Lewati ke konten utama
Ghosting Bukan Tidak Bisa Komunikasi, Hubungan yang Dijual Terlalu Murah untuk Komitmen
Kehidupan9 menit baca

Ghosting Bukan Tidak Bisa Komunikasi, Hubungan yang Dijual Terlalu Murah untuk Komitmen

63% anak muda Indonesia pakai dating apps. Ghosting nyumbang 8,4% perceraian. Bukan kelemahan komunikasi, tapi respons rasional ke sistem tanpa konsekuensi.

Ditulis oleh Yovie Setiawan

Hook

63% anak muda Indonesia pakai aplikasi kencan online menurut Populix 2026. Ghosting menyumbang 8,4% dari 408.347 kasus perceraian di Indonesia menurut Kementerian Agama 2024. Semua orang menyalahkan individu: "Gen Z tidak bisa komunikasi", "anak muda sekarang tidak punya empati". Tapi ghosting bukan masalah komunikasi, itu respons rasional ke sistem yang menjual hubungan sekali pakai.

Ketika Hubungan Jadi Swipe

APJII 2023 mencatat 215,63 juta pengguna internet di Indonesia, 77% populasi. Dating apps bukan lagi niche. Itu cara utama anak muda Indonesia bertemu orang baru.

Populix 2026 merinci: dari anak muda Indonesia yang pakai dating apps, 38% pakai Tinder, 33% Tantan, 17% Bumble. Sistemnya sama semua: swipe kanan untuk match, swipe kiri untuk hilang. Tidak ada komitmen yang diminta. Tidak ada konsekuensi untuk exit. Hubungan yang dirancang untuk infinite options, bukan untuk komitmen.

Ghosting adalah exit termurah dari sistem ini. Tidak perlu konfrontasi, tidak perlu penjelasan, tidak perlu merasa bersalah. Blokir, hapus, hilang. Sistem tidak memberi insentif untuk stay, sistem justru memberi insentif untuk swipe berikutnya.

Paradox of Choice Bikin Komitmen Terlalu Mahal

Kompas Desember 2024 membahas fenomena paradox of choice di dating apps. Psikolog Agata Paskarista menjelaskan bahwa terlalu banyak pilihan calon pasangan bisa menyebabkan stres, bukan kebahagiaan. Opsi yang tampak tak berujung menimbulkan kebingungan dalam memilih. Banyak pilihan bukan berarti keputusan yang lebih baik. Sering kali sebaliknya: kelumpuhan keputusan.

Jurnal SABANA 2025 menemukan hal yang sama dari penelitian langsung. Salah satu pelaku ghosting mengungkapkan: "Banyaknya pilihan dalam menggunakan sosial media membuat saya merasa tidak perlu berkomitmen." Pernyataan ini mencerminkan konsep disposable relationship dari sosiolog Zygmunt Bauman. Hubungan diperlakukan sebagai sesuatu yang mudah digantikan. Bukan karena individu tidak punya moral, karena sistem mendesainnya begitu.

Navarro dalam studi 2021 memperkuat temuan ini: ghosting telah dinormalisasi, khususnya di aplikasi kencan seperti Tinder dan Bumble. Ghosting bukan perilaku menyimpang, itu perilaku yang diharapkan oleh sistem. Kompas Juni 2026 melaporkan 70% perempuan pengguna Bumble mengalami dating fatigue. Kelelahan yang muncul dari proses pencarian pasangan yang tak kunjung berakhir. Banyak pilihan, sedikit koneksi yang bermakna.

Psikologi Ghosting, Bukan Niat Menyakiti

Skripsi Zefanya Channete di Universitas Multimedia Nusantara (2025) menggali pengalaman perempuan Gen Z sebagai pelaku ghosting di Bumble. Hasilnya mengejutkan: ghosting tidak dilakukan semata-mata karena niat menyakitni. Ghosting adalah mekanisme perlindungan diri dari ketidaknyamanan emosional, situasi yang membingungkan, atau relasi yang tidak sesuai ekspektasi. Pelaku memandang ghosting sebagai cara mempertahankan kontrol terhadap ruang pribadi.

JPsyche 2024 meneliti 203 emerging adults (18-25 tahun) pengguna dating apps. Hasil: self-esteem rendah berkorelasi negatif dengan ghosting (r = -0,356, p < 0,001). Semakin rendah harga diri seseorang, semakin mungkin mereka melakukan ghosting. Bukan karena tidak peduli, karena tidak merasa cukup untuk menjaga hubungan. Harga diri dan kecemasan sosial bersama menjelaskan 13,2% variance dalam perilaku ghosting. Sisanya dipengaruhi faktor di luar individu, termasuk sistem dan lingkungan.

UNAIR melalui Buletin Riset Psikologi dan Kesehatan Mental meneliti 70 pengguna Tinder usia 18-25 tahun. Hasil: moral disengagement berkorelasi positif dengan kecenderungan ghosting. Efek moderasi lebih tinggi pada laki-laki. Tapi yang mencengangkan: beberapa ghostee (korban ghosting) juga melakukan ghosting dan membenarkan perilakunya. Bukan karena mereka jahat, karena sistem mengajarkan bahwa ghosting adalah cara keluar yang acceptable.

Saya pernah ngobrol dengan teman yang baru di-ghosting. Dia bukan marah, dia bingung. "Kita ngobrol dua minggu, ketemu sekali, terus hilang tanpa kabar. Apa salah saya?" Tidak ada yang salah dengan dia, sistem yang salah. Dating apps tidak memberi ruang untuk closure, tidak ada feedback mechanism, tidak ada reputasi system. Ghosting adalah exit termurah karena sistem mendesainnya begitu.

Dating Apps Dirancang untuk Ghosting

Dating apps menjual kemudahan. Swipe kanan, match, ngobrol, ketemu. Tapi kemudahan yang sama berlaku untuk exit. Tidak ada "cost" untuk ghosting, tidak ada feedback dari sistem, tidak ada reputasi yang rusak, tidak ada konsekuensi sosial. Blokir dan hapus, selesai.

Algoritma dating apps bekerja dengan logika engagement. Semakin banyak swipe, semakin banyak match, semakin lama pengguna buka aplikasi, semakin banyak iklan yang bisa ditampilkan. Sistem tidak memberi insentif untuk komitmen, sistem memberi insentif untuk terus swipe. Hubungan jangka panjang mengurangi waktu yang dihabiskan di aplikasi. Dari perspektif bisnis dating apps, komitmen adalah churn.

Dating fatigue adalah hasil alami dari sistem ini. Kompas 2026 melaporkan bahwa pengguna merasa lelah karena harus terus menggeser layar, memulai percakapan baru, mengulangi cerita yang sama, lalu menghadapi kegagalan berulang. Pengguna datang dengan daftar panjang kriteria pasangan impian, lalu kecewa ketika algoritma tidak menemukan sosok yang sempurna.

Seperti yang kami bahas di Situationship Bukan Takut Komitmen, Ekonomi yang Membuat Komitmen Jadi Beban, komitmen jadi mahal bukan karena Gen Z takut. Karena ekonomi dan sistem membuat komitmen tidak terjangkau. Dan seperti yang kami tulis di Back to Basic Dating: Gen Z Capai Situationship, Bukan Konservatif, Gen Z tidak kembali ke cara lama karena konservatif. Mereka mencari efisiensi emosional di sistem yang sudah terlalu mahal. Untuk yang sudah mengalami kehilangan, kami bahas di Friendship Breakup: Kenapa Kehilangan Teman Lebih Sakit dari Putus Cinta, rasa sakit kehilangan hubungan tidak hanya soal romansa.

Ghosting adalah Exit Termurah dari Sistem yang Salah

Ghosting bukan masalah individu. Itu gejala sistem. Dating apps menjual infinite options tanpa konsekuensi exit. Hubungan jadi disposable karena sistem mendesainnya begitu. Menyalahkan individu untuk ghosting sama dengan menyalahkan korban dari sistem. Yang perlu diubah bukan "ajarkan Gen Z komunikasi". Yang perlu diubah adalah sistem yang memberi insentif untuk terus swipe, bukan untuk stay.

Data Kemenag 2024 menunjukkan ghosting menyumbang 8,4% dari 408.347 kasus perceraian. Jawa Barat tertinggi dengan 88.842 kasus. Angka ini bukan hanya tentang aplikasi kencan. Ini tentang pola hubungan yang sudah merasuk ke generasi yang tumbuh dengan sistem swipe. Hubungan yang dimulai dengan mudah, berakhir dengan mudah. Bukan karena individu tidak punya komitmen. Karena sistem tidak pernah meminta komitmen sejak awal.

Conclusion

Ghosting bukan kamu yang tidak bisa komunikasi. Dating apps jual infinite options, hubungan jadi sekali pakai, exit tanpa konsekuensi. Ghosting adalah respons paling rasional dari sistem yang dirancang tanpa insentif untuk komitmen. 63% anak muda Indonesia pakai dating apps. 8,4% perceraian disebabkan ghosting. Bukan menyalahkan diri. Pahami sistemnya. Kalau sistem dirancang untuk membuat kamu terus swipe, bukan untuk membuat kamu stay, maka ghosting bukan bug. Itu fitur.

FAQ

Apa itu ghosting dan kenapa sering terjadi di dating apps?

Ghosting adalah tindakan menghentikan komunikasi secara sepihak dan tiba-tiba tanpa penjelasan. Di dating apps, ghosting sering terjadi karena sistem dirancang untuk kemudahan: mudah match, mudah exit. Tidak ada konsekuensi untuk menghilang. Tidak ada feedback mechanism atau reputasi system. Navarro dalam studi 2021 menemukan ghosting telah dinormalisasi di Tinder dan Bumble. Ghosting bukan perilaku menyimpang, tapi perilaku yang diharapkan oleh sistem.

Apakah ghosting selalu salah?

Tidak selalu. Penelitian UMN 2025 menemukan ghosting sering dilakukan sebagai mekanisme perlindungan diri dari ketidaknyamanan emosional atau relasi yang tidak sesuai ekspektasi. JPsyche 2024 menemukan self-esteem rendah berkorelasi dengan kecenderungan ghosting. Ghosting bisa menjadi respons saat seseorang tidak merasa cukup untuk menjaga hubungan atau saat merasa tidak aman. Menyalahkan individu tanpa melihat konteks sistem adalah simplifikasi.

Kenapa Gen Z lebih sering ghosting dibanding generasi lain?

Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh dengan dating apps sebagai cara utama bertemu orang. Sistem swipe yang menawarkan infinite options membuat komitmen terasa terlalu mahal. Populix 2026 mencatat 63% anak muda Indonesia pakai dating apps. Jurnal SABANA 2025 menemukan bahwa banyaknya pilihan membuat individu merasa tidak perlu berkomitmen. Gen Z tidak lebih buruk dalam komunikasi. Mereka beroperasi di sistem yang tidak memberi insentif untuk komitmen.

Bagaimana cara menghadapi ghosting tanpa menyalahkan diri sendiri?

Pertama, pahami bahwa ghosting lebih sering tentang pelaku dan sistem, bukan tentang kamu. Penelitian menunjukkan ghosting berkorelasi dengan self-esteem rendah dan mekanisme perlindungan diri. Kedua, jangan cari closure dari pelaku. Closure datang dari pemahaman bahwa sistem yang salah, bukan kamu. Ketiga, batasi penggunaan dating apps kalau sudah merasakan dating fatigue. Kompas 2026 melaporkan 70% perempuan Bumble mengalami kelelahan. Keempat, bangun hubungan dari lingkungan yang memberi konsekuensi sosial, bukan dari sistem swipe tanpa reputasi.

Apakah dating apps dirancang untuk mendorong ghosting?

Dating apps tidak secara eksplisit mendorong ghosting, tapi desainnya tidak memberi insentif untuk komitmen. Algoritma bekerja dengan logika engagement: semakin banyak swipe, semakin lama pengguna buka aplikasi, semakin banyak iklan yang bisa ditampilkan. Hubungan jangka panjang mengurangi waktu di aplikasi. Dari perspektif bisnis, komitmen adalah churn. Tidak ada feedback mechanism, tidak ada reputasi system, tidak ada konsekuensi untuk exit. Desain ini membuat ghosting menjadi exit termurah dan paling rasional.

TAM gratis untuk semua

Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.

Dukung TAM

Baca juga