thrift. Tapi sistem yang membuat thrift lebih rasional dari beli baru adalah sistem yang gagal.

Conclusion

Thrifting bukan pilihan sadar. Itu pilihan terpaksa yang dibungkus estetik. Dan kalau kamu menyewa rumah, hiburan, uang, pekerjaan, dan barang, satu pertanyaan tersisa: siapa yang sebenarnya memiliki semua ini?


Selanjutnya di Generasi Sewa: Kalau kamu menyewa segalanya, siapa yang untung dari kamu menyewa selamanya? Part terakhir membongkar peta lengkap ekonomi sewa Indonesia, dan mengungkap siapa arsitek di baliknya. Lanjut ke Part 6

Bagikan:

Newsletter

Satu email per minggu untuk melihat uang, karier, bisnis, dan kehidupan dari sudut yang lebih jernih. Gratis, berhenti kapan saja.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Sumber & Metodologi

Data dalam artikel ini bersumber dari publikasi resmi dan laporan media terverifikasi. Pembaca dapat memeriksa sumber asli melalui tautan berikut.

  1. 1.
  2. 2.
  3. 3.
  4. 4.

Komentar (0)

Login untuk berkomentar