
Mau Menikah Bukan Tidak Mau: Ekonomi yang Menghalangi
BPS: 71% usia 16-30 belum kawin. Tapi 84% tetap ingin menikah. Cinta tidak hilang, kemampuan ekonomi yang hilang. Baca datanya.
Sebelumnya di Hubungan Era Tidak Pasti: Part 4 membahas paradox kesepian digital, bagaimana Gen Z paling terhubung tapi paling sendirian, dan bagaimana ekonomi membuat sosialisasi jadi terlalu mahal. Baca: Part 4
Hook
BPS pada 2025 mencatat 71% penduduk usia 16-30 tahun belum kawin. Naik dari 59,82% pada 2020. Tapi Pusat Kajian Demografi Universitas Indonesia pada 2025 menemukan fakta ironis: 84% responden tetap ingin menikah dan punya anak jika kondisi ekonomi memadai. Cinta tidak hilang, kemampuan untuk mewujudkannya yang hilang. Gen Z tidak menolak pernikahan, mereka ditolak oleh ekonomi.
Konteks
Jumlah pernikahan di Indonesia turun dari 2,1 juta pada 2014 menjadi 1,47 juta pada 2024, menurut BPS. Penurunan 30% dalam satu dekade. Usia kawin pertama naik: perempuan dari 22,3 tahun (2014) menjadi 23,1 tahun (2022), laki-laki dari 25,7 menjadi 26,3 tahun. Proporsi penduduk yang menikah turun dari 38,85% pada 2020 menjadi 27,92% pada 2025.
Pusat Kajian Demografi Universitas Indonesia melakukan studi longitudinal 2023-2025 melibatkan 8.400 responden di 12 kota besar. Hasilnya: 68% responden usia 23-35 tahun menyatakan secara sadar menunda atau membatalkan rencana pernikahan karena tekanan biaya hidup dan ketidakpastian ekonomi jangka panjang. Sebanyak 72,4% menyebut biaya pernikahan dan biaya hidup setelah menikah sebagai pertimbangan nomor satu.
Ini bukan cerita tentang generasi yang tidak mau berkomitmen. Ini sudah dibahas di Mau Menikah Bukan Tidak Mau: Ekonomi yang Menghalangi Gen Z dan Beli Rumah Bukan Soal Kopi, Soal 25 Tahun Gaji Tanpa Makan. Gen Z mau. Tapi mau dan mampu adalah dua hal yang berbeda.
Data Pernikahan: Tren Menurun yang Konsisten
BPS mencatat 71% penduduk usia 16-30 tahun belum kawin pada 2025, naik dari 59,82% pada 2020. Jumlah pernikahan turun 30% dalam satu dekade, dari 2,1 juta (2014) ke 1,47 juta (2024). Pusat Kajian Demografi UI (2025) menemukan 68% menunda pernikahan karena tekanan biaya hidup, dengan 72,4% menyebut biaya pernikahan dan biaya hidup setelah menikah sebagai pertimbangan utama.
IDN Research Institute pada 2025 menemukan 63% Gen Z Indonesia menunda pernikahan karena ketidakstabilan ekonomi. Alasan finansial mengalahkan semua faktor lain yang selama ini sering diduga: takut komitmen, masih ingin menikmati hidup, atau trauma dari pernikahan orang tua. Ekonomi bukan salah satu alasan. Ekonomi adalah alasan utama.
Biaya Pernikahan: Angka yang Mencekik
Pusat Kajian Demografi UI (2025) menemukan rata-rata cost pesta sederhana di kota besar mencapai Rp180-250 juta, termasuk resepsi, catering, dokumentasi, dan sewa gedung. Belum termasuk tempat tinggal. Data WeddingKu yang dikutip Kupinang.id pada 2026 menunjukkan angka realistis untuk pasangan di kota besar sudah berkisar Rp200-300 juta untuk konsep yang nyaman dan layak.
Hijra.id pada 2026 merinci estimasi biaya menikah dari lamaran sampai resepsi. Resepsi sederhana di rumah dengan 100-200 undangan: Rp10-25 juta. Resepsi menengah di gedung serbaguna dengan 300-500 undangan: Rp30-75 juta. Resepsi premium di hotel dengan 500+ undangan: Rp75-200 juta ke atas. Total keseluruhan biaya menikah di 2026 bisa berkisar dari Rp15 juta (sangat sederhana) hingga Rp200 juta lebih.
Biaya Pernikahan per Tier di Indonesia 2026
Estimasi total biaya dari lamaran sampai resepsi
Sumber: Kupinang.id & Hijra.id (2026)
Sementara itu, 58% responden berusia 25-30 tahun dalam studi UI masih berpenghasilan di bawah Rp10 juta per bulan. 41% masih tinggal bersama orang tua atau kontrak kos. Matematikanya sederhana: biaya pernikahan Rp200 juta dengan gaji Rp5 juta per bulan dan sisihan 20% sama dengan 200 bulan atau 16,7 tahun menabung. Pernikahan bukan milestone. Pernikahan adalah investasi 17 tahun yang dimulai sebelum kamu mulai.
KPR dan Biaya Hidup: 25 Tahun Cicilan
Pernikahan tidak berhenti di resepsi. Setelah pesta selesai, ada tempat tinggal. Harga rumah di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Denpasar naik jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan gaji kelas menengah. Akses KPR makin ketat akibat suku bunga tinggi dan rasio cicilan yang membatasi.
UNFPA pada 2025 mensurvei responden muda Indonesia dan menemukan 39% membatasi jumlah anak karena alasan finansial. Biaya persalinan di fasilitas swasta bisa mencapai puluhan juta tanpa asuransi. Harga rumah melambung. Banyak pasangan muda memilih menunda atau menghindari pernikahan sama sekali.
KPR 25-30 tahun adalah komitmen finansial terbesar dalam hidup. Kalau kamu menikah, kamu tidak hanya menjanjikan cinta. Kamu menjanjikan 25 tahun cicilan. Seperti yang dibahas di Dana Darurat 6x Gaji: Saran Finansial untuk Orang yang Sudah Makan, saran finansial konvensional tidak berlaku untuk Gen Z yang gajinya tidak kejar biaya hidup. Apalagi menambahkan cicilan KPR dan biaya anak.
84% Tetap Ingin: Cinta Tidak Hilang
Temuan paling penting dari studi UI: hasrat berkeluarga masih ada di generasi ini. Yang menghilang adalah kapasitas untuk mewujudkannya.
IDN Research Institute (2025) menemukan 63% Gen Z menyebut ketidakstabilan ekonomi sebagai alasan utama menunda menikah. BKKBN menemukan ekonomi sebagai faktor dominan yang membuat generasi muda ragu menikah. Trenasia pada 2025 melaporkan bahwa 59,4% pekerja Indonesia masih berada di sektor informal menurut BPS Februari 2025. Gaji yang tidak menentu, ketiadaan jaminan sosial, dan tekanan biaya hidup harian menciptakan perasaan tidak aman untuk mengambil keputusan besar seperti menikah.
Funnel Pernikahan Gen Z Indonesia
Dari ingin menikah sampai akhirnya menikah
Sumber: UI Pusat Kajian Demografi (2025) & BPS (2025)
FAQ
Kenapa Gen Z menunda pernikahan?
Berdasarkan BPS 2025, 71% penduduk usia 16-30 tahun belum kawin. Pusat Kajian Demografi UI (2025) menemukan 68% menunda pernikahan karena tekanan biaya hidup, dengan 72,4% menyebut biaya pernikahan dan biaya hidup setelah menikah sebagai pertimbangan utama. Alasan finansial mengalahkan faktor lain seperti takut komitmen atau trauma.
Apakah Gen Z tidak mau menikah?
Tidak. Studi UI (2025) menemukan 84% responden tetap ingin menikah dan punya anak jika kondisi ekonomi memadai. Cinta tidak hilang, kemampuan ekonomi yang hilang. Gen Z tidak menolak institusi keluarga. Mereka ditolak oleh ekonomi yang membuat institusi itu terlalu mahal.
Berapa biaya pernikahan di Indonesia 2026?
Biaya pernikahan sederhana di kota besar berkisar Rp180-250 juta menurut Pusat Kajian Demografi UI (2025). Resepsi rumahan bisa mulai dari Rp15-25 juta, resepsi menengah Rp30-75 juta, dan pernikahan premium di hotel Rp75-200 juta ke atas. Total keseluruhan bisa mencapai Rp200 juta atau lebih.
Insight
Coba lihat angka ini dari sudut lain. Pernikahan bukan lagi transisi ke kedewasaan, tapi jadi luxury item. Gen Z tidak menolak institusi keluarga, mereka ditolak oleh ekonomi yang membuat institusi itu terlalu mahal untuk dimasuki. 84% ingin menikah, tapi 68% tidak mampu. Ini bukan gap antara keinginan dan kemauan. Ini gap antara keinginan dan kapasitas.
Gue punya teman yang pacaran 7 tahun. Mereka saling cinta. Keluarga juga setuju. Tapi setiap kali pembicaraan masuk ke "kapan nikah," jawabannya selalu sama: "Nanti kalau gaji udah cukup." Tujuh tahun pacaran, dan "nanti" itu tidak pernah datang. Bukan karena mereka tidak mau. Tapi karena setiap kali gaji naik Rp500 ribu, biaya hidup naik Rp1 juta. Mereka berlari di treadmill yang lebih cepat dari mereka.
Conclusion
Kamu tidak takut menikah. Kamu takut menikah tapi tidak bisa memberi pasangan dan anak kehidupan yang layak. 84% Gen Z ingin menikah. Tapi sistem ekonomi menjawab: nanti dulu. Dan "nanti dulu" ini tidak pernah jadi "sekarang." Karena gaji tidak tumbuh secepat biaya hidup, dan cinta tidak bisa membayar KPR. Menurut gue, kalau kamu mau nyalahin seseorang, jangan nyalahin Gen Z yang "tidak mau komitmen." Nyalahin sistem yang membuat komitmen terlalu mahal untuk dijual dan terlalu murah untuk dipecundangi.
Cinta gratis. Tapi pernikahan tidak.
Selanjutnya di Hubungan Era Tidak Pasti: Kalau kamu menyewa rumah, menyewa hiburan, menyewa uang, menyewa pekerjaan, apakah kamu juga menyewa hubungan? Part terakhir: twist yang menyambungkan semuanya. Lanjut ke Part 6
TAM gratis untuk semua
Tidak ada paywall, tidak ada iklan. Dukung TAM agar kami terus menulis tanpa kompromi.
Dukung TAMBaca juga

Ghosting Bukan Tidak Bisa Komunikasi, Hubungan yang Dijual Terlalu Murah untuk Komitmen
63% anak muda Indonesia pakai dating apps. Ghosting nyumbang 8,4% perceraian. Bukan kelemahan komunikasi, tapi respons rasional ke sistem tanpa konsekuensi.
Baca selengkapnya
Kesepian Digital: Paling Terhubung, Paling Sendirian
Gen Z paling terhubung dalam sejarah, tapi skor kesepian tertinggi. Penelitian UGM: self-compassion dan dukungan sosial kunci. Algoritma ganti teman.
Baca selengkapnya
Adulting Bukan Soal Gede: Sistem yang Paksa Kamu Mandiri Sebelum Siap
64% Gen Z masih andalkan ortu. Gaji Rp4 juta, biaya hidup Jakarta Rp7 juta. Bukan telat dewasa, sistem tidak kasih ruang transisi untuk dewasa dengan layak.
Baca selengkapnya